Nona Hari Minggu

Nona Hari Minggu
Fedora Bernyanyi


__ADS_3

"Sundaaaaaaayyy..." Sudah bisa dipastikan itu adalah suara Gina yang menyusul di belakangnya. Terdengar suara langkah sepatu diantara teriakannya. Sunday menoleh.


"Dari belakang saja aku tahu kalau itu kau." Suara Gina sedikit terbata karena nafasnya yang terengah.


"Kenapa berlari? Aku pasti menunggumu."


"Aku lupa kapan kali terakhir olah raga. Berlari sedekat ini saja membuatku tak berdaya." Nafas Gina ngos-ngosan.


"Di tambah dengan high heels yang kau pakai. Bagaimana bisa kau berlari saat memakai sepatu hak tinggi. Kau bisa jatuh dan keseleo."


"Tidak apa-apa. Sepatu ini tidak akan membuatku jatuh. Justru dia akan membuatku cantik. Lihatlah bagaimana kakiku jadi terlihat jenjang." Gina berlenggak lenggok bak peragawati di depan Sunday. Sunday hanya tersenyum lucu. Bagaimana ada gadis secuek Gina yang berlenggak lenggok seperti itu dan tidak peduli pada tatapan pegawai lain yang ada di lobi. Sebagian besar dari mereka tersenyum memandang Gina.


"Itu bukan karena sepatu yang kau pakai tapi karena kakimu memang bagus. Aku yakin akan sangat berbeda saat ku pakai."


"Tidak mungkin." Sekarang Gina sudah memeluk lengan Sunday dan berjalan menuju pintu lift. Kebiasaan Gina adalah menggandeng orang disampingnya saat berjalan.


"High heels diciptakan memang untuk mempercantik para wanita. Jadi kapan-kapan kau harus memakai high heel juga agar kau tahu kebenarannya."


"Tidak, aku suka sneakers atau flat shoes. Mereka lebih bersahabat denganku."


"Ahh kau ini, kau harus memakainya sekali-kali. Aku yakin kau pasti bertambah cantik."


"Tanpa itu pun aku sudah terlahir cantik."


"Hei, kau narsis juga ternyata. Siapa yang mengajarimu?" Goda Gina.


"Tidak ada, ini pasti karena aku tertular dari seseorang." Sunday lalu tertawa sendiri.


"Bagaimana bisa sebuah kenarsisan ditularkan dari orang lain. Kau ini ada-ada saja." Gina cekikikan lalu tersenyum-senyum sendiri.


"Apa kata-kataku terlalu menghibur sampai kau tidak bisa berhenti tersenyum seperti itu." Celetuk Sunday yang melirik Gina senyum-senyum sendiri disampingnya.


"Tidak, bukan karena itu. Aku hanya sedang bahagia."


"Benarkah? Kebahagian tentang apa itu?"


"Semalam Faris... menemaniku tidur." Gina lalu cekikikan setelah membisikan kalimat itu di telinga Sunday. Sunday terkesiap. Rasanya ada seekor tawon yang mendengung di telinganya.


"Oh ya?" Sunday tersenyum lebar tapi senyumnya seperti dipaksakan. Hatinya seperti sakit. Ada rasa kecewa yang teramat sangat.


"Hmmm..." Senyum Gina masih terkembang diwajah cantiknya.


"Wah... pantas saja pagi ini wajahmu semerona itu." Sunday masih berusaha menggoda meski hatinya terasa sudah mulai berdarah.


"Oh ya? Apakah sejelas itu?" Gina meraba wajahnya malu-malu.


"Iya." Jawab Sunday dengan memasang wajah sebiasa mungkin.


Setelah apa yang dikatakan Gina tadi pagi, sekarang Faris malah mengatakan berharap masih memiliki kesempatan untuk menyukaiku. Bagaimana mungkin Faris bisa melakukan itu.


"Tidak..." jawab Sunday dengan bibir bergetar. Faris menatapnya lekat seperti ingin mencari sesuatu dikedalaman matanya.


"Kau suka sekali berbohong." Faris tersenyum kecut.


"Untuk apa?"


"Itu yang harus ku cari tahu. Kenapa kau masih saja berbohong padaku." Sunday membuang muka dari tatapan Faris yang menghujam hatinya.


