
Faris keluar dari taksi online. Seorang driver membuka bagasi dan mengeluarkan kopornya. Faris sudah memberikan biaya taksi dan langsung masuk ke dalam bandara. Keberangkatannya kali ini ia menolak untuk diantar siapapun. Bahkan maminya memohon untuk menemaninya hanya sampai depan bandara pun ia ditolak.
"Kenapa memangnya? Apa kau hanya ingin ditemani Sunday?" Mami Faris merajuk.
"Baru menjadi pacarmu saja kau sudah menduakan Mami. Bagaimana kalau kalian sudah menikah nanti. Pasti kau akan melupakan Mami." Lanjut maminya semakin cemberut.
"Bukan begitu, Mi. Aku cuma ingin berangkat sendiri. Aku bukan anak TK yang masih harus diantar kemana-mana." Faris memeluk pundak maminya sambil berjalan keluar pintu rumahnya.
"Tapi kau akan berangkat. Mami akan bertemu denganmu 9 bulan lagi. Itu sangat lama. Mami pasti akan merindukanmu."
"Aku akan melakukan panggilan video call setiap hari. Jadi Mami tidak akan sempat lupa pada wajahku."
"Kau ini, aku belum begitu tua untuk menjadi pikun." Sambil mencubit pinggang Faris. Faris mengaduh tapi sambil tertawa.
Taksi online yang dipesannya sudah datang, kopor juga sudah dimasukkan ke dalam bagasi. Papinya sudah menunggu di teras sambil menekuni ponselnya.
"Sampai kapan kau mau membuat Mamimu galau terus? Kau tidak kasihan melihat Mamimu yang terus sedih setiap keberangkatanmu?" Ujar Papinya sambil memasukkan ponsel ke dalam saku celananya.
"Nanti Pi, dua kali kontrak lagi..."
"Kau selalu bilang begitu. Tapi kenyataannya dua kali kontrakmu itu tidak pernah habis." Faris hanya cekikikan lalu berpamitan kepada kedua orang tuanya dan memasuki taksi online.
Mobil suzuki ertiga itu mulai keluar dari halaman rumah Faris. Sebelum ke bandara ia memutar rute ke suatu tempat. Rumah Sunday.
Faris sempat berhenti beberapa saat di depan rumah yang sepi dan lampu ruang tamunya yang sudah padam tanda penghuninya mungkin sudah terlelap. Setelah mengirim pesan kepada Sunday lalu ia melanjutkan perjalanannya ke Bandara. Dia benar-benar akan pergi menjauhi Sunday.
🌸🌸🌸
"Selamat pagi, Sunday..." Sapa seseorang di depan pintu pagarnya.
"Pagi om." Sunday mengulas senyum setelah membuka pintu pagar.
"Mama kamu ada?"
"Ada Om, sedang mandi sepertinya. Hari minggu begini mama tidak akan ke mana-mana, Om."
"Oh ya? Kasihan sekali dia." Om Rudi berjalan disisi Sunday menuju teras.
"Pantas saja dia seperti kurang pergaulan."
"Iya betul, itu mamaku sekali, Om. Setiap ku ajak jalan-jalan keluar pasti mengatakan kalau tempat refreshing terbaik untuknya adalah rumah. Katanya capek kalau harus jalan-jalan keluar. Lebih nyaman di rumah sambil melihat sinetron atau FTV katanya."
"Wah, mamamu benar-benar cupu ya."
"Iya om, cupu sekali." Mereka tertawa bersama. Dan sekarang mereka sudah sampai di teras. Sunday mempersilakan Om Rudi duduk di kursi teras.
"Bagaimana kalau mamamu ku ajak jalan-jalan keluar?"
"Om Rudi sedang bertanya pendapatku atau sedang meminta izinku?" Sunday menyelidik.
"Keduanya." Om Rudi tersenyum lebar.
"Kalau begitu sebelum aku menjawab atau mengizinkan, aku harus bertanya sesuatu dulu kepada Om."
