Nona Hari Minggu

Nona Hari Minggu
Terperangkap


__ADS_3

"Mmm... rahasia." Faris tertawa menanggapi pertanyaan Pak Dedi.


"Oh iya, tentu saja itu adalah urusan pribadi Anda. Maafkan saya yang terlalu ingin tahu." Ujar Pak Dedi sungkan.


Hari mulai larut malam, mereka akhirnya mengakhiri acara di karaoke dan saling berpamitan untuk pulang. Sunday memencet ponsel di aplikasi ojek online-nya. Sudah semalam ini entah masih ada atau tidak ojek online yang aktif.


"Syukurlah masih ada." Gumam Sunday girang. Setelah melakukan pemesanan, Sunday menunggu di depan tempat karaoke. Sementara menunggu, sebuah klakson mengagetkannya. Sebuah mobil berhenti.


"Ayo pulang bersama."


"Tidak, terima kasih. Aku sudah memesan ojek online."


"Memesan ojek online semalam ini?" Faris sekarang sudah keluar dari mobilnya.


"Ya."


"Apa ada?"


"Ada, itu ojekku sudah datang." Sunday meninggalkan Faris begitu saja dan menghampiri driver tukang ojek online yang memakai jaket atribut penyedia jasa ojek online itu. Ojek Sunday berjalan sebagaimana mestinya, sedangkan dibelakangnya tampak mobil Faris mengikuti dalam jarak dekat.


"Mbak kenal dengan orang yang mengikuti kita?" Tanya driver ojek dengan perasaan khawatir. Ia takut mobil di belakangnya adalah seseorang yang mempunyai niat jahat.


"Jangan dihiraukan, mas. Biarkan saja."


"Mbak yakin dia bukan orang jahat?"


"Sebenarnya dia tidak jahat mas, dia hanya buaya darat."


"Waduh, gawat mbak. Kalau begitu ayo kita mengebut sebelum mbak diapa-apain. Saya juga tidak bisa ilmu bela diri soalnya."


"Iya mas, ayo kita mengebut." Setelah itu driver ojek online mempercepat laju Honda Varionya. Jalanan sudah mulai sepi, driver jadi lebih leluasa menjalankan aksi mengebutnya.


"Apa maksudnya mengebut begitu. Ini kan jalan raya, bisa berbahaya kalau mengebut." Faris ikut mempercepat jalan mobilnya juga dan tetap berada di jarak dekat dengan motor ojek Sunday.


Akhirnya Sunday sudah memasuki gang menuju kos dan tentu saja diikuti oleh Faris dibelakangnya. Yang membingungkan, bukannya berhenti di depan rumahnya, Faris malah melajukan mobilnya hingga depan kos Sunday.


"Hei mas, kau tau berkendara sambil kebut-kebutan di jalan itu berbahaya. Kau bisa mendapatkan tilang karena mengebut begitu." Faris langsung memarahi driver ojek online begitu keluar dari mobilnya. Sunday sedang melepas helm.


"Maaf pak, tapi saya pikir tadi..." Driver itu mencoba menjelaskan.


"Sudah pulanglah, sudah malam. Kau bisa membuat para tetangga bangun dengan suara teriakanmu itu." Sunday angkat bicara kepada Faris.


"Terima kasih, mas." Sunday ganti tersenyum kepada driver yang mengantarnya itu dan memberinya kode untuk segera pergi dari sana.


"Baik mbak, terima kasih kembali." Lalu driver itu memutar balik motornya dan meninggalkan Sunday serta Faris yang termihat marah itu.


"Hei, bagamaina kau bisa pergi begitu saja. Aku belum selesai." Faris mengikuti driver itu tapi tidak semakin jauh karena terlihat Sunday hendak masuk ke dalam kosnya.


"Kau juga, kenapa kau mau saja diajak mengebut begitu?"


"Aku yang minta."


"Kenapa kau memintanya mengebut? Itu berbahaya untukmu. Bagaimana kalau kau terjatuh? Kau belum tau rasanya jatuh dari motor ya? Bisa-bisanya kau mengajak driver ojek untuk mengebut."


"Tentu saja. Karena ada buaya yang sedang mengejarku. Aku takut dimakannya."


"Buaya? Maksudmu aku?"


"Memang menurutmu siapa lagi orang yang tadi mengikutiku?"


