
Sunday membuka matanya lagi saat terdengar pintu tertutup kembali. Ia tidak habis fikir bagaimana bisa Faris menganggap kebaikannya itu hal yang biasa sementara orang lain yang mendapatkan kebaikannya menjadi terbawa perasaan dan berharap hal lebih kepadanya. Benar-benar menjengkelkan. Sunday mendengus kesal lalu memejamkan matanya kembali dan berusaha mengusir kesal dihatinya.
Sebuah telepon masuk ke ponsel Faris. Ia sedang menuju dimana mobilnya terparkir.
"Ya." Pembuka Faris saat mengangkat telepon. Selanjutnya ia hanya menyimak perkataan orang di seberang.
"Baiklah, aku akan segera ke sana." Setelah itu ia menutup teleponnya dan membuka pintu mobil menuju kantor polisi.
Memasuki sebuah ruangan, Faris diantar oleh seorang petugas kepolisian. Setelah memasuki ruangan itu, Faris duduk di sebuah kursi dengan sebuah meja di tengah ruangan. Mirip sebuah ruang introgasi. Beberapa saat menunggu, pintu kembali terbuka dan muncul seseorang dengan tangan terborgol digiring oleh seorang polisi. Lalu Roni kini duduk di hadapan Faris. Sedangkan polisi yang mengantarnya menunggu di luar ruangan.
Beberapa saat ruangan itu hanya diisi dengan kebisuan diantara keduanya. Faris memandang Roni dengan pandangan penuh rasa ingin tahu.
"Jadi, kenapa harus Sunday?" Akhirnya Faris membuka suara karena melihat Roni yang juga memandangnya dengan sinis.
"Kau tahu kenapa harus Sunday." Jawab Roni dengan senyum sarkasnya. Mendengar itu Faris langsung tahu maksud Roni.
"Siapa Desy?" Tanya Faris lagi.
"Kau lupa? Kau melupakannya begitu saja?" Roni mencibir.
"Aku tidak mungkin melupakan siapa dia. Tapi siapa dia bagimu?" Roni membuang muka mendengar kalimat Faris.
"Bagaimana bisa kau masih menikmati hidupmu dengan bahagia sementara ada orang yang hingga hari ini masih menangisi kepergiannya."
"Maksudmu?"
"Ibunya harus kehilangan kewarasan karena kehilangan putri yang sangat dicintainya." Roni berkaca-kaca karena mengatakan hal itu.
"Kau tahu, bahkan hingga detik ini ibunya tidak pernah sedikitpun tidur dengan nyenyak dan makan dengan baik karena selalu mencemaskan putrinya yang tidak pernah pulang dari sekolah. Ia selalu menunggunya di depan pintu. Berharap putrinya pulang membawa senyuman dan cerita tentang hari-harinya di sekolah." Roni menyeka kedua matanya yang basah dengan tangan terborgolnya.
"Aku bahkan tidak tahu lagi harus bagaimana membujuk ibu agar bisa menerima kepergian Desy. Ibuku yang malang, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Dokter bahkan tidak bisa membuatnya sadar akan kenyataan yang terjadi sebenarnya. Obat-obatan yang dikonsumsi hanya membuatnya tertidur sementara dan konsultasi dengan para psikiater belum juga membuahkan hasil. Tekanan berat di batinnya membuatnya sulit untuk bangkit dan menerima kepedihan yang harus diterima." Roni kini menangis dan bahkan ia tersedu.
Diam-diam Faris memandangnya iba. Ia tidak menyangka akan sejauh itu akibat dari kepergian Desy untuk keluarganya. Sehingga itu yang membuat Roni ingin membalas kematian adik kandungnya dengan menyakiti Sunday agar Faris juga merasakan hal serupa, setersiksa ibunya.
Waktu berkunjung habis. Roni dibawa kembali ke sel tahanannya. Polisi telah mengantongi kesaksian Sunday sehingga tidak butuh waktu lama bagi Polisi untuk membuat Roni berstatus tersangka. Saat itu Roni sedang mendekam di rumah kos, bukan di rumahnya sendiri karena bersembunyi adalah bagian dari rencananya setelah membuat Sunday celaka. Detektif sangat cekatan sehingga keberadaan Roni segera diketahui dalam waktu yang singkat.
