Nona Hari Minggu

Nona Hari Minggu
Tim Siapa?


__ADS_3

Sunday memasuki ruangannya dan langsung duduk di depan laptop. Ia berharap Lita benar-benar mengabaikan atau bahkan melupakan kejadian tadi.


"Jadi, adegan romantis tadi aku tidak salah lihat kan?" Celetuk Lita dari mejanya di belakang Sunday. Sunday perlahan menoleh ke arah Lita sambil tersenyum kecut. Berbohong pun sudah tidak ada gunanya lagi.


"Begini Lita..." Sunday mendekati Lita.


"Aku memang tidak ingin ada orang yang tahu tentang hubungan kami."


"Jadi, kau dan Pak Faris benar-benar berpacaran?" Lita membulatkan bola matanya.


"Iya..." Sunday meringis.


"Tapi aku mohon padamu jangan katakan hal ini kepada siapapun. Kau mau kan berjanji padaku?"


"Aku hampir tidak bisa mempercayai ini. Kau adalah pacar dari seorang project sponsor Font." Lita menggeleng takjub.


"Sejak kapan kalian bersama? Aku pikir Gina adalah kandidat terkuat yang menjadi pacar Pak Faris. Tapi ternyata kau. Benar-benar di luar dugaan."


"Aku pikir juga begitu." Jawab Sunday dengan tawa kecilnya.


"Lalu bagaimana kalian tiba-tiba bisa menjalin hubungan?"


"Aku sudah pernah mengatakan kepadamu kalau kami sudah lama saling mengenal. Jauh sebelum aku bekerja di Font, kami sudah berteman dan kembali bertemu lagi di sini. Dan yang paling lucu, aku tidak pernah tahu Font adalah milik Faris." Sunday tertawa seperti menertawakan dirinya sendiri.


"Oh ya? Jadi selama ini kau tidak tahu Font yang sebesar ini milik Pak Faris? Kau ini teman yang bagaimana?" Lita Heran.


"Ya, bagiku berteman hanya berteman saja. Aku tidak tertarik pada latar belakangnya. Lagi pula dia yang ku kenal dulu bekerja di bidang lain dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan software house jadi aku pun tidak menyangka akan bertemu dengannya di sini sebagai bosku."


"Lalu kali ini kalian terlibat cinta lokasi begitu?" Lita menyidik.


"Begitulah kira-kira." Sunday tersipu.


"Lalu... bagaimana rasanya berpacaran dengan seorang bos?" Lita tampak antusias ingin tahu.


"Apa maksudmu?"


"Apa kau menjadi sangat spesial?" Lita penasaran.


"Ahh, iya karena itu kau bisa membolos kerja sesuka hatimu?" Tambahnya mencibir.


"Hei apa maksudmu? Aku selalu berusaha tetap profesional. Sebagai pegawai Font aku tentu saja tetap bekerja sebagaimana mestinya. Hanya saja di luar jam kerja baru aku menjadi pacarnya." Sunday cekikikan.


"Lalu waktu itu saat Pak Faris menyeretmu keluar dan tidak kembali sampai jam kerja berakhir, apa itu juga namanya profesional?"


"Oh itu. Aku memang sedang ada urusan memdesak dengannya tapi sebentar kemudian aku kembali. Tapi saat keluar lift aku mendapati kak Rima pecah ketuban jadi ku antar dia ke rumah sakit dan menungguinya sampai selesai proses persalinannya."


"Jadi, kau yang membawanya ke rumah sakit?"


"Ya..."


"Oh, ku pikir kau menghabiskan sepanjang waktumu bersama Pak Faris waktu itu."


"Tapi secara tidak langsung kau memang benar karena dia juga menyusul ke sana sampai kak Rima selesai melahirkan."


"Wah, berarti aku tidak salah duga kan." Lita memicingkan mata kepada Sunday. Ia hanya menjawab dengan melebarkan senyumnya.


"Karena aku sudah tahu siapa kau, aku jadi tidak berani lagi macam-macam kepadamu."


"Harus. Kalau kau masih sayang pada pekerjaanmu, baik-baiklah kepadaku."


