Nona Hari Minggu

Nona Hari Minggu
Tuan Teddy


__ADS_3

Sunday membuka pintu kos dan melihat Faris sedang berbincang dengan Bu Uni di halaman rumahnya. Mereka tampak sedang tertawa bersama dan terlihat akrab. Sunday mendekati mereka.


"Oh Sunday sudah keluar." Sambut Bu Uni.


"Kau tahu, aku baru tahu bahwa kita bertetangga dengannya."


"Tentu saja, Bu. Dia memang jarang bersosialisasi dengan orang lain. Terlalu banyak kesibukan." Jelas Sunday.


"Apa pegawai di Font semuanya begitu? Kulihat kau juga sama anti sosialnya." Bu Uni menyenggol bahu Sunday.


"Itu berbeda denganku, Bu. Aku sibuk bekerja sedangkan dia sibuk yang lain."


"Oh ya?"


"Aku sibuk mengerjainya, Bu." Sahut Faris. Bu Uni tertawa mendengar Faris. Sunday manyun.


"Baik-baiklah kalian. Akur-akur ya." Bu Uni menepuk bahu Sunday.


"Aku mau mandi dulu, sudah cukup berkebunku pagi ini." Pamit Bu Uni. Faris memberinya senyum sebelum ia melangkah masuk.


"Ada apa?" Sunday mendekati Faris. Sinar matahari pagi sangat mendukung untuk kulit wajah bersih Faris terlihat sangat sempurna cerahnya. Sunday sampai silau dibuatnya.


"Mari kita berangkat bersama."


"Tidak, aku jalan kaki saja. Aku harus sedikit berolah raga."


"Kalau begitu aku juga akan berjalan kaki."


"Tumben?" Sunday menatap Faris mencari tahu niatnya.


"Aku ingin berangkat ke Font denganmu." Faris tersenyum.


"Hei, apa kata pegawai Font kalau seorang owner berangkat bekerja dengan berjalan kaki?" Cibir Sunday.


"Aku tidak peduli."


"Sudahlah, lakukan saja kebiasaanmu seperti sebelumnya."


"Aku ingin kita seperti pasangan normal lainnya."


"Apa kita pasangan yang tidak normal?" Tanya Sunday sambil menautkan alisnya.


"Ya, aku bahkan tidak bisa jalan bersamamu di Font."


"Itu bukan masalah besar. Dan kita tetaplah pasangan walau tidak melakukan itu." Sunday menyenggol bahunya.


"Tapi aku ingin semua orang di Font tahu bahwa kita berpacaran." Gerutu Faris.


"Untuk apa? Apa untungnya semua orang tahu? Aku nyaman walau aku hanya menjalin hubungan backstreet dengan atasanku."


"Kau ini memang tidak mengerti perasaanku. Lagipula Gina sudah tahu kita berpacaran lalu kau menutupinya dari siapa lagi?" Faris cemberut.


"Aku butuh waktu untuk melakukan itu."


"Kenapa? Apa menjadi pacaku tidak membuatmu bangga?"


"Rasanya bergengsi sekali berpacaran dengan Project Sponsor, tapi bagaimana aku menempatkan diri di Font? Aku pegawai baru dan sudah bisa menggaetmu, lalu apa kata pegawai lain?"


"Kenapa itu penting bagimu? Kau hanya butuh aku, bukan orang lain saat menjadi pacarku."


"Ayolah... tunggu beberapa saat lagi. Sampai aku merasa cukup siap untuk mendapat pandangan baik ataupun buruk para pegawaimu."


"Entahlah... terserah kau." Faris memasang wajah kaku. Sunday tahu Faris jadi kesal karena itu.


"Taddy Bear-ku yang lucu dan menggemaskan kenapa sepagi ini kau harus cemberut? Itu tidak baik untuk kesehatanmu."


"Aku tidak peduli."


"Ayolah, kita tidak harus menunjukkan kepada semua orang bagaimana hubungan kita. Kita bisa menikmatinya berdua saja. Anggap saja kita ini pelit publikasi. Itu akan memberi kita banyak ruang untuk tetap terlindungi dalam zona privacy."


"Terserah kau saja."


"Sudahlah, jangan cemberut begitu, pak Teddy." Sunday menggoda Faris dengan memeluk lengannya. Faris mulai luluh digandeng seperti itu.


"Jangan merayuku. Aku sedang marah padamu."


"Pak Teddy, ketika kau marah ketampananmu meningkat menjadi 200% kau tahu." Sunday semakin gencar menggodanya.


"Sudahlah, kalau tidak mau berangkat bersamaku. Aku berangkat sendiri." Faris pergi meninggalkan Sunday dan berjalan menuju rumahnya untuk mengambil mobil.