Faris meninggalkan kantor polisi tempat Roni di tahan. Apapun alasan Roni, ia tetaplah melanggar hukum dengan berencana menghilangkan nyawa seseorang dengan sengaja dan harus mendapatkan tindakan hukum.
"Kau tahu, ku pikir aku beruntung masuk ke dalam Font. Tapi melihatmu ada di sana juga aku merasa aku bukan saja beruntung tapi lebih dari itu, aku sangat sangat beruntung." Ingatan Faris kembali pada Roni saat ditemuinya tadi.
"Aku merasa memiliki kesempatan untuk membalaskan dendam Desy. Membalas perbuatanmu kepadanya. Dan saat tahu kebersamaanmu dengan Sunday, aku merasa harus membuatmu merasakan apa yang kami rasakan saat kehilangan Desy."
Faris masih mengendarai mobilnya dengan perasaan yang tidak karuan. Selama ini ia tidak terpengaruh dengan kesimpulan orang bahwa Desy meninggal disebabkan olehnya. Ia selalu berfikir bahwa Desy mengakhiri hidupnya sendiri dan Faris tidak melakukan apapun untuk bisa membuat Desy melakukan itu. Bahkan beberapa saat sebelum Desy melompat dari gedung sekolah, Faris masih mengobrol dengannya dan tidak menunjukkan tanda-tanda Desy seperti depresi. Ia masih seceria biasanya. Atau Desy menutupi sesuatu darinya? Faris mencoba berfikir segala kemungkinan yang menyebabkan Desy melakukan hal nekat tapi ia benar-benar tidak tahu apa yang membuat Desy mengakhiri hidupnya dengan cara seperti itu.
Desy memang berteman dekat dengannya dan mereka memang sering bersama. Tapi diantara kedekatan mereka memang Faris maupun Desy tidak pernah saling mengungkapkan perasaan. Bagi Faris, Desy memang teman yang baik dan sangat nyaman berteman dengannya. Sifatnya yang ceria membuat orang-orang di sekelilingnya merasa senang bersamanya.
Faris hampir sampai Font saat telepon dari Kak Novi masuk ke ponselnya. Ia segera memasang earphone bluethoot ditelinganya.
"Iya, Kak."
"Kau dimana?"
"Di depan Font."
"Ku tunggu kau di ruanganmu." Jawab kakaknya dingin. Faris merasa ada yang tidak beres dan segera memarkir mobilnya. Setelah itu ia berjalan memasuki Font. Di beberapa tempat ia berpapasan dengan beberapa pegawai. Mereka menyapa hormat tapi setelah itu berbisik-bisik memandang ke arahnya. Faris jadi merasa aneh karena merasa sedang dibicarakan oleh mereka. Tapi lalu ia tepis fikiran itu saat ia memasuki lift.
Benar, saat membuka pintu ruangannya, Kak Novi sudah duduk di salah satu sofa.
__ADS_1
"Ada apa, Kak?" Faris duduk di sofa tunggal diujung. Kak Novi menyodorkan posel kepada Faris. Faris menerima dengan pandangan aneh tapi lalu dilihatnya ponsel itu. Terpampang sebuah artikel dengan head line yang membawa nama Font. Sepertinya itu ada hubungannya dengan peristiwa kebakaran gudang kemarin.
"Apa ini?"
"Bacalah sampai selesai." Wajah Kak Novi masih dingin dengan pandangan mata tajam. Faris mulai membacanya. Kalimat demi kalimat dan kata demi kata.
"Ini tidak benar, Kak." Sanggah Faris sambil mengembalikan lagi ponsel kakaknya.
"Kau pikir publik juga akan menyanggah berita itu? Pasti lebih mudah bagi mereka membaca lalu menghakimimu." Kata Kak Novi sambil memperbaiki duduknya.
"Bukan begitu yang sebenarnya."
"Lalu apa yang akan kau lakukan? Membantah berita itu? Apa itu tidak terlihat seperti pembelaan diri?"
"Aku memang harus membela diri karena memang aku tidak bersalah."
"Lalu bagaimana mungkin Desy yang menyukaimu tiba-tiba bunuh diri saat tahu kau sudah berpacaran dengan gadis lain saat itu?" Kak Novi memandang lurus ke arah Faris.
