Nona Hari Minggu

Nona Hari Minggu
Awas, Rindu!


__ADS_3

"Hai..." Sapa Faris.


"Hai..." Balas Sunday. Kupu-kupu masih terbang sesuka hati ditempat biasanya.


Setelah itu hening lagi. Mereka hanya saling pandang tanpa ingin mengucap kata. Menikmati paras masing-masing. Ada rindu yang membuat mereka hanya mampu melakukan itu.


"Lama tak bertemu, kenapa kau jelek sekali." Celetuk Faris kemudian. Sunday seketika melotot lalu memukul bahu Faris berkali-kali. Faris mengaduh dan kemudian menangkap tangannya.


"Iya iya sudah. Ternyata benar kata orang, berkata jujur itu kadang menyakitkan." Faris memandang Sunday dengan senyum malaikatnya.


"Jujur dari mana? Ucapanmu mengandung fitnah yang sangat kejam." Faris terbahak melihat Sunday yang cemberut. Bahagia sekali akhirnya ia bisa melihat pemandangan itu lagi. Wajah bulat Sunday sangat imut dan menggemaskan saat cemberut. Seandainya wajah Sunday adalah biskuit, pasti sudah habis dimakannya sejak tadi.


"Aku merindukanmu." Kata Faris kemudian. Sunday memalingkan wajah menahan rona dipipi. Menyembunyikan senyum bahagia dibibirnya. Ketika telah merasa bisa mengendalikan diri, Sunday kembali menghadapi Faris.


"Ehhmm... ehhmm..." Sunday berdehem untuk menyamarkan sisa senyumnya.


"Merindukanku? Kau bahkan tidak menghubungiku sama sekali. Apa itu yang dinamakan rindu?"


"Mmm... memangnya kau mau kuridukan?"


"Tentu saja aku mau." Sahut Sunday seketika. Menyadari kekonyolannya, Sunday menutup mulutnya sendiri dengan telapak tangannya.


"Maksudku, lama tidak ada kau, aku jadi tidak punya lawan berdebat." Faris tersenyum melihat Sunday yang salah tingkah.


"Yakin hanya sebagai lawan berdebat?" Goda Faris.


"Ya tentu saja, tidak ada kau, aku jadi sering kelebihan energi. Aku rasa sebentar lagi aku akan mengalami obesitas karena terlalu sedikit energi yang ku buang."


"Kau bisa konyol juga. Mana ada obesitas karena kelebihan energi." Faris tertawa oleh Sunday yang melucu. Sunday hanya cengengesan.


"Lagipula bagaimana aku bisa merindukanmu. Jelas sekali kau mengabaikan pesan rinduku waktu itu." Gumam Faris kemudian.


"Pesan rindu?" Sunday berfikir dan akhirnya ingat pesan terakhir Faris saat mengatakan merindukannya. Sunday memang tidak membalasnya. Tapi apakah sepenting itu untuk Faris? Itu kan hanya sebuah pesan.


"Jadi itu yang membuatmu tidak mengabariku selama kau disana?"


"Ya, tentu saja. Lalu buat apa mengabari kalau kau bahkan tidak merindukanku."


"Tapi aku kan pacarmu sekarang, meskipun hanya pura-pura." Sunday tersenyum jahil saat mengatakan itu seolah menyindir Faris yang biasanya suka mengatakan hal itu.


"Lagipula apa mengabari harus karena merindukan? Apa kau tidak ingin tahu apa aku jalan dengan pria lain selain dirimu atau tidak."


"Kau... siapa pria itu. Kau jalan dengan siapa selama aku tidak ada." Faris tampak panik dan sedikit menyesal kenapa tidak menghubunginya selama di Filipina. Sunday menahan tawa. Faris seposesif itu kepadanya.


"Memangnya detektif swasta yang kau sewa tidak melapor kepadamu?"


"Kau ini. Mau main-main denganku?" Menyadari Sunday hanya menggodanya, Faris semakin gemas dan mencubit kedua pipinya sampai Sunday mengaduh.


"Sakit tahu..." Keluh Sunday setelah Faris melepas cubitan pada pipi selembut jellynya.

__ADS_1


"Salah sendiri mempermainkanku."


"Aku pikir kau tidak akan kembali." Sunday memperbaiki duduknya diatas jok motornya.


"Kenapa berfikir begitu?"


"Mengingat sifatmu yang mata keranjang itu, bisa saja kau kecantol gadis Filipina dan malas pulang."


"Oh iya benar, gadis disana semuanya cantik. Aku sampai bingung menentukan mana yang tidak cantik. Sejauh mata memandang yang ada hanya gadis-gadis cantik. Kalau dikalkulasi, jumlah gadis cantik diantara semua populasi gadis, ada 98%, sisanya adalah gadis dengan paras biasa saja. Tapi jika 2% itu pun ada di sini mereka sudah masuk dalam kategori gadis cantik juga. Jadi, bisa kau bayangkan alangkah menyenangkannya para pria hidup disana."


"Sangat tidak bisa dipercaya. Siapa memang dimatamu yang terlihat tidak cantik. Itu kan karena mindset-mu yang playboy jadi sudut pandangmu adalah dimana ada gadis mereka selalu cantik."


"Ahh, tidak juga. Aku tidak segila itu. Aku juga masih bisa menilai kalau gadis jelek itu tetap ada."


"Oh ya? Benarkah?"


"Mmm... ini dia salah satu gadis jelek itu." Faris menujuk Sunday terang-terangan.


"Hei, kau yakin mengatakan aku jelek? Yakin sudah melihatku dengan benar? Yakin matamu tidak bermasalah?" Sunday berkacak pinggang. Faris menahan tawanya hingga wajahnya memerah.


"Aku yang kau bilang jelek begini baru saja ada yang mengungkapkan cintanya kepadaku." Faris seketika menatap Sunday tajam. Sadar dengan apa yang diucapkannya, Sunday buru-buru menutup mulut lagi.


Ya Tuhan, kenapa hari ini mulutku cablak sekali. Batin Sunday.


"Mengungkapkan cinta? Siapa yang mengungkapkan cinta padamu?" Faris mendekati Sunday. Ada sebuah kilatan disudut matanya.


"Itu... aku... hanya..." Sunday terbata karena bingung harus bagaimana.


"Ahh itu... Gong Yo. Ya Gong Yo menyatakan cintanya kepadaku."


"Siapa dia?" Wajah Faris mendadak kaku.


"Pemeran film Coffe Prince. Kau tidak akan kenal. Kau kan tidak suka menonton drama Korea jadi ku jamin kau tidak akan tau siapa dia." Sunday gugup.


"Hei, sebodoh-bodohnya aku tapi paling tidak aku tidak pernah berhalusinasi sembarangan sepertimu." Faris menyundul kening Sunday. Sunday nyengir.


"Seenaknya saja menyundul kepala orang." Gumam Sunday sambil mengelus keningnya. Faris kembali bersandar pada Toyota Rush miliknya. Diam-diam Sunday merasa lega karena Faris terlihat sudah lebih tenang dengan jawaban asal Sunday.


Bukan bermaksud ingin menyembunyikan tentang Victor dari Faris, hanya saja Sunday tidak mau Faris akan berfikiran macam-macam kepadanya. Tapi meskipun Sunday mengatakan kepada Faris bahwa Victor mengatakan cinta padanya pun seharusnya tidak masalah. Karena sedekat apapun mereka toh itu hanya sebuah sandiwara. Mereka hanya pasangan pura-pura. Mereka tidak benar-benar terikat satu sama lain.


Tapi tetap saja bagi Sunday akan nyaman tetap seperti ini. Faris tidak tahu apa yang dirasakan Victor padanya. Kalau sampai tahu, sikap posesif Faris akan muncul secara otomatis. Dia ini seperti tidak ingin sandiwaranya terganggu oleh apapun walau hanya karena seseorang mendekati Sunday. Faris selalu mengatakan bahwa sandiwara mereka harus sebaik dan serapi mungkin tanpa gangguan pihak manapun. Jadilah Sunday harus merahasiakan hal itu agar dia tidak terlalu repot diikuti olehnya setiap ke kampus. Bisa-bisa kebebasannya berkampus akan ternodai oleh kehadirannya.


"Ngomong-ngomong kapan kau datang?"


"Baru saja aku sampai rumah lalu ke sini."


Oh, berarti yang kulihat itu bukan Faris. Batin Sunday mengingat ia sempat merasa berpapasan dengan Faris. Akhir-akhir ini ia memang sering begitu. Merasa Faris ada di dekatnya tapi sebenarnya tidak. Kutukan itu benar-benar seperti nyata. Sunday benar-benar merasa Faris selalu ada disekitarnya.


"Kalau begitu ada apa ke sini secepat ini?"

__ADS_1


"Tidak ada. Hanya ingin bertemu denganmu. Ingin memastikan apa kau masih tetap jelek atau selama ku tinggalkan kau berubah menjadi jauh lebih cantik."


"Hei, pulanglah sana. Aku sedang tidak ingin kedatangan tamu apalagi kau." Sunday mendorong tubuh Faris untuk masuk ke dalam mobilnya. Sementara Faris tertawa terbahak karena berhasil membuat Sunday marah dengan ucapannya.


"Jahat sekali kau ini. Aku bahkan tidak dipersilakan masuk dari tadi."


"Tidak perlu. Orang sepertimu tidak pantas bertamu. Cepat pulanglah" Sunday cemberut. Faris gemas bukan main.


"Iya... iya... maaf. Aku hanya bercanda. Begitu saja marah. Kau ini sensitif sekali. Apa kau sedang PMS?" Goda Faris.


"PMS? Kau bahkan tahu PMS? Kau ini pria atau pria jadi-jadian? Aku jadi meragukanmu." Sunday mencibir.


"Hei, kau mau melihat aku benar-benar seorang pria?" Faris mendekati Sunday merentangkan tangan hendak memeluknya. Tapi secepat kilat Sunday menghindar.


"Apa yang akan kau lakukan."


"Memelukmu, agar kau tahu kalau aku adalah pria normal yang suka melakukan kontak fisik dengan lawan jenis. Atau kalau masih kurang meyakinkan kau boleh minta ku cium agar lebih akurat."


"Apa?!?! Tidak!!!" Sunday bergidik ngeri. Faris terkekeh.


"Mau ku cium dimana? Di pipi, kening atau bibir?"


"Hei... diam. Apa yang kau katakan. Itu menjijikkan." Sunday jadi salah tingkah bercampur ngeri membayangkan itu terjadi.


"Kau ini benar-benar playboy sejati."


"Kau sendiri yang meragukanku. Kau tau, tidak ada playboy yang juga adalah seorang gay." Faris lalu terkekeh. Sunday membenarkan kata Faris. Tapi tentu saja hanya didalam hatinya. Kalau sampai ia menyetujui pendapat Faris, pasti akan besar kepalanya.


"Baiklah, aku juga sudah melihat wajah jelekmu... Auww... " Belum habis kalimat Faris, Sunday sudah memukul bahunya.


"Sakit..." Keluh Faris.


"Siapa suruh memfitnahku terus."


"Oke oke... karena sudah melihat wajah cantik, imut dan menggemaskanmu..." Sunday jadi merona saat Faris berkata begitu. "Aku pulang sekarang." Faris membuka pintu mobilnya.


"Pastikan ponselmu selalu aktif. Karena aku tidak tahu kapan ingin mendengar suaramu. Sebenarnya aku masih merindukanmu dan ingin berlama-lama denganmu. Tapi aku sedang banyak urusan jadi aku harus pergi dulu."


"Iya pergilah secepatnya. Aku juga sudah muak melihat wajahmu."


"Oh ya? Wajah tampanku membuatmu muak? Aku rasa kau sedang berbohong. Sangat terlihat dari hidungmu yang bertambah mancung 5 cm." Faris malah menggodanya dan tersenyum lebar. Dan dengan senyumnya itu ia masih saja terlihat menawan.


"Kau tahu hidungku ini mancung sejak lahir." Sunday pura-pura cuek.


"Mancung ke dalam iya. Hahaha..." Sunday manyun.


"Ya sudah aku pergi dulu. Awas, sebentar lagi kau akan rindu padaku." Pamit Faris sambil mulai menginjak pegal gas mobilnya. Sunday menjulurkan lidahnya meremehkan.


Setelah melambai dan menyunggingkan senyum malaikatnya, Faris berlalu. Sunday masih memandang belakang mobil Faris dari depan pagar rumahnya. Hatinya yang tadi bernyanyi sekarang seperti meredup lagi. Rasanya masih ingin berlama-lama mengobrol dengan Faris.

__ADS_1


Ehh, apa yang ku pikirkan. Bersama pria narsis itu? Yang benar saja. Aku hanya akan mendengar kenarsisannya sepanjang waktu. Aku pasti sudah benar-benar dimakan kutukannya. Aku benar-benar bodoh. Sunday menundul kepalanya sendiri.


__ADS_2