Nona Hari Minggu

Nona Hari Minggu
Bersalin dan Bersalon


__ADS_3

"Faris, kau dimana?" Suara Gina. Faris yang hampir melangkahkan kaki di pintu lift memutuskan untuk berbalik dan menuju tempat parkir. Faris setengah berlari menjemput Gina.


Dari kejauhan Faris melihat Gina ada di dalam mobilnya, bersandar pada headrest sambil memejamkan mata. Faris membuka pintu bagian kemudi.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Faris khawatir.


"Entahlah. Tiba-tiba aku merasa pusing."


"Sudah ku bilang jangan terlalu memaksakan diri. Jika kau belum benar-benar pulih, maka istirahatlah saja di rumah."


"Tidak apa-apa. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku yang terbengkalai."


"Biar pekerjaanmu dihandle orang lain."


"Tidak usah. Setelah ini aku pasti baik-baik saja." Gina mencoba bangun dan keluar dari mobilnya. Faris membantu dengan memapah tubuhnya. Lalu Gina menggandeng lengan Faris untuk menjaga keseimbangan tubuhnya saat berjalan.


"Yakin kau tidak apa-apa?"


"Ya, aku rasa begitu. Ini hanya efek samping obat yang ku minum pagi ini. Sejenis obat untuk lebih banyak beristirahat."


"Sudahlah, pulang saja. Kau harus banyak istirahat." Faris mulai khawatir dengan keadaan Gina.


"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja." Gina menyunggingkan senyum dengan mata yang agak sayu.


Mereka berjalan menuju Font dengan Gina yang masih memeluk erat lengan Faris seperti biasanya. Semua orang di Font yang memandang itu sudah merasa tidak asing. Sejak awal mereka beranggapan Faris dan Gina memang memiliki hubungan khusus.


Pagi ini lift lumayan padat. Faris dan Gina harus menunggu di pintu lift. Beberapa saat kemudian pintu terbuka dan bersama pegawai lain mereka memasuki lift. Tapi saat berbalik, Faris melihat Sunday tepat berada di depan lift tapi tidak masuk hingga kembali pintu tertutup. Faris melihat jelas ke arah Sunday yang menatapnya tajam. Ada kilatan kemarahan yang sebagian besar pasti didasari dengan rasa cemburu. Faris sedikit gusar. Sampai di lantai 4 Faris mengantar Gina ke ruangannya.


"Apa kau yakin bisa bekerja? Atau kalau tidak ingin pulang, beristirahatlah di klinik Font."


"Tidak, aku yakin aku baik-baik saja." Gina berusaha meyakinkan Faris.


"Baiklah. Jangan terlalu memaksakan diri bekerja kalau kau merasa tidak nyaman."


"Iya, terima kasih." Gina mengelus pipi Faris. Lalu setelah itu Faris meninggalkan Gina di mejanya. Faris menuju lift untuk menuju ruangannya. Tapi saat di dalam lift ia menombol lantai tempat Sunday bekerja. Setelah sampai di lantai 4, ia menuju ruangan Sunday. Melihat Sunday tidak ada di dalam ruangannya, Faris menelepon ponselnya. Tidak diangkat. Faris masuk ke dalam lift dan turun ke lantai dasar. Beberapa saat kemudian pintu lift terbuka tapi Sunday tidak ada di sana. Faris menuju ke semua tempat di lantai dasar. Mulai klinik hingga caffetaria, semua Faris datangi tapi Sunday tidak ada.


Sementara itu Sunday yang sudah sampai di lantai tiga tangga darurat menghentikan langkahnya dan duduk di salah satu anak tangga. Menaiki tangga setinggi ini membuat kakinya lumayan terasa pegal. Sunday meluruskan kakinya sambil memijat betisnya. Sepatu datar pun masih bisa membuatnya pegal.


"Ahh iya, apa karena aku tidak suka memakai high heels? Sehingga Gina selalu terlihat menawan dan berjalan dengannya selalu membanggakan. Atau karena penampilan Gina yang modis dan enak dipandang lalu sangat menyenangkan bisa bergandengan seperti itu." Sunday menggerutu sambil masih memijat kakinya.


"Itu sangat menyebalkan." Sunday menundukkan wajahnya dalam-dalam. Lalu kemudian Sunday mendongak dengan mata berkaca-kaca.


