
"Kau bilang sekeluarga akan datang. Tapi kenapa hanya ada kau disini?" Sunday heran karena Papi, Mami atau keluarga Faris yang lain tidak ada di dalam mobil Faris.
"Mereka sudah berangkat kemarin sore."
"Kenapa kita tidak bersama mereka saja?"
"Aku kasihan kepadamu. Kau pikir aku sekejam itu? Setelah kuliah dan magang, langsung saja ku ajak menempuh perjalanan jauh keluar kota."
"Memang kau sekejam itu. Walaupun tidak ingin membuatku lelah dalam perjalanan, tapi kau bahkan tidak menerima kata penolakanku."
"Perlu kau tahu, aku memang sedikit diktator." Faris terkekeh.
"Semakin ke sini, semakin terlihat jelas sifatmu. Itu semakin membuatku takut."
"Kau takut? Tapi kenapa masih berani dekat-dekat denganku?" Faris melirik sambil memamerkan senyum menyeringainya. Jalanan di depannya mulai padat begitu mobil Faris keluar dari gang rumah Sunday.
"Itu karena... aku sudah terlatih. Ya, aku sangat mahir menghadapi orang sepertimu." Sunday sendiri bingung bagaimana dia bisa senyaman ini bersama seseorang yang dia sendiri juluki sebagai playboy, mudah memaksakan kehendak dan membuatnya melakukan hal-hal semaunya.
"Oh ya?" Faris menengok dan matanya penuh selidik.
"Hei, fokuslah pada jalan di depanmu." Faris lalu meluruskan pandangannya lagi ke depan.
"Kau sudah sarapan?"
"Tentu saja sudah. Kenapa?"
"Aku belum sarapan. Kita ke mini market dulu." Faris lalu membelokkan mobilnya ke sebuah swalayan. Setelah mesin mobil dimatikan, mereka berdua turun. Memasuki mini market. Sunday mengambil sebotol air mineral. Faris memasukkan air mineral, jus buah kemasan botol, beberapa cemilan berat semacam roti dan juga makanan ringan yang memenuhi keranjangnya. Membawanya ke kasir lalu membayar dan kembali ke mobil.
Faris mulai membuka roti selai coklat. Memakannya dan setelah itu meminum air mineral kemasan lalu meninggalkan halaman parkir mini market dan melanjutkan perjalanan.
Sepanjang perjalanan diiringi lagu-lagu Ed Sheeran dan Bruno Mars. Sunday menikmati perjalannya. Akan butuh waktu 6 jam perjalanan untuk sampai ke tempat saudara Faris.
"Kalau mengantuk, tidurlah." Sunday hanya menyengir ketika tertangkap basah dirinya mengantuk.
"Tidak, kasihan kalau pak sopir melek sendirian."
"Tidak apa-apa. Lagipula penumpang dilarang berbicara dengan sopir."
"Entahlah, aku sendiri juga heran kenapa bisa menjadi kebiasaan setiap naik mobil selalu tertidur."
"Tentu saja, aku kan menyetir dengan sangat baik. Pasti kau merasa sangat nyaman sampai selalu membuatmu ingin tidur."
"Kalau begitu kenapa menjadi pelaut? Kenapa bukan menjadi sopir saja? Sepertinya itu lebih cocok untukmu."
"Kalau aku jadi sopir, aku tidak cocok menjadi playboy. Gelar playboy itu cocok sekali untukku yang adalah pelaut." Kalimat Faris seperti adalah sindiran dari pandangan Sunday tentang pelaut. Mendengar itu, Sunday hanya menyunggingkan senyumnya kecut.
Setelah itu, Sunday hanya merasakan kantuknya yang semakin berat dan berat. Lalu, akhirnya ia benar-benar tertidur.
"Dasar tukang tidur." Gumam Faris melirik Sunday.
Satu jam sudah Sunday tertidur dan merasakan ada yang mengganjal kepalanya. Pelan-pelan membuka matanya dan mendapati dirinya sudah bersandar dipundak Faris. Mobilnya sudah berhenti di tepi jalan. Menyadari posisi tidurnya, Sunday beringsut mengangkat kepalanya.
"Sudah sampai mana kita?" Sunday masih mengerjap-ngerjapkan matanya yang masih ada sisa kantuk disana.
__ADS_1
"Tidurlah lagi. Kita baru menempuh setengah perjalanan."
"Oh ya? Kupikir sudah hampir sampai."
"Belum... tidurlah..."
"Suka sekali kalau aku tidur. Kau benar-benar sopir yang tidak ingin diganggu ya."
"Anggap saja begitu." Faris mulai melajukan mobilnya.
