Nona Hari Minggu

Nona Hari Minggu
Weekend Yang Gagal 'Sakral'


__ADS_3

Akhir pekan adalah hari yang dinanti bagi siapa saja yang memiliki kesibukan ekstra di saat weekdays. Sunday adalah salah satu penganut paham weekend adalah hari bermalas-malasan.


Bangun siang, tidak wajib mandi dan berbagai 'pelanggaran aturan' dikala weekdays. Urusan cucian dan setrikaan tidak wajib dikerjakan saat weekend. Karena demi weekend yang keramat, semua urusan itu bisa ia kerjakan saat weekdays disela jadwal kuliah dan mengerjakan tugas. Jadi, dalam programnya, weekend harus dinikmati sepenuh hati.


Seperti hari sabtu ini, setelah minggu ini digencar tugas dan praktikum yang cukup menyita badan dan fikirannya, Sunday bermaksud mengistirahatkan seluruh jiwa raganya agar kembali seperti sedia kala.


Dirinya yang memasuki semester 6 sungguh dibuat kalang kabut dengan jadwal kuliah dan praktikum yang sangat padat. Kalau sudah berhadapan dengan tugas kuliah dan laporan praktikum, sudah dipastikan begadang adalah jalan terbaik. Kadang disela magangnya, dia menyempatkan untuk membuka modul praktikum dan mengerjakan bagian yang bisa ia kerjakan dari laporannya. Entah penyelesaian tugas, penulisan laporan atau ujicoba implementasi materi yang dipraktekkan.


Itulah kenapa weekend adalah hari yang sakral baginya. Tapi tidak semua weekend adalah hari bersantai, kadang kesakralan weekend juga ternoda pada menumpuknya tugas sehingga akhir pekan pun masih harus diisi dengan berhadapan dengan laptop demi menyelesaikan tugas atau deadline laporan praktikum. Sungguh menjadi mahasiswa teknik itu 'nikmatnya' luar biasa. Begitu, kalau boleh mengutip kalimat Suzan.


Pagi ini jam 8, Sunday keluar dari kamarnya. Demi bisa menikmati hari, semalam ia begadang menyelesaikan modul praktikumnya. Dilihat mamanya sedang di dapur


"Masak apa, Ma?" Sunday menempelkan dagu di pundak mamanya yang tinggginya beberapa sentimeter lebih pendek darinya.


"Anak gadis jam segini baru bangun." Mamanya manyun.


"Mama tidak membangunkanku." Sunday mengelak.


"Apa? Tidak membangunkanmu? Kau yang menarik kembali selimutmu saat Mama membangunkanmu." Nada suara mamanya meninggi.


"Benarkah? Kapan itu?" Sunday pura-pura lupa. Padahal dia jelas-jelas ingat saat Mamanya membangunkan.


"Hah, dasar gadis malas."


"Ahh, Mama. Sebenarnya aku tidak semalas itu. Hanya saja hampir pagi aku baru tidur."


"Siapa yang menyuruhmu begadang." Mamanya bernada ketus.


"Tugasku banyak sekali. Aku harus mengebut untuk mengerjakannya." Sekarang Sunday melingkarkan tangannya ke lengan mamanya dan menyandarkan kepalanya ke pundak mamanya yang sedang menggoreng ikan dengan manja.


"Alasan saja kau ini."


"Mama sih tidak perhatian kepadaku. Bagaimana bisa Mama tidak mempercayaiku kalau aku benar-benar begadang mengerjakan tugas."


"Bagaimana Mama bisa percaya, kadang Mama mendengar sampai malam kau berbicara sendiri di kamarmu."


"Benarkah?" Sunday mengingat-ingat apa dia melakukan itu.


"Oh itu, tentu saja aku tidak berbicara sendiri. Mungkin waktu itu aku sedang berbicara di telepon."


"Suara tertawamu sering membangunkan Mama. Belum lagi kalau suara tawamu masuk ke dalam mimpi Mama menjelma sebagai suara kuntilanak, otomatis mimpi indah Mama langsung berubah menjadi mimpi buruk. Mimpi horor."