"Apa itu?" Om Rudi terlihat heran.
"Om Rudi single atau double?"
"Single atau double?" Om Rudi belum faham.
"Oh, tentang itu. Memangnya kenapa dengan single atau double?" Setelah tahu maksud Sunday.
"Ya kan tidak enak kalau Om pergi dengan Mama tapi sebenarnya Om harus menjaga perasaan seseorang. Istri Om misalnya." Wajah Sunday serius.
"Oh itu, aku single dan sedang membuka diri untuk menjalin hubungan." Om Rudi sangat berterus terang.
"Jadi, dengan kata lain Om sedang mendekati Mama?" Sunday juga bertanya tanpa tedeng aling-aling.
"Mmm..." Om Rudi mengangguk.
"Aku meminta izinmu untuk mendekati Mamamu. Bagaimana?"
"Om yakin?"
"Tentu saja. Tidak boleh?"
"Bukan begitu, Om. Hanya saja selama ini belum ada yang bisa membuat Mamaku luluh."
"Kau percaya kepadaku?"
"Jujur, aku tidak yakin, Om." Sunday cengengesan. Om Rudi pria yang hangat dan mudah bergaul. Terbukti Sunday bisa merasa cepat akrab dengannya walau baru beberapa kali bertemu.
"Mama selalu menutup hatinya untuk pria manapun karena ia bilang kebahagiaannya hanya terletak padaku." Sunday sedikit sendu.
"Oh, begitu yaa. Kalau begitu aku harus berusaha keras."
"Kalau Om memang menyukai Mama, aku harap Om serius. Pastikan tidak pernah membuatnya sedih dan hanya memberi kebahagiaan kepadanya."
"Pasti." Om Rudi mengulas senyum.
"Jadi, kamu mau kan jadi mak comblangku?"
"Mak comblang?" Om Rudi tersenyum.
"Hei, ada apa ini?" Ujar mama Sunday di depan pintu. Kedua orang di teras serentak menoleh ke arah sumber suara.
"Oh iya, Ma. Dicari Om Rudi nih." Sunday bangun dari tempat duduknya.
"Aku mau mandi dulu." Pamitnya kepada Om Rudi dan Mamanya.
Setelah Sunday pergi mamanya menggantikan tempat duduk Sunday.
"Ada apa, Rud?"
"Tidak ada." Rudi tersenyum.
__ADS_1
"Sunday bilang kau tidak pernah jalan-jalan keluar. Jadi aku mau mengajakmu."
"Apa kau bilang?" Mama Sunday malah tertawa.
"Kita ini sudah tua, jangan bertingkah seperti anak muda pake acara jalan-jalan segala."
"Lho apa salahnya, cuma berjalan-jalan."
"Tidak, terima kasih. Aku tidak suka tempat ramai." Mama Sunday masih dengan sisa tertawanya.
"Kau ini seperti pertapa saja menyukai tempat sepi." Guman Om Rudi. Mama Sunday tertawa lagi.
Sementara itu Sunday masuk ke kamarnya sebelum mandi. Tepat saat membuka pintu kamar terdengar ponselnya berdering. Tapi baru akan mengkatnya, telepon malah mati. Sunday melihat nama penelepon. Ada 3 panggilan tak terjawab dari Victor.
Ada apa dia meneleponku? Batin Sunday.
Tak lama kemudian Victor menelepon lagi.
"Ya... ada apa, Kak?"
"Kamu di mana?"
"Aku di rumah."
"Aku mau ke rumahmu boleh?"
"Iya, Kak."
Setelah itu telepon ditutup. Sunday keluar dari kamarnya untuk ke kamar mandi. Di depan kamar ia bertemu mamanya.
"Om Rudi sudah pulang, Ma?"
"Sudah." Mamanya lalu ke dapur. Membersihkan sayur di meja dapur. Melihat Om Rudi yang sudah pulang itu pertanda mamanya menolak ajakan Om Rudi.
"Om Rudi sepertinya baik ya, Ma."
"Heemm..."
