Nona Hari Minggu

Nona Hari Minggu
Kanibal


__ADS_3

Sunday bosan berada di kamarnya sendirian dan sedang memindah chanel tv satu per satu. Tapi dia tidak menyesal memaksa mamanya untuk pergi mengajar. Bagaimanapun juga mamanya tidak boleh meninggalkan tanggung jawabnya mengajar murid-murid di sekolah setelah kemarin sempat absen.


Hampir semua acara sama, kurang menarik baginya. Masih memencet secara urut tombol di remote control, Sunday tiba-tiba merasa mengenal seseorang di layar kaca. Lalu ia kembali memencet kembali tombol sebelumnya.


Benar, itu Faris. Dengan banyak kilatan flash kamera di wajahnya ia sedang berbicara di depan para awak media. Sunday hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Faris ada di sana dan harus membuat sebuah pernyataan. Semacam klarifikasi.


"Baiklah saudara-saudara. Berikan saya kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Kalian pasti ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi." Faris memandang lurus kepada para wartawan dengan wajah tegasnya.


"Tentang kebakaran di salah satu bagian gedung Font, tepatnya di gudang memang benar adanya dan kalian sudah tahu tentang hal itu. Tentang pelaku pun kalian sudang mengantongi informasinya. Tapi tentang bagaimana ini bermula ku harap kalian tidak mudah menyebarkan isu. Saya mengenal baik Desy." Mendengar kalimat to the point Faris, wartawan mulai membanjirinya pertanyaan lagi.


"*Sedekat apa Anda dengan Desy?"


"Apakah Anda dan Desy sempat berpacaran?"


"Apakah Desy memang kecewa terhadap Anda lalu bunuh diri?"


"Lalu bagaimana hubungan Anda dengan keluarga Desy?"


"Apakah sejak awal Anda tahu Roni adalah saudara Desy?"


"Apakah Anda akan benar-benar menuntut Roni karena mencelakai pacar Anda?"


"Sudah berapa lama Anda berpacaran dengan Sunday?"


"Apa Sunday tahu tentang Desy sebelumnya*?"


Bergantian tapi hampir bersamaan cecaran pertanyaan wartawan membuat Faris kebingungan harus berkata apa lagi. Lalu dengan sigap seorang petugas keamanan Font menghalau para awak media itu untuk tenang dan memberi kesempatan Faris berbicara kembali.


"Desy adalah teman baikku. Bahkan hingga saat ini aku masih sangat menghormatinya. Aku sedih saat dia pergi." Meskipun hanya dari layar kaca tapi Sunday bisa melihat mata Faris berkaca-kaca.


"Kalian pasti tahu bagaimana rasanya kehilangan teman baik. Rasanya sangat menyakitkan, bukan. Kau tidak bisa menjumpainya lagi, tidak bisa bermain dengannya, tidak bisa melakukan banyak hal yang kalian sukai bersama. Dan itu pasti membuatmu sedih." Faris melihat para wartawan di sekelilingnya dengan sunggingan senyum untuk mengaburkan kesedihan yang perlahan menghampirinya lagi.


"Kalian boleh menganggapku melakukan pembelaan diri tapi aku sangat mengenal Desy. Dia bukan orang yang mudah putus asa apalagi untuk hal-hal seperti itu." Faris hampir menangis mengenang sahabat baiknya itu.


"Aku belum pernah mengenal gadis dengan hati yang kuat dan fikiran yang sangat terbuka dalam menyikapi segala hal seperti Desy. Dan semakin ku fikirkan akhirnya aku tahu kenapa Tuhan memanggilnya lebih dulu. Karena dia sangat baik. Hanya saja mungkin saat itu ada yang tidak ingin ia bagi dengan orang lain sehingga dia memutuskan pergi dengan cara seperti itu. Tapi aku yakin aku tidak pernah sespesial itu untuknya. Aku hanya temannya, tidak pernah lebih."


"Tapi kakaknya menyebutkan bahwa sebelum bunuh diri Desy menuliskan di buku hariannuya bahwa dia mencintaimu." Celetuk salah seorang wartawan.


"Aku rasa jika menjadikan aku sebagai penyebab kematiannya akan terasa kurang relevan. Dan aku yakin ada sesuatu yang lain yang tidak kita mengerti hingga saat ini." Faris masih tersenyum saat memberikan sanggahan itu.


