Nona Hari Minggu

Nona Hari Minggu
Tertembak


__ADS_3

Bila cinta kita tak kan tercipta, ku hanya sekedar ingin tuk mengerti. Adakah diriku singgah dihatimu? Dan, bilakah kau tau, kaulah yang ada dihatiku? Kau yang ada dihatiku, adakah ku dihatimu?


Sunday menatap secarik kertas yang terselip di modulnya. Lirik lagu Maliq & D'Essentials yang berjudul Untitled. Ia tidak merasa pernah menulis syair lagu itu apalagi menyelipkannya di sela modul. Lalu siapa? Kemarin ada file dengan potongan lirik lagu Payung Teduh, sekarang Maliq & D'Essentials. Apa benar pesan-pesan lagu itu memang untuknya? Atau ada orang iseng yang hanya sekadar menulis itu semua. Tapi untuknya. Untuk apa?


Sunday bingung. Otaknya memproses data-data yang terinput ke dalamnya. Mengolahnya hingga menjadi output yang sesuai. Pertama flashdisknya, sekarang modulnya. Oke, beberapa orang meminjam flashdisknya tapi modul ini. Ini tertinggal di laboratorium dan Victor yang mengantarkan ke rumahnya. Kemungkinan yang memegang modulnya hanya Victor.


"Ya Tuhan, Victor? Apa mungkin yang menulis lirik-lirik lagu ini adalah Victor?" Sunday berfikir keras. Procesor dikepalanya bekerja maksimal.


"Tapi untuk apa? Apa memang untukku? Tidak... tunggu dulu. Atas dasar apa? Atau dia menyukaiku? Jangan, jangan terlalu percaya diri. Dia tidak sedekat itu denganku. Kita hanya berteman biasa. Dia tidak pernah menunjukkan gejala suka padaku." Sunday mencerna data yang diterima otaknya lagi.


"Tapi, kalau bukan Victor lalu siapa?" Lama Sunday terpaku dengan secarik kertas post-it warna pink itu ditangannya.


"Entahlah... aku tidak tahu. Biarkan saja seperti itu. Tidak mau menerka-nerka lagi terserah yang menulisnya. Pura-pura tidak tahu saja." Akhirnya Sunday menempelkan kerta post-it itu di kalender kamar di dekat meja belajarnya. Selanjutnya ia kembali melanjutkan mengerjakan tugasnya.


🌸🌸🌸


Keesokan harinya. Sunday mengendarai motornya menuju kampus. Sekelebat seperti ia melihat mobil Faris melintas berlawanan arah dengan motornya. Sunday melihat ke spion dan memastikan. Tapi ia tidak yakin. Bukankah Faris mengatakan akan selama dua minggu di Filipina. Jadi tidak mungkin kalau yang baru saja melintas berpapasan dengannya adalah Faris.


Faris benar-benar menyita perhatiannya akhir-akhir ini. Fikirannya seperti dipenuhi oleh Faris. Ia memang merindukan Faris. Ia ingin bertemu dengannya. Ingin melihat senyumnya. Ingin berdebat dengannya. Ingin makan bakso, nasi goreng, es puter, siomay, batagor yang semua makanan itu jadi tidak enak saat ia memakannya sendirian tanpa Faris.


"Sepertinya kepulangannya kali ini membuatku tergantung padanya. Atau karena aku terlalu menghayati peranku sebagai pacar pura-puranya sehingga aku terbawa perasaan. Ini sangat memusingkan. Kapan dia akan mengakhiri ini. Lama-lama aku benar-benar gila kalau harus begini terus." Ia masih berkendara menuju kampusnya. Ia hirup udara pagi sekuat tenaga lalu menghembuskannya. Berharap sesak di dadanya bisa berkurang. Tapi alih-alih meringankan bebannya, angkot yang baru saja lewat menyalipnya malah meninggalkan asap hitam yang lumayan pekat. Sunday jadi terbatuk-batuk.


Angkot kurang ajar. Bisa-bisanya mengasapiku tanpa permisi. Rutuknya.


Sampai kampus Sunday segera menuju kantin. Membeli sebotol air mineral untuk sedikit meredakan batuk oleh asap yang mengotori paru-parunya tadi. Setelah meneguknya, ia berjalan menuju ke laboratorium. Saat mau masuk, ternyata pintu tertutup dan sayup-sayup terdengar dosen sedang memberikan kuliah. Sepertinya sedang ada praktikum. Sunday akhirnya memutuskan untuk duduk di bangku depan laboratorium. Kuliahnya juga baru akan dimulai satu jam lagi.


"Tidak ada kelas?" Seseorang sudah duduk disebelahnya. Sunday menoleh.


"Nanti, Kak." Jawab Sunday kepada Victor. Sunday ingat secarik kertas yang terselip di modul praktikumnya. Ingin sekali ia menanyakan tentang lirik lagu itu tapi Sunday bingung memulai dari mana.