"Tidak, aku harus tegas sekarang. Ya, aku harus tegas." Sunday lalu berdiri kembali dengan semangat menaiki tangga ke lantai 4.


Sunday keluar melalui pintu tangga darurat dan berjalan menuju ruangannya. Teman-temannya sudah menghadapi laptop mereka masing-masing. Lita menyadari kehadiran Sunday yang agak terlambat dan menyapa dari mejanya.


"Kau kenapa?"


"Apa?" Sunday menoleh ke arah Lita.


"Tumben baru sampai?"


"Aku baru saja menemukan cara baru dalam berolah raga." Sunday memasang senyum sumringahnya.


"Apa itu?"


"Dari lantai dasar ke lantai 4 menggunakan tangga darurat."


"Yang benar saja. Itu sangat melelahkan."


"Olah raga mulutlah saja, pasti tidak akan ada lelahnya."


"Menggiling ya." Lita cekikikan. Sunday tersenyum kecut lalu menghadapi laptopnya yang sudah memasuki windows.


"Ikut aku." Tiba-tiba Faris memasuki ruang kerja Sunday lalu menghampirinya dan menarik tangannya. Sunday tersentak mendapat perlakuan tiba-tiba Faris hingga ia berdiri dan mau tidak mau harus mengikutinya. Sebelum keluar dari pintu Sunday sempat melihat teman-temanya memandang aneh kepada mereka.


"Kau lihat itu?" Boby mendekati Lita. Lita mengangguk.


"Kau tahu apa yang terjadi?" Ganti Lita menggeleng.


"Ku rasa ada sesuatu tentang mereka." Mario menimpali dengan masih memakai wajah bengong.


"Pasti." Jawab Lita sambil menyadari dirinya melewatkan sebuah hal.


Pak Dedi keluar dari ruangannya dan menyaksikan rekan timnya diam membisu.


"Sunday belum berangkat?" Reflek ketiganya menunjuk ke arah pintu. Pak Dedi menoleh ke arah yang mereka tunjuk tapi tidak menemukan apa-apa.


"Ada apa?" Pak Dedi celingukan karen tidak ada apa-apa.


"Pak Faris menyeret Sunday keluar." Ujar Boby yang pertama kali tersadar.


"Diseret?" Pak Dedi heran dengan kalimat Boby.


"Diseret begini." Jelas Boby sambil memperagakan dengan menarik tangan Lita. Lita terkesiap dan hampir jatuh diseret begitu.


"Kau ini sembarangan saja menarik-narik tangan." Gerutu Lita


"Aku kan cuma memperagakan." Boby lalu tertawa kecil mengingat tindakannya hampir membuat Lita jatuh. Lita manyun.


"Tapi kenapa Pak Faris menyeret Sunday? Memang kesalahan apa yang dilakukannya?"


"Entahlah." Boby mengangkat pundak sambil kembali ke mejanya. Lita dan Mario juga tampak kembali melanjutkan pekerjaan mereka. Sedangkan Pak Dedi bertanya-tanya apa yang terjadi dengan Sunday sehingga Faris sangat marah dan datang ke ruangannya lalu menyeret Sunday dengan tangannya sendiri. Kenapa tidak menyuruhnya datang ke ruangan Faris lalu memarahinya. Pak Dedi sambil berfikir lalu kembali ke ruangan kerjanya.


Faris mengajak Sunday memasuki lift.


"Lepaskan, ini sakit sekali." Faris tetap diam dan tidak berbicara apapun. Pandangannya masih lurus ke depan tanpa mempedulikan keluhan Sunday yang pergelangan tangannya berada dalam genggaman Faris. Tiba di lantai 6, Faris membawa Sunday ke ruangannya dan mendudukkannya di sofa.


"Dari mana saja kau? Aku mencarimu ke semua tempat tapi kau tidak ada. Ku pikir kau kembali pulang. Kenapa kau suka sekali membuatku khawatir?"

__ADS_1


"Sekarang kau boleh untuk tidak khawatir lagi kepadaku." Sunday memamerkan senyumnya yang dibuat semanis mungkin. Faris heran dengan sikap Sunday yang semanis itu. Faris hanya diam menatap Sunday. Sunday berusaha tenang ditatap seperti itu.


"Kalau tidak ada yang harus ku kerjakan, aku akan keluar." Sunday masih tersenyum.


"Apa-apaan kau ini?" Faris semakin heran dengan perilaku Sunday. Apa dia habis terjatuh disuatu tempat dan otaknya sedikit mengalami kerusakan.