"Itulah yang sebenarnya terjadi antara aku dan Desy jadi aku harap kalian mengerti karena Desy sudah tenang di sana. Mari jangan kita ungkit lagi masalah tentangnya. Terima kasih." Faris kembali masuk ke dalam Font. Tidak peduli wartawan yang berebut ingin menghampirinya tapi dihalau oleh para petugas keamanan agar tidak semakin mendekat.

__ADS_1


Sunday terperanjat melihat semacam konferensi pers yang ditayangkan sebuah acara berita di stasiun tv swasta khusus berita itu. Ia seolah tahu apa yang dirasakan Faris. Kehilangan seorang teman baik untuk selama-lamanya pasti sangat menyedihkan.


Ceklek!! Bunyi gagang pintu dibuka. Sunday melihat ke arah sumber suara. Pintu kamar rawat inapnya terbuka. Sejurus kemudian Faris terlihat di sana. Menatap Sunday yang duduk di atas tempat tidur masih dengan memegang remot tv. Sadar siapa yang datang Sunday segera menombol off pada remotnya dan tv seketika mati.


Faris berjalan mendekati Sunday. Wajahnya memancarkan mendung. Sunday masih jeli memandanginya yang kini berdiri tepat di tepi tempat tidurnya.


"Kau percaya padaku?" Faris menunduk memandang wajah Sunday. Sunday masih memandang wajah Faris lekat. Kemudian ia melingkarkan tangan ke pinggang Faris. Memeluk dan menyandarkan kepalanya di tumpuan yang lurus dengan letak duduknya.


"Aku percaya padamu." Jawab Sunday tanpa ragu. Faris masih membeku di tempatnya.


"Semua akan baik-baik saja. Tidak apa-apa." Sunday menepuk punggung Faris berusaha menenangkannya. Ia tahu Faris sedang tidak baik-baik saja dan butuh dukungannya.


Melihat ekspresi Faris dilayar kaca Sunday mulai menyadari bahwa apa yang dijelaskan kepadanya adalah pilihan yang sudah ia buat. Sunday mengerti Faris memperlakukan teman-teman wanitanya dengan baik karena memang ia ingin melakukan kebaikan, bukan sekadar ingin merayu mereka semata. Oleh karena itu ia mulai memaklumi sikap Faris.


"Kemarilah." Sunday melepas pelukannya dan menarik Faris untuk duduk disebelahnya. Faris masih diam dan hanya menurut saat Sunday menggeser tempat duduknya ke belakang dan berbaring.


"Letakkan kepalamu di sini." Sunday menepuk ujung bantal yang ia pakai. Faris membelalakkan matanya.


"Kau yakin?" Faris heran dengan sikap Sunday yang menginginkan ia berbaring di sampingnya.


"Aku yakin kau tidak akan tega melakukan apapun kepada seorang pasien." Sunday tersenyum. Lalu ragu-ragu Faris menuruti Sunday untuk berbaring di sampingnya. Ia masih belum percaya dengan hal itu. Bahkan ia berfikir mungkin setelah ini Sunday akan menendangnya hingga terjatuh dari tempat tidur demi hanya mengerjainya. Tapi beberapa detik saat kepala Faris menempel pada bantal dengan letak tubuh miring menggadap Sunday, ia tidak menunjukkan gejala yang Faris khawatirkan. Mereka kini ada di bantal yang sama dengan beradu pandang satu sama lain. Sunday mulai menepuk pundaknya.


"Kau, berani sekali mengajakku tidur di sini." Ucap Faris lirih.


"Sudah ku katakan kau tidak akan melakukan apapun kepadaku yang bahkan masih memakai infus." Sunday agak bergetar mengatakannya karena keraguan mulai menyusup ke dalam dirinya. Ia mulai khawatir jika Faris akan benar-benar melakukan hal lebih dan sekarang melepaskan tepukan pelannya di bahu Faris.


Ada sedikit rasa sesal di hati Sunday. Ia hanya ingin membuat Faris merasa tenang dan nyaman setelah hari berat yang dilaluinya saat ini. Ia fikir dengan berbaring maka Faris akan sedikit lebih bisa bersantai menghadapi masalahnya. Tapi melihat tatapan mata Faris yang seolah ingin menerkamnya, Sunday jadi sedikit beringsut ke belakang untuk menjaga jarak.


"Sudah terlambat untuk menghindar. Kau sudah membangunkan sisi lain dari diriku." Sunday semakin gelisah dan ingin pergi dari situ tapi Faris menariknya semakin mendekat dan bahkan sekarang tanpa jarak.


