Nona Hari Minggu

Nona Hari Minggu
Sisi Lain Victor


__ADS_3

"Jangan melihatku seperti itu, nanti kau bisa jatuh cinta kepadaku."


"Ehh, siapa yang melihatmu? Aku hanya memastikan bahwa kau masih bernafas. Aku khawatir kau tiba-tiba mati tanpa ku sadari." Sunday gugup. Tiba-tiba saja jantung Sunday berdetak dengan sangat berisik. Sunday jadi heran dengan dirinya sendiri. Kenapa akhir-akhir ini jantungnya sering aneh begitu. Kadang berdetak sangat cepat seolah habis lari maraton padahal jelas-jelas dirinya hanya sedang duduk santai.


Kenapa aku ini? Apa aku sakit? Sakit jantung? Ohh, tidak. Mana mungkin aku punya penyakit jantung diusia semuda ini. Ini pasti karena aku kaget saja tiba-tiba dia bangun.


"Hei, malah bengong." Faris menarik rambutnya


"Aduh, sakit tahu." Sunday melempar Faris dengan bantal.


"Aku lapar, ayo kita makan." Faris bangun dan menuju ruang makan tanpa meminta pendapat Sunday. Tapi Sunday tetap mengikutinya dari belakang. Sebenarnya dia tidak begitu lapar karena cemilan yang dimakannya selama menonton film tadi lumayan mengganjal perutnya.


"Tidak ada menu bakso disini. Kalau kau mau bakso akan ku pesankan online." Faris seperti menyindir Sunday yang adalah pecinta berat bakso.


"Tidak usah, ini saja."


Mereka pun makan siang yang agak terlambat di pukul 3 sore itu. Dan setelah selesai, Faris mengantarkan Sunday pulang. Sunday merasa lega karena sandiwaranya telah berakhir saat keluar dari rumah itu.


Dalam perjalanan, Sunday dan Faris tidak banyak bicara. Yang terdengar lamat-lamat hanya lagu-lagu dari Glen Fredly. Suara Glen Fredly yang lembut ditambah lirik lagu yang mendayu membuat Sunday hanyut. Hanyut dalam kantuk seolah sedang mendapat senandung sebelum tidur. Lama-lama matanya menjadi berat dan perlahan namun pasti Sunday akhirnya tertidur.


"Dasar, kenapa dia selalu tidur saat naik mobil?" Faris tersenyum sambil melirik Sunday yang tertidur pulas saat merasa tidak ada 'kehidupan' disampingnya.


Saking pulasnya hingga sampai depan rumahnya pun Sunday belum juga bangun. Faris ingin membangunkan Sunday, tapi dilihatnya Sunday yang sangat lelap membuatnya mengurungkan niat. Jadi dibiarkannya Sunday tertidur. Entah berapa lama lagi tapi Faris tetap menunggu.


Dipandangi wajah lelap Sunday. Lama, dalam dan semakin dipandangnya semakin Faris tidak menemukan alasan untuk tidak menyukai gadis itu. Wajah bulat dengan pipi chuby, hidung kecil tapi tidak terlalu pesek, alis yang ketebalannya sedang diatas mata bulat, bibir manis dan saat tersenyum semakin menambah kecantikannya.


Sunday mulai menggeliat, mengerjap-ngerjapkan matanya lalu melihat ke sekeliling. Tampak Faris di sampingnya sedang tersenyum padanya.


"Hai putri tidur..." Sapa Faris.


"Oh, sudah sampai ya." Suara Sunday serak karena baru bangun tidur.


"Dari tadi."


"Oh ya? Kenapa tidak membangunkanku?" Sunday mengucek matanya sekali lagi mengusir kantuk yang masih tersisa.


"Membangukanmu? Apa aku setega itu? Kau terlihat nyenyak sekali. Bahkan ilermu sempat meleleh saking pulasnya."


"Benarkah?" Sunday mengusap bibir dan pipinya panik.


"Sudah mengering." Celetuk Faris sambil menahan tawa.


Sadar telah dikerjai Faris, Sunday melotot ke arahnya.


"Dasar pembohong." Sunday memukuli pundak Faris dan tidak peduli meskipun ia mengaduh. "Rasakan pukulan mautku." Faris juga tertawa karena melihat wajah lucu Sunday saat panik tadi.


"Sudah cukup. Sudah. Sakit." Keluh Faris. Sunday pun menghentikan pukulannya. Faris masih menyisakan tawa.