"Ada apa denganmu?"


"Tidak ada apa-apa. Jadi aku harus kembali bekerja karena ada banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan."


"Kau marah kepadaku?" Tanya Faris


"Tadi iya tapi sekarang tidak lagi. Aku sudah tidak marah lagi kepadamu karena aku sudah tidak berhak lagi." Jawab Sunday santai.


"Apa maksudmu?"


"Ya, aku sudah memutuskan untuk menyelamatkan hatiku. Ternyata hanya aku yang bisa menyelamatkannya. Kau? Sampai kapanpun tidak akan pernah sanggup." Sunday tersenyum sarkas.


"Jelaskan padaku apa maksudmu. Jangan berputar-putar seperti itu."


"Mari kita putus." Sunday menatap ke arah lain dan masih enggan melihat wajah Faris yang sedang duduk di sampingnya menatapnya lekat.


"Katakan sekali lagi." Faris menakup kedua pipi Sunday dan membuatnya memandang Faris.


"Saat berbicara dengan seseorang, kau harus menatap matanya." Sunday memberontak tapi Faris tetap membuatnya pada posisi semula.


"Lepaskan aku." Sunday berusaha melepas tangan Faris dipipinya.


"Katakan sekali lagi kau ingin putus dariku." Faris mulai terlihat marah. Sunday memandang mata tajam Faris.


"Aku ingin putus." Kalimat singkat itu keluar juga.


"Aku tidak mau." Jawab Faris tegas dan melepas tangannya dari wajah Sunday.


"Terserah kau. Yang jelas aku ingin mengakhiri ini. Aku salah karena mempercayakan hatiku padamu. Sedangkan kau suka sekali mempermainkannya. Sebentar kau buat melambung tinggi ke angkasa tapi di kesempatan lain kau banting hingga pecah berantakan." Sunday masih berusaha berkata dengan santai disaat seperti ini.


"Apa itu ada hubungannya dengan kejadian tadi di lift?"


"Kejadian apapun itu, aku ingin kita berhenti. Aku menyerah. Selama kita bersama nyatanya kau tidak pernah berubah."


"Yang kau lihat bukan seperi itu."


"Apapun itu aku sudah tidak peduli." Sunday memalingkan wajahnya.


"Gina masih belum pulih jadi dia merasa tidak enak badan dan aku hanya membantunya." Jelas Faris dan berharap Sunday merubah fikirannya dengan itu.


"Kau tahu, ini yang aku tidak bisa. Bagaimana bisa aku menjalin hubungan denganmu dan merasa sangat bahagia sementara ada gadis lain yang bahkan tidak bisa hidup tanpamu. Lalu di mana hati nuraniku."


"Itulah kenapa aku ingin menjodohkan Gina dengan Victor agar dia memiliki sandaran lain selain aku. Agar ia tidak tergantung lagi padaku."


"Tapi nyatanya dia memang tidak bisa jika tanpamu." Sunday menarik nafas.


"Aku yang akan mati kalau tidak bersamamu. Jadi kau tidak boleh seenaknya membuat keputusan untuk putus." Faris mulai melunakkan suaranya sambil masih menggenggam tangan Sunday.


"Kau harus meninjau ulang keinginanmu ini. Aku tidak bisa menerima begitu saja proposal putusmu. Kita harus memikirkannya lagi." Faris meremas jemari Sunday.


"Daripada putus aku lebih bisa menerima jika kau ingin istirahat sebentar dari hubungan kita. Selama masa istirahat, aku tidak akan memaksamu bersikap sebagai pacarku tapi aku akan selalu tetap menjadi pacar terbaikmu."


"Dasar bucin." Sunday tersenyum sinis melirik Faris.


"Budak cinta atau apapun itu, aku menerima semua anggapanmu karena aku hanya ingin menunjukkan kesungguhanku bahwa aku tidak seperti yang kau fikirkan." Faris mencium jemari Sunday. Sunday menatap Faris lekat. Ia tidak pernah tahu Faris akan sekuat ini mengikatnya dan membuatnya tidak bisa bergerak. Bersamanya memang senyaman ini. Seindah ini. Menatap matanya adalah hal terindah yang dirasakannya saat ini.


"Bagaimana? Kau mau kan mempertimbangkannya lagi?" Ucap Faris lirih.