🌸🌸🌸


"Hei, kalian jangan langsung pulang." Ujar Pak Dedi yang keluar dari ruangannya. Semua orang disana memandang ke arahnya.


"Kita begadang lagi, pak?" Tanya Lita.


"Tidak, kita mendapat undangan dari Pak Faris."


"Undangan apa?" Masih Lita yang aktif mencari tahu.


"Karena kita menyelesaikan semua project dengan baik bulan ini maka Pak Faris mengundang kita untuk makan malam."


"Wow, makan." Boby yang paling cepat jika itu tentang makan. Yang lain langsung mencibirnya.


"Kita akan makan di restoran jepang yang kita pernah ke sana saat ulang tahun pak Rudi."


"Siaaapp..." Lita bersuara lagi.


Sunday masih duduk di tempatnya. Matanya menatap layar monitor tapi pikirannya masih teringat kejadian kemarin sore karena mendengar nama Faris disebut.


Semua pegawai sudah turun ke lobi. Pak Dedi tampak menghubungi Faris memberitahukan mereka sudah selesai bekerja.


"Kita akan ke sana lebih dulu. Pak Faris akan menyusul. Dia sudah melakukan reservasi. Dia juga mengatakan boleh memilih menu sepuasnya." Pak Dedi tampak sumrimgah menyampaikan berita itu.


"Aku rasa aku menyukai bos baru kita. Dia sangat perhatian dan sangat royal terhadap pegawai." Celetuk Mario.

__ADS_1


"Kita harus bekerja dengan baik agar sering mendapatkan yang seperti ini." Boby menimpali. Pak Dedi dan Lita mengangguk setuju. Sunday diam tanpa komentar apapun. Ia merasa Faris tetaplah seseorang yang ia kenal secara personal. Dia memang royal, dia memang perhatian terhadap orang-orang dilingkupnya tapi dia playboy sejati. Dan itu yang mereka tidak tahu.


Mereka pergi dengan kendaraan masing-masing tapi Lita yang biasa naik bus dan Sunday yang selalu jalan kaki mengikuti mobil Boby karena diantara Boby, Mario dan Pak Dedi, hanya Boby yang masih single jadi rasanya lebih nyaman jika bersama para sesama single.


Sunday membuka pintu belakang mobil Boby dan masuk ke dalamnya diikuti Lita.


"Hei, kalian pikir aku driver taksi online. Ayolah, salah satu dari kalian harus ke depan."


"Kau saja, Ta. Aku mau dibelakang saja." Lita menurut dan pindah ke kursi depan. Lalu mobil mereka melaju ke tempat yang sudah dipesan oleh Faris.


Setibanya di sana mereka disambut oleh pramusaji dan mengantar mereka ke meja yang sudah dipesan oleh Faris. Satu persatu mulai duduk, begitu juga dengan Sunday. Pak Dedi celingukan ke arah pintu masuk. Faris belum juga muncul. Lalu semua orang di meja mulai memesan saat Faris datang.


Seperti biasanya Faris masih semenawan itu. Dengan kemeja dan jas ala dirinya. Sunday yang melihat itu merasakan dadanya berdesir. Terlebih saat Faris mengambil kursi di sebelah Sunday yang kosong. Sunday sedikit gugup Faris ada di dekatnya walaupun ia masih cuek seperti biasanya di jam kerja.


"Kami berterima kasih atas undangan Bapak ini." Ujar Pak Dedi.


"Saya mewakili Font juga sangat berterima kasih karena kinerja Anda semua yang luar biasa dan membuat Font menjadi software house tujuan para pengguna sistem." Balas Faris.


"Sekali lagi saya ucapkan terima kasih." Semua orang mengangguk.


Setelah itu sambil menunggu menu datang mereka mengobrol banyak hal. Tentang Font tentu saja.


"Aku ke toilet sebentar." Pamit Sunday. Semua orang mempersilakan. Kecuali Faris yang masih bersikap datar layaknya bos.


Setelah dari toilet, Sunday duduk di kursinya tapi entah kenapa kursinya bergeser sehingga hampir saja ia jatuh. Tapi cepat tanggap Faris menangkap bagian belakang kursinya dan Sunday terselamatkan.


"Terima kasih."


"Sama-sama." Faris tersenyum.