"Bukan Kak, aku yakin Desy tidak begitu. Aku sangat mengenalnya."
"Lalu seperti apa? Siapa yang akan percaya kepadamu? Desy juga tidak akan bisa bersaksi karena dia sudah tiada."
"Entahlah, tapi aku yakin tidak menyebabkan Desy meninggal." Kak Novi memandang wajah adiknya yang bingung. Ia tahu bagaimana reputasi playboy adiknya tapi entah Faris ingin membela diri atau memang itu yang sebenarnya terjadi Novi juga tidak tahu.
Yang jelas berita yang beredar di media terlanjur memenuhi fikiran khalayak ramai. Berita yang berisi tentang kebakaran gudang yang di dalamnya ada seorang pegawai. Dan akhirnya pegawai itu diketahui adalah pacar dari pemilik Font. Kemudian pelaku yang adalah Roni tertangkap dan memberi kesaksian bahwa ia melakukan itu karena didasari oleh dendam atas kematian adiknya yang bunuh diri melompat dari atas gedung sekolah disebabkan patah hati terhadap Faris saat masih berada di bangku SMA dulu.
Berita ini memang sudah menjadi gosip diseluruh SMA Faris. Tapi itu hanya gosip dan tidak ada bukti mendasar. Jadi tidak ada kelanjutannya setelah itu. Hingga Faris lulus memang ada yang masih beranggapan Faris adalah penyebab kematian Desy, tapi Faris berusaha tidak terpengaruh. Ia cukup sedih karena kehilangan teman sebaik Desy, terlebih dengan kematian Desy yang tragis.
Faris menghela nafas panjang dan menyandarkan kepala di sandaran kursi dibalik meja kerjanya yang nyaman. Beberapa saat ia memejamkan matanya. Baru saja Papinya menelepon juga setelah mengetahui berita itu. Maminya bahkan sempat menangis saat berbicara dengannya diponsel Papinya tadi.
Tiba-tiba ada sebuah ketukan di pintu ruangan Faris.
"Masuklah." Perintah Faris. Seorang petugas keamanan Font masuk dari arah pintu.
"Ada apa?"
"Begini Pak, didepan Font ada banyak awak media yang ingin mewawancarai Bapak."
"Benarkah?"
"Ya, kami sudah berusaha menghalau tapi mereka jumlahnya lumayan banyak dan bersikeras ingin bertemu Bapak." Mendengar itu Faris diam dan berfikir.
"Baiklah, suruh mereka menunggu."
"Baik Pak." Lalu petugas keamanan itu meninggalkan ruangan Faris.
Faris masih dengan fikiran-fikirannya. Memikirkan segala bentuk kemungkinan yang terjadi setelah ia menemui para awak media itu. Ia tidak mungkin menghindari mereka karena itu akan memberi kesan Faris melarikan diri dari mereka. Atau lebih buruknya mereka akan berfikir bahwa Faris memang benar-benar patut disalahkan juga karena membuat Roni harus membalas dendam kepadanya.
Akhirnya Faris berdiri dari kursinya dan keluar untuk menemui awak media seperti yang dikatakannya kepada bagian keamanan Font tadi. Di depan pintu ruangannya ia bisa melihat Gina menghampiri Faris. Sepertinya ia memang ingin mendatanginya.
"Kau mau ke mana?" Tanya Gina terlihat khawatir.
"Aku akan turun menemui mereka."
"Kau sudah gila?" Gina membelalakkan matanya tidak percaya Faris akan menghadapi mereka.
"Aku mungkin akan lebih gila jika tidak menyampaikan kebenarannya."
__ADS_1
"Kebenaran apa? Kau punya bukti kalau dia bunuh diri bukan karenamu?"
"Tidak, tapi aku yakin Desy tidak semudah itu melakukan hal bodoh."
"Lalu siapa yang akan percaya kata-katamu?"
"Aku tidak tahu, tapi aku harus menjelaskan kepada mereka." Faris lalu melangkah pergi meninggalkan Gina. Gina takut jika apa yang dikatakan Roni itu benar. Karena dia juga mengalami hal serupa. Ketika Faris memperlakukannya dengan sangat baik, ia fikir Faris menyukainya. Jadi sangat menyakitkan ketika tahu bahwa itu hanya bentuk perhatian seorang teman dan terlebih Faris ternyata menyukai orang lain, bukan dirinya.
