
"Kau disini?" Sunday mendekati gadis itu.
"Kakak kenapa di sini?" Tanya Friday dengan pandangan heran.
"Aku... aku sedang jalan-jalan." Jawab Sunday agak tidak enak.
"Sejauh ini?"
"Tidak, sebenarnya aku tinggal di sini."
"Sejak kapan?" Friday mengerutkan kening.
"Oh iya, Kakak bekerja di Font." Ia teringat pembicaraan dengan papanya tempo hari.
"Darimana kau tahu aku bekerja di Font."
"Dari Papa. Kakak tinggal dimana?"
"Di kos."
"Dimana?"
"Rahasia. Aku tidak mau kau datang ke kosku."
"Kakak pelit sekali." Sekarang Friday malah memeluk lengannya sok akrab. Sunday melepas pelukan adik tirinya itu.
"Jangan dekat-dekat denganku. Aku alergi terhadapmu."
"Memangnya aku apa bisa membuatmu alergi." Friday melirik sosok pria yang bersama Sunday.
"Lalu dia?" Tunjuk Friday dengan wajahnya.
"Dia..."
"Faris. Aku Faris." Jawab Faris dengan senyum malaikatnya.
"Ya Tuhan... senyummu... kau yang ada di iklan pasta gigi itu ya? Senyummu indah sekali." Mata Friday berbinar-binar silau.
"Hei jaga bicaramu." Sunday memelototinya. Friday lalu terkekeh.
"Kak, mainlah ke rumah. Papa sedang di rumah. Dia pasti senang kalau kau ke rumah."
"Tidak bisa janji. Aku sibuk."
"Benarkah?" Friday tampak sedikit muram setelah itu.
"Ya Tuhan, aku kehilangan dia." Friday celingukan ke segala arah.
"Maaf aku harus pergi." Friday meninggalkan Sunday dan Faris di tempatnya. Tapi kemudian dia berbalik lagi.
"Oh iya, Monday suka sekali tas yang kau kirimkan. Dia memakainya setiap hari." Masih belum cukup, ia berbalik lagi.
"Ku tunggu kau di rumah, Kak. Datanglah bersama pacarmu." Friday mengulang kalimatnya sambil berlari menjauh dan memamerkan senyum lebarnya. Sepertinya ia benar-benar terburu-buru dan harus pergi karena terlihat ia masih ingin berbincang dengan Sunday, kakaknya.
"Dasar anak itu." Gumam Sunday sambil berjalan menyusuri jalan setapak di taman.
"Ayo kita pulang. Di sini panas sekali."
"Kau sudah memakai topi."
"Aku tidak suka cuaca panas. Ayo kita pulang saja." Sunday menarik tangan Faris. Faris pasrah digandeng seperti itu. Tapi lalu Sunday melepasnya lagi.
"Kenapa kau lepas? Kau boleh menggandengku. Aku ini pacarmu."
"Aku yang tidak ingin."
"Tadi kau ingin." Goda Faris.
__ADS_1
"Tadi tidak sengaja."
"Anggap saja kali ini pun tidak sengaja. Aku akan pura-pura tidak tahu." Faris menyodorkan tangan kanannya.
"Tidak mau." Sunday berjalan lebih cepat sekarang. Wajahnya merona. Faris tersenyum berjalan dibelakang mengikutinya. Masih ada saja gadis pemalu seperti Sunday yang tidak akrab dengan kontak fisik walau mereka adalah sepasang kekasih dijaman ini. Dan itu membuat Faris semakin menyukainya.
"Jadi, siapa dia?" Sunday mengerutkan kening menoleh ke arah Faris yang memegang setir. Mereka sudah ada di dalam mobil sekarang.
"Yang bertabrakan dengamu di taman." Jelas Faris karena sepertinya Sunday agak bingung.
"Oh, dia adikku. Anak Papa dengan istri barunya." Gumam Sunday.
"Namanya memang Friday?"
"Iya."
"Wah, Pak Subagio memang suka menamai anaknya dengan nama-nama hari." Faris tersenyum. Hanya itu yang Faris katakan. Ia tidak mau membahas hal-hal yang berhubungan dengan papanya lebih lanjut. Faris tahu Sunday tidak menyukai itu.
Mobil Faris melesat menuju rumahnya. Pintu pagar otomatis terbuka, mobil Faris segera memasuki halaman. Saat tidak ada pergerakan apapun dari mobil itu, Sunday membuka matanya.
"Kenapa kau membawaku ke rumahmu?"
"Tidurlah di sini."