Kalimat Faris masih terngingang-ngiang di telinganya saat ia meminta diri untuk keluar tadi.


"Jangan menyerah apalagi mengalah. Aku hanya ingin kau yang bersamaku. Bukan Gina."


Mengingat itu Sunday jadi dilema. Disatu sisi memang ia mencintai Faris, tapi di sisi lain setiap melihat kedekatan Faris bersama Gina membuatnya cemburu sekaligus merasa bersalah telah memacari pria yang Gina sukai. Itu membuat fikirannya seperti diaduk-aduk.


Sampai di lantai 4 Sunday keluar dar pintu lift. Tapi baru beberapa langkah berjalan ia menemukan Rima yang berdiri dengan tangan bertumpu dinding dan memegangi perutnya yang membesar itu. Sunday menghampiri.


"Kenapa, Kak?"


"Entahlah, aku sepertinya mengompol."


"Apa???" Sunday melihat lantai di bawah Rima berdiri.


"Kak... itu..."


"Ketika aku bergerak rasanya aku pipis terus. Tapi kalau diam begini aku tidak apa-apa." Rima meringis.


"Apa perut Kakak sakit atau mulas?"


"Tidak." Rima menggeleng.


"Sebaiknya Kakak harus ke rumah sakit."


"Ku rasa begitu."


"Tunggulah di sini sebentar saja. Jangan banyak bergerak. Akan ku ambilkan kursi roda di klinik." Sunday berlari menuju lift, memasukinya dan mengambil kursi roda. Beberapa saat kemudian Sunday datang lagi sambil mendorong kursi roda.


"Terima kasih." Sunday membantu Rima untuk duduk di atas kursi roda. Setelah itu Rima membuka ponsel dan menghubungi seseorang. Sepertinya itu adalah Pak Herman.


Sampai di lantai dasar, di depan Font sudah terparkir ambulan milik klinik Font untuk mengantar Rima ke rumah sakit. Sunday masuk ke dalam ambulan menemani Rima.


"Terima kasih, Sun." Rima yang berbaring di troli ambulan memandang Sunday dengan senyum.


"Aku rasa cairan yang keluar ini adalah ketuban."

__ADS_1


"Iya Kak, aku rasa juga begitu. Kakak tenang saja, semua akan baik-baik saja."


"Iya, lihatlah perutku yang sebesar ini. Di dalamnya ada yang menedang-nendang. Sepertinya dia ingin cepat keluar." Rima tertawa kecil.


"Memangnya sudah waktunya ya, kak?"


"Belum sih. Baru masuk minggu ke-36."


"Ya sudah Kakak jangan terlalu banyak bergerak. Istirahatlah." Rima mengangguk dan menikmati pengalaman pertamanya berada di dalam mobil ambulan sebagai seorang pasien.


Ambulan Rima sampai di rumah sakit terdekat dan segera mendapat penanganan dari tim medis untuk di bawa ke ruang ICU dan mendapat pertolongan pertama. Pak Herman datang terburu-buru.


"Bagaimana, Sun?" Tanyanya begitu sampai di dekat Sunday.


"Sepertinya ketuban Kak Rima pecah, Pak."


"Apa ini waktunya dia melahirkan?"


"Bisa jadi, Pak."


"Tapi ku pikir itu bulan depan." Tepat saat itu seorang perawat datang.


"Siapa wali ibu Rima?" Tanya perawat itu.


"Saya suaminya." Jawab Herman cepat.


"Mari ikut saya. Dokter ingin berbicara dengan Anda." Herman mengikuti perawat itu. Sunday duduk di kursi tunggu. Kakinya terasa masih gemetar setelah melihat banyak cairan ketuban yang keluar dari Rima tadi.


"Bagaimana keadaan Rima?" Tiba-tiba Faris sudah berdiri di depannya. Sunday mendongak memandang Faris yang setinggi itu dari posisi duduk.


"Dia sedang menjalani observasi dan Pak Herman sedang berbicara dengan dokter."


"Apa yang terjadi?" Tanya Faris sambil duduk di sebelah Sunday.


"Entahlah, aku bertemu Kak Rima di lantai 4 dan ketubannya pecah. Lalu ku bawa ke sini."


"Dia memang bandel sekali. Sudah ku bilang untuk mengajukan cuti tapi masih saja bekerja. Aku pasti akan memecatnya kalau sampai terjadi apa-apa pada bayinya." Gerutu Faris.


