Nona Hari Minggu

Nona Hari Minggu
Bakmi Ajaib


__ADS_3

Perlahan tidak terdengar isaknya dan yang ada sekarang adalah nafas Sunday yang berhembus teratur. Faris masih mendekapnya. Sesekali membelai rambut sepunggung Sunday yang lurus dan halus. Aromanya harum dan segar. Beberapa menit Sunday tampak sudah tenang. Faris mencari tahu apa yang membuat Sunday setenang itu. Menunduk melihat wajah Sunday dalam pelukannya.


"Bagaimana dia bisa langsung tertidur setelah menangis seperti itu." Faris bergumam dan tersenyum melihat tingkah Sunday. Membiarkan Sunday bersandar di dadanya dan membuatnya senyaman mungkin. Menopang setengah berat badan Sunday dengan lengannya. Menjaga tubuh Sunday agar tidak roboh dalam posisi seperti itu memang tidak mudah tapi Faris berusaha agar Sunday tidak lekas terbangun.


Hampir satu jam Sunday tertidur setelah lelah menangis. Kemudian Faris merasakan ada pergerakan dari dalam dekapannya. Perlahan Sunday membuka mata. Yang dirasakannya pertama kali adalah genggaman tangan Faris ditangan kirinya. Jemari mereka saling merapat satu sama lain. Buru-buru Sunday mengangkat kepalanya dari dada Faris dan menarik tangannya dari genggaman Faris. Memperbaiki duduknya dan diam beberapa saat menata debaran halus didadanya lalu melihat jam tangan.


"Ya Tuhan, jam 11." Sunday menatap Faris gusar karena baginya ini sudah sangat larut. Terbanyang wajah mamanya yang pasti menunggunya pulang. Faris hanya tersenyum lembut padanya. Gadis disampingnya itu manis sekali. Bahkan saat tidur pun sangat menggemaskan. Faris benar-benar merasa telah dibutakan oleh perasaan sukanya. Sehingga apapun yang dilakukan Sunday tampak selalu membuatnya kagum dan semakin menyukainya.


"Bagaimana? Kau sudah merasa baikan?" Sunday mengangguk.


"Ayo kita pulang." Ajak Sunday dengan suara serak setelah tertidur.


"Kamu belum makan malam. Aku tidak bisa membiarkanmu pulang dengan melewatkan makan malammu."


"Tidak apa-apa, aku tidak lapar."


"Tidak, kita akan makan sesuatu sebelum ku antar kau pulang."


"Tidak usah, ini sudah mulai larut. Jam malamku sudah hampir lewat."


"Tenang saja, biarkan nanti aku yang mengatakan pada tante Ana kalau kita menonton filmnya secara maraton. Jadi pulangnya agak terlambat." Sunday tampak berfikir sejenak.


"Mmm... baiklah."


Setelah itu Faris melajukan mobilnya mencari kuliner malam di sepanjang perjalanan pulang.


"Kau suka nasi goreng atau bakmi?" Tanya Faris.


"Bakmi."


Faris membelokkan mobilnya dan menghentikan di sebuah warung tenda yang tertulis menyajikan nasi goreng dan olahan bakmi.


"Baiklah, ayo kita turun."

__ADS_1


Faris turun lebih dulu lalu diikuti Sunday yang keluar dari sisi pintu mobil yang lain. Sampai di dalam warung tenda, Faris memesan makanan mereka lalu menunggu di meja pembeli.


"Bakmi di sini enak sekali."


"Benarkah?"


"Hmm..." Setelah itu suasana meja mereka kembali sunyi. Sunday mulai memeriksa ponselnya.


Satu lagi yang disukai Faris dari Sunday adalah dirinya yang tidak gengsi makan di warung tenda di pinggir jalan. Bahkan saat bersama Sunday, jarang sekali mereka makan di restoran atau cafe. Sunday akan sangat senang nongkrong sambil makan bakso, makan siomay, batagor, pempek, nasi goreng yang semuanya adalah makanan yang dijual pedagang kaki lima di pinggir jalan.


Kenapa Sunday lebih suka makanan di warung tenda atau kaki lima, karena disana ia tidak perlu jaim dan mengikuti aturan berbagai table manners yang rumit. Makan lalapan menggunakan tangan rasanya sangat nikmat daripada makan steak yang alat makannya macam-macam.


Tanpa Sunday sadari Faris menatapnya. Wajah Sunday tampak masih sayu dengan mata bengkak setelah aksi menangisnya. Kulit wajahnya yang putih dan tidak berjerawat itu sedikit terlihat kusut. Tapi Faris tidak menanyakan kenapa Sunday menangis sejadi-jadinya tadi. Ia tahu Sunday tidak ingin menceritakannya. Ia juga faham bahwa Sunday tidak ingin berbagi hal ini dengannya. Mungkin terlalu menyakitkan baginya untuk mengenang cerita lalu itu.