"Baiklah Pak Teddy. Sampai jumpa di Font. I love you." Ujar Sunday tapi tidak dihiraukan oleh Faris. Sebenarnya bukan tidak menghiraukan, hanya saja Faris sedang pura-pura marah. Ia sempat tersenyum senang saat Sunday mengatakan i love you padanya.


Sunday berjalan melewati depan rumah Faris dan melihatnya mengeluarkan mobil. Saat sudah sejajar dengan langkahnya, Faris memelankan mobilnya.


"Kau yakin tidak ingin berangkat bersamaku?"


"Iya. Berangkatlah lebih dulu."


"Baiklah, aku akan menjemput Gina saja."


"Hei, berani-beraninya kau." Sunday menjadi panik. Apalagi saat Faris tancap gas begitu saja. Hatinya menjadi kecut. Faris sekarang mulai bisa mengancamnya menggunakan nama Gina dan itu memang berhasil membuat Sunday termakan.


Memasuki pelataran Font, Sunday melihat seseorang yang ia kenal sedang berdiri di sana. Bersandar tiang dan tampak membawa sesuatu ditangannya. Melihat Sunday berjalan ke arahnya, gadis itu mengembangkan senyum.


"Akhirnya kakak datang juga." Sambut Friday.

__ADS_1


"Kenapa ke sini?"


"Aku menunggumu."


"Ada apa?"


"Ku bilang mainlah ke rumah tapi kau tidak datang juga. Ini ku bawakan sambal kesukaanmu." Friday menyodorkan paperbag berisi beberapa cup sambel.


"Ada sambal bawang dan sambal teri, kak." Tunjuk Friday pada paperbag yang sudah berpindah ke tangan Sunday.


"Yang paling spesial dan baru saja launching adalah sambal bajak. Kau bisa mencocolnya saat makan gorengan. Itu enak sekali rasanya."


"Kau mau promosi ya?" Cibir Sunday.


"Tidak... tidak." Friday mengibaskan telapak tangannya.


"Itu spesial ku bawakan jauh-jauh untukmu. Tapi kalau kau mau mempostingya ke media sosialmu dan menjadi endorse kami, aku lebih senang lagi." Friday terkekeh.


"Ternyata ada maksud tersembunyi."


"Aku hanya bercanda, kak." Friday tertawa kecil.


"Terima kasih." Ucap Sunday kemudian. Sebenarnya Sunday senang Friday membawakannya sambal sebanyak itu. Mama Friday memang membuka usaha pembuatan aneka macam sambal kemasan. Sering sekali Sunday membelinya juga di toko-toko yang menjadi tempat distribusi sambal buatan tante Ratih, mama tirinya.


"Kak, mainlah ke rumah. Waktu ku ceritakan aku bertemu denganmu di taman waktu itu, Monday selalu mengajakku untuk menemuimu. Tapi sayang aku tidak tahu dimana tempat kosmu." Friday menatap kakak tirinya itu lekat.


"Iya nanti aku main."


"Benarkah?" Friday berbinar-binar penuh harap.


"Ya, tapi entah kapan."


"Secepatnya ya, Kak. Dia sangat merindukanmu."


"Iya."


"Aku juga mengatakan pada Papa kalau kau bersama seorang pria waktu itu. Papa bertanya dia siapa, ku jawab mungkin dia pacarmu. Lalu Papa mengatakan kau harus mengajaknya ke rumah untuk meminta restunya." Friday cekikikan menceritakan hal itu.


"Meminta restu? Memangnya aku mau menikah? Melelahkan sekali kalau setiap pacaran harus meminta restunya." Gumam Sunday. Tepat saat itu terlihat Faris keluar dari dalam Font. Dan terkesiap melihat Sunday dan Friday sedang berbincang.


"Oh dia yang bersamamu waktu itu, Kak." Friday menunjuk Faris yang menghentikan langkahnya.


"Hai." Sapa Faris.


"Kakak, pacar kak Sunday kan?"


"Hei, mulutmu ini seperti petasan. Seenaknya saja kalau bicara."


"Memangnya kenapa? Benar kan?" Beberapa pegawai Font melintas diantara mereka. Sunday takut mereka mendengar apa yang Friday katakan.


"Wah, hebat sekali Kakak pacaran dengan bos."


"Kau ini bisa diam apa tidak." Sunday mulai panik karena Friday semakin tidak bisa mengontrol mulutnya. Faris tersenyum lucu melihat tingkah kakak beradik itu.


"Baiklah... baiklah... tapi dia tampan sekali. Yakin, kau tidak ingin memacarinya?" Bisik Friday di telinga Sunday yang membuat Sunday lalu memukul bahunya.