"Apa??? Tidak mau."
"Hanya tidur siang. Apa salahnya?"
"Tidak, kita tidak boleh tidur bersama."
"Siapa yang tidur bersama?" Mendengar itu Sunday mengerjapkan matanya. Wajahnya mendadak memerah.
"Katamu..."
"Aku hanya ingin kau tidur siang di sini. Bukan kita tidur bersama." Sunday masih diam mengingat-ingat kembali ucapan Faris.
"Kenapa?"
"Karena saat tidur bersama kita hanya tidur. Sudah itu saja. Tidak akan terjadi apa-apa dan tidak melakukan apa-apa." Jelas Faris. Sunday mengerti.
"Memangnya apa yang kau fikirkan dengan tidur bersama?" Faris menyelidik.
"Dasar otak kotor." Seraya menyundul kening Sunday lalu keluar dari mobil.
"Hei siapa yang otak kotor." Sunday mengikutinya keluar dari mobil. Lalu bermaksud pulang melalui pintu pagar tapi terkunci. Gerbang pagarnya juga terkunci otomatis setelah beberapa menit Faris masuk tadi.
"Buka pintunya, aku mau pulang." Teriak Sunday dari dekat pintu pagar. Tapi Faris tidak menghiraukannya dan malah masuk ke dalam rumah. Senyumnya tergaris tipis.
"Dasar orang ini. Kenapa suka sekali memenjarakanku. Aku juga kenapa bodoh sekali. Kenapa tidak turun di luar saja. Kenapa harus tertidur. Ahh, bodoh." Sunday menyundul kepalanya sendiri.
Saat memasuki rumah Faris, dia tidak ada. Di ruang tengah dan dapur juga tidak terlihat. Menurut Sunday pasti Faris sedang ada di kamarnya di lantai atas. Lalu ia menjatuhkan diri di atas sofa. Perutnya sangat lapar karena saat di kafe hanya memesan minuman dan buru-buru meminta pulang saat Faris mengajaknya ke taman.
"Aku sudah memesan makanan, jadi kau tidak boleh pulang." Seperti tahu apa yang dirasakan Sunday, Faris mengatakan itu sambil menuruni tangga.
"Tapi setelah itu aku mau pulang."
"Tidak boleh, kita harus mengadakan meeting."
"Hei, jangan bercanda. Ini hari minggu dan kau masih menyuruhku bekerja?" Sunday berdiri sambil berkacak pinggang menghadap Faris yang tepat ada di depannya.
"Siapa yang menyuruhmu bekerja. Kalau kau mau, kau malah boleh tidak bekerja tapi aku akan menggajimu sebulan penuh, dengan fasilitas penuh dan berbagai reward per hari atau per jam jika kau mau." Faris memandang Sunday lurus.
"Oh ya? Memangnya pekerjaan sebaik apa yang kau berikan dengan imbalan sebaik itu?" Perasaan Sunday mulai tidak enak.
"Jadi istriku." Faris mengulas senyum, memandang Sunday dalam. Sunday terpana sejenak lalu selanjutnya salah tingkah.
"Oh itu lagi. Aku belum tertarik dengan pekerjaan itu." Suara Sunday melemah dan kembali duduk.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu mari kita meeting membahas tentang misi selanjutnya mendekatkan Victor dan Gina." Faris segera mengubah topik pembicaraan karena Sunday seperti langsung berubah mood setiap berbicara tentang itu.
"Bukannya mereka sudah bertemu dan pasti akan berlanjut nanti."
"Mereka itu butuh stimulasi-stimulasi agar menjadi lebih dekat dan sangat dekat lalu bisa saling suka."
"Memangnya kau tahu caranya?"
"Karena itulah aku butuh bantuanmu. Bantu aku berfikir bagaimana caranya agar Victor dan Gina bisa menjadi saling suka."
"Bagaimana?" Sunday berfikir.
"Ahh, aku tidak tahu. Aku tidak berbakat jadi mak comblang."
"Kau bisa sedikit membual?"
"Membual?" Sunday menatap Faris aneh.
"Berbohong maksudmu?" Faris mengangguk.
"Tidak, aku kan anak pramuka yang menjunjung tinggi dasa dharma pramuka terutama dharma ke-9. Bertanggung jawab dan dapat dipercaya. Jadi aku harus menjaga kepercayaan setiap orang dengan tidak berbohong." Faris mengerutkan kening mendengar celoteh Sunday.
"Kau ini membicarakan apa? Aku bukan kakak pembina pramukamu jadi kau tidak perlu mengamalkan dasa dharma pramukamu sekarang."