"Kau ini. Bisa-bisanya mengatakan aku buaya." Faris berjalan ke arah Sunday. Tapi Sunday yang susah membuka pintu pagar segera masuk ke dalam dan menguncinya kembali. Sebelum masuk Sunday sempat menjulurkan lidah ke arah Faris.


"Hei, aku belum selesai. Jangan masuk dulu." Teriak Faris dari luar pagar tapi Sunday tidak menghiraukannya sama sekali dan terus masuk ke dalam rumah.


🌸🌸🌸


Memasuki ruang kerjanya Sunday mendengar banyak pujian untuk Faris. Lita masih saja memuji Faris sebagai atasan yang tampan dan baik hati. Boby sependapat dengan Mario bahwa sikap Faris adalah sikap pemimpin milenial yang tidak hanya suka memerintah dan otoriter tapi dia cukup menjunjung tinggi azas kerja sama dalam bekerja. Sedangkan Pak Dedi masih terkagum pada sosok Faris yang muda tapi berjiwa pemimpin. Memimpin para pegawai dan terlebih pegawai yang sudah lebih tua darinya dengan tetap menaruh rasa hormat.


"Dia tidak pernah memanggilku ke ruangannya untuk menyerahkan berkas-berkas project. Dia selalu meminta agar orang lain saja. Seperti kali ini dia meminta agar Sunday yang mengantar file hasil ujicobaku pada ptoject kita yang hampir selesai." Mendengar kalimat Pak Dedi, Sunday memanyunkan bibirnya. Sunday berfikir bahwa itu pasti hanya akal-akalan Faris saja untuk mengerjainya dengan berbagai pekerjaan yang kadang tidak penting.

__ADS_1


"Sunday, ini antarlah." Pak Dedi menyerahkan sebuah flashdisk kepadanya.


"Baik Pak." Sunday berjalan meninggalkan tempatnya dengan berat hati. Sampai di depan pintu masuk, Sunday mengetuk pintu. Tidak ada sahutan apapun. Sunday mengetuknya kembali tapi masih belum ada jawaban. Hingga Sunday akan mengetuk yang ketiga kali tapi akhirnya gagang pintupun bergerak. Pintu terbuka. Gina keluar dari dalam ruangan.


"Hai Sunday. Aku pergi dulu." Gina tersenyum kepadanya. Wajahnya tampak berseri. Pandangan Sunday mengikuti Gina yang sedang merapikan rambut dengan menyisir menggunakan jari-jari tangannya.


"Sunday, kau disitu?" Suara bass Faris membuatnya kembali teringat pada tujuannya ke sana. Sunday pun masuk ke dalam ruangan Faris.


"Ini file dari Pak Dedi yang Anda minta."


"Letakkan di situ." Sunday meletakkan flashdisk yang dibawanya di atas meja kerja Faris. Sedangkan Faris terlihat sedang menyentuh touchpad laptopnya serius.


"Saya permisi, Pak." Sunday membalikkan badan bersiap pergi


"Tunggu..." Sunday memejam mata sambil menggigit bibirnya. Pikirnya pasti ada sesuatu hal yang akan menahannya lagi di ruang itu.


"Ya..." Sunday menghadap Faris lagi.


"Tunggu sampai aku selesai melihat filenya. Duduklah..." Tepat apa yang difikirkan Sunday, dia terjebak diruangan itu lagi.


Beberapa menit berlalu dan Faris masih serius memeriksa file project di flashdisk Pak Dedi. Sunday melihat sebuah botol bertuliskan hair tonic di atas meja. Ia mengerutkan kening.


Apa ini yang membuat rambut Faris sangat indah? Sunday menimang botol itu lalu melihat ke arah rambut Faris yang tebal dan berkilau. Sudah memandang rambut Faris, pandangan Sunday turun ke alis tebalnya, ke mata tajamnya yang serius memandangi laptop di depannya, ke hidungnya yang mancung, ke bibirnya yang sering terlihat menciptakan senyum malaikat.


"Apa sesuka itu terhadapku?" Kalimat tiba-tiba dari Faris menyadarkan Sunday bahwa sejak tadi ia memandanginya.


"Berkediplah. Kalau tidak berkedip nanti matamu iritasi." Sunday salah tingkah dan memalingkan wajahnya. Faris menahan tawa dan menuju ke tempat Sunday duduk. Faris mengambil duduk disisi Sunday.


"Apa maksudmu aku adalah buaya darat?" Kalimat Faris dengan wajah serius menghadap Sunday. Sunday tahu saat melirik ke arahnya.


"Siapa yang mengatakan kau buaya darat?" Sunday berkilah.


"Nyanyianmu kemarin itu untukku kan?"


"Kau terlalu percaya diri." Sunday terkekeh.


"Aku tahu kau masih berfikir bahwa aku adalah si playboy."


"Memangnya kau tahu?"


"Tentu saja aku tahu. Kau sudah bersama Gina pun masih mendekatiku. Apa itu bukan playboy namanya?"


"Siapa yang bersama Gina?"


"Lalu apa yang biasanya kau lakukan? Berduaan dengannya, bergandengan tangan dan entah apa lagi yang kalian lakukan saat hanya berdua saja. Kau mau mengelak? Aku tidak sebodoh itu, kau tahu." Suara Sunday berapi-api.


"Kenapa kau memarahiku? Kau lupa aku ini bosmu?"


"Bos? Bos apa? Aku tidak peduli sekarang kau bosku atau bukan. Kau bilang aku harus bersikap seperti bawahanmu saat jam kerja tapi kau sendiri tidak bisa menjaga sikapmu sebagai bos dan malah membahas soal buaya darat yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan pekerjaan." Sunday menarik nafas sebentar.


"Dan lagi, jangan gunakan jabatanmu untuk melakukan banyak hal semaumu terhadapku. Kau pikir aku tidak tahu kalau kau hanya ingin aku menemunimu dengan dalih mengatarkan flashdisk ini. Aku benar-benar tidak habis fikir bagaimana ada orang sepertimu yang memanfaatkan kekuasaanmu untuk mengerjai orang lain." Sunday terengah-engah berbicara panjang lebar tanpa jeda seperti itu.


"Ini minumlah." Faris menyodorkan segelas air putih kepada Sunday. Setelah meminumnya Sunday menyodorkan kembali kepada Faris yang hanya tersenyum menanggapi celoteh Sunday. Ia masih tampak kesal.


"Kau tahu, aku sering sekali merindukan omelanmu seperti ini. Meskipun omelanmu mirip kaleng rombeng tapi bagiku itu merdu sekali. Aku bahkan berfikir untuk merekamnya dan kujadikan sebagai musik pengantar tidur." Sunday menatap Faris lurus.


"Jadi, aku mirip kaleng rombeng?"


"Kenapa yang tertangkap olehmu adalah kaleng rombengnya? Kenapa kalimat negatif lebih cepat sampai ke otakmu daripada pujianku?" Faris tertawa kecil.


"Karena pasti itu maksudmu, selalu suka mengolokku." Sunday cemberut.


"Aku bingung." Faris menyandarkan kepala pada sandaran sofa.


"Bahkan pujian pun kau artikan olokkan. Harus bagaimana aku mengungkapkan perasaanku padamu." Mendengar itu, Sunday jadi salah tingkah dan memperbaiki letak duduknya.


"Katakan padaku, bagaimana caranya agar kau percaya bahwa aku benar-benar menyukaimu." Kalimat Faris lembut sambil memiringkan kepalanya yang masih bersandar agar ia bisa memandang Sunday. Sunday menoleh ke arah Faris dan mendapati Faris yang menatapnya lekat. Jantungnya berdegup lebih cepat dari normal.


Sunday juga bingung, apa yang harus dipercaya dari seseorang bernama Faris ini. Ia tidak pernah memahami apa yang dimaksud Faris dengan kata berubah, kata tidak playboy lagi, kata ingin dipercayai sedangkan yang dilihat Sunday sepertinya ia tidak menunjukkan perubahan apapun. Faris bilang tidak akan berganti gadis tapi yang ada sekarang ia malah sering terlihat dekat dengan Gina lalu mengatakan menyukai Sunday. Sungguh membingungkan.

__ADS_1


"Entahlah, aku permisi." Sunday bangun dari duduknya.


"Hei, kau mau kemana?" Faris meraih tangan Sunday hingga kembali jatuh ke sofa.


"Aku mau kembali bekerja."


"Aku memerintahkanmu untuk tetap disini. Aku bosmu, kau harus patuh." Sunday memutar bola matanya malas. Faris selalu menggunakan jabatan untuk menundukkannya.


"Apa lagi yang kau inginkan dariku?" Suara Sunday malas.


"Kau belum menjawabku."


"Aku tidak harus menjawabmu. Ini jam kerja dan pertanyaanmu tidak ada hubungannya sama sekali dengan pekerjaan."


"Kau ini benar-benar bawahan yang durhaka. Aku bisa mengutukmu kalau tidak patuh padaku."


"Kutukan apa lagi? Kau ini lama-lama seperti ibunya malin kundang, suka sekali mengutuk." Sunday tertawa kecil menertawakan kekonyolan Faris yang belum juga berubah dari dulu. Suka sekali mengutuknya.


"Ku kutuk kau agar jatuh cinta selamanya padaku." Faris menyeringai. Sunday teringat kutukan-kutukan Faris sebelumnya. Tentang merindukan Faris, tentang selalu memikirkannya, tentang... suka padanya. Sunday terkesiap memikirkan itu. Beberapa dari kutukannya memang seperti berhasil kepadanya. Sunday jadi gelisah.


"Omong kosong. Aku mau kembali bekerja."


"Sudah ku bilang bekerjalah denganku dulu." Faris menahan Sunday dengan menarik kedua tangannya menjadi satu dalam genggamannya. Sunday meronta-ronta berusaha melapaskan.


"Kau ini benar-benar bos gila. Bagaimana kau memperlakukan bawahanmu seperti ini." Sunday masih meronta.


"Aku akan melaporkanmu sebagai pelaku penganiayaan."


"Penganiayaan apa? Aku hanya memegang tanganmu. Aku tidak melukaimu sama sekali." Faris bersikap santai menggenggam kedua tangan Sunday hanya dengan satu tangan saja.


"Aku akan berteriak jika kau masih tidak mau melepaskanku."


"Coba saja. Berteriak saja. Saat itu aku akan menutup mulutmu dengan..." Faris tidak melanjutkan ucapannya. Itu membuat Sunday penasaran.


"Dengan apa?" Suara Sunday meninggi.


"Dengan..." Faris memonyongkan bibirnya memberi isyarat. Serta merta Sunday bergidik.


"Dasar buaya darat. Bos gila." Sumpah serapah Sunday terlontar begitu saja.


"Jadi, tenanglah dan jawab pertanyaanku tadi." Faris masih dengan seringainya. Sunday memutuskan untuk menyerah dan tidak meronta lagi. Ia duduk dengan tenang dan bersikap sok manis.


"Baiklah aku menyerah. Kau mau aku menjawab pertanyaanmu yang mana? Yang nomor berapa? Yang pilihan ganda atau yang esai?" Sunday melembutkan suaranya tanpa Faris duga. Melihat itu Faris jadi bertambah gemas. Jarang-jarang ia melihat Sunday bersikap manis begitu.


"Yang... yang..." Ternyata sikap manis Sunday membuat fikirannya teralihkan dan ia jadi kehilangan konsentrasi.


"Yang mana?" Sekarang Sunday malah bersikap manja dengan nada suara yang ia buat rendah. Faris jadi berdebar mendengar suara Sunday selembut itu.


"Yang..."


"Ahh, kau ini lama sekali." Merasakan genggaman Faris yang merenggang Sunday secepat kilat melepaskan diri dan beranjak dari duduknya. Faris yang menyadari itu berusaha meraih lagi tangan Sunday tapi Sunday sudah lebih cepat darinya dan berlari ke arah pintu.


"Hei, jangan pergi dulu." Teriak Faris.


"Aku akan memotong gajimu jika kau pergi begitu saja."


"Aku tidak peduli." Ujar Sunday sebelum menghilang dari balik pintu.


"Bye..." Sunday melambaikan tangan dan tersenyum jahil.


Faris yang merasa diperdaya oleh sikap manis Sunday jadi tertawa. Bagaimana bisa sikap manis Sunday membuatnya lupa diri.


"Ternyata dia bisa menghipnotis juga." Ucap Faris sambil masih menertawakan dirinya sendiri.


Sunday sudah ada di depan pintu lift yang masih tertutup itu. Nafasnya terengah-engah setelah berlari dari ruangan Faris.


"Aku benar-benar terperangkap bersama bos gila itu. Aku harus bagaimana?" Sunday mengetuk kepalanya dengan telapak tangannya.


"Aku sangat menyukai pekerjaanku. Tapi aku benci bos gila yang suka memakai jabatannya untuk menganiayaku itu."

__ADS_1


"Siapa bos gila itu?" Suara tenang dari seseorang di belakangnya. Seketika Sunday menegang. Lalu perlahan ia memutar tubuhnya dengan gusar.


__ADS_2