"Dulu sedekat apa Mama dengan Om Rudi?"
"Ya, kami dekat. Walaupun berbeda fakultas tapi kami berteman baik." Mama Sunday lalu memotong kacang panjang untuk sayur pada menu makan siang.
"Bagaimana awalnya Mama mengenal Om Rudi."
"Bagaimana ya?" Mama Sunday mengingat-ingat.
"Oh iya, kami satu kelompok saat Ospek dan sejak itu kami berteman. Tapi saat setelah lulus dan punya kehidupan masing-masing sejak itu kami tidak berhubungan lagi."
"Oooh..."
"Kenapa memangnya?"
"Tidak, hanya ingin tahu saja."
Terdengar suara bel berbunyi.
"Cepat sekali dia datang." Sunday buru-buru kembali masuk mendatangi mamanya.
"Ma, tolong buka pintu untuk Victor ya."
"Kenapa?" Mama Sunday heran kenapa Sunday jadi sepanik itu.
"Aku belum mandi."
"Ya Tuhan, anak ini." Mau tidak mau Mama Sunday pun bangun dari duduknya dan berjalan keluar membuka pintu pagar untuk Victor. Sunday sudah memasuki kamar mandi saat Victor dipersilakan duduk di kursi teras oleh Mama Sunday.
Selesai mandi Sunday menghampiri Victor.
"Ada apa, Kak?" Sunday duduk di depan Victor.
"Aku belum sarapan. Temani aku makan."
"Sesiang ini?" Sunday merasa aneh dengan kata sarapan yang diucapkan Victor pada jam sesiang ini.
"Ayolah..." Victor memohon.
"Baiklah. Tapi aku mengambil ponsel dulu." Sunday masuk ke dalam rumah mengambil ponsel dan berpamitan kepada Mamanya. Tidak lama kemudian Sunday keluar.
"Ayo Kak." Faris berdiri dari tempatnya duduk dan berjalan meninggalkan teras rumah yang diiringi Sunday.
"Enaknya sarapan apa ya?" Celetuk Victor dengan masih memandang jalan di depannya.
"Kakak maunya apa?"
"Ini benar-benar sarapan yang sangat terlambat. Tidak ada makanan apapun di rumah. Rasanya seperti menjadi Kevin McCallister di film Home Alone."
"Itu film kesukaanku." Celetuk Sunday antusias. "Tapi, kenapa Kakak bisa mirip Kevin McCallister?"
"Semua orang di rumahku sedang pergi ke rumah saudara dan tinggal aku di rumah. Asisten rumah tangga juga sedang pulang kampung jadi aku harus mengurus diriku sendiri."
"Oohh..."
"Kau suka makan apa?"
"Aku sudah sarapan, Kak."
"Aku tidak bertanya kau sudah sarapan atau belum. Aku bertanya makanan kesukaanmu."
"Aku suka makan bakso." Jawab Sunday cepat. Mengingat bakso, Sunday tiba-tiba teringat Faris. Terakhir memakan bakso dengan Faris ia sakit perut.
Faris benar-benar menghilang. Dia benar-benar tidak menghubunginya. Mengingat itu tiba-tiba hatinya menjadi sedih. Pelan-pelan ada rindu yang merayap membelai hatinya. Ia juga ingat pernah mengerjai Faris saat makan bakso di kedai langganan mereka.
Waktu itu setelah menerima baksonya, Faris meninggalkan meja untuk mengambil minuman untuknya di dalam showcase. Melihat itu pikiran jahil Sunday muncul. Ia tambahkan sambel beberapa sendok ke dalam mangkuk bakso milik Faris. Beberapa saat kemudian Faris kembali. Sunday sudah menahan tawa saat Faris mulai menyendokkan bakso ke mulutnya. Sekali suap Faris merasa mulutnya terbakar. Sensasi pedas pada baksonya langsung membuatnya kepedasan.
"Ini minumlah." Sunday menyodorkan minuman dalam botol kemasan kepada Faris. Faris langsung meneguknya hingga hampir habis.