"Ahh, Mama tega sekali menyamakan anak sendiri sebagai kuntilanak. Mama sungguh terlalu." Setelah memberi penekanan pada kata terakhirnya seperti intonasi yang dipakai Rhoma Irama mengatakan kata 'terlalu, Sunday mencomot sepotong tempe goreng lalu berlalu berlagak marah. Mamanya menahan tawa melihat tingkah putrinya itu.


Sunday menuju halaman rumahnya, waktunya menyiram bunga-bunga di depan rumahnya. Sebenarnya dia tidak begitu suka berkebun, tapi kalau hanya sekadar menyirami bunga bukan hal yang sulit baginya. Bunga-bunga yang kebanyakan adalah bunya mawar itu dirawat oleh mamanya dengan baik. Berbagai mawar ada disana. Mulai yang berwarna merah, kuning, merah muda, oranye dan putih. Semua ditanam menggerombol sehingga ketika berbunga semua akan tampak sangat indah dan berbau sangat harum.


Rumput taman di halaman rumah Sunday juga terawat dengan baik. Mamanya tidak pernah absen untuk memangkas dan merapikan serta mencabut rumput liar yang tumbuh disela-selanya. Jadilah halaman rumah Sunday terlihat sangat indah.


Sunday masih menyiram dengan sedikit menggoyangkan kepala mengikuti irama lagu dari music playernya di ponsel. Ia sedang mendengarkan lagu Ariana Grande, Thank You, Next.


Sebuah mobil terparkir didepan pagar rumah Sunday, tapi ia belum menyadari karena posisinya yang membelakangi pagar dan volume lagu yang terlalu tinggi. Faris turun dari mobil dan memanggilnya. Merasa yang dipanggil tidak mendengarkannya, ia bermaksud membuka pagar, tapi ternyata pagar juga masih terkunci. Akhirnya Faris mengambil ponselnya dan menelepon Sunday.


Sunday yang sedang asyik bersenandung pelan itu seketika melonjak kaget karena musik yang didengarkannya berubah menjadi nada dering. Lalu dilihat nama penelepon.


"Ada apa?" Nada suara Sunday kesal.

__ADS_1


"Lihatlah ke belakangmu." Faris menahan tawa melihat Sunday yang sempat melonjak kaget tadi. Sunday pun menoleh. Faris melambaikan tangan. Sunday menutup telponnya dan menghampiri Faris.


"Mengganggu saja." Rutuk Sunday setelah berhadapan dengan Faris yang terpisah pintu pagar sedada itu.


"Maaf, aku sudah memanggilmu berkali-kali tapi kau tidak mendengarnya." Faris cengengesan.


"Ada apa?" Ulang Sunday.


"Biarkan aku masuk dulu." Faris menunjuk pintu pagar yang masih terkunci.


"Siapa yang memperbolehkanmu masuk?" Sunday berlagak kesal.


"Ayolah, tega sekali kau tidak memperbolehkanku masuk. Aku ini tamu."


"Aku sedang tidak ingin menerima tamu."


"Jangan terlalu kejam kepadaku, nanti kau akan kualat."


"Beraninya cuma menyumpahi."


"Kau tahu, ucapanku sering menjadi kenyataan kalau aku sudah menyumpahi."


"Benarkah? Sakti sekali dirimu." Sunday berkacak pinggang.


"Baiklah, aku hampir kehilangan kesabaran. Jadi aku sumpahi kau akan jatuh cinta kepadaku." Faris menunjuk hidung Sunday.


"Hahaha... Kutukanmu itu tidak akan manjur padaku. Karena aku sudah punya penangkalnya. Aku punya jimat anti pelaut, kau tau." Sunday tertawa.


"Tapi jimatmu akan luntur jika aku yang mengutukmu."


"Hei, omonganku yang mana yang tidak bisa dipercaya. Aku bukan pembohong apalagi penipu."


"Tapi kau itu perayu. Pasti rayuanmu itu kau buat semanis mungkin sehingga pacar-pacarmu percaya bahwa mereka adalah satu-satunya pacarmu. Padahal ditempat lain kau punya juga pacar lain yang kau perdaya."