Makanan sudah datang saat Sunday ke toilet tadi. Sunday mencicipi makanannya dan tersenyum karena sesuai dengan seleranya.


"Sepertinya sukiyaki enak." Kata Faris kepada Sunday. Semua orang memandang ke arah Faris. Sunday tidak jadi menyuapkan daging sukiyaki ke dalam mulutnya.


"Anda mau?" Demi tidak terlihat kejam, Sunday menawari Faris dan ia mengangguk. Semua orang di meja heran melihat seorang bos ingin mencicipi makanan yang anak buahnya makan. Tapi Faris diam tak bergeming. Sunday tahu maksudnya sehingga menyuapkan sukiyaki ke mulut Faris. Semua orang tidak percaya itu.


"Ini enak. Seharusnya aku memesan sukiyaki saja, bukan shabu. Kau mau bertukar menu?" Semua orang dimeja tersenyum menyaksikan tingkah bosnya yang aneh itu. Ia bisa memesan lagi, tapi kenapa malah meminta milik Sunday. Sunday tersenyum mengiyakan tapi mulai kesal dengan tingkah Faris.


Orang ini seenaknya saja memakan makanan orang lain. Dia bos, dia bisa memesan lagi tapi kenapa menukar dengan punyaku? Batin Sunday.


Selesai makan mereka berbasa basi sebentar lalu setelah itu pulang.


"Setelah makan-makan begini sepertinya kita butuh sedikit olah raga." Kata Faris saat sudah keluar pintu rumah makan.


"Aku berniat ke karaoke. Apa kalian mau ikut?"


"Boleh Pak." Jawab Boby semangat dan diikuti anggukan girang Lita. Pak Dedi dan Mario sepertinya juga antusias. Hanya Sunday yang terlihat biasa saja. Sebenarnya ia sedang malas kemana-mana tapi apa boleh buat, semua temannya sepertinya kompak mau, mana mungkin ia menolak.


"Baiklah, ayo kita ke tempat karaoke di sebelah sana." Faris menunjuk sebuah tempat diujung. Sebuah karaoke keluarga yang bisa mereka jangkau dengan berjalan kaki dari tempat mereka makan tadi.


Sampai tempat karaoke Faris memesan dan mempersilakan para pegawainya menuju sebuah ruangan yang dilengkapi audio sistem canggih. Semua serba digital.


"Anda tahu, software yang dipakai di tempat ini juga buatan Font. Dan sistem penghitung di restoran jepang tadi juga dipesan di Font."


"Wah, Font memang andalan semua pengusaha." Kata Pak Dedi.


"Itu karena ada orang-orang seperti Anda semua yang bekerja dengan baik dan sepenuh hati untuk Font." Dipuji seperti itu berkali-kali semua orang merasa tersanjung.


"Baiklah, siapa yang mau mempersembahkan lagu lebih dulu?" Tampak semua orang terlihat sungkan, sampai Sunday menghampiri Faris dan mengambil microfon di sebelahnya.


"Saya yang akan menyanyi lebih dulu."


"Kau?" Sunday mengangguk dan melihat daftar lagu pada layar monitor touchscreen itu. Faris melihat Sunday dan tersenyum. Meragukan apa Sunday bisa bernyanyi. Teman-temannya duduk di sofa melingkar didalam ruangan. Boby mulai mencemili cemilan yang dipesan Faris tadi.


Sunday memilih lagu dari Duo Ratu yang saat itu masih berpersonel Maia Ahmad dan Mulan Jameela dengan judul Buaya Darat. Setelah intro diputar, Sunday mulai menyanyi. Semua temannya menyoraki. Lita sampai tertawa melihat Sunday yang menyanyi itu. Tidak biasanya Sunday segila itu.


"...***Lelaki buaya darat


Busyet aku tertipu lagi


Mulutnya manis sekali


Tapi hati bagai serigala


Ku tertipu lagi oh


Ku tertipu lagi oh***..."


Sunday menari kesana kemari menghibur teman-temannya. Faris merasa seperti Sunday sedang menyindirnya. Setiap ia mengucapkan kata 'buaya darat' matanya selalu ke arah Faris. Itu membuatnya jadi tersenyum kecut.