"Sudah pulanglah sana. Kau semakin meracau tidak jelas saja." Sunday sedikit mendorong bahu adiknya. Tapi Friday malah cekikikan melihat kakaknya sepanik itu.


"Sini ku beri tahu sesuatu." Faris menyuruh Friday mendekatinya dan ia menurut. Perasaan Sunday mulai tidak enak. Saat membisikan sesuatu, tampak Friday membulatkan matanya lalu menutup mulutnya yang sempat menganga.


"Serius, Kak?" Friday meminta diyakinkan oleh Faris dari apa yang disampaikan padanya barusan.


"Ya."


"Aku tidak menyangka"


"Hei, apa yang kalian bicarakan?" Sunday yang penasaran mulai menggunakan nada tinggi.


"Wah, sudah siang. Aku harus mengantar pesanan pelanggan lain."


"Kau tidak masuk sekolah?" Sunday baru sadar bahwa ini jam sekolah.


"Sedang liburan semester, Kak." Jawab Friday ringan sambil melangkahkan kaki meninggalkan Font.


"Kak Faris, sampai jumpa lagi." Friday melambaikan tangan.


"Sampai jumpa, jangan ngebut." Pesan Faris melihat Friday mulai menstarter motor Yamaha NMax-nya. Friday mengangguk lalu melambai pada keduanya dan meninggalkan Font.


"Hei, apa yang kau katakan pada Friday?"


"Sebentar, aku mau mengambil berkasku yang tertinggal di mobil." Faris berjalan ke arah mobilnya di parkir. Sunday menunggunya sampai Faris kembali.


"Hei aku bertanya padamu apa yang kau katakan kepada Friday sampai dia kaget begitu."


"Datanglah ke ruanganku, akan ku katakan di sana." Faris tersenyum dengan memamerkan seringainya.


"Hah, kau pikir aku tidak mengerti maksudmu. Kau selalu menjebakku setiap aku di sana sampai aku tidak bisa mengerjakan pekerjaanku karena kau selalu menahanku." Faris terkekeh karena niatnya sudah dapat ditebak oleh Sunday.


"Kan sudah ku katakan padamu kau tidak harus menjadi pegawai teladan di sini."


"Malas sekali denganmu." Sunday masuk dan meninggalkan Faris di belakangnya yang tersenyum melihat tingkah Sunday yang gondok begitu.


Saat melangkahkan kakinya menjauhi Faris, samar-samar Sunday mendengar suara Gina menyapa Faris. Sunday memberanikan diri menoleh. Dan benar, seperti biasa Gina berjalan di sisi Faris sambil memeluk lengannya.


"Dia bilang lebih suka saat ku gandeng. Tapi apa itu. Dia tetap saja bersedia digandeng Gina seperti itu. Dasar playboy." Sunday bergumam dalam gondoknya dan kemudian naik melalui tangga darurat. Malas sekali kalau harus satu lift bersama mereka.

__ADS_1


Beberapa anak tangga sudah Sunday lalui saat Faris berhasil menyusulnya.


"Apa yang kau lakukan disini?"


"Kau tidak bisa melihatnya? Aku sedang makan kau tahu?" Sunday setengah berteriak. Ia tahu di sini tidak akan ada siapapun sehingga leluasa baginya untuk bersikap biasa kepada atasanya itu.


"Benarkah?"


"Malas sekali kalau harus satu lift bersamamu dan Gina yang selalu menempel seperti ikan sapu-sapu seperti itu."


"Sepertinya dia masih belum terbiasa dengan status baruku." Faris mensejajari Sunday yang berjalan menaiki anak tangga.


"Kau juga sepertinya senang digandeng seperti itu."


"Kalau sedang cemburu kau semakin menggemaskan." Goda Faris.


"Rayuanmu tidak berpengaruh terhadapku."


"Ehh, apa yang kau bawa itu?" Faris berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Sambal." Jawab Sunday singkat.


"Dari adikmu itu?"


"Ya."


"Sebanyak itu?"


"Ya."


"Kau suka sambal apa?"


"Sudahlah, jangan terlalu banyak bertanya. Aku harus menghemat nafasku. Masih ada 2 lantai yang harus ku lalui." Omel Sunday yang masih marah kepada Faris.


"Tenang saja, aku akan memberimu nafas buatan saat kau kehabisan nafas." Faris menyeringai. Sunday menatapnya sebentar tapi lalu memalingkan wajahnya dan diam tidak menjawab omongan Faris.


Hampir sampai di lantai 3 Sunday duduk di salah satu anak tangga. Meluruskan kakinya untuk beristirahat.