"Kak, kemarin modulku tertinggal dimana?"


"Dimejamu. Kenapa?"


"Tidak. Selain kakak, ada orang lain yang memegang modulku?"


"Ada apa dengan modulmu?" Victor terlihat heran.


"Apa ada yang rusak?"


"Tidak... tidak ada. Modulku baik-baik saja."


"Lalu?" Victor seperti penasaran dengan sikap Sunday.


"Semalam, aku menemukan secarik kertas didalamnya." Sunday benar-benar penasaran dan tidak bisa menahan diri lagi untuk mengatakan apa yang ada didalam fikirannya.


"Oh itu..." Sunday memandang Victor dengan mata membulat. Victor seperti tahu tentang kertas itu.


"Jadi, Kakak tahu tentang kertas itu?"


"Hmm..." Sunday lalu merogoh saku tasnya dan mengeluarkan kertas post-it pink.


"Ini milik Kakak?" Ragu-ragu Sunday bertanya.


"Iya." Jawab Victor singkat.


"Oh, ini kukambalikan." Sunday menyodorkan kertas itu.


"Tidak, ambillah. Aku memberikan itu padamu."


"Untukku?"

__ADS_1


"Ya, untukmu."


"Tapi kenapa?"


"Karena aku tidak bisa mengatakannya secara langsung padamu."


"Mengatakan apa?" Sunday tidak mau terlalu cepat menyimpulkan apa yang ingin Victor katakan itu.


"Seperti pesan-pesan yang kukirim padamu. Tentang Berdua Saja-nya Payung Teduh ataupun Untitled-nya Maliq & D'Essentials, itu semua adalah ungkapan isi hatiku padamu."


"Kak... " Sunday mulai faham sekarang.


"Ya, aku menyukaimu, Sun. Aku sudah lama menyukaimu. Sejak tahun pertamamu magang. Hanya saja aku tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya. Jangankan mengungkapkan, menunjukkanya saja rasanya sulit bagiku." Lalu Victor terkekeh seperti menertawakan dirinya sendiri.


"Kak, aku..."


"Jangan dijawab sekarang. Aku belum ingin mendengarnya sekarang. Aku memberimu waktu untuk memikirkannya jadi jangan buru-buru menjawabnya. Aku orang yang sangat baik dalam hal menunggu." Victor tersenyum lembut kepada Sunday. Sunday masih bengong dengan yang baru saja terjadi.


Itu sungguh tiba-tiba. Sunday tidak pernah menyangka Victor yang dianggapnya cuek dan jarang sekali mengobrol dengannya ternyata memendam rasa terhadapnya. Dan yang membuat Sunday bingung adalah bagaimana ia harus menghadapi ini.


Sunday benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Karena perasaanya kepada Victor memang hanya sebatas teman, tidak lebih sama sekali.


🌸🌸🌸


Apa yang baru saja terjadi adalah sebuah 'kejutan' untuk Sunday. Victor tiba-tiba 'menembaknya'. Tanpa aba-aba sebelumnya, sehingga membuatnya benar-benar tidak menyangka.


Langkahnya pelan menuju kelas. Ia masih ingat sebelum Victor meninggalkannya untuk masuk ke laboratorium sempat mengatakan...


"Jangan terburu-buru. Aku masih akan selalu menunggumu."


Masih selalu menunggu. Kalimat itu menjadi beban tersendiri untuk Sunday. Sudah pasti ia tidak menyukai Victor sebagai seorang pria. Ia hanya menganggapnya teman. Tidak lebih sama sekali. Lalu sekarang jika Victor ingin menunggunya, lalu sampai kapan. Sunday tidak tahu kapan ia akan menyukai Victor. Ia juga tidak berminat menyukai siapapun apalagi merencanakannya.


Ya, aku akan secepatnya mengatakan itu padanya. Agar dia tidak terus berharap padaku. Sunday yakin.


Sunday sampai di depan kelasnya. Suzan dan Windy belum terlihat disana. Ada beberapa teman yang sudah mengisi bangku kosong. Setelah menyapa mereka, ia mengambil tempat duduk di dekat cendela. Karena dari gedung lantai tiga ini, Sunday bisa melihat jalan kampus disampingnya. Menikmati jalan dari ketinggian memang adalah salah satu hobinya. Melihat setiap yang melintas adalah hiburan tersendiri baginya.


Akhirnya kelas selesai. Sunday memasukkan buku catatan kendalam tasnya. Suzan & Windy juga. Mereka beranjak dari tempat duduknya.


"Aku langsung ke kelas Basis Data yaa." Pamit Suzan.


"Oke." Jawab Sunday dan Windy hampir bersamaan.


Suzan memang sengaja mengambil kelas mengulang untuk memperbaiki nilai C yang didapatkannya di semeater dua lalu.


Sunday dan Windy berjalan beriringan. Melihat Sunday diam dengan wajah ditekuk, Windy sedikit heran.