"Siapa suruh mengerjaiku." Sunday cemberut lalu membuka pintu mobil dan turun hendak memasuki pagar rumahnya. Tapi sebelum Sunday masuk, Faris memanggilnya.


"Apa lagi?" Sunday masih judes.


"Terima kasih." Faris mengulas senyum.


"Untuk apa?" Sunday mengerutkan kening.


"Menemaniku di rumah hari ini." Sunday melingkarkan ibu jari dan jari telunjuknya memberi isyarat. Setelah itu ia masuk ke halaman rumahnya.

__ADS_1


🌸🌸🌸


"Tap... tap... tap..." Suara langkah kaki Sunday sedikit berlari menyusuri lorong kampusnya. Hari ini ia terlambat datang ke kampus karena motornya mogok entah kenapa. Saat distarter ternyata tidak juga menyala bahkan saat menggunakan starter manual. Akhirnya Sunday harus naik angkot yang jalannya lamban dan sering berhenti karena harus menaikkan dan menurunkan penumpang.


Akhirnya Sunday sampai di depan kelasnya. Berhenti tepat di depan pintu, menata nafasnya yang terengah-engah lalu mengetuk pintu kelasnya yang tertutup itu.


"Masuk." Sahut dosen di dalam. Sunday membuka pintu lalu menjulurkan kepalanya ke dalam. Seketika pandangan seisi kelas tertuju padanya.


"Maaf pak, saya terlambat." Kata Sunday setelah mendekati dosen.


"Duduklah." Dosen mempersilahkan Sunday duduk. Sunday memilih duduk di bangku kosong dipaling ujung. Terlihat Suzan dan Windy duduk di deretan kursi nomor dua dari depan.


"Untung saja kuliah pak Herman, dosen tampan nan baik hati. Coba dosennya killer, tamatlah riwayatku." Ujar Sunday kemudian.


"Iya, koq bisa pak Herman tampan sekali ya. Mana baik hati, lembut dan penyabar. Tepat sekali dia menjadi dosen wali kita." Suzan berbinar-binar membicarakan dosen kesayangannya itu.


"Memangnya motormu kenapa?" Windy bertanya dan tak menggubris Suzan.


"Entahlah, tidak bisa ku starter."


"Bensinnya habis kali." Celetuk Suzan polos.


"Tidak, masih ada. Pulang kuliah kemarin baru saja ku isi di SPBU. Full tank malah."


"Waktunya ganti kayanya." Kata Windy


"Ganti apa?" Tanya Sunday.


"Ganti motor lah."


"Selamat menjadi gadis setia yaa." Suzan menepuk punggung Sunday sok polos. Windy berjalan duluan. Terlalu malas menyaksikan teman-temannya yang hobi mendramatisasi keadaan.


Hari ini jadwal kuliah Sunday hampir semuanya adalah praktikum. Banyak sekali tugas yang harus ia bawa pulang dan menunggu untuk dikerjakan. Ditambah motornya yang mogok membuat Sunday merasa hari ini adalah hari yang buruk.


Di depan kampus Sunday tampak sendirian menunggu angkot. Sore begini kampus mulai sepi. Sudah banyak mahasiswa yang menyelesaikan kuliahnya. Yang tertinggal mungkin mereka yang masih ada bimbingan praktikum atau bimbingan dengan dosen. Entah itu tentang skripsi, kerja praktek, atau KKN. Dan Sunday yang harus magang memang selalu kebagian pulang paling akhir untuk membereskan laboratorium sisa praktikum.


Sebuah Toyota Innova hitam berhenti di depan Sunday. Sunday memicingkan mata mencoba mencari tau siapa di balik kaca gelap mobil yang berhenti itu. Tapi kemudian kaca terbuka dan terlihat Victor.


"Menunggu siapa, Sun?"


"Tidak ada, kak."


"Mau pulang?" Sunday mengangguk. "Ayo." Ajak Victor sambil mengisyaratkan agar dia masuk ke dalam mobilnya.


"Tidak usah, rumah kita kan tidak searah."


"Tidak apa-apa. Sudah hampir gelap. Mungkin angkot juga tidak ada yang lewat lagi." Sunday tampak berfikir. Benar juga kata Victor. Kalau malam memang kampus Sunday jarang dilewati angkot karena letak kampus yang agak jauh dari pemukiman.


"Baiklah." Akhirnya Sunday naik juga. "Maaf sudah merepotkan." Ujar Sunday saat mobil mulai beranjak dari tempatnya semula.