"Apa-apaan itu. Sombong sekali. Mentang-mentang kau pacar bos di sini." Sunday lalu merangkul pundak Lita hangat. Tentu saja Sunday tidak serius dengan ucapannya. Ia bukan tipe teman yang memanfaatkan posisinya seperti itu.


🌸🌸🌸


Faris : kau sudah sarapan?


Pesan Faris masuk saat Sunday berganti pakaian. Lalu ia membalas.

__ADS_1


Sunday : belum


Faris : makanlah yang banyak


Sunday : kenapa?


Faris : hari ini akan jadi hari sibuk


Sunday : baiklah


Faris : ku tunggu di Font 😘


Sunday tidak membalas lagi. Ia hanya tersenyum melihat emoticon kiss di akhir kalimat Faris. Hatinya terasa kesemutan melihat emoticon itu. Bayangan Faris dan kecupannya seperti berkelebat di matanya. Tanpa sadar Sunday meraba keningnya. Tapi kemudian ia sadar telah berbuat sekonyol itu karena selalu terbayang kejadian tak terduga yang dilakukan Faris terhadapnya.


Kemudian Sunday turun untuk sarapan. Pagi ini Bu Uni menyiapkan sarapan nasi goreng telur. Rasanya enak dengan irisan sosis dan juga udang. Mirip nasi goreng buatan restoran. Setelah selesai sarapan, Sunday melangkah ringan menuju Font. Hari ini adalah perayaan dies natalis Font yang ke-10 dan seperti tahun-tahun sebelumnya akan diadakan lomba antar tim.


Saat memasuki pelataran Font sudah tampak ramai sekali pegawai berkumpul di beberapa arena buatan panitia. Dari beberapa lomba yang diadakan diantaranya sudah bisa dilihat oleh Sunday. Ada lomba balap bakiak, lomba tarik tambang, lomba sepeda air yang lintasannya ada di atas kolam renang dan sangat sempit, lomba lari gendong dan beberapa lomba yang lucu tapi seru lainnya.


Sunday memasuki Font untuk meletakkan beberapa barang bawaan ke ruang kerjanya dan menyimpannya di laci meja. Setelah itu ia kembali keluar dan berniat bergabung dengan peserta lain di pelataran depan.


Pintu lift terbuka, Sunday memasukinya. Tapi ternyata Faris ada di dalamnya. Yang pertama ia tangkap dari wajah Faris adalah senyum malaikat khas ala dirinya.


"Hai Nona Hari Minggu." Sunday membalas dengan tersenyum.


"Kau siap?"


"Tentu saja."


"Walaupun aku tidak ada di timmu?"


"Kenapa?" Sunday mengerutkan dahi.


"Oh, jadi kau ingin aku satu tim denganmu?"


"Tidak... tidak... bukan begitu."


"Bukan begitu juga." Suara Sunday lirih.


"Jadi maumu apa?" Faris mensejajarkan wajahnya dengan wajah Sunday dengan jarak yang sangat dekat hingga membuat Sunday terkesiap dan jantungnya berisik lagi.


"Ahh, sudahlah. Aku mau keluar." Sunday meninggalkan Faris begitu pintu lift terbuka. Sebelum Sunday beranjak, Faris sempat melihat wajah Sunday merona medapat tindakan tiba-tibanya itu.


Keluar dari lobi, Sunday berjalan keluar lalu duduk di bawah pohon di samping tempat parkir menyaksikan beberapa persiapan. Lita menghampirinya.


"Hai, pacar bos." Sapanya.


"Ssttt... jaga bicaramu. Kau bisa membuat orang lain mendengarnya." Sunday setengah berbisik.


"Oh iya, maafkan mulutku yang sembrono ini." Lita menepuk bibirnya sendiri lalu duduk di samping Sunday.


"Dimana yang lain?" Tanya Sunday.


"Siapa?"


"Mario, Boby dan Pak Dedi."


"Entahlah, mungkin mereka belum datang."


"Bagaimana bisa jam segini mereka belum menampakkan diri." Sunday melihat jam tangannya.


"Sun... lihat." Lita menunjuk ke arah yang ditujunya. Sunday mengikuti telunjuk Lita. Terlihat Gina berjalan beriringan dengan Faris.


