
Mobil masih melaju sedang. Faris masih dikuasai amarahnya yang tertahan. Dia tidak mungkin mengatakan kepada Sunday bahwa dia bisa cemburu walau hanya melihat Sunday menerima telepon dari Victor.
Entahlah, pria itu seolah menaruh perhatian kepada Sunday. Meski mungkin Sunday tidak merasakannya tapi Faris bisa melihatnya. Dari cara Victor memandang Sunday saja Faris tahu tentang rasa sukanya kepada Sunday. Hanya saja Sunday yang tidak peka sehingga tidak tahu tentang hal itu.
Sunday ini memang terlalu cuek untuk tahu bentuk-bentuk perhatian dari orang lain. Semua dianggapnya sama. Faris semakin yakin Sunday tidak tahu bahwa Victor menyukainya karena itu berlaku juga kepada Faris. Sunday tidak pernah bisa membaca sinyal-sinyal cintanya.
Dia itu bodoh atau idiot. Bagaimana mungkin dia tidak tahu seseorang menyukainya. Bukankah dia tahu aku begitu posesif kepadanya. Tapi kenapa dia tidak mengartikan itu sebagai bentuk rasa sukaku kepadanya. Yang aku bisa cemburu jika dia bersama pria lain. Benar-benar gadis yang bodoh. Bisa ku pastikan dia juga tidak tahu kalau Victor menyukainya. Rutuk Faris sambil melirik Sunday sepanjang perjalanannya kembali ke hotel.
Sunday tidak membuka suaranya sama sekali. Dia hanya duduk diam melihat lampu-lampu jalanan. Jalan raya belum begitu sepi. Masih banyak kendaraan berjalan mengiringi mobil Faris yang ditumpanginya.
Hingga keluar dari mobil dan berjalan menuju kamar pun mereka masih diam. Hanya berjalan beriringan tapi pikiran Faris masin bekerja demi Sunday yang tidak tahu bahwa dirinya sedang cemburu.
Apa harus ku katakan kepadanya saja kalau aku menyukainya. Aku cemburu melihatnya menerima telepon dari Victor. Aku marah melihatnya berjalan dengan pria itu. Aku benci tahu Victor membuatnya tertawa. Tapi aku juga benci pada diriku sendiri yang tidak bisa berbuat apa-apa. Ayolah, jatuh cintalah kepadaku. Aku harus bagaimana agar kau berpaling hanya padaku.
Mereka telah sampai di depan pintu kamar Sunday.
"Tidurlah." Kata Faris akhirnya. Sunday mengangguk. Faris menuju kamarnya. Selangkah masuk setelah menutup pintu, dadanya benar-benar sesak.
"Aku harus mengatakan semua ini padanya. Aku tidak bisa menahannya lagi. Aku sangat menyukainya." Gumam Faris. Tanpa berfikir panjang lagi, Faris membalik badan dan membuka pintunya lagi menuju kamar Sunday.
Begitu pintu terbuka dan melihat Sunday dibaliknya, Faris tidak bisa menahannya lagi. Detik itu yang sangat ia inginkan adalah memeluk Sunday. Erat hingga ia merasakan debaran didadanya yang semakin menggila. Ia bahkan tidak peduli jika Sunday pun bisa merasakan itu. Faris membenamkan tubuh mungil Sunday kedalam pelukannya. Entah kaget atau gugup Sunday tidak memberontak. Ia hanya diam memaku. Tanpa kata, tanpa pergerakan apapun. Tubuhnya seperti meleleh seketika dan membiarkan Faris menopangnya.
Debaran dadanya yang berisik tidak bisa ia elakkan lagi. Sunday masih bingung dengan keadaan yang dialaminya. Hingga perlahan Faris mulai bicara.
"Mari kita melakukan ini sebentar lagi. 5 menit. Ahh tidak, 10 menit."
"Tapi aku hampir tidak bisa bernafas." Akhirnya Sunday mulai bisa melawan. Tapi itu hanya sebuah kesia-siaan. Faris malah mengeratkan pelukannya.
"Kalau berencana lepas dari pelukanku, aku akan lebih erat memelukmu." Ancam Faris. Dan berhasil. Sunday berhenti memberontak.
"Kau memang paling pandai mengancam."
"Jangan bicara apapun. Mari kita seperti ini lagi sampai 10 menit terakhir."
__ADS_1
"Hei, 3 menit sudah berlalu. Bagaimana mungkin kau tidak menghitungnya dan tetap dalam hitungan 10 menit."
"Kalau banyak bicara aku akan menambahnya menjadi 30 menit."
"Tidak tidak... baiklah aku akan diam sampai 10 menit ini berakhir." Faris tersenyum penuh kemenangan.
Sunday benar-benar diliputi rasa gusar. Bagaimana mungkin ia merasa nyaman berada dalam pelukan Faris. Yang seorang pelaut. Yang dia tau sebagai playboy. Yang memiliki banyak gadis berbaris antri ingin benar-benar dipacari.
Dan jantungnya kenapa berisik sekali. Seandainya itu bisa terdengar pasti bisa mengalahkan konser musik di alun-alun kota. Sungguh membingungkan dan membuat hampir frustasi.
"Sudah 10 menit." Perlahan Faris melepas pelukannya. Tapi Sunday masih mematung. Terlalu banyak yang dicerna fikirannya. Pertama tentang kenapa Faris yang tiba-tiba datang ke kamarnya dan memeluknya. Kedua, kenapa jantungnya berdebar hebat saat berada dalam pelukan Faris tapi ia tidak menampik kalau rasa nyaman juga ia rasakan disaat yang bersamaan.
