Nona Hari Minggu

Nona Hari Minggu
Lagu Favorit


__ADS_3

Faris masih meletakkan kepalanya di pangkuan Sunday sambil menatap wajahnya dari posisis lebih rendah itu. Ingin sekali ia menyentuh setiap jengkal bagian yang ia kagumi.


"Jangan pergi walau apapun yang terjadi. Jangan terpengaruh apapun dan siapapun sehingga kau punya alasan harus meninggalkanku." Faris mengatakan itu sambil masih memandang Sunday dari posisi berbaringnya.


"Apa maksudmu?" Sunday menatap Faris dibawah pandangannya.


"Cukup cintai aku saja jangan lakukan hal lain."


"Kalau begitu bangunlah, jangan tiduran begini. Tugasku hanya mencintaimu, bukan menjadi tempat berbaringmu." Sunday medorong pelan tubuh Faris.


"Tidak, ini juga bagian dari caramu mencintaiku." Faris mendekapkan kedua tangannya di dada.


"Ahh, kau ini memang pandai sekali berkata-kata." Sunday memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Sudahlah, ayo kita tetap seperti ini." Faris malah memejamkan matanya sekarang.


"Dasar, kau ini..." Sunday tersenyum melihat tingkah Faris.


Malam mulai merambat pelan. Terdengar suara operator sedang melakukan check sound di pelataran parkir. Beberapa orang sibuk disana untuk mempersiapkan pembagian hadiah dan pentas seni. Sunday menghela nafas pelan. Lalu menunduk untuk melihat keadaan Faris. Nafasnya tampak teratur dalam matanya yang terpejam. Sepertinya Faris tertidur. Sunday tersenyum melihat pacarnya yang terlelap seperti itu. Pasti ia sangat lelah hingga bisa tidur di sembarang tempat seperti itu.


🌸🌸🌸


Suara sound system dengan kekuatan dahsyat itu memenuhi seluruh ruang telinga para penikmatnya. Sebuah band lokal membawakan sebuah lagu kegemaran para muda yang adalah sebagian besar pegawai Font. Pria dan wanita bergerak mengikuti irama lagu. Sunday mengikuti alunan musik yang dimainkan oleh para personil band. Lita juga tidak kalah seru. Kali ini Hivi membawakan lagu Siapkah Kau 'Tuk Jatuh Cinta Lagi. Semua pegawai Font sangat menikmati pementasan mereka. Sampai Hivi mengakhiri lagunya, semua bertepuk tangan dengan riuh.


"Selamat malam semua..." Sapa sebuah band dengan personil yang semuanya adalah pria. Sunday terbelalak melihat band favoritnya ada di atas panggung. Ia bahkan tidak tahu akan ada J-Rock yang tampil malam ini. Setaunya bintang yang datang hanya Hivi dan beberapa band indie.


"Selamat hari jadi untuk Font." Lanjut sang vocalis dan disambut teriakan para penonton.


"Senang sekali ada di tengah-tengah orang berbakat di Font. Untuk kalian kami akan mempersembahkan lagu spesial." Sang vocalis dengan suara khasnya membuat semua orang menatapnya kagum.


"Sebenarnya lagu ini dipilih oleh seseorang di Font untuk orang yang sangat spesial." Kalimat sang vocalis membuat semua orang berbisik dan bertanya-tanya siapa orang itu. Tapi mereka yakin dia pastilah orang yang berpengaruh di Font.


"Beliau tidak ingin disebutkan namaya. Tapi beliau ingin mempersembahkan lagu ini untuk orang yang disukainya. Oleh karena itu kami akan menyanyikan lagu Falling In Love untuknya. Nona, inilah lagu darinya untukmu." Semua penonton bertepuk tangan ramai.


Sunday bertanya-tanya siapa yang meminta lagu spesial itu. Perlahan intro lagu Falling In Love menyuara. Sunday senang karena lagu itu adalah lagu favoritnya.


Kurasakan ku jatuh cinta


Sejak pertama berjumpa


Senyumanmu yang selalu


Menghiasi hariku


Kau ciptaanNya yang terindah


Yang menghanyutkan hatiku


Semua telah terjadi


Aku tak bisa berhenti memikirkanmu


Dan kuharapkan engkau tahu


Sunday turut menikmati lagunya dan ikut melantunkan lagu yang liriknya sangat ia hafal itu.


Kau yang kuinginkan


Meski tak kuungkapkan


Kau yang kubayangkan


Yang slalu kuimpikan


Tiba-tiba seseorang berdiri di samping Sunday dan perlahan memegang tangannya. Sunday terkesiap dan memandang orang di sampingnya.