"Kau bukan suaminya tapi kenapa semarah ini?" Sunday menahan tawa melihat ekspresi Faris yang bersungut-sungut seperti itu.


"Bagaimana tidak marah, dia bandel sekali. Aku pasti akan memarahinya habis-habisan setelah ini."


"Kalian ini dekat sekali ya."


"Begitulah." Ujar Faris. Tapi lalu memandang Sunday lurus.


"Kau cemburu padaku karena aku perhatian kepada Rima?"


"Tidak."


"Kau yakin?" Faris ingin memastikan.


"Yakin."


"Kenapa kau tidak cemburu saat aku perhatian kepada Rima dan berlaku sebaliknya kepada Gina?"


"Hei, aku ini bukan orang bodoh. Kenapa aku mencemburuimu dengan Kak Rima kalau dia sangat mencintai Pak Herman." Sunday lalu tertawa kecil.


"Logikaku masih berfungsi dengan baik, kau tahu."


Faris lalu tersenyum. Pak Herman datang dan mengatakan bahwa Rima harus menjalani operasi cesar karena ketuban yang sudah mulai menipis. Wajahnya tampak khawatir memikirkan keadaan istrinya.


"Tenang saja Her, semua pasti baik-baik saja. Tunggu saja, bayi kalian sebentar lagi akan lahir." Faris mencoba menenangkan Herman yang kini mereka sudah ada di depan ruang operasi.


"Iya Ris. Aku hanya khawatir dengan Rima yang berada di sana sendirian berjuang."


"Kau, berjuanglah juga dengan berdoa." Herman mengangguk. Tapi terlihat sekali wajahnya sangat gelisah. Sunday juga terlihat tegang.


"Kau kenapa jadi tegang?" Faris meraih tangan Sunday dan menggenggamnya. Sunday menatap Faris.


"Aku tidak tegang." Sanggah Sunday.


"Tapi wajahmu pucat."


"Aku hanya sedang berfikir bahwa melahirkan ternyata seseram itu. Melihat ketuban Kak Rima yang mengalir seperti itu aku jadi gemetar. Apakah rasanya sakit? Atau nyeri atau..."


"Kau ini, kalau melahirkan semenakutkan itu pasti tidak akan ada ibu yang mau melahirkan anak sampai berkali-kali." Faris tertawa kecil.


"Tapi tetap saja bagiku sangat menakutkan."


"Tenang saja, saat kau melahirkan nanti aku akan selalu menemanimu. Anggap saja bersalin sama saja dengan bersalon."


"Bicara apa kau? Bagaimana itu bisa sama." Sunday meronakan pipinya.


"Ya, anak pertama, kedua, ketiga, keempat, kelima. Semuanya se-enjoy saat kau sedang menjalani perawatan di salon kecantikan."


"Hei, siapa yang mau punya anak sebanyak itu?"


"Aku mau punya banyak anak. Kata orang banyak anak banyak rejeki." Faris tersenyum jumawa.


"Kau saja yang hamil kalau begitu."


"Kalau bisa pasti aku akan melakukannya. Tapi sayangangnya aku bukan kuda laut." Faris tertawa. Sunday memanyunkan bibirnya. Wajahnya lucu dengan ekspresi duck face begitu.


"Baiklah, mau berapapun bayi yang kita punya nanti pokonya aku ingin kau adalah ibunya." Faris memandang Sunday lembut. Sunday memalingkan wajah meronanya.


"Apa yang kau bicarakan. Kita bahkan baru saja menjalin hubungan tapi kau sudah membicarakan hal seperti ini." Faris semakin erat menggenggam tangannya. Herman hanya tersenyum melihat mereka berdua dari kejauhan dan pemandangan itu sedikit menghiburnya dari rasa cemas.


Kemudian dari dalam ruang operasi terdengar suara tangisan bayi. Herman menangkupkan kedua telapak tangan ke wajahnya lega. Sunday dan Faris saling pandang lalu tersenyum senang. Faris sempAt melihat Sunday menarik nafas lega seperti terbebas dari beban yang berat.

__ADS_1


Masih banyak waktu untuk meyakinkan Sunday tentang berjuang saat persalinan. Tapi yang pasti dan harus selalu ia lakukan sekarang adalah meyakinkan kepada Sunday tentang kesungguhan perasaannya. Bahwa yang ia cintai hanya Sunday. Tidak ada yang lain selain dirinya.


__ADS_2