"Lelah?" Tanya Faris. Sunday mengangguk sambil mengusap peluh dikeningnya. Faris mengeluarkan sapu tangan di kantong celananya lalu mengusap kening dan tepi pipi Sunday yang basah oleh keringat yang menetes. Sunday menatap Faris yang seperhatian itu kepadanya. Matanya tidak lepas dari tiap jengkal wajah Faris. Mata elang dan bibir malaikatnya selalu berhasil menghipnotis.


"Kau tidak tahu sesulit apa aku menahan diri. Jadi jangan tatap aku seperti itu." Sunday mengerjapkan matanya belum mengerti.


"Menahan apa?" Wajah polos Sunday membuat Faris gemas. Pertahahan Faris benar-benar hampir pada batasnya sekarang. Semakin Faris memandang Sunday semakin besar keinginanya untuk menyentuh bagian yang ingin disentuhnya. Faris semakin menepikan jarak diantara mereka. Semakin dekat, semakin dekat.


"Kau mau adegan romantis kita disaksikan penjaga melalui cctv?" Kalimat tiba-tiba Sunday yang membuatnya mematung di tempat tapi beberapa detik kemudian ia lalu menarik dirinya menjauh.


Faris menyunggingkan senyum kecut. Bagaimana bisa ia lupa bahwa disana terpantau kamera pengawas.


"Tinggal satu lantai lagi." Sunday berdiri dari duduknya.


"Ayo kita memakai lift, aku tidak mau kehilangan kendali lagi." Faris menarik tangan Sunday untuk keluar dari pintu keluar tangga darurat dan memasuki lift. Tidak ada pembicaraan apapun diantara mereka. Sisa debaran dari adegan romantis mereka mulai menyamar sekarang. Di lantai 4 pintu lift terbuka. Sunday keluar dari sana. Faris masih harus naik 1 lantai lagi.


Teman-teman Sunday menatapnya lurus saat ia memasuki ruangan. Lita mendekatinya.


"Jadi, apa yang terjadi kemarin?"


"Apa?" Sunday pura-pura tidak mengerti maksud Lita.


"Kau dan Pak Faris? Apa kalian sedekat itu?"


"Apa yang kau bicarakan?"


"Apa kau punya hubungan khusus dengannya?" Lita memperjelas maksudnya. Sunday seketika tertawa untuk menutupi kegugupannya.


"Jadi, kau tidak bisa menjelaskan kepada kami apa yang terjadi?" Sunday seperti seorang tersangka yang sekarang dikerumuni seperti itu. Lita, Boby, Mario dan Pak Dedi.


"Atau aku harus menginterogasimu diatas kursi listrik?" Lita sok mengancam.


"Kau ini bicara apa?" Sunday salah tingkah baru saja datang langsung dicecar pertanyaan semacam itu.


"Kenapa Pak Faris menyeretmu keluar? Apa kalian memang seakrab itu?" Boby menimpali.


"Kalian hanya salah faham. Itu... itu... itu karena..."


"Hei, apa yang sedang kalian lakukan?" Terdengar suara seseorang dari arah pintu. Semua orang menoleh. Sunday yang sangat mengenal suara Faris akhirnya hanya memejamkan mata dan mengatupkan bibirnya.


"Pak Faris..." Gumam mereka hampir bersamaan.


"Ayo kita mulai meeting project baru kita." Faris menuju meja rapat di sudut ruangan.


"Baik Pak." Jawab semua orang di sana hampir bersamaan.


"Aku tahu ada sesuatu antara kau dan dia." Bisik Lita di telinga Sunday.


"Kau ini. Cepat kita ke sana sebelum bos kita marah." Sunday tersenyum simpul dan membuat teman satu timnya itu gemas saking penasarannya.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


**Apa kabar Kakak-kakak pembaca setia NONA HARI MINGGU?


Aku harap kalian selalu sehat dan tetap bisa beraktivitas seperti biasa yaa


Bagaimana menurut kalian ceritaku ini? Aku mohon kritik dan sarannya yaa. Agar aku tahu bagaimana harus menulis karyaku untuk jauh lebih baik lagi dari sekarang 😊


Oh iya, ada sedikit bocoran nih. Friday yang disini hanya memiliki sedikit adegan, nantinya akan punya buku sendiri lho. Dia akan membawakan cerita yang unik dan segar. Hanya saja belum tahu pasti kapan buku Friday akan mulai ditulis. Tapi yang jelas draf tentang buku Friday sudah ada koq. Jadi, tunggu saja, Kakak-kakak pembaca yang baik.

__ADS_1


Oh iya, jangan lupa tinggalkan jejak dengan πŸ‘ dan jadikan ❀ agar tidak terlewat ceritaku yaa. Terima kasih**.


__ADS_2