
"Bukankah aku sudah memperingatkanmu untuk tidak terlalu dekat dengan pria lain." Faris berhenti menyuapkan nasi lalapan ke dalam mulutnya.
"Dekat? Aku dekat dengan siapa?" Sunday menatap Faris. Ada kilatan disudut matanya.
"Kau pikir aku tidak melihatnya. Kau berjalan dengan laboran itu sambil tertawa-tawa. Sebahagia itu kau berjalan dengannya?"
"Untung saja aku bukan benar-benar pacarmu. Kau ini sungguh tipe pacar yang posesif. Bagaimana mungkin kau melarangku tertawa dengan pria lain. Aku ini makhluk sosial yang harus berinteraksi dengan manusia lain. Sudahlah, jangan membuat peraturan yang aneh-aneh terhadapku. Aku bisa saja menghentikan sandiwara ini kapanpun aku mau." Sunday mulai kehabisan kesabaran dengan sikap Faris yang mulai kelewatan.
"Jadi, kau mengancamku?"
"Anggap saja begitu." Sunday masih dengan menyuapkan makanannya dengan tangannya. Sesekali meminum es jeruknya.
"Wah, kau sungguh tega jika benar-benar melakukan itu."
"Mau bagaimana lagi, kau sangat keterlaluan." Sunday menatap Faris tajam yang sudah menyelesaikan makannya dan mencuci tangannya dibaskom yang berisi irisan jeruk nipis.
"Baiklah... aku tidak akan melarangmu bersama pria lain, tapi jangan banyak tersenyum, jangan bercanda dan jangan terlalu dekat dengan mereka."
"Kau ini benar-benar yaa. Aku sudah bersedia membantumu tapi kau semakin banyak maunya. Sangat merepotkan. Dan itu sangat menyebalkan." Sunday sudah tampak bersungut-sungut.
"Baiklah... baiklah... aku tidak akan membuat peraturan apapun padamu. Terserah kau mau dengan siapa saja. Mau jalan, pergi dan tertawa dengan siapapun." Faris cemberut.
Sebenarnya dirinya sangat sadar dengan perlakuannya kepada Sunday yang keterlaluan. Mereka hanya pacar pura-pura tapi Faris seolah memperlakukan Sunday dengan segenap keposesifannya. Tapi memang itulah yang dirasakannya. Kecemburuan yang hebat setiap melihat Sunday bersama Victor membuatnya semakin sadar seberapa besar ia menyukai Sunday dan ingin Sunday juga menyukainya suatu hari nanti.
Sunday sudah menyelesaikan makannya. Faris masih tampak gondok ditempat duduknya. Sunday menyembunyikan tawanya. Setelah membayar kepada pemilik warung tenda lalapan, Sunday menghampiri Faris.
"Ayo ku antarkan ke SPBU." Ajak Sunday berjalan disamping Faris. Faris bangun dari duduknya mengikuti Sunday.
Faris menaiki motor Sunday dengan Sunday duduk di belakangnya. Karena tidak memakai helm, dia sengaja melalui lorong tikus alias gang-gang sempit untuk sampai di SPBU terdekat dari kampus Sunday.
"Lalu bagaimana kau membawa bensinnya? Kau bahkan tidak membawa wadah apapun." Saat mereka sudah memasuki SPBU
"Tanki motormu sepertinya kosong, pakai ini saja."
"Oh..." Sunday mengerti. "Tapi, bagaimana caranya memasukkan ke dalam tanki mobilmu?"
"Banyak tanya. Nanti saja lihatlah sendiri bagaimana caranya."
"Ahh, terserahlah." Sunday turun dari motor dan berjalan ke arah depan menunggu Faris yang berada dalam antrian.
Setelah mengisi penuh motornya, Sunday membayar juga bensin itu. Sekarang isi dompetnya hanya tinggal beberapa lembar saja. Faris benar-benar merepotkan.
Kembali berkendara menuju mobil Faris, mereka masih menyusuri gang-gang sempit. Setelah sampai, Faris membuka mobilnya melakukan sesuatu di dalamnya dan mengambil seutas selang kecil. Membuka jok motor Sunday, membuka penutup tanki bensinnya dan memasukkan selang ke dalamnya, memompa selang dan memasukkan ke dalam tanki mobil Faris. Akhirnya Sunday tahu bagaimana cara Faris dengan melakukan semua itu.
"Jangan kau kuras habis isinya. Bagaimana aku pulang nanti."
"Iya, aku tahu."
Beberapa saat kemudian Faris menarik selang dan memasukkannya kembali ke dalam mobilnya. Faris benar-benar melengkapi mobilnya dengan segala macam kebutuhan darurat. Benar-benar pria siaga.
__ADS_1
"Ini." Faris menyerahkan kunci motor Sunday yang dari tadi masih disimpannya. "Terima kasih. Besok aku akan menggantinya."
"Harus, tidak ada yang gratis dijaman sekarang."
"Pelit sekali kau ini."
"Aku harus pelit kepada orang sepertimu. Kau bukan kaum fakir miskin yang berhak mendapat sedekah."
"Iya iya... bicaramu jadi seperti Mamah Dedeh." Sambil memencet hidung Faris. Hal yang disukai Faris yang dilakukannya kepada Sunday.
🌸🌸🌸
Bel berbunyi. Itu menandakan ada seorang tamu yang berdiri di depan pintu pagar karena bel rumah Sunday memang terletak di samping pintu pagar.
"Siapa yang datang malam begini." Gumam Mama Sunday disela menonton sinetron. Sunday masih menekuni laptopnya.
"Coba lihat, Sun." Melihat mamanya yang mengutusnya begitu pertanda ia sedang tidak ingin melewatkan sinetronnya.
Dengan malas Sunday berjalan menuju pintu. Tapi sebelumnya sempat mengintip dari balik gorden siapa tamu yang datang malam ini.
"Victor?" Sunday heran kenapa Victor bisa ada di rumahnya. Lalu Sunday membuka pintu dan mendekati Victor. Melihat Sunday keluar dan berjalan ke arahnya, Victor mengembangkan senyum.
"Ada apa, Kak?" Sunday membuka pintu pagar.
"Aku baru saja makan nasi goreng di tempat yang waktu itu. Lalu aku berfikir sudah ada di dekat rumahmu sepertinya tidak apa-apa kalau aku mampir ke rumahmu." Victor tersenyum.
Sunday selalu menerima tamu di teras. Dia lebih suka melakukan itu. Di rumah hanya ada dirinya dan mamanya, rasanya tidak nyaman membiarkan seseorang apalagi berjenis pria untuk masuk, walaupun hanya di ruang tamu.
"Kau sedang apa?" Tanya Victor.
"Hanya sedang mengerjakan tugas."
"Tugas apa?"
"Pemrograman web."
"Membuat sebuah program?"
"Membuat sistem informasi untuk e-bisnis."
"Apa yang kau buat?"
"Sejenis sistem informasi belanja online."
"Wah, itu membutuhkan database yang cukup besar."
"Ya, begitulah. Tapi aku baru sampai pada tahap desain sistem."
"Kalau butuh bantuan, hubungi aku saja."
__ADS_1
"Baik kak." Sunday tersenyum. Victor memang pandai dalam hal pemrograman jadi, sangat mudah juga baginya untuk membantu tugas Sunday. Seperti saat ia membantu tugas Sunday waktu itu.
"Ehm... ku lihat tadi dia naik motor bersamamu." Kata Victor tiba-tiba.
"Siapa?" Sunday tidak mengerti siapa yang dibicarakan Victor.
"Pria yang sering mendatangimu." Sunday ingat kepada Faris.
"Oh Faris." Detik itu Victor tahu nama pria itu adalah Faris.
"Dia sedang butuh bantuanku. Jadi dia mendatangiku."
"Bantuan apa?" Victor seperti penasaran.
Ada apa dengan mereka berdua akhir-akhir ini. Saat bersama Faris dia selalu melarangku dekat dengan Victor. Begitu pula dengan Victor, saat bersamanya, dia malah menanyakan urusanku dengan Faris. Ini benar-benar menjengkelkan.
"Bantuan seorang teman. Iya, dia butuh bantuan seorang teman." Sunday menjelaskan singkat. Karena baginya tidak penting juga Victor tahu urusannya dengan Faris. Sunday bukan tipe orang yang mudah berbagi cerita. Apalagi dengan orang yang dianggapnya tidak terlalu dekat. Dan Victor adalah salah satu orang yang tidak terlalu dekat baginya. Walaupun mereka telah lama saling mengenal dan bersama selama Sunday magang tapi interaksi yang tidak terlalu sering membuat Sunday merasa Victor tidak terlalu akrab dengannya.
"Oh begitu." Victor terlihat tidak puas dengan jawaban Sunday dan hanya itu yang bisa ia katakan.
"Aku selalu berfikir bahwa kau dan dia berpacaran."
"Ahh tidak, itu tidak benar. Kami hanya berteman." Sanggah Sunday.
"Tapi kalian terlihat akrab."
"Itu karena kita sudah lama berteman." Sunday tersenyum dibuat-buat.
"Seberapa lama?" Kali ini Sunday merasa Victor mulai mengintrogasinya.
"Berapa lama? Entahlah, aku tidak begitu ingat berapa lama." Elak Sunday.
"Apa dia juga sering datang ke sini?"
"Tidak juga. Dari rumahnya butuh waktu 1 jam untuk dia sampai ke sini. Jadi mana mungkin dia bisa sering datang."
"Bagaimana awal kau mengenalnya?" Sunday sudah semakin merasa introgasi Victor semakin intens. Semakin mendalam jadi dia merasa harus menghentikannya.
"Oh iya kak, aku harus melanjutkan tugasku." Kalimat Sunday bernada bahwa Victor harus pulang. Victor pun tampaknya menyadari hal itu.
"Baiklah, lanjutkan tugasmu." Victor beranjak dari duduknya. "Oh iya, sepertinya aku punya referensi program yang mirip dengan tugasmu. Kau bisa mengcopynya besok."
"Benarkah?"
"Hmm."
"Baik, terima kasih, Kak. Besok akan ku copy."
Victor mengangguk lalu pamit untuk pulang. Sunday mengantarnya sampai keluar pagar dan kembali mengunci pagar setelah mobil Victor berlalu.
__ADS_1