Bukan karena lelah dan ingin beristirahat Faris menghentikan mobilnya tadi. Tapi ia melihat posisi tidur Sunday yang hampir roboh dengan kepala yang terlalu miring ke kanan sandaran kursi. Jadi Faris menghentikan mobilnya demi memperbaiki posisi tidur Sunday. Tapi baru Faris menyentuh kepala Sunday, ia malah menarik lengan Faris dan membenamkan kepalanya di pundak Faris. Tidak ingin membangunkan Sunday, Faris hanya bisa membiarkan Sunday nyaman dalam tidurnya.
Acara pernikahan tampak meriah. Banyak tamu undangan yang hadir. Semua tampak bahagia. Sunday mengedarkan pandangan. Sebuah pesta pernikahan yang digelar di ballroom dengan tema serba putih itu adalah impian banyak pasangan pengantin. Sunday berkeliling ruangan saat sepasang pengantin memasuki ruangan pesta. Diantara tamu undangan yang hadir, Sunday mencoba mencari celah untuk melihat pasangan pengantin. Tapi terlalu banyak tamu undangan yang menutupi jalan menuju pelaminan, akhirnya Sunday tidak bisa melihat kedua mempelai. Baru ketika pengantin berada di pelaminan, Sunday bisa melihat dengan jelas. Keduanya tampak sangat bahagia. Senyum mereka sangat sempurna. Dengan tangan pengantin wanita memeluk lengan pengantin pria, keduanya sangat serasi.
Tapi, Sunday seperti menjadi gusar ketika pengantin pria hendak memberikan ciuman kepada pengantin wanita. Hatinya mendadak sakit. Dadanya sesak. Sungguh pemandangan yang benar-benar tidak ingin dilihatnya. Tiba-tiba air matanya meleleh menahan hatinya yang jatuh, pecah menjadi serpihan-serpihan.
Faris yang berdiri di sana terlihat sangat tampan. Berdiri tegap dengan senyum bahagianya bersama Rima yang mengenakan gaun putih bak putri dalam dongeng. Sunday memalingkan wajah menghindari pemandangan didepannya. Selanjutnya yang ia rasakan seseorang menggoyang-goyangkan bahunya. Seketika suasana berubah. Sebuah ballroom menghilang dalam sekejap. Sekarang yang ada di depannya adalah Faris yang tampak khawatir memandanginya. Tanpa berfikir panjang, Sunday menghambukan pelukannya kepada Faris.
Tidak siap dengan tindakan Sunday, Faris terhuyung dari duduknya semula hingga punggungnya menyentuh pintu mobil. Faris seketika terkesiap. Tidak mengerti apa yang terjadi kepada Sunday. Jantungnya seolah hampir meloncat mendapat perlakuan tiba-tiba Sunday.
"A-ada apa?" Faris masih berusaha menguasai perasaannya.
Sunday yang menyadari tindakannya lalu membuka matanya, mengerjap-ngerjap dan buru-buru melepaskan pelukannya.
"Oh... aku... aku bermimpi." Sunday memperbaiki letak duduknya. Faris juga melakukam hal yang sama.
"Mimpi?"
"Mimpi apa?" Faris menyelidik. Mimpi apa yang menyebabkan Sunday menangis tersedu seperti itu dalam tidurnya. Dan saat bangun malah memeluknya erat.
"Mimpi... mimpi... mmm..." Sunday tidak mungkin mengatakan mimpinya kepada Faris. Itu sungguh memalukan.
"Mimpi buruk. Ya... mimpi yang sangat buruk."
"Apa seburuk itu sampai kau menangis?"
"Aku menangis?" Faris mengangguk. Sunday meraba wajahnya yang memang basah dikedua pipinya. Dia benar-benar menangis. Mimpi itu terasa benar-benar nyata dan rasa sakit hatinya juga seolah memang terasa bahkan sampai saat ini dadanya masih sesak.
"Ya."
"Aku bermimpi bertemu hantu." Sunday menjawab asal.
"Apa sangat menyeramkan sampai kau ketakutan begitu?"
"Iya, mimpi itu sangat menyeramkan."
"Baiklah, ayo turun. Kita sudah sampai." Ajak Faris sambil membuka pintu mobil. Sunday mengikuti.
Faris mengeluarkan tasnya dan tas Sunday dari bagasi lalu membawanya masuk ke dalam pintu hotel. Hotel yang bagus dan cukup ternama sebagai hotel bintang lima. Sunday masih mengekor Faris hingga meja resepsionis. Tampaknya Faris sudah membooking kamar untuk dirinya sendiri dan untuk Sunday sebelum mereka sampai ke sini. Terbukti saat sampai meja resepsionis dia sangat cepat mendapatkan kunci kamarnya.