Pesanan datang, Faris menyodorkan bakmi milik Sunday. Melihat bakmi dengan uap panas yang mengepul itu Sunday seketika menjadi sumringah. Faris yang melihat itu jadi tersenyum. Lagi dan lagi. Bersama Sunday seolah membuatnya mudah tersenyum dan merasa bahagia.


Di suapan pertamanya, Sunday langsung memuji.


"Benar, ini enak. Kau tahu saja tempat-tempat makanan enak." Sambil mengunyak bakminya.


"Bisa saja kau ini." Sunday tersenyum. Melihatnya, Faris menjadi lega. Wajah sendu Sunday mulai sedikit luntur.


"Tau tidak, aku selalu ingin menjadi presenter acara kuliner."


"Kenapa?"


"Biar bisa incip-incip dan makan gratis terus digaji pula." Lalu Sunday tertawa lepas. Detik itu ia seolah lupa telah menangis tadi.


"Kau cantik saat begitu." Sunday mendadak menegang, wajahnya merona dan selanjutnya salah tingkah.


"Hei, makan dulu. Jangan malah merayu. Aku tidak mempan dengan rayuanmu." Sunday pura-pura ketus untuk menutupi kegugupannya.


"Nah, ini baru Sunday yang ku kenal." Faris tersenyum jahil lalu melanjutkan makan.

__ADS_1


"Memangnya aku pernah jadi orang lain?"


"Ya, beberapa saat yang lalu."


"Itu... aku hanya... aku sedang..." Sunday menundukkan pandangannya. Ia tahu pasti Faris bingung dengan sikapnya hari ini. Tiba-tiba memanggilnya sayang, menggandeng tangannya dan kemudian menangis sejadi-jadinya. Ia benar-benar terlihat sangat labil.


"Tidak perlu cerita kalau kau tidak ingin." Faris mencoba memahami Sunday. Meskipun sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada Sunday dan dua orang di bioskop itu tapi bagaimanapun juga Sunday mempunyai hak untuk tidak membagi kisahnya dengan orang lain.


"Bukan begitu, tapi aku hanya sangat membenci mereka."


"Memangnya siapa mereka?" Akhirnya Faris memberanikan diri untuk bertanya karena sepertinya Sunday mulai sedikit terbuka padanya.


"Itu... mereka adalah mantan pacarku dan pacarnya yang adalah temanku."


"Ooohh..."


"Entahlah, aku sangat membenci mereka sampai aku kehabisan kata untuk meluapkan kekesalan & kekecewaanku pada mereka. Karena itu aku jadi kesal kepada diriku sendiri dan itu membuatku ingin menangis." Sunday mulai sendu lagi.


"Kau tahu, tidak semua orang bisa menerima kita apa adanya. Tapi kita tetaplah adalah kita. Akan ada seseorang yang bisa menerima kita apapun keadaannya. Jadi, mari menganggap itu sudah berlalu dan tidak mempengaruhi kehidupan kita saat ini. Kebencian hanya akan menyakiti diri sendiri dan kita harus berhenti melakukannya." Sunday terperanjat. Tidak percaya Faris bisa mengatakan semua itu.


"Sepertinya kau harus sering-sering makan bakmi."


"Kenapa?" Faris heran karena penjelasannya mendapat tanggapan yang sangat tidak nyambung dari Sunday.


"Bakmi ini sepertinya sangat ajaib telah mengubahmu menjadi bijak seperti ini." Faris tersenyum kecut mendengar kalimat Sunday yang lebih terdengar sebagai ejekan. Tapi hati Faris seperti setuju bahwa bakmi ini sangat ajaib. Yang bisa mengubah mood Sunday dengan cukup baik. Dari bersedih lalu tanpa aba-aba kembali seperti semula. Ceria.


"Kau ini, cukup dengarkan saja petuah dari orang tua, tidak usah banyak komentar." Faris pura-pura kesal.


"Baik Opa." Faris mengangkat alisnya heran. Tidak biasanya Sunday memanggil sama seperti Suzan & Windy memanggilnya.


"Bukan Oppa korea ya, ini Opanya dalam negeri."


"Oh, jadi begitu ya. Aku kakek-kakek?"

__ADS_1


"Iya..." Lalu Sunday tergelak. Tidak peduli para pembeli lain menoleh kepadanya dengan pandangan aneh. Faris juga tidak peduli dengan hal itu. Yang ia rasakan bahkan merasa senang Sunday telah kembali tertawa.


__ADS_2