"Aku tidak pernah melakukan itu. Asal kau tahu aku tidak pernah merayu mereka, aku hanya memuji." Dalih Faris.


"Ahh, itu cuma akal-akalanmu saja. Dasar playboy." Cibir Sunday .


"Sudah... sudah... sampai kapan aku harus berdiri disini seperti pengamen."


"Sudah ku bilang aku sedang tidak menerima tamu."


"Ayolah Sun, ada yang ingin aku bicarakan denganmu."


"Bicara saja disini."


"Kau tega sekali kepadaku." Faris memelas, Sunday menahan tawa melihat ekspresi wajah Faris.


"Baiklah... baiklah... wajahmu itu mirip dengan orang-orang yang minta sumbangan, kau tahu." Sunday menutup mulutnya sendiri agar tidak tertawa.


"Sialan." Maki Faris. "Ayolah, cepat buka pintunya."


"Baiklah, tunggu. Ku ambil dulu kuncinya di dalam." Lalu Sunday berbalik.


Hanya memakai kaos oversize dengan celana tiga per empat tapi cukup membuat Sunday terlihat menggemaskan. Faris juga yakin bahwa Sunday belum mandi. Tapi kenapa wajah polosnya itu justru adalah daya tarik tersendiri baginya.

__ADS_1


Sekarang Faris dan Sunday sudah duduk di kursi teras.


"Jadi mau ngomong apa?"


"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."


"Kemana?"


"Rumahku."


"Apa?" Sunday heran. "Mau apa?"


"Aku ingin memperkenalkanmu sebagai pacarku kepada Mamaku."


"Apa namaku saja tidak cukup? Bukankah kak Rima sudah mengenalku."


"Tentu saja itu tidak cukup. Aku harus memperkuatnya dengan memperkenalkanmu dengan kepada Mama & Papa untuk tahu seberapa seriusnya aku menolak perjodohan itu."


"Ahh, kenapa pake aksi kenalan juga sih?" Sunday menggigit bibirnya.


"It's oke, kamu cuma pura-pura jadi pacarku dan itu mudah sekali."


"Hei, yang aku hadapi ini orang tuamu, apakah tidak apa-apa kalau kita membohongi mereka."


"Tentu saja tidak apa-apa. Atau kalau tidak ingin berbohong dan merasa bersalah, baiknya kita benar-benar pacaran saja." Farus mengerling tapi Sunday balik memelototinya.


"Oh maksudku demi kebaikan tentu saja kebohongan itu diperbolehkan." Jelas Faris kemudian sebelum Sunday menghabisi dengan kalimat pedasnya.


"Menikah itu tidak cukup hanya sebatas ijab qobul tapi juga komitmen untuk hidup bersama selamanya. Jadi, bayangkan saja hidup bersama tapi dengan orang yang tidak kita cintai. Pasti setiap hari adalah hari yang menyedihkan." Wajah Faris sendu. Sunday jadi tidak tega.


"Mmm... baiklah kalau begitu."


"Baiklah bagaimana?" Faris penasaran dan penuh harap.


"Baiklah... kalau menurutmu itu tidak apa-apa."


"Kamu mau ke rumahku?" Faris berbinar.


"Iya. Puas kau sekarang."


"Terima kasih, Sun." Faris menggenggam tangan Sunday dengan wajah yang bahagia karena permintaannya dikabulkan.


"Kalau begitu ayo." Faris hendak mengajak Sunday pergi.


"Hei! Bukankah aku harus terlihat cantik saat bertemu dengan orang tuamu agar mereka merasa pilihanmu tepat."


"Ya, tentu saja."


"Lalu bagaimana aku pergi sekarang sedangkan aku belum mandi."


"Oh baiklah, mandilah dulu."


"Aku juga belum sarapan. Kau mau sarapan juga?"


"Tidak, terima kasih. Aku sudah sarapan."

__ADS_1


Sunday masuk. Faris masih di teras menunggunya. Drama percintaan akan segera dimulai hari ini. Pikir Faris.


__ADS_2