Nona Hari Minggu

Nona Hari Minggu
Kening


__ADS_3

Victor melihat sebuah mobil mendekat ke arahnya. Semakin dekat semakin terlihat jelas siapa yang ada di mobil itu. Sunday dan Faris. Hatinya mencelos melihat mereka bersama seperti itu. Saat mobil Faris berhenti ia bisa melihat keduanya tampak berbincang lalu seketika Victor seperti terbakar saat Faris mengecup kening Sunday dihadapannya. Tapi ia tutupi itu rapat-rapat dan berpura-pura tidak melihat apa-apa saat Sunday berjalan menghampirinya.


Sementara itu Faris tersenyum sinis memandang Victor yang ada di depannya.


"Kau tahu, Sunday sekarang adalah pacarku dan dia hanya menyukaiku. Jadi sekuat apapun usahamu, dia tetap akan jadi pacarku." Gumam Faris sambil memundurkan mobilnya untuk masuk ke halaman rumahnya. Ia sengaja mencium Sunday tiba-tiba karena ingin menunjukkan kepada Victor bahwa Sunday sudah menjadi pacarnya. Sehingga Victor akan mundur dan berhenti mendekati Sunday.


Sunday sudah ada di hadapan Victor sekarang.


"Ada apa, Kak? Sudah lama menungguku?" Sapa Sunday dibuat sebiasa mungkin untuk apa yang dialaminya baru saja. Ia tahu pasti Victor juga bisa melihat itu.


"Ya, lumayan." Jawab Victor dengan masih ada percikan api di dadanya yang membuat hatinya hampir hangus melihat kemesraan Sunday dan Faris.


"Kenapa tidak meneleponku lebih dulu?"


"Kenapa? Kau takut Faris cemburu melihatku mendatangimu?"


"Ahh tidak, bukan begitu." Sunday mengibaskan tangannya sedikit gugup. Ia mengerti sekarang pasti Victor sudah tahu kalau Faris adalah pacarnya. Sunday sedikit menyesali tindakan tiba-tiba Faris tadi. Itu membuatnya menjadi malu berhadapan dengan Victor.


"Kalian sudah berpacaran, bukan?"


"Mmm... itu..." Sunday bingung harus menjawab apa karena sebenarnya ia belum ingin ada yang tahu tentang hubungannya dengan Faris. Tapi Faris malah terang-terangan menciumnya di depan Victor. Tentu saja itu membuat hubungannya menjadi sangat jelas terlihat.


"Tidak apa-apa kalian sudah berpacaran." Victor menghela nafas berat setelah mengatakan itu.


"Aku hanya perlu berhenti."


"Aku ingin kita tetap berteman apapun yang terjadi."


"Tentu saja itu sangat mudah bagimu. Tapi sebaliknya, rasanya itu sulit sekali untukku." Mendengar itu Sunday jadi sadar sudah salah mengatakan hal itu. Ia tiba-tiba menjadi sangat egois.


"Maafkan aku." Suara Sunday lemah.


"Maaf untuk apa?" Victor menggerutkan kening.


"Jangan meminta maaf. Itu justru membuatku menjadi seseorang yang sangat menyedihkan karena telah membuatmu merasa bersalah."


"Bukan, bukan begitu maksudku. Hanya saja aku terlalu egois memaksamu untuk merasakan apa yang kuinginkan. Seharusnya kau bebas melakukan dan merasakan apapun yang kau inginkan."


"Itu tidaklah berarti, Sunday. Aku akhirnya tahu kau dan Faris sudah bersama jadi aku harus tahu diri dan menyerah."


"Kak... kau adalah orang yang sangat menyenangkan. Aku yakin banyak gadis yang menyukaimu. Dulu aku sering mendengar dari para mahasiswa wanita kau seperti menjadi idola mereka. Tampan, pandai, baik dan banyak sekali pujian dari mereka..."


"Tapi cinta itu tentang hati. Sebaik apapun diriku menurut mereka, pada kenyataannya aku tidak bisa meluluhkah hatimu. Dan sebanyak apapun pujian yang mereka berikan, aku juga tidak bisa dengan mudah jatuh hati pada salah satu pun diantara mereka, kecuali dirimu." Victor menatap Sunday lurus. Tatapan itu seperti sebuah pisau yang menguliti hatinya. Terasa nyeri oleh rasa iba yang menyelimuti dan membuat mata Sunday berkaca-kaca.