"Apa Gina tahu kalian sudah berpacaran?" Sunday mengangguk.


"Lalu kenapa Gina masih terus menempelnya seperti itu?" Sunday mengangkat bahu.


"Aku rasa Gina tidak bisa menerima hubunganmu dengan Pak Faris." Sunday menghela nafas berat.

__ADS_1


"Entahlah." Sunday lalu berdiri dari duduknya. Memutar pinggangnya ke kiri dan ke kanan seperti sedang melakukan pemanasan. Hatinya kecut melihat Gina yang terus mengekori Faris. Faris juga kenapa mau saja diekori seperti itu.


"Hei, kalian di sini ternyata." Sapa Boby yang datang bersama Mario.


"Mari kita borong tumpukan hadiah di sana." Tunjuk Pak Dedi yang tiba-tiba menyeletuk dan sudah ada di belakang Mario.


"Aku tidak butuh banyak, aku hanya ingin mesin cuci itu saja. Tanganku rasanya sangat kasar terlalu banyak menyentuh sabun cuci." Keluh Lita.


"Pintaku sederhana, aku hanya ingin motor saja." Boby berbinar memandang motor Yamaha NMAX 155 berwarna hitam yang terparkir gagah diantara tumpukan hadiah.


"Itu bukan sederhana namanya. Yang kau incar hadiah utama." Mario menyundul kepala Boby.


"Kau ingin yang mana, Sun?" Tanya Pak Dedi.


"Kalau Sunday pasti bisa mendapatkan semuanya dengan mudah." Celetuk Lita. Sunday seketika memelototinya. Lita menahan tawa melihat Sunday sepanik itu.


"Ahh, aku baru pertama mengikuti acara ini jadi aku akan bersemangat mendapatkan semua juara." Sunday memasang wajah penuh semangat. Padahal ia sendiri tidak yakin akan kemampuannya. Jangankan berlomba seserius ini, setiap lomba 17 agustus di RT nya saja dia selalu kalah. Padahal lawannya adalah anak-anak dan lombanya sangat sepele. Makan kerupuk, memasukkan paku ke dalam botol, memasukkan jarum ke dalam benang, ehh salah, kebalik. Maksudnya memasukkan benang ke dalam lubang jarum. Dia memang tidak jago dalam permainan yang mengandalkan fisik.


"Tapi ngomong-ngomong, sudah ada kabar Pak Faris masuk ke tim siapa?" Tanya Mario.


"Belum." Jawab Lita.


"Tapi aku harap dia masuk ke tim kita."


"Oh iya, dia kan temanmu. Apa kau tidak bisa memintanya bergabung di tim kita?" Boby memandang Sunday serius.


"Pastinya bisa. Iya kan, Sun?" Lita mengerling kepada Sunday.


"Hei, itu bisa dikategorikan ke dalam tindakan nepotisme." Sunday berkacak pinggang.


"Aku tidak mau memanfaatkan suatu relasi untuk mencari sebuah keuntungan."


"Ahh, kau ini masih saja berfikir begitu. Ayolah, demi motor NMAX disana. Kalau kita uangkan dibagi berlima bisa dapat berapa masing-masing dari kita?" Boby mengkalkulasi.


"Aku tetap tidak mau. Terserah dia mau di tim siapa." Sunday cuek.


"Kau yakin tidak ingin Pak Faris ada di tim kita? Bagaimana kalau Gina menarik ke dalam timnya?" Bisik Lita mengompori.


"Biar saja. Aku tidak peduli dengan hal itu."


"Kau ini aneh sekali. Kenapa tidak punya rasa khawatir sama sekali. Bagaimana kalau Gina menjadikan ini kesempatan mendekati Pak Faris?" Sunday diam dan sedikit berfikir. Tepat saat itu, sebuah seruan bergema dari ketua panitia pertandingan.


"Ayo kepada semua tim dari semua divisi untuk berkumpul. Kami akan menyampaikan beberapa informasi penting tentang acara tahunan kali ini." Kalimat ketua panitia yang adalah asisten pribadi Om Rudi.