__ADS_1
"Kenapa bisa sepedas ini. Aku hanya memasukkan sedikit sambel." Faris masih merasakan pedas hingga wajahnya merah dan berkeringat. Sunday benar-benar ingin tertawa saat itu.
"Entahlah. Kau yakin hanya sedikit sambel?" Sunday benar-benar sudah tidak tahan dan ingin sekali meluapkan tawanya.
"Atau jangan jangan..." Faris mencium sesuatu yang tidak beres. Wajah Sunday yang menahan tawa itu membuat Faris berfikir Sunday mengerjainya.
"Kau..." Sudah tidak bisa menahannya lagi, tawa Sunday meledak juga.
"Kurang ajar, kau tambah berapa sendok sambel kedalam baksoku?" Faris menggelitiki Sunday.
"Ampun... ampun. Aku hanya menambahkannya tiga sendok." Sunday meronta ronta mendapat serangan gelitik dari Faris. Beberapa orang dikedai yang menyaksikan itu hanya tersenyum melihat tingkah mereka. Tanpa terkecuali abang tukang bakso juga ikut tersenyum.
"Tiga sendok kau bilang? Wah, kau mau membunuhku ya?"
"Tidak mungkin. Kau tidak akan mati hanya karena memakan bakso dengan tiga sendok sambel."
"Siapa bilang tidak akan mati. Itu mungkin saja." Faris sudah melepas gelitikannya.
"Kalau aku diare lalu kehabisan cairan, lemas lalu mati bagaimana?"
"Kau ini lebay sekali. Tidak akan mati." Sambil menukar mangkuknya dengan mangkuk milik Faris.
"Ehh, mau apa?"
"Aku tukar. Baksoku belum ada sambelnya. Punyamu biar buatku saja."
"Hei, kau yakin mau memakan bakso pedas ini?"
"Yakin. Tiga sendok sambel itu ringan bagiku."
"Kau benar-benar ratu sambel. Bagaimana mungkin pencernaanmu kuat dengan gaya makanmu yang luar biasa itu."
"Aku ini sangat istimewa." Sunday tersenyum lalu menyendokkan bakso yang bagi Faris super pedas itu ke mulutnya. Perlahan Faris mencicipi baksonya. Takutnya Sunday mengerjainya lagi dengan bakso itu. Tapi setelah ia cicipi ternyata benar, baksonya masih bebas dari sambel.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Victor dan membuyarkan lamunan Sunday. Sunday yang senyum-senyum sendiri jadi salah tingkah lalu memperbaiki duduknya.
"Ya, aku baik-baik saja."
"Apa yang sedang kau fikirkan? Apa ada yang lucu?"
"Tidak, aku hanya mengingat sesuatu dan itu membuatku merasa senang." Jawaban Sunday seperti angin segar bagi Victor. Ia berfikir Sunday senang karena saat ini sedang bersamanya.
Tapi lalu Sunday tersadar. Apa ia sesenang itu memikirkan Faris, pria yang ingin dilupakannya. Pria yang telah membuatnya merasa menjadi orang bodoh. Sunday menghela nafas berat. Victor melihat itu juga. Dia hafal dengan Sunday yang suasana hatinya mudah berubah.
Victor membelokkan mobilnya di sebuah restoran. Mereka lalu turun dari mobil dan masuk ke dalam restoran itu. Victor memilih tempat duduk hanya untuk dua orang.
"Sudah jam 11 siang. Ini sarapan tersiangku." Victor terkekeh sendiri setelah duduk di kursinya. Seorang pramusaji menghampiri mereka sambil menyodorkan buku menu.
"Bebek goreng sambal bawang." Pesan Victor kepada pramusaji disampingnya.
"Kau pesan apa, Sun?"
"Capcay saja." Sambil mengembalikan buku menu kepada pramusaji. Setelah mencatat pesanan mereka, pramusaji meninggalkan mereka.
"Kau tidak memesan bakso? Bakso di sini