"Tidak merepotkan, kan aku juga mau pulang." Victor masih melihat jalab di depannya.


"Motormu kenapa?"


"Entahlah, tiba-tiba tidak bisa saat ku starter."


"Mungkin mesinnya bermasalah."

__ADS_1


"Mungkin, aku juga belum membawanya ke bengkel."


"Mau aku panggilkan montir agar ke rumahmu?"


"Oh tidak perlu, Kak. Ada bengkel di dekat rumahku. Aku hanya tinggal membawanya ke sana." Sunday menolak tawaran Victor yang tiba-tiba itu. Mereka memang telah bersama-sama selama bertahun-tahun tapi mereka tidak seakrab itu untuk Sunday bisa menerima bantuan Victor.


"Akan lebih baik lagi kalau dibawa ke bengkel resmi."


"Pastinya, tapi itu terlalu jauh dari rumahku. Jadi aku tidak mungkin membawanya sejauh itu."


"Aku panggilkan montir dari bengkel resmi langgananku saja."


"Tidak Kak, tidak usah." Tolak Sunday lagi.


Ternyata Victor tidak seburuk yang dikenalnya selama ini. Sikapnya memang sedikit pendiam dan agak kaku tapi sebenarnya dia orang yang baik. Selama menjadi peserta magang, Victor memang memberinya banyak tugas tapi tidak bisa dipungkiri karena tugas-tugas darinya itu Sunday jadi bertambah ilmu-ilmu baru yang belum ia dapatkan saat mengikuti kuliah.


Sebenarnya usia Victor juga tidak jauh dari Sunday. Saat menjadi penjaga laboratorium, Victor adalah seorang fresh graduate. Jadi mungkin hanya berbeda 3 atau 4 tahun saja dari usia Sunday.


"Kenapa tidak dijemput pacarmu, Sun?" Kalimat Victor tiba-tiba.


"Oh aku tidak punya pacar." Jawab Sunday sambil tergelak.


"Benarkah? Tapi aku sering melihatmu bersama pria itu."


"Pria yang mana?" Sunday tampak bingung.


"Pria yang sering mendatangimu di kampus."


Sunday sedikit berfikir dan mungkin yang dimaksud Victor adalah Faris. Karena selain Faris, Sunday tidak pernah bersama pria lain di kampus. Bahkan dia juga tidak terlalu akrab dengan teman-teman pria di setiap kelasnya.


"Oh pria itu, dia bukan pacarku. Dia hanya teman."


"Ku kira dia pacarmu karena aku sering melihatnya mendatangimu." Sunday hanya tersenyum menanggapi.


Faris benar-benar mematikan pasarannya di kampus. Jangan-jangan semua pria di kampus Sunday juga berfikir seperti apa yang Victor fikirkan. Menganggap Faris adalah pacarnya sehingga tidak ada yang berani mendekatinya.


Hah, pria itu benar-benar ancaman serius bagiku. Batin Sundya.


"Hei, malah bengong."


"Eh, oh, iya kak." Sunday gelagapan.


"Rumahmu masuk di gang perempatan depan itu kan?"


"Iya kak, nanti aku turun disitu saja."


"Biar ku antar sampai rumahmu."


"Tidak usah kak, akan merepotkan."


"Tanggung kalau hanya sampai depan gang. Berbuat baik kan tidak boleh setengah-setengah." Victor meloleh pada Sunday dan tersemyum.


Jarang-jarang Victor tersenyum begitu. Senyumnya manis. Dan Sunday baru menyadari kata Suzan tempo hari. Victor memang tampan. Hanya saja dia yang selalu terlihat serius sehingga yang bersamaanya seolang ikut terbawa serius juga.


Tapi Victor yang sore ini bersama Sundya benar-benar terlihat berbeda. Lebih banyak bicara dan juga tersenyum. Yah, benar kata pepatah. Jangan melihat buku dari sampulnya. Lihat dari judulnya saja. Hihihi.


Ternyata Victor pria yang baik dan tidak sependiam itu. Sunday benar-benar baru mengetahui hal itu walau sudah bersamanya bertahun-tahun. Karen Victor yang biasanya ia temui di laboratorium adalah pria yang selalu serius, khusyuk melihat monitor PC, cekatan bekerja tapi sedikit berbicara. Suka memberi banyak tugas tapi jarang memberikan instruksi. Ya begitulah sisi Victor yang biasa dilihat Sunday, bukan sisi berbeda yang Sunday tahu hari ini.

__ADS_1


__ADS_2