Satu lagu selesai dari Sunday, ia tampak berkeringat karena bernyanyi sambil sedikit menari tadi. Ia ambil sebotol minuman dingin untuk menyegarkan dirinya. Sekarang berganti Lita dan Boby yang berduet menyanyikan lagu John Legend featuring Megan Trainor yang berjudul Like I'm Gonna Lose You.


"Pacaran! Pacaran! Pacaran!" Semua orang meneriaki mereka termasuk Faris yang ikut-ikutan juga. Itu semua bermula karena Sunday yang meneriakkannya.

__ADS_1


Seru sekali malam itu. Semua tampak sangat senang. Bahkan Sunday yang jarang tertawa bisa terlihat sebahagia itu. Faris tidak bisa berhenti tersenyum melihat Sunday yang diluar kebiasaannya itu.


"Sepertinya yang belum menyanyi adalah Pak Faris. Jadi saya persilakan untuk menerima microfon kehormatan ini." Pak Dedi memberikan microfon kepada Faris setelah ia mempersembahkan sebuah lagu lama Ada Rindu Untukmu milik Pance Pondaag.


"Aku tidak pandai bernyanyi." Faris tampak malu-malu.


"Menyanyi! Menyanyi!" Sunday mulai menjadi provokator lagi untuk membuat Faris menyanyi dan akhirnya ia menyerah juga karena semua anak buahnya meminta untuk menyanyi.


"Baiklah, tapi jangan muntah apalagi pingsan saat mendengar suaraku." Faris malu-malu.


"Tidak, Pak. Tenang saja." Celetuk Lita.


"Baiklah..."


"Kita lihat, bagaimana suara bos kita yang tampan ini saat menyanyi." Bisik Lita di telinga Sunday. Sunday masih menahan tawa melihat Faris pucat memegang microfon.


Matilah kau. Pasti kau tidak bisa menyanyi. Jadi akhirnya mereka tahu kalau kau hanya punya wajah tampan. Selebihnya, kau tidak sebaik itu. Gumam Sunday dalam hati.


Sebuah intro lagu yang Sunday kenal...


"Loving can hurt, loving can hurt sometimes


But it's the only thing that I know


When it gets hard, you know it can get hard sometimes


It is the only thing that makes us feel alive..."


Faris mulai menyanyikan lagu Photograph dari Ed Sheeran. Sunday tahu Faris sangat menyukai lagu itu. Ia sering memutarnya diperangkat audio mobilnya.


"...We keep this love in a photograph


We made these memories for ourselves


Where our eyes are never closing


Hearts are never broken


And time's forever frozen still..."


Semua orang menikmati lantunan suara Faris sambil melambaikan tangan memberi dukungan.


"...***So you can keep me inside the pocket of your ripped jeans


Holding me closer 'til our eyes meet


You won't ever be alone, wait for me to come home


And if you hurt me


That's okay baby, only words bleed


Inside these pages you just hold me


And I won't ever let you go


Wait for me to come home***..."


Ternyata suara Faris tidak seburuk itu. Semua orang turut menyanyikan lagu itu, kecuali Pak Dedi. Dia tidak mengenal lagu ini sehingga hanya ikut melambai tangan saja.


Sunday mulai hanyut dalam tiap bait yang Faris lantunkan. Memandang Faris yang begitu menghayati lagu itu, Sunday teringat ia saat menjadi pelaut. Selalu mendiskriminasinya karena pekerjaan sebagai pelaut yang identik dengan kesan playboy.


"...When I'm away, I will remember how you kissed me


Under the lamppost back on Sixth street


Hearing you whisper through the phone,


Wait for me to come home..."


Semua orang bertepuk tangan, tidak ketinggalan Sunday. Matanya berkaca-kaca, ia seperti tahu bahwa lagu itu adalah curahan hati Faris kala itu.


"Suara Anda bagus sekali. Saya tidak menyangka." Puji Pak Dedi.


"Benarkah? Terima kasih." Faris memberikan microfon kepada Pak Dedi.


"Lagu ini adalah lagu saya kepada seseorang." Lanjut Faris.


"Benarkah? Apa itu pacar Anda?"


"Entahlah... tapi dia orang yang saya sukai."


"Apakah maksud Adalah Nona Gina?" Tanya Pak Dedi mewakili semua orang yang penasaran. Sunday memandang Faris dengan perasaan yang sulit ia sendiri mengerti. Faris tersenyum penuh arti.

__ADS_1


__ADS_2