"Tidurlah... kita harus bangun pagi. Besok akan menjadi hari melelahkan." Faris mengusap rambut bagian depan Sunday. Sunday hanya mengerjapkan matanya tanpa membalas sepatah kata pun.
Sunday duduk di sofa kamarnya. Menata kembali debaran jantungnya yang masih berisik.
"Apa itu tadi?" Diputar kembali memorinya saat Faris tiba-tiba memeluknya.
"Sebelumnya dia tampak marah. Lalu, dia tiba-tiba datang dan memelukku. Kemudian dia bersikap baik lagi kepadaku. Benar-benar tidak konsisten." Sunday masih menganalisa sikap Faris yang labil.
Lalu Sunday memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri dan berniat segera tidur agar besok bisa bangun pagi.
Sementara itu didalam kamarnya, Faris mengutuki dirinya sendiri. Baru saja ia berhadapan dengan pilihan sulit. 10 menit itu adalah saat menentukan langkahnya ke depan. Langkah mengungkapkan cinta kepada Sunday atau menahannya sampai waktu yang entah sampai kapan dan belum ditentukan. Dan memeluk Sunday selalu mampu membuat perasaannya lebih tenang saat dirinya dikuasai rasa cemburu. Itu lebih bisa membuatnya berfikir jernih dan mengurungkan niatnya untuk marah dalam kadar berlebihan.
Dalam 10 menit Faris mempertimbangkan jika hari ini dia mengatakan menyukai Sunday maka kemungkinan terburuk Sunday akan menolaknya, dan hal lain yang timbul Sunday akan menjauhinya. Dilihat dari riwayat Sunday yang membenci percintaan para pelaut, akan mudah bagi Sunday menolaknya. Faris belum tahu pasti apa Sunday juga memiliki perasaan yang sama terhadapnya. Selama ini yang ia tahu hanya Sunday memberinya kesempatan untuk dekat dengannya sebagai teman. Lebih dari itu Faris tidak punya keyakinan sama sekali. Dari sikap cuek Sunday membuatnya tidak yakin jika cintanya bisa dirasakan juga oleh Sunday.
Oleh karena itu ia hanya harus berusaha membuat Sunday menyukainya. Entah sampai kapan tapi dia hanya ingin suatu saat nanti Sunday akan bisa menyukainya juga.
🌸🌸🌸
Sunday sudah bersama seorang make up artis saat jam menunjukkan pukul 06.00. Akad nikah akan dilaksanakan pada pukul 09.00. Faris sempat meneleponnya tadi, memastikan Sunday sudah bangun.
"Mbak, tolong make up nya senatural mungkin ya."
__ADS_1
"Iya mbak. Lagipula mbak nya sudah cantik jadi make up yang natural pun sudah cukup."
Make up artis itu tampak profesional. Dan dia dibooking khusus untuk mendandani keluarga mempelai. Ada beberapa make up artis yang disewa demi acara pernikahan sepupu Faris ini karena mereka adalah keluarga besar sehingga membutuhkan banyak tenaga make up artis agar proses merias lebih cepat.
Faris masih ada di kamarnya dan bermalas-malasan. Pria tidak butuh berdandan, mereka hanya butuh memakai baju adat yang juga sudah disiapkan oleh keluarga Dian.
Bel dikamarnya berbunyi. Dengan malas ia berjalan membuka pintu.
"Ya Tuhan, jangan bilang kau belum juga mandi."
"Masih terlalu pagi, Ma." Faris kembali menjatuhkan diri di tempat tidur.
"Malah tidur lagi. Ayo mandi." Mami Faris menarik tangannya agar bangun.
"Ahh, Mami... Mami kenapa repot-repot ke sini. Aku kan bukan anak-anak yang tidak tahu waktu mandi. Atau lebih parahnya masih butuh dimandikan. Aku bisa mandi sendiri, Mi."
"Mami tahu, tapi kalau kau bermalas-malasan begini kau bisa tertinggal acara."
"Kita kan tinggal hadir saja, Mi. Semua sudah dikerjakan oleh Wedding Organizer."
"Bandel sekali anak ini. Pokonya cepetan mandi dan bawa Sunday ke ballroom setelah selesai bermake up."
"Iya Mami sayang." Faris kemudian bangun dan memeluk maminya manja.
"Mami buruan ke TKP, begitu Sunday siap kami segera menyusul."
"Baiklah, Mami ke tempat akad Dian dulu."
"Oke Mi."
🌸🌸🌸
Faris sudah bersiap dengan baju batik yang dipakainya. Dian ingin sesuatu yang sederhana tapi nyaman dipakai semua kalangan. Jadi dipilihnya baju batik untuk para pria pengiring pengantin. Saat dirinya asyik memainkan sebuah game di ponselnya sambil menunggu Sunday berdandan di kamarnya, bel pintu kamarnya berbunyi. Dia sengaja tidak menunggu di kamar Sunday karena pasti akan ditendang olehnya.
__ADS_1
"Ayo kita pergi sekarang. Sudah hampir jam 9." Tapi Faris hanya mematung ditempatnya berdiri demi makhluk indah dihadapannya. Kebaya warna sage yang dipakainya dengan paduan bawahan batik warna kecoklatan membuatnya tampak anggun. Wajahnya yang terbiasa tanpa make up itu kini dipertegas dengan warna dan bingkai. Warna merah dipipi dan bingkai di matanya membuatnya sangat berbeda tapi tidak mengurangi kecantikannya sama sekali.
Faris ingin sekali menyentuh sesuatu yang indah itu tapi ia takut tidak bisa melepaskannya lagi. Karena setelah menyentuhnya ia pasti ingin memiliki, menguasai dan tidak ingin membaginya dengan siapapun.