"Aku kan memang paling tidak bisa berbohong." Sunday memanyunkan bibirnya.
"Lagipula ini hanya kebohongan putih."
"Apa itu kebohongan putih?"
"Berbohong demi kebaikan."
"Dimana-mana berbohong itu berdosa. Mana ada kebaikannya."
"Sudahlah, kau ini selalu membantahku. Kalau berani mendebatku lagi aku akan..." Faris secepat kilat mendekatkan wajahnya pada Sunday. Sunday reflek memejamkan mata. Dan dari jarak sedekat itu kulit wajah Sunday seperti berkilau-kilau. Alisnya yang tidak tebal diatas mata bulatnya dengan hidung dan bibir kecil sesuai dengan pipi chubbynya. Faris menelan ludah lalu semakin mendekatkan wajahnya. Semakin dekat. Dan semakin dekat. Sunday yang perlahan membuka mata jadi memejam lagi melihat Faris sedekat itu. Faris seperti ingin menyentuh bagian yang sangat menggoda dirinya.
Tet... tet... tet... Bel rumahnya berbunyi. Faris memundurkan wajahnya. Sunday membuka mata.
"Pasti itu makanan kita." Gumam Faris sambil masih memandangi Sunday. Melihat Sunday yang masih menegang Faris menahan senyumnya.
"Kau sudah boleh bernafas."
"Apa?" Jawab Sunday lirih sambil masih terpaku. Tapi kemudian terlihat Sunday mulai menghela nafas dalam dan menghembuskannya perlahan setelah faham apa yang dikatakan Faris.
"Biar ku ambil pesanannya." Lalu Faris keluar membukakan pintu.
"Aduh, jantungku..." Sunday memegangi dadanya. Rasanya ada yang akan meledak di sana. Setelah itu ia juga mulai mengatur nafasnya agar normal kembali.
Setelah menerima pesanannya, Faris kembali ke dalam rumah dan meletakkan beberapa kotak makanan diatas meja.
"Ayo kita makan." Ajak Faris.
"Sebanyak ini?" Sunday terbelalak.
"Tentu saja. Kau butuh banyak makan. Kau kan dalam masa pertumbuhan."
"Enak saja. Kau pikir aku ini apa?"
"Kurcaci." Jawab Faris sambil menahan tawanya kali ini.
"Enak saja." Sunday mencubit pinggang Faris yang kemudian berteriak kesakitan tapi sambil tertawa.
🌸🌸🌸
"Kau harus membumbui dengan memberikan kata-kata manis pada keduanya. Semisal katakan pada Gina kalau Victor suka mengajarinya karena dia cepat tanggap atau bagaimana begitu. Lalu katakan juga kepada Victor bahwa Gina suka diajari olehnya karena Victor sangat pandai. Nah, semacam itulah. Kau tahu kan?" Jelas Faris tempo hari. Dan pagi ini Sunday memasuki Font dengan niat untuk 'mengkompori' Gina tentang Victor. Lalu akan mencari waktu kapan kira-kira harus mengobrol dengan Victor tentang Gina. Ini benar-benar cara awal dan sangat klasik bagi mak comblang untuk mendekatkan dua orang.
Tapi kakinya tiba-tiba berat untuk melangkah ketika melihat pemandangan di depannya. Tepat di depan salah satu pintu lift ia mengenali dua orang yang sedang bergandengan itu. Perlahan Sunday mulai mendekati mereka. Sampai akhirnya ia ada tepat di belakang Gina yang memeluk lengan Faris. Hatinya seperti tergeletak di atas talenan dan terpotong-potong dalam beberapa bagian. Ingin sekali melepas paksa tangan Gina tapi ia sadar bahwa itu sebuah kegilaan karena hubungannya dengan Faris adalah kerahasiaan yang ingin ia jaga.
__ADS_1
Hingga akhirnya pintu lift terbuka. Faris dan Gina memasuki lift bersama beberapa pegawai lain di sana. Sunday sengaja tetap berdiri diambang pintu dan tidak masuk ke dalamnya hanya agar Faris bisa melihat keberadaannya. Tepat sekali, Faris bisa melihat dengan jelas Sunday yang ada di depan lift. Terpaku dengan pandangan yang seolah mengatakan, "selamatkan hatiku". Lalu pintu lift tertutup kembali. Sunday menghela nafas dalam dan panjang lalu melepasnya kembali perlahan. Otaknya berfikir keras, lalu untuk apa rencana yang mereka susun kemarin?