"Pegawai lama pasti sudah tahu peraturan yang dipakai, tapi kami tahu ada pegawai baru yang butuh pencerahan jadi akan tetap kami sampaikan peraturannya..." Sunday menyimak setiap detail peraturan yang disampaikan dengan sesekali mencuri pandang ke arah Faris yang masih ditempeli oleh Gina. Ada perasaan kesal melihat Faris baik-baik saja berdiri dengan Gina ada di sampingnya seperti itu. Kadang dia itu suka sekali begitu. Seperti mengabaikan perasaan Sunday. Tapi Sunday buru-buru memalingkan muka saat Faris melihat ke arahnya.


Faris tahu Sunday memperhatikannya sejak tadi. Ia tahu Sunday tidak suka Gina ada di dekatnya. Tapi ia memang sengaja melakukan itu agar Sunday tahu bagaimana seharusnya sepasang kekasih. Cara backstreet hanya akan membuat orang lain bersikap semaunya dan mudah memasuki hubungan diantaranya.


Begitu pula Gina. Faris tahu betul bagaimana perangai Gina. Ia akan tetap melakukan apa yang ia ingin lakukan jika Sunday tidak ingin ada publikasi antara dirinya dan Faris walaupun Gina sudah tahu hubungan diantara mereka. Jadi Gina akan memanfaatkan itu sebagai jalan gerilya dan Faris akan membuat Sunday pada akhirnya mau mempublikasikan hubungan mereka ketika keberadaan Gina mulai mengacau pertahanan cemburunya. Begitulah kira-kira spekulasi yang Faris buat agar Sunday menyerah dalam hubungan backsteet mereka.


Dari tempatnya berdiri Faris bisa melihat wajah cemberut Sunday. Dan wajah itu semakin menggemaskan baginya. Andai ada di dekatnya, Faris pasti sudah mencubit pipi chuby Sunday yang sedang cemberut begitu. Faris menyunggingkan senyum melihat Sunday dari seberang tempat parkir.


"Dan, berbeda dari tahun sebelumnya, Project Sponsor kita tidak menunjuk secara langsung atau bergilir untuk bergabung dengan salah satu tim tapi kali ini bos kita ini akan melakukan sebuah undian." Ketua Panitia mengangkat sebuah toples kaca berisi gulungan kertas.


"Di dalam toples ini terdapat nama-nama tim yang berhak mendapat kehormatan dan dengan senang hati harus menerima Project Sponsor untuk masuk ke dalam timnya." Semua orang bertepuk tangan riuh. Termasuk Sunday. Ia akhirnya tahu apa yang dimaksud Faris dengan cara berbeda waktu itu.


"Baiklah, kami persilakan kepada Project Sponsor kita untuk mengambil kertas ini." Ketua panitia itu menyodorkan toples kepada Faris. Faris mulai memasukkan tangannya ke dalam toples. Sebagian besar peserta berdoa dan berharap Faris akan masuk ke dalam tim mereka. Sunday bahkan sempat melirik Lita juga ikut berkomat kamit entah doa atau mantra apa yang diucapkanya agar Faris bisa masuk ke dalam timnya.


Tampak Faris sudah mengambil salah satu kertas dan memberikannya kepada ketua panitia. Peserta bahkan harus menahan nafas demi mendengar penuturan si pembaca.


"Dan Project Sponsor kita..." Senyap. Suasana di tempat itu mendadak hening. Semua orang tampak sedang menajamkan telinga mereka untuk memastikan Faris masuk ke dalam tim mana.


"...akan tergabung dalam tim..." Debaran demi debaran setiap peserta tim seperti bersahutan antara yang satu dengan yang lain.


Gina melirik Faris dengan penuh harap agar Faris masuk ke dalam timnya. Sedangkan Sunday menggigit bibir dan diam-diam juga ingin Faris menemaninya berjuang menjadi satu tim.


"Siapa yang bersedia didatangi oleh Pak Faris?" Ulang ketua panitia yang juga sebagai pembawa acara itu mengulur waktu dan semakin membuat semua peserta harap-harap cemas. Semua pegawai berteriak riuh dan menginginkan Faris masuk ke tim mereka terlebih para pegawai wanita yang selalu ingin bersama Faris lebih dekat.

__ADS_1


"Baiklah... akhirnya Project sponsor kita akan ada di tim..."


__ADS_2