"Ada apa, Sun?"


"Hah, apa?"


"Kau itu kenapa? Kulihat dari tadi wajahmu seperti jemuran belum kering."


"Basah?" Sunday mengelap wajahnya dengan tangan kosong. Windy cekikikan melihat sikap temannya itu.


"Bukan, tapi kusut." Windy masih tertawa kecil.


"Oh... kelihatan kusut ya?"


"Iya. Ada apa memangnya?"


"Begini Win, menurutmu bagaimana. Ketika seseorang mengatakan cinta kepadamu tapi kau tidak mencintainya. Lalu dia malah akan menunggumu. Apa yang akan kau lakukan? Tetap diam tidak menolaknya atau menerimanya atau langsung menolaknya seketika itu juga. Ya agar dia tidak berharap terus kepadamu."

__ADS_1


"Sebentar... kau sedang membicarakan siapa?" Windy menyelidik.


"Mmm... itu... Victor."


"Victor?" Sunday mengangguk. "Yang kau maksud yang telah mengungkapkan cinta adalah Victor? Kau tertembak oleh Victor?"


"Iya..." Sunday menjawab dengan lemas.


"Berarti benar file itu milik Victor?"


"Hmmm..."


"Wah, akan ada cinta lokasi di kampus ini." Goda Windy.


"Hei, kau ini. Aku tidak berminat dengan itu. Aku tidak mencintainya." Wajah Sunday menunduk dalam-dalam dengan langkah menyusuri lorong kampusnya.


"Lalu maumu bagaimana?"


"Justru itu makanya aku menanyakan pendapatmu. Aku harus bagaimana?"


"Menurutku sebaiknya katakan kepadanya saja secara langsung bahwa kau tidak ingin dia menunggu. Karena perasaanmu kepadanya juga bukan seperti yang dia harapkan. Lebih cepat mengatakannya lebih baik agar dia berhenti berharap. Entah sekarang atau nanti itu tidak akan berbeda untukmu. Ya meskipun dia berharap suatu saat kau akan menyukainya juga. Tapi jika sampai nanti-nanti kau tidak kunjung memiliki rasa untuknya, itu akan semakin menyakitinya saat kau benar-benar menolaknya."


"Aku pikir juga begitu."


"Jadi lakukan saja."


"Baiklah, aku akan mengatakan padanya sekarang juga. Agar aku juga tidak terbebani seperti ini setiap kali bertemu dengannya. Aku tidak mau setiap hari bingung harus bertemu dengannya karena perasaan tidak mengenakkan ini." Sunday tampak sangat bersemangat sekarang. Windy tersenyum geli melihat tingkah Sunday.


"Aku ke lab dulu, Win." Sunday berjalan mendahului Windy.


"Oke, semoga berhasil." Sunday menoleh sambil mengacungkan jempolnya.


Memasuki laboratorium, Sunday melihat didalamnya sepi. Tidak ada kelas lagi. Sunday berjalan mendekati meja Victor. Tapi Victor tidak ada. Sunday celingukan menoleh ke sana kemari. Pandanganya mengitari seluruh ruangan dan meja-meja komputer.


Ada seseorang duduk berjongkok di dekat salah satu meja komputer. Sunday menghampirinya. Tapi saat sudah dekat, yang ada di sana bukan Victor. Seseorang sedang duduk membetulkan kabel LAN yang terpilin dengan kusut.


"Kau... siapa?" Tanya Sunday pada sosok asing itu. Pria itu mendongakkan wajahnya.


"Oh, aku Beni. Aku yang sementara menggantikan Victor." Pria itu berdiri dari duduknya


"Menggantikan Kak Victor? Memangnya dia kemana?"


"Dia mendapat tugas dari kampus untuk sebuah urusan di luar kota jadi beberapa waktu tidak akan ada di sini."


"Tapi tadi aku masih bertemu dengannya."


"Oh mungkin dia sedang ada keperluan di sekretariat teknik."


"Sebenarnya aku laboran fakultas Hukum, tapi sementara juga ada disini sampai Victor datang lagi."


"Sampai kapan?" Tanpa sadar Sunday malah mengintrogasi. Pria yang bernama Beni itu tersenyum. Sadar dengan apa yang dilakukannya, Sunday meminta maaf karena terlalu ingin tahu apa yang tidak wajib diketahuinya.


"Kau peserta magang kan?"


"Iya kak."


"Syukurlah. Aku tidak akan terlalu kerepotan kalau begitu. Karena paling tidak jika aku ada di lab Hukum, masih ada kau di sini."


"Iya baiklah."


Beni lalu meninggalkan Sunday dan duduk di tempat Victor biasanya. Sunday masih diam merasakan dirinya yang gagal menemui Victor dan memberikan pernyataan penolakan kepadanya. Dia harus menunggu Victor sampai datang agar bebannya berkuran serta menangguhkan pernyataan penolakannya kepada Victor.

__ADS_1


__ADS_2