Aku jatuh cinta


Tlah jatuh cinta


Cinta kepadamu


Ku jatuh cinta

__ADS_1


I am falling in love


I'm falling in love with you


Faris mengerling ke arahnya sambil turut menyanyikan lagu itu. Sunday tersenyum sipu. Wajahnya memerah melihat Faris yang tersenyum disampingnya. Hingga lagu selesai Faris belum melepaskan genggaman tangannya. Ditengah kerumunan itu mereka tidak harus menyembunyikan apapun karena cahaya yang minimal, orang disekitar bahkan tidak akan bisa saling mengenali. Lalu Faris mengajak Sunday untuk beranjak dari sana. Lita harus merelakan Sunday dibawa oleh bos mereka dan akhirnya menikmati pentas seni itu sendirian.


Faris membawa Sunday ke suatu tempat di samping Font.


"Hei, kenapa kita ke sini?" Tanya Sunday yang tangannya masih di gandeng Faris.


"Ayo kita mencari tempat sepi." Faris cuek dan masih berjalan.


"Tempat sepi?" Sunday terbelalak.


"Kenapa kita harus ke tempat sepi? Acara belum selesai." Sunday berusaha melepaskan genggaman tangan Faris. Tapi genggaman tangan itu terlalu kuat sehingga itu hanya sia-sia saja.


"Karena aku ingin berada di tempat sepi denganmu."


"Aku tidak mau."


"Kenapa? Kau takut?" Faris berhenti dan membalik badannya.


"Tidak, bukan begitu..." Sunday menatap Faris ragu-ragu.


"Aku tidak akan melakukan apapun padamu. Jadi jangan berharap banyak."


"Hei, memangnya kau tahu apa yang ku harapkan?"


"Entahlah, itu bisa saja berarti banyak hal. Mengingat otakmu yang kotor pasti kau berimajinasi yang bukan-bukan."


"Enak saja. Aku tidak seperti itu." Sanggah Sunday.


"Kalau begitu, ayo ikuti saja aku."


"Tapi kemana?"


"Diamlah, jangan cerewet." Faris kembali menarik tangan Sunday lagi. Akhirnya mereka sampai di tepi kolam renang yang di sana terisi penuh lilin-lilin kecil yang mengambang di atas air. Di sekitar kolam juga tersebar cahaya yang sama.


"Ini..." Sunday melihat gemerlap cahaya lilin di atas kolam renang yang tadi sore dipakai untuk pertandingan sepeda air.


"Itu lilin." Jawab Faris.


"Aku tahu. Tapi tadi belum ada yang seperti ini." Sunday masih heran dengan pemandangan di sebelahnya.


"Ini mudah, hanya butuh beberapa orang saja melakukan ini." Faris duduk di sebuah kursi di tepi kolam renang yang diatasnya menyala lilin juga.


"Kemarilah..." Faris memanggil Sunday yang sedang bermain air di tepi kolam. Sunday melihat ke arah Faris lalu berdiri dan mulai berjalan mendekatinya. Sunday duduk di salah satu kursi.


"Wah, kau mau mengajakku makan malam romantis?" Tanya Sunday sambil melihat hidangan di atas meja dan tertawa kecil.


"Ya, setidaknya aku harus mengajakmu sesekali."


"Tapi kau mengenalku dengan baik dan aku memang suka makan apa saja asalkan rasanya enak." Sunday lalu terkekeh.


"Aku tahu, tapi seingatku sejak pacaran aku belum mengajakmu makan malam ala pasangan dengan benar."


"Oh ya? Apa itu sangat penting?" Sunday mengerjapkan matanya memandang Faris.


"Hei, kau ini wanita atau bukan? Kenapa kau bahkan tidak ingin diperlakukan manis oleh pasanganmu seperti pada film drama romantis."


"Entahlah, aku lebih sering menonton film action daripada film drama romantis. John Wick, Mission Impossible, Expendables, Red dan sejenisnya."


"Dasar. Penampilanmu saja manis. Ternyata itu hanya untuk menutupi jiwa tomboymu?"


"Aku tidak bermaksud berpenampilan manis hanya karena aku memakai rok. Aku suka berpenampilan senyaman yang ku rasakan."


"Iya iya, terserah kau saja." Sunday tersenyum melihat Faris menyerah berdebat dengannya.


"Bisa kita mulai makan? Aku lapar sekali." Sunday tersenyum lebar sambil menujuk salah satu menu.


"Tentu saja, makanlah." Faris juga mengambil makanannya. Lalu mereka berdua makan sambil sesekali mengobrol. Suasana disana memang sepi dan itu menambah kadar romantis yang ingin Faris ciptakan.


Meskipun Sunday bukan gadis pemuja romantisme tapi Faris ingin memberi sesuatu yang berbeda kali ini.