"Apa yang kau lakukan?" Sunday meronta dari dalam dekapan Faris.


"Bukankah ini yang kau inginkan?" Gumam Faris dan semakin mempererat dekapannya tanpa peduli dengan Sunday yang mengeliat ingin melepaskan diri. Meskipun mendekap, tapi Faris menjaga agar infus ditangan Sunday tidak terusik sama sekali.


"Tidak. Bukan ini maksudku." Sunday masih berusaha melepaskan diri.


"Aku hanya ingin membuatmu merasa relaks tapi ternyata isi kepalamu mengartikan lain."


"Hei, aku ini pria dewasa. Bagaimana bisa kau lupa."


"Aku tidak lupa, tapi kau bilang kau orang dengan fikiran yang bersih dan suci tapi ternyata kau sama saja."

__ADS_1


"Mana mungkin aku bisa selalu berfikiran suci. Aku ini bukan nabi."


"Iya... iya... baiklah. Sekarang lepaskan aku. Aku tidak mau berteriak memanggil suster karena sudah kau aniaya begini." Sunday mulai berhenti meronta, berharap itu akan membuat Faris tidak semakin menekannya. Dan benar, saat Sunday diam Faris mulai sedikit melonggarkan dekapannya.


"Coba saja. Aku justru akan melakukan hal lebih dari ini agar kau tidak sempat meminta pertolongan siapapun."


"Apa itu?" Sunday mendongak memandang Faris dengan mata membulat.


"Tepat seperti apa yang sedang kau fikirkan saat ini." Faris menyeringai.


"Memangnya apa yang ku fikirkan?"


"Apa kau mau aku merealisasikannya sekarang juga?" Faris semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Sunday. Sunday berusaha menjauhkan wajahnya tapi tubuhnya masih tertahan oleh dekapan Faris.


"Tidak, jangan..." Tapi Faris seperti tidak menghiraukannya dan masih mendekati Sunday. Akhirnya dengan pasrah Sunday diam dan hanya memejamkan matanya kuat-kuat. Selanjutnya yang ia rasakan hanya ada sesuatu yang lembut menyentuh keningnya. Hembusan nafas Faris menyentuh dahinya saat Sunday kembali membuka mata dan Faris sudah membuat jarak dari wajahnya.


"Lain kali jangan menggodaku dengan cara apapun." Faris melonggarkan pelukannya.


"Aku tidak menggodamu." Gerutu Sunday.


"Kau tahu, dengan kau diam saja pun kau sudah cukup bisa menggodaku. Apalagi dengan memintaku berbaring di sampingmu seperti ini." Faris memandang mata Sunday.


"Itu membuatku ingin melakukan hal lebih kepadamu."


"Hal lebih apa?" Sunday mengerjapkan matanya tidak mengerti maksud Faris.


"Kau ini kenapa bodoh sekali. Apa kau anak SD? Kenapa kau tidak tahu bagaimana seseorang jika tertarik kepada lawan jenis dan bahaya apa yang akan terjadi jika keduanya terlalu dekat."


"Apa memangnya?" Wajah Sunday polos.


"Ahh, untung saja aku yang jadi pacarmu. Coba saja itu adalah orang lain. Pasti kau sudah habis di 'makannya'."


"Siapa juga yang mau berpacaran dengan seorang kanibal."


"Sepertinya aku harus 'memakanmu' dulu agar kau tahu bagaimana rasanya dimakan."


"Kau seorang kanibal?" Sunday bergidik sambil mendongak memandang Faris yang juga memandangnya dengan penuh seringai.


"Ya, anggap saja begitu." Lalu membenamkan wajah Sunday ke dalam dekapannya lagi. Sunday masih berfikir maksud ucapan Faris. Tapi perlahan ia sadar sudah berada dalam dekapan Faris lagi. Dan aroma tubuh Faris seperti membiusnya sehingga kali ini membiarkan Faris melakukan itu kepadanya.


Tanpa sadar dan semakin jauh mereka menjalin hubungan, semakin banyak mereka membangun kenyamanan antara satu dengan yang lain. Perlahan Sunday seperti merasa bahwa tubuhnya juga harus berada pada letak yang paling rendah dan semakin menikmati dekapan hangat Faris. Hingga keduanya sama-sama tertidur dengan perasaan saling membutuhkan yang mereka punya.

__ADS_1


__ADS_2