"Ini kuncimu." Faris mengulurkan tangan memberikan kunci.
"Kita menginap di lantai 11." Sambil berjalan menuju lift. Lagi-lagi Sunday hanya mengikuti langkah Faris.
__ADS_1
Pintu lift terbuka dan mereka masuk ke dalamnya. Tidak ada seorangpun di sana, hanya mereka berdua. Sunday masih diam. Faris yang melihat itu hanya tersenyum. Wajah Sunday setelah menangis selalu terlihat lucu. Hidungnya merah, membuatnya ingin mencubitnya saja.
Pintu lift terbuka, mereka melangkah keluar. Tapi tiba-tiba Sunday terhuyung kedepan dan menabrak punggung Faris. Faris kaget dan membalikkan badan.
"Ada apa?"
"Aku tersandung." Faris mengernyitkan dahinya.
"Ada-ada saja kau ini. Apa perlu kugendong?"
"Tidak perlu. Aku bisa jalan sendiri."
"Kupikir kau belum sepenuhnya bangun dari tidurmu sehingga jalanpun masih belum benar."
"Tidak, aku baik-baik saja."
"Ini kamarmu." Tunjuk Faris pada sebuah pintu bernomor itu.
"Mana kuncimu?" Mengambil kembali kunci yang telah diberikan kepada Sunday lalu membukanya.
Sebuah kamar dengan tempat tidur berukuran queen. Ada sofa di sisi tempat tidur dan cendela menuju balkon. Kamar ini tidak begitu luas tapi penataannya cukup bagus sehingga enak dipandang.
Sunday keluar menuju balkon. Dari atas situ ia bisa melihat seluruh kota. Jalan di depannya dan rumah-rumah tampak mungil disana.
"Ini minumlah." Faris memberinya jus buah kemasan. "Ini akan membuatmu segar."
"Terima kasih." Sunday merasakan jus buah itu dingin. Pasti dia mengambil dari lemari es disudut kamarnya. Meminumnya dan memang benar, rasa jeruk pada jus membuat badannya seketika segar. Rasa manisnya membuat tenaganya pulih. Dan rasa masam membuat kantuknya segera hilang.
Saat Sunday ingin berbalik, tubuhnya menabrak Faris yang ternyata masih berdiri dibelakangnya. Jus buah yang dibawa Faris dan belum tertutup itu menumpahi bajunya.
"Oh, maaf." Sunday mengelap baju Faris. Tapi semua dirasa sia-sia kalau hanya memakai tangan. Akhirnya diambilnya tisu diatas meja kamar dan mengelapnya. Faris masih diam tidak bergeming.
"Kenapa kau ada dibelakangku?"
"Aku suka berada dibelakangmu." Sunday mendongak memandang wajah Faris yang juga menunduk memandangnya. Tinggi badan Faris yang 182 cm membuat mereka tidak seimbang jika berpandangan seperti ini.
"Kau ini suka ya kutabrak?" Sindir Sunday dalam nada bercanda lalu tertawa. Tapi pelan-pelan Faris malah mendekatkan wajahnya ke wajah Sunday. Jantung Sunday berdebar hebat. Pandangan lembut Faris seperti sebuah hipnotis yang membuatnya diam tak bergerak walau sekadar mengangkat kakinya untuk memundurkan tubuhnya. Tidak tahu harus melakukan apa, Sunday hanya memejamkan matanya rapat-rapat menghindari tatapan Faris.
"Buka matamu." Seketika Sunday membuka matanya, heran. Mengerjap-ngerjapkan matanya penuh tanda tanya.
"Bagaimana aku mengambil belek dimatamu kalau kau merem seperti itu."
Seketika Sunday menangkupkan kedua tangan ke wajahnya. Mencari sesuatu di sekitar matanya. Memang ada yang terasa mengganjal di mata Sunday saat ia merabanya dan itu benar-benar memalukan.
"Sudah sana pergi ke kamarmu sendiri. Aku mau mandi." Sunday mendorong tubuh Faris menuju pintu keluar.
"Iya... iya... aku keluar." Faris menahan tawa melihat Sunday yang malu seperti itu.
"Aku ada di kamar sebelahmu. Jika butuh apapun beri tahu saja aku."
"Iya, sudah keluarlah." Lalu Faris keluar dengan sebelumnya menutup kembali pintunya.
"Benar-benar memalukan. Bukannya ada pelangi dimataku, tapi ini ada belek. Memalukan... memalukan." Sunday menangkupkan kedua tangannya malu sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1