"Sudah mulai gelap. Sebaiknya aku pulang. Aku sudah cukup mendapat jawaban darimu. Semoga kau selalu bahagia." Victor menyunggingkan senyum yang terlihat bahwa itu sangat dipaksakan.


"Semoga Kakak juga segera bertemu dengan gadis baik yang mencintai dengan tulus."


"Ya, semoga." Victor memasuki mobilnya. Sunday masih berdiri di depan pintu pagar kosnya sampai yakin Victor tidak terlihat oleh pandangannya.


"Akhirnya pergi juga pria itu." Faris melepas teropong dari matanya. Ia sengaja mengawasi Sunday dan Victor dari lantai 2 rumahnya menggunakan teropong karena ia tidak ingin melewatkan jika ada hal-hal yang tidak diinginkannya terjadi pada Sunday.


Sunday memasuki kosnya. Bu Uni yang sedang menerima telepon tersenyum menyambut Sunday. Tapi lalu Sunday menuju kamarnya dan membiarkan Bu Uni melanjutkan mengobrol dengan seseorang di telepon.


Ponsel Sunday berdering memanggil dirinya yang sedang melepas jas Faris yang sejak tadi menutupi tubuhnya. Entah apa juga yang difikirkan Victor tentang dirinya. Bagaimana bisa Sunday memakai jas pria saat menemuinya.


"Kenapa kalian mengobrol lama sekali. Apa saja yang kalian bicarakan?" Semprot Faris tanpa muqadimah terlebih dulu.


"Kenapa memangnya?" Sunday tidak mau kalah.


"Kau ini suka sekali memata-mataiku. Seperti aku ini buronan polisi saja."


"Kau lebih dari itu. Kau adalah tawananku."


"Apa? Tawananmu? Bagaimana bisa aku menjadi tawananmu? Atas dasar apa?"


"Karena kau sudah melakukan kejahatan padaku."

__ADS_1


"Hei, aku bukan penjahat. Jadi kejahatan apa yang sudah ku lakukan padamu sehingga aku layak menjadi tawananmu."


"Karena kau sudah mencuri hatiku." Ucap Faris lirih. Sebenarnya antara merasa lucu sekaligus senang menjadi satu yang saat ini Sunday rasakan. Tapi ia hanya bisa tersenyum sipu tanpa mengeluarkan suara apapun.


"Sunday... kau tidak tidur kan?"


"Mana bisa aku tidur dengan baju basah begini."


"Ku pikir kau tertidur mendengar suara indahku."


"Sudahlah, aku mau mengganti bajuku dan mandi." Sunday menutup teleponnya secara sepihak. Lalu perlahan ia elus keningnya yang tadi dikecup oleh Faris. Itu sudah berlalu tapi Sunday merasa kalau rasanya masih saja menempel. Lalu buru-buru ia memasuki kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


🌸🌸🌸


Pagi ini Sunday berangkat lebih awal dari biasanya. Ia tidak ingin bertemu Faris saat berangkat bekerja. Sejak Faris mengecupnya, Sunday jadi merasa malu kalau harus bertemu denganya. Bahkan semalam Sunday sudah mencuci wajahnya berkali-kali tapi rasa kecupan itu rasanya masih saja ada.


"Apa aku harus mencucinya dengan kembang tujuh rupa agar rasanya bisa hilang." Sunday masih meraba keningnya. Dan setiap kali mengingat kejadian itu wajah Sunday jadi menghangat.


"Dasar Faris bodoh. Seenaknya saja mencium kening orang lain tanpa permisi." Sunday mempercepat langkahnya menuju Font.


Faris : datanglah ke ruanganku di jam istirahat


Sunday membaca pesan Faris lalu meletakkan ponselnya kembali ke atas meja tanpa membalasnya lebih dulu.


Enak saja mendatanginya di jam istirahat. Dia pikir aku tidak butuh makan siang? Lagi pula malas sekali dengannya. Dia pasti akan menahanku di ruangannya dan tidak memperbolehkanku keluar sampai dia puas mengerjaiku dengan berbagai tipu muslihatnya. Dia itu benar-benar tidak pernah bosan mengerjaiku agar tetap bisa di dekatnya. Dia pikir aku tidak tahu apa akal busuknya. Sunday bersungut-sungut membatin tingkah Faris yang sering jahil tapi terlalu.