__ADS_1


"Kau tahu lagu tadi?" Kata Faris sambil meletakkan alat makannya.


"Lagu yang mana?" Sunday meminum air putih disamping piringnya.


"Falling In Love."


"Oh lagu itu." Sunday ingat.


"Jangan-jangan orang itu adalah kau?"


"Heemm..." Faris tersenyum.


"Ahh, seharusnya aku tahu itu. Aku berfikir bagaimana orang itu bisa memiliki selera lagu yang sama denganku. Ternyata itu adalah kau." Sunday tersenyum senang karena lagu itu untuknya.


"Dan kau tahu, ternyata vocalisnya lebih tampan dilihat secara langsung daripada saat melihatnya di tv."


"Hei, bisa-bisanya kau memuji pria lain di depan pacarmu."


"Kenapa memangnya?" Jawab Sunday polos.


"Kau mau membuat pacarmu cemburu?"


"Kau cemburu?" Sunday membelalakkan matanya.


"Tentu saja aku cemburu pacarku memuji pria lain. Kau ini benar-benar pacar yang tidak punya hati." Faris menggerutu sambil memasang wajah cemberut. Sunday tertawa melihat ekspresi teddy bear Faris.


"Habisnya dia memang sangat tampan saat dilihat secara langsung."


"Kau ini. Kenapa kau ulang lagi kata-katamu. Itu membuat harga diriku terluka." Faris semakin cemberut.


"Tapi apalah artinya wajah tampan jika aku hanya bisa memandangnya sesekali di tv. Sedangkan denganmu aku bisa setiap saat melihatmu dan bahkan menyentuhmu." Sunday mencolek punggung tangan Faris di atas meja.


"Dan... kalau ku pikir lagi setampan-tampannya dia masih jauh lebih tampan kau."


"Ehmm... ehmm... Itu sudah tidak diragukan lagi." Faris tersenyum jumawa.


"Ahh, kelihatannya kepalamu semakin mengembang saja." Sunday mencibir. Faris tersenyum.


"Bagaimana kalau dengan ini?" Faris tiba-tiba mengeluarkan sebuah kotak.


"Apa itu?" Sunday memandang kotak kecil di atas meja itu.


"Kau, melamarku?" Wajah Sunday berubah bingung.


"Apa menurutmu begitu?"


"Aku tidak yakin..."


"Kalau begitu jangan anggap ini lamaran." Jawab Faris tersenyum.


"Maksudmu?"


"Aku senang jika kau menganggap ini sebagai lamaran dariku. Tapi kalau kau belum yakin dengan dirimu, aku bisa menunggumu."


"Kau ini sangat membingungkan." Sunday menatap Faris heran.


Faris membuka kotak itu. Terlihat sebuah untaian gelang mutiara yang berbentuk tidak beraturan.


"Kemarikan tanganmu." Sunday mengulurkan tangannya dan membiarkan Faris memasangkan gelang itu di pergelangan tangannya.


"Cantik sekali." Faris menimang tangan Sunday.


"Benarkah?" Sunday menarik tangannya dan melihatnya lebih dekat. Ia sangat mengagumi keindahan yang dibawa oleh gelang itu. Matanya berbinar suka melihat benda cantik berada di pergelangan tangannya.


"Aku harap kau tidak akan pernah melepasnya."


"Memangnya kenapa kalau aku melepasnya?"


"Kau mau aku menghajarmu?" Gertak Faris. Sunday terkekeh. Bagaimanapun juga gelang itu sangat cantik. Bagaimana mungkin Sunday tega melepaskannya. Hatinya mendadak berbunga-bunga mendapatkan hadiah manis dari Faris.


Sunday dan Faris sudah menyelesaikan makan malam mereka dan bermaksud bergabung kembali dengan pegawai lain dalam acara pentas seni malam ini. Masih ada band-band indie yang tampil dan suasana masih sangat meriah.


"Aku harus ke toilet. Kau pergilah dulu ke sana." Sunday pamit.

__ADS_1


"Baiklah, ku tunggu kau di balik stage." Sunday mengangguk dan menuju toilet di lantai dasar. Faris berjalan ke tempat yang mereka sepakati.


Sunday selesai dengan urusannya di dalam bilik toilet. Setelah mencuci tangan ia bermaksud keluar tapi ia merasa ada yang janggal di sana. Dan belum sempat dirinya mengetahui apa yang terjadi, ia merasakan sebuah hantaman keras mengenai kepalanya. Seketika ia merasakan kesakitan yang luar biasa dan selanjutnya yang ia rasakan adalah sekeliling menjadi gelap seperti tiba-tiba listrik padam.


__ADS_2