Tapi melihat Faris bersikeras ingin menjelaskan kepada media tentang apa yang diyakininya, Gina ragu apa ia bisa melarang Faris memberi pernyataan didepan mereka. Sehinhga saat ini Gina hanya menatap Faris yang memasuki lift.
Didalam lift Faris menerima telepon.
"Ku dengar kau mau memberi pernyataan kepada wartawan-wartawan itu."
"Ya." Jawab Faris singkat.
"Jangan bodoh. Jangan bersikap bodoh dengan tindakanmu itu." Suara Kak Novi meninggi.
"Tinggalkan Font dari pintu belakang gedung. Aku akan menyuruh seseorang menjemputmu di sana."
"Tidak, aku tidak akan lari."
"Kau tidak tahu kalau itu akan memberi pengaruh besar untuk Font."
"Font tidak akan apa-apa, Kak. Kalaupun aku harus dipecat dari Font aku siap. Tapi, aku tidak bisa mudah menerima jika fitnah ini tetap berjalan tanpa adanya penjelasan."
"Penjelasan apa? Apa yang bisa kau jelaskan? Kau juga tidak punya bukti bahwa kau benar-benar tidak bersalah dan bukan penyebab Desy bunuh diri."
"Aku tahu itu. Tapi aku tidak akan pernah lari dari mereka sehingga akan membuat mereka lebih leluasa menulis segala sesuatu yang lebih memojokkanku nanti."
"Sekarang kau dimana?" Tanya Novi panik.
"Aku baru sampai lobi dan akan menemui mereka."
"Tidak, jangan, keluarlah dari pintu belakang gedung. Aku akan menyuruh sopir menjemput dengan mobilku." Faris tidak menjawab dan mematikan telepon dari kakaknya. Novi yang tahu teleponnya di putus menjadi lebih panik dan segera turun bermaksud mencegah Faris.
Dengan langkah pasti Faris menuju kerumunan awak media di depan lobi Font. Hatinya sedikit gugup tapi ia tidak bisa lari dan dianggap takut pada mereka. Baginya, mereka menganggap pernyataan Roni benar itu lebih menakutkan.
Faris sudah sampai di depan pintu keluar Font. Seorang pegawai keamann membukakan pintu untuk Faris. Melihat Faris muncul dari dalam lobi, semua mata awak media beralih mengerumuninya dengan ditahan oleh petugas keamanan Font di sana agar mereka tidak bisa terlalu dekat dengan letak Faris berdiri. Kilatan demi kilatan kamera mulai menghujani Faris. Faris berdiri tegap dengan berbekal keberanian yang ia kumpulkan.
"Pak Faris, apa benar berita yang ditulis tentang Anda?" Salah seorang wartawan wanita mulai mengajukan pertanyaan kepada Faris dan di susul yang lainnya juga bersahut-sahutan seperti sebuah kicauan burung.
"Benarkah saudara Desy bunuh diri karena patah hati terhadap Anda?" Ujar wartawan yang lain.
"Apakah Anda sempat menjalin hubungan dengan mendiang Desy?"
"Lalu benarkah saudara Sunday adalah pacar Anda yang paling baru?" Mendengar itu Faris memandang sumber suara tapi entah siapa yang melontarkan perntanyaan itu.
"Sudah berapa lama Anda dan saudara Sunday berpacaran?"
Berbagai pertanyaan dilontarkan awak media sesuka hati mereka. Faris mulai jengah dengan mereka dan mulai berbicara.
"Baiklah saudara-saudara. Berikan saya kesempatan untuk menjelaskan semuanya..." Awak media perlahan mulai menyimak kalimat Faris dan mengehentikan kegiatan bertanya mereka.
Dikamat rawat inapnya, Sunday melihat berita di salah satu stasiun tv swasta yang menampilkan dengan jelas wajah Faris di sana. Jantungnya tiba-tiba berdetak kencang mendapati Faris yang berhadapan dengan banyak wartawan di sana tadi siang. Tepat saat itu terdengar gagang pintu dibuka. Sunday menoleh ke arah pintu. Seseorang berdiri di sana.
"Faris..." Bisik Sunday.
__ADS_1