Hingga jam istirahat Sunday turun untuk makan siang. Lita mengatakan punya janji dengan seseorang di jam makan siang jadi kali ini Sunday harus makan siang sendirian. Ia tidak berharap bisa makan siang bersama Gina seperti dulu lagi. Setiap bertemu dengannya Sunday merasa seperti dilema. Antara merasa bersalah dan cemburu sekaligus. Merasa bersalah karena memacari orang yang disukai Gina dan cemburu karena Gina selalu mengumbar cerita tentang kedekatannya dengan Faris. Dan bahkan setelah dia tahu Sunday berpacaran dengan Faris pun dia tetap tidak sungkan menceritakan tentang kebaikan dan perhatian Faris kepadanya. Dan jika sudah begitu, Sunday akan pura-pura terlihat baik-baik saja walau hatinya terasa butuh kipas tukang sate karena mulai memanas.


Cafetaria siang ini cukup ramai. Sunday mengambil duduk di dekat pintu. Dari sini ia bisa melihat ke arah luar sehingga bisa sekalian mencari hiburan dengan melihat ke sisi yang lebih luas di luar cafetaria. Sunday menyuapkan makan siangnya saat Faris dan Gina melintas menuju pintu keluar.


Mau kemana mereka? Makan siang bersama? Wah, ini tidak benar. Bagaimana mungkin mereka melakukan itu tanpa sepengetahuanku. Ini namanya perselingkuhan. Sunday meletakkan sendoknya kembali. Tiba-tiba selera makannya menghilang begitu saja. Sunday termenung di mejanya sendirian. Makan sendirian saja sudah sangat menyiksa, ini malah memergoki Faris pergi bersama Gina. Benar-benar seperti sudah jatuh tertimpa tangga. Sakitnya tuh di sini.


Sunday berjalan ke arah luar mencari udara segar tapi tidak jadi ia lakukan karena cuaca terlalu panas. Lalu ia kembali ke dalam dan menaiki tangga darurat menuju ruang kerjanya. Berjalan satu per satu menapaki anak tangga sambil menyesali keputusannya yang mengabaikan isi pesan Faris.


"Kalau saja aku datang menemuinya mungkin dia tidak akan pergi bersama Gina." Sunday menyesal.


"Tapi, kenapa aku jadi merasa bersalah? Bukankah Faris bisa menolaknya saat Gina mengajak pergi." Sunday berfikir ulang.


"Tapi Gina tahu Faris adalah pacarku sekarang. Seharusnya dia bisa menolak ajakannya untuk menjaga perasaanku." Sunday masih terus berfikir.


"Ahh, tapi aku juga sejahat itu. Aku juga memacari orang yang disukai Gina. Jadi ku anggap ini adalah karmaku." Wajah Sunday menjadi sendu menekuri anak tangga yang dinaikinya.


"Entahlah, aku jadi bingung sendiri. Lebih baik berdiam di ruanganku saja sampai jam istirahat berakhir." Tanpa terasa Sunday sampai di lantai 4. Melewati lift tepat saat itu pintu lift terbuka dan Faris keluar dari sana. Sunday hampir melompat melihat pria tinggi itu hampir menabraknya.


"Hei, kau tidak bisa melihat ada aku didepanmu?"


"Ku rasa ada suara tapi kenapa tidak ada rupa? Seekor semut atau seorang kurcaci yang berbicara?" Faris pura-pura tidak menyadari keberadaan Sunday di sana.


"Malas sekali denganmu." Sunday mengeloyor pergi meninggalkan Faris. Faris mengejarnya, menarik tangannya hingga Sunday berbalik dan punggungnya mbentur dinding lorong.


"Kau mau kemana?" Tanya Faris menyeringai.


"Aku mau ke ruanganku." Sunday bermaksud pergi. Tapi lengan Faris yang menumpu pada tembok menghalangi Sunday.


"Kau kenapa ada disini? Bukankah ruanganmu ada di lantai 5."


"Ya, tapi aku sedang ada urusan dengan seseorang di sini." Sunday memutar bola matanya malas mendengar penuturan Faris. Padahal beberapa saat lalu ia baru saja bersama Gina.


"Kenapa kau tidak datang memenuhi perintah bosmu?"


"Bos apa yang menyuruh anak buahnya bekerja di jam istirahat. Kau pikir ini kerja rodi. Atau romusha?" Sunday bermaksud pergi dari sisi yang lain. Tapi satu tangan Faris menutup jalan Sunday juga. Jadi Sunday seperti terkungkung diantara lengan kokoh Faris dan tidak bisa berbuat apa-apa selain memandang lurus wajah Faris yang hanya sejengkal di depannya.


"Aku menyuruhmu datang sebagai pacarku, bukan sebagai pegawaiku. Apa itu ada hubungannya dengan kerja rodi?"


"Bisa saja."


"Jadi kau pikir penjajah Belanda menyuruh rakyat pribumi melakukan kerja rodi karena mereka menyukai rakyat pribumi?" Faris menahan tawa.

__ADS_1


"Aku menyuruhmu datang karena aku ada sedikit urusan denganmu."


"Apa?" Sunday menyolot.


"Aku masih penasaran dengan apa yang kau bicarakan dengan Victor kemarin."


"Rahasia."


"Hei, aku ini pacarmu. Kenapa kau merahasiakannya? Itu sangat mencurigakan."


"Biar saja. Kau ini suka sekali mencampuri urusan orang lain."


"Siapa yang orang lain? Kau itu pacarku jadi aku berhak tahu apapun yang ingin aku tahu darimu."


"Dasar posesif."


"Tidak mau mengatakannya? Baiklah, aku akan menciummu lebih daripada yang ku lakukan kemarin." Mendengar itu dada Sunday kembali menghangat. Teringat kembali bagaimana tanpa aba-aba Faris meyentuh keningnya dengan bibir. Sepertinya Faris tidak main-main. Ia benar-benar mendekatkan wajahnya ke wajah Sunday yang setiap detiknya semakin panik.


"Hai Lita, ini bukan apa-apa." Faris menoleh ke arah Sunday berbicara. Kesempatan itu diambil oleh Sunday untuk menerobos keluar dari kungkungan Faris melalui bawah lengannya. Menyadari tipuan Sunday, Faris semakin gemas dan mengejar Sunday lalu menangkapnya dan mengangkat tubuh imut Sunday menuju lift diujung lorong.


"Ya Tuhan, itu Lita."


"Kau mau membohongiku lagi?" Faris tidak peduli pada kata Sunday lagi setelah baru saja dibohongi.


"Aku serius. Aku tidak bohong."


"Mari kita lihat." Faris berbalik masih pada posisi yang sama. Tapi ia juga terkejut saat yang berdiri di depan lift benar-benar Lita. Faris segera menurunkan Sunday.


"Aku tidak melihat apa-apa. Aku hanya kebetulan lewat saja. Silakan kalian lanjutkan." Lita jadi serba salah memergoki adegan romantis ala Sunday dan Faris. Ia lalu memasuki pintu ruangannya.


"Lihatlah akibat dari kekonyolanmu. Lita jadi tahu."


"Biar saja. Satu orang tahu itu bagus. Agar kau juga tidak berani macam-macam saat aku tidak ada. Karena ada orang yang tahu hubungan kita."


"Enak saja. Bukankah itu adalah kau. Yang seenaknya menghabiskan waktu bersama wanita lain saat aku tidak tahu."


"Oh ya? Apa aku pernah melakukannya?" Faris mengingat-ingat apa yang dimaksud Sunday.


"Apa kau mengalami amnesia partial sampai-sampai kau lupa beberapa saat yang lalu berjalan dengan Gina."


"Oh, jadi itu." Faris tersenyum mengerti apa yang dibicarakan Sunday.


"Kau melihatku keluar bersama Gina? Padahal aku hanya membantunya membenahi kaca mobilnya yang macet." Sunday jadi mengerti kenapa Faris secepat itu kembali dan bisa menemukannya di sini.


"Jadi kau cemburu?"


"Bukan begitu..."


"Iya, kau cemburu. Itu terlihat sekali di keningmu." Mendengar kata kening Sunday jadi teringat lagi pada kecupan Faris.


"Jangan bilang kening." Ujar Sunday seketika.


"Kenapa? Apa yang salah dengan kening?"


"Tidak ada. Hanya saja aku tidak suka mendengar itu."


"Kening..." Ulang Faris.


"Hentikan."


"Kening... kening... kening..." Faris sengaja melakukan itu karena ia tahu yang difikirkan Sunday pasti adalah kejadian sore itu.


"Kau bisa diam tidak?"


"Kening..."


"Hei! Diamlah atau akan ku..."

__ADS_1


"Ku apa? Ku kecup keningmu? Ku cium keningmu?" Goda Faris semakin menjadi.


"Malas sekali denganmu." Wajah Sunday merona merah dan berlari meninggalkan Faris lalu memasuki ruang kerjanya. Faris tersenyum senang melihat Sunday bersikap begitu.


__ADS_2