
"Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Karin saat mendapati Revan hanya diam sejak mereka meninggalkan mall.
"Tidak ada." Jawab Revan singkat.
"Kau sedang memikirkan Sunday?" Tepat sasaran kalimat Karin membuat Revan sedikit salah tingkah. Memang itu yang ada dipikirannya. Bagaimanapun juga bertemu mantan pacar disaat yang tak terduga seperti memberinya kejutan.
"Tidak. Aku tidak memikirkan apapun atau siapapun." Revan berbohong.
"Terlihat jelas kau sedang memikirkannya." Karin menghebuskan nafasnya kasar, terlihat kesal. Karena sejak tadi Revan hanya sedikit berbicara dan merespon setiap obrolannya.
"Jangan memulainya." Nada suara Revan malas.
"Memulai apa? Saat bertemu Sunday kau terlihat bahagia tadi."
"Tidak, biasa saja."
"Biasa saja katamu? Kau terlihat tersenyum terus padanya. Kenapa? Senang bertemu dengannya? Aku tahu kau melihatnya tanpa berkedip tadi."
"Sudahlah, aku tidak seperti yang kau katakan. Aku juga sudah tidak punya perasaan apa-apa lagi kepada Sunday. Bukankah aku sudah bersamamu dan kita sudah lama pacaran. Kenapa masih menuduhku masih menyukainya?"
"Naluri wanitaku menangkap sinyal kau masih ada rasa padanya." Karin semakin terlihat kesal karena Revan tidak mengakui apa yang dilihatnya. Bagaimana Revan memperhatikan Sunday yang berjalan menjauhi mereka tadi.
"Sudah ku katakan aku tidak menyukainya lagi. Aku lebih memilihmu dan meninggalkan dia. Lalu bagaimana kau bisa berfikir aku masih menyukainya."
"Aku tidak mau jadi orang bodoh seperti dia yang bahkan pacarnya menyukai orang lain pun dia tidak tahu. Aku ini jauh lebih peka dari pada dia. Aku tahu saat pacarku melirik gadis lain." Karin memang selalu mempunyai ketakutan Revan akan memperlakukan dirinya sama seperti Sunday dulu. Meninggalkan Sunday demi dirinya. Itulah sebabnya ia menjadi posesif kepada Revan.
Karin memang menyukai Revan walaupun ia tahu Revan adalah pacar temannya sendiri. Apalagi ketika dia tahu bahwa Revan juga menyukainya, dia sangat bahagia. Dan dengan dalih cinta tidak pernah salah, Karin merasa mencintai Revan bukan kesalahannya. Justru itu adalah hal benar karena dia dan Revan saling menyukai.
Tidak peduli teman-temannya yang lain mencapnya sebagai teman makan teman, karena baginya saling mencintai adalah tindakan yang benar dan jadi dibenci adalah risiko yang harus ditanggungnya dan dia siap dengan hal itu.
"Iya iya... baiklah, terserah apa yang kau fikirkan. Aku lelah mendengarmu menuduhku yang bukan-bukan. Kau selalu menuduhku seperti itu. Kemarin dia, sekarang Sunday, besok siapa lagi? Kau ini selalu mencemburuiku dengan seseorang yang tidak pernah masuk akal."
"Tapi kenyataannya memang seperti itu. Kau suka sekali melihat kesana kemari, dimana gadis-gadis berada, matamu selalu tak luput dari mereka."
"Sudah cukup!!!" Nada suara Revan meninggi. Karin sampai terjingkat mendengarnya dan seketika menutup mulutnya. Pacarnya belum pernah membentaknya seperti itu.
"Jangan mencemburuiku seperti itu. Itu sangat tidak nyaman untukku." Suara Revan melemah. Ia sudah menepikan mobilnya. Tampak mata Karin sudah basah.
__ADS_1
"Kau selalu memberiku kesempatan membuatku cemburu." Tangis Karin pecah juga.
"Aku tahu kau sangat mencintaiku jadi kau berlaku begitu." Revan membelai rambut Karin.
"Aku sangat takut kehilanganmu. Aku tidak mau kau tinggalkan seperti Sunday. Aku sangat menyukaimu."
"Iya aku tahu." Revan menggenggam tangan Karin mencoba membuatnya lebih tenang.
🌸🌸🌸
Victor berjalan disisi Sunday saat mereka meninggalkan laboratorium. Sambil mengobrol seperti biasa, mereka menuju tempat parkir.
"Sayang..." Sunday merasa mengenal suara itu dan mengalihkan pandangan ke arah sumber suara. Benar apa yang dipikirkannya. Faris berdiri di depan kantin yang bersebelahan dengan tempat parkir sambil melambaikan tangan.
Apa yang dia lakukan disini? Memanggilku sayang? Dia sungguh sudah gila.
Victor yang juga mendengar panggilan Faris ikut menoleh dan mengerutkan kening. Memastikan bahwa dia tidak salah dengar apa yang diucapkan Faris.
"Kak, aku ke sana." Pamit Sunday.
"Baiklah." Kata Victor kemudian. Ia hanya bisa meniggalkan Sunday dengan rasa penasaran di benaknya.
Victor masih berjalan dengan dipenuhi fikirannya sendiri saat Sunday mendekati Faris yang tersenyum lebar ke arahnya. Sunday sudah bersiap melabraknya.
"Hei, apa-apaan kau ini." Sunday memasang wajah seram.
"Apa?" Faris malah mengejek.
"Jangan memanggilku seperti itu. Siapapun akan salah faham melihatnya."
"Biar saja mereka salah faham. Aku tidak peduli. Kenyataannya kau juga memanggilku 'sayang' waktu itu."
"Waktu itu kan... waktu itu sangat darurat."
"Darurat apanya. Kau pikir itu tidak membuat orang salah faham. Meskipun tujuanmu hanya agar mantan pacarmu yakin kau punya pacar, tapi bagaimana denganku? Kau tidak melihat semua orang menatap ke arahku dengan enggan saat kau memanggilku 'sayang'. Padahal sebelumnya mereka bahkan memandangku dengan penuh kekaguman."
"Oh ya?" Sunday mencibir.
__ADS_1
"Bahkan penjaga loket saja sempat meminta nomer Whatsapp-ku. Kenapa coba? Tentu saja karena aku sangat menawan. Tapi setelah ada yang memanggilku 'sayang', mereka semua buru-buru berpaling dariku."
"Hei, berhentilah bersikap narsis seperti itu. Itu sangat menyebalkan. Dan lagi, kalau kau menyesal ku panggil sayang, aku minta maaf dan kupastikan itu tidak akan terjadi lagi. Jujur... jujur yaa. Aku juga sangat menyesal memanggilmu 'sayang' karena setelah itu mulutku terasa sangat gatal. Ahh, aku benar-benar menyesal."
"Benarkah? Tapi waktu itu kau tampak senang memanggilku 'sayang'. Wajahmu tampak berseri dan senyummu jadi manis sekali. Aku yakin kau suka memanggilku begitu." Goda Faris semakin gencar.
"Aku pasti sudah gila jika benar-benar melakukan itu dengan kesungguhan." Sunday sedikit salah tingkah dituduh seperti itu. Bertanya-tanya pada dirinya sendiri apa benar dengan apa yang dikatakan Faris.
"Kau sungguh percaya diri menganggapku benar-benar melakukan itu karena aku ingin. Aku sama sekali tidak bermaksud melakukannya kalau bukan karena dua orang menyebalkan itu." Sunday mengangkat rambutnya menggulungnya asal dan wajahnya jadi terlihat lebih segar dengan leher terbuka seperti itu.
"Aku benar-benar menyesal." Gumam Sunday lalu meninggalkan Faris.
"Hei, mau ke mana? Tunggu aku." Faris sedikit berlari mengikuti Sunday.
"Malas sekali meladenimu."
"Aku hanya melakukan hal yang sama seperti yang kau lakukan." Faris mensejajari langkah Sunday dan masih dengan senyumnya.
"Demi apa coba?"
"Demi laboran itu agar tidak selalu dekat-dekat denganmu." Seketika Sunday menghentikan langkahnya. Memandang Faris. Lalu tiba-tiba ada sedikit rasa aneh dihatinya melihat Faris tampak serius mengatakan itu. Dadanya berdesir.
"Aku tidak suka dia selalu menempelmu."
"Mana mungkin kita tidak dekat, aku peserta magang dan bisa dikatakan dia adalah mentorku. Alasan apa yang tidak memperbolehkan kami tidak dekat. Kau ini yang benar saja."
"Sudah ku katakan jangan dekat dengan pria manapun karena kau dan aku sedang punya misi penting."
"Ahh, kau ini benar-benar sudah kehilangan akalmu? Kita tidak harus selalu berpura-pura menjadi sepasang pacar didepan setiap orang."
"Tapi aku ingin melakukannya agar menghayati peran."
"Hah, sejak kapan kau jadi aktor sinetron sehingga menghayati peran sangatlah penting bagimu."
"Ahh sudahlah, pokonya jangan terlalu dekat dengannya. Dan juga dengan pria lain. Titik." Lalu Faris berlalu begitu saja meninggalkannya tanpa menoleh kembali dan menuju tempat parkir dimana mobilnya berada.
"Apa? Apa maksudnya? Dia benar-benar sudah gila." Gumam Sunday dengan ada nada kesal. Faris masih terlihat diujung jalan kampus itu.
__ADS_1
"Hei, kenapa tadi datang ke sini?" Teriak Sunday saat sadar kenapa Faris tiba-tiba datang ke kampusnya tapi tidak ada keperluan apapun seperti itu.
Faris tidak menoleh dan hanya melambaikan tangan dengan masih terus berjalan.