
Dari kejauhan Sunday bisa melihat dengan jelas mobil Faris terparkir di depan pagar rumahnya.
Apa lagi yang dia inginkan. Tadi tiba-tiba datang ke kampus lalu tiba-tiba pergi begitu saja dan sekarang tiba-tiba ada di depan rumah. Dasar jelangkung. Batin Sunday.
Saat melihat motor Sunday berhenti di depan mobilnya, Faris lantas keluar dari mobil. Sunday duduk di atas jok motornya.
"Ada apa lagi?" Tanya Sunday
"Aku menunggumu. Kenapa kau lama sekali."
"Hei, mobil & motor punya kecepatan yang berbeda." Sunday protes. Faris hanya tertawa menanggapi Sunday.
"Kenapa tadi pergi begitu saja?"
"Tadinya aku ingin mengobrol denganmu, tapi melihatmu bersama Victor, aku jadi malas." Faris mendengus kesal. Sunday tersenyum melihat tingkah Faris yang aneh seperti itu. Faris selalu terlihat lucu saat kesal.
"Kau ini lucu sekali kalau cemberut." Sunday mencubit kedua pipi Faris dengan gemas. Seketika Faris terkesiap merasakan tindakan Sunday yang tiba-tiba. Sunday yang menyadari hal itu segera melepas cubitannya dengan salah tingkah.
"Hmm... Hmm..." Faris berdehem untuk menghilangkan gugupnya.
"Jadi, ada apa ke sini?"
"Oh iya, sabtu dan minggu depan aku mau mengajakmu ke luar kota."
"Luar kota?"
"Saudara sepupuku menikah."
"Lalu kenapa mengajakku?"
"Aku harus menutup mulut para tetua saat bertemu mereka. Paling tidak kalau mereka bertanya kapan aku menikah, aku tidak perlu banyak alasan. Ku bilang saja kau masih kuliah." Faris mengerling.
"Aku benar-benar adalah pahlawan pelindungmu ya?" Sunday menyipitkan matanya sinis.
"Ya, itulah kenapa kau adalah orang yang paling tepat sebagai lawan mainku."
"Lawan main?" Sunday mengerutkan kening.
"Main sandiwara. Kau pikir lawan apa?"
"Tidak... tidak apa-apa."
"Otakmu masih suka kotor ternyata."
"Hei... jangan seenaknya menuduh. Kau ini suka sekali berfikiran buruk kepada orang lain."
"Aku ini bisa membaca pikiran."
"Memangnya kau Romy Rafael?" Cibir Sunday.
"Aku gurunya Romy Rafael."
"Huhh, halusinasimu sungguh hebat." Sunday mengibaskan tangannya.
"Baiklah, aku pulang dulu. Ku jemput kau sabtu pagi. Bawa pakaian untuk 2 hari. Kita akan menginap."
"Apa? Menginap?"
"Ya, kita akan menginap. Kenapa?" Faris tampak heran. Lalu ia teringat sesuatu.
"Oh, aku akan meminta izin tante Ana." Faris melangkah akan memasuki pagar.
"Ehh tunggu, tidak usah. Biar aku saja yang mengatakan kepada mama." Cegah Sunday. Tapi wajahnya seperti memperlihatkan dirinya sedang gusar.
"Kenapa?"
"Tidak. Tidak kenapa-kenapa."
"Oh, kau takut menginap bersamaku?" Faris mendekatkan wajahnya pada Sunday.
"Kenapa aku harus takut? Kita menginap di rumah saudaramu, aku tidak perlu mengkhawatirkan apapun."
"Siapa bilang? Kita akan menginap di hotel."
__ADS_1
"Apa???" Sunday beringsut selangkah ke belakang. Faris mengangkat wajahnya yang tadi berada lurus di depan Sunday.
"Resepsi pernikahan akan diadakan di ballroom hotel. Terlalu rumit jika harus menginap di rumah saudaraku. Lagipula aku tidak mau merepotkan mereka."
"Aku tidak ikut."
"Tidak bisa, kau harus ikut."
"Aku berhak menolak."
"Tapi kau sudah berjanji akan membantuku."
"Tapi..."
"Apa yang kau takutkan? Kita akan tinggal di kamar berbeda." Faris menahan tawa mengatakannya.
"Baiklah." Dengan cepat Sunday menyetujui. Faris faham apa yang ditakutkan Sunday.
"Kau pikir aku pria macam apa yang membiarkan diriku tidur dalam satu kamar dengan seorang gadis." Faris menyeringai.
"Siapa yang tahu? Aku juga tidak pernah tahu apa yang kau lakukan dengan para gadis yang kau pacari."
"Kau ini benar-benar tidak bisa berhenti berfikiran buruk terhadapku."
"Hei, aku ini hafal tentang pria sepertimu."
"Memangnya ada berapa banyak pria sepertiku yang kau kenal? Apa Victor juga sepertiku?"
"Tidak, dia baik. Dia tidak pernah tebar pesona kepada para gadis."
"Oh ya? Hanya itu? Kau pikir itu cukup membuktikan kalau dia bukan playboy? Kau tidak tahu bagaimana jika dia tidak bersamamu kan."
"Tapi semua itu bisa terlihat dari caranya bersikap. Dia tidak suka merayu dan menggombal sepertimu."
"Sudah sudah... Jangan sebut dia lagi. Aku tidak mau kau membandingkan aku dengannya."
"Kau yang lebih dulu menyebut dirinya."
"Baiklah, aku pulang saja."
Faris yang berniat meninggalkan Sunday menghentikan langkahnya dan membalik tubuhnya lagi.
"Apa kau bilang?" Faris masih terlihat kesal.
"Tidak ada." Sunday berbohong. Faris melanjutkan langkahnya.
🌸🌸🌸
"Jadi, kau akan pergi 2 hari dengan Faris?" Suara Suzan dari seberang telepon.
"Ya." Sambil memasukkan baju tidur ke dalam tasnya.
"Kenapa tidak mengatakannya padaku."
"Kenapa memangnya?" Sunday malah balik bertanya.
"Apa yang kau pakai saat ke pesta?"
"Baju. Memangnya aku mau pakai apa? Kain kafan? Lalu berpenampilan seperti permen? Hei, aku ini pergi ke pesta pernikahan, bukan pesta hellowen yang harus berpenampilang seperti pocong." Sunday terkekeh.
"Ahh kau ini." Suzan terdengar panik. "Maksudku, bagaimana penampilanmu nanti? Kau ini kan sangat tidak pandai berdandan."
"Sudahlah, kenapa kau sekhawatir ini. Pesonaku ini sangatlah dahsyat. Aku cantik dari hatiku. Wajahku mengalihkan duniamu. Lalu apa lagi ya..." Sunday cekikikan menyebutkan beberapa motto iklan alat make up.
"Jadi meski tanpa bantuan alat make up aku sudah terlihat cantik."
"Aku sungguh tidak bisa mempercayaimu dalam hal ini. Aku benar-benar tidak tega membiarkanmu pergi ke pesta bersamanya dengan kemampuan berdandanmu yang nol besar itu."
"Hei, sudahlah. Berhenti mengkhawatirkanku. Aku tidak akan mati hanya karena aku tidak bermake up."
"Bukan begitu, tapi apa kata orang kalau Oppa Faris yang setampan Robbert Pattinson memiliki pacar yang buluk sepertimu."
"Buluk katamu?"
__ADS_1
"Iya, kau itu buluk karena tidak pernah sedikit pun berdandan."
"Tapi apa aku sebuluk itu? Meskipun tidak berdandan aku masih tetap cantik, kau tau."
"Omong kosong."
Terdengar suara mobil berhenti di depan rumahnya, Sunday keluar dari kamarnya dan mengintip dari balik gorden cendela rumahnya.
"Ehh, sudah. Faris sudah menjemputku."
"Hei, sepatu apa yang akan kau pakai?"
"Sepatu roda." Jawab Sunday asal dan setelah itu menutup teleponnya segera sebelum Suzan akan memberinya ceramah panjang kali lebar tentang tutorial berbusana yang baik dan benar.
Setelah mengunci pintu, Sunday menghampiri Faris. Mamanya sudah berangkat mengajar. Sunday sudah meminta izin Mamanya beberapa hari yang lalu tepat setelah Faris mengajaknya.
"Ma, akhir pekan ini Faris mengajakku pergi ke acara pernikahan saudaranya." Mamanya yang sedang memeriksa tumpukan kertas hasil ulangan murid-murid tanpak menghentikan aktifitasnya sejenak.
"Ke acara nikah?"
"Hmm..."
"Kenapa dia mengajakmu?"
"Entahlah..." Sunday tidak tahu harus menjawab apa karena mamanya memang tidak tahu tentang sandiwaranya dengan Faris.
"Bukankah itu acara penting? Acara keluarga." Mamanya menyelidik.
"Mungkin... mungkin karena Faris menganggap aku keluarganya, Ma." Sunday tertawa demi menutupi kegugupannya.
"Keluarga? Sespesial itu?" Mamanya bertambah gencar mengintrogasi.
"Bisa dibilang begitu. Kasihan dia, Ma. Anak bungsu, tidak punya adik. Jadi aku rela dianggap adik olehnya."
"Mmm... alasan klasik. Kakak-adik." Mamanya tersenyum jahil. "Nanti lama-lama suka."
"Apa sih mama ini." Sunday menepuk pundak mamanya. Wajahnya merona malu.
"Memang kenapa kalau kau akui saja kalian sedang pacaran."
"Apa yang harus ku akui kalau memang kenyataannya tidak, Ma."
"Tapi Mama lihat kalian sangat akrab."
"Apa yang akrab harus berpacaran. Aku dan Suzan juga akrab, dengan Windy juga. Tapi kita tidak pacaran."
"Heh, jangan sampai itu terjadi." Mamanya sedikit berteriak menanggapi Sunday. Sunday tertawa.
"Makanya Mama jangan asal tuduh. Aku sama Faris cuma berteman. Jadi masa iya aku menolak ajakan seorang teman. Mama juga cukup mengenalku. Aku tidak akan berpacaran dengan pelaut. Mama masih ingat itu kan." Sunday sudah memeluk mamanya sekarang. Membenamkan dagunya pada pundak mamanya.
"Baiklah, demi pertemananmu dengan Faris, Mama memperbolehkan. Tapi ini benar-benar acara pernikahan saudara Faris kan?" Mamanya menyelidik.
"Ya Tuhan, Mama. Mana berani aku berbohong." Sunday meyakinkan.
"Oke, Mama percaya." Mamanya tersenyum lembut.
"Tapi aku akan menginap, Ma. Karena acaranya hari minggu dan Faris bilang hari sabtu ada acara berkumpul keluarga."
"Bertambah lagi maunya."
"Kalau Mama tidak percaya, Mama bisa ikut."
"Buat apa? Mama tidak diundang."
"Daripada Mama tidak percaya."
"Baiklah... baiklah... jangan lupa jaga sikap & jaga diri. Jangan sampai mempermalukan nama baik orang tua, keluarga, nusa & bangsa."
"Mama... ini kita bukan sedang ngobrolin tentang PPKn lho." Sunday pura-pura kesal. Mamaya cengengesan.
Faris menyambut kedatangan Sunday dengan tersenyum. Hatinya seperti tidak bisa berhenti bernyanyi. Dia akan pergi bersama gadis yang disukai. Rasanya sebahagia saat dirinya akan pergi ke kebun binatang saat masih duduk di bangku taman kanak-kanak.
"Ayo." Ajak Sunday yang malah menemukan Faris hanya tersenyum kepadanya, bukan malah beranjak masuk ke mobilnya.
__ADS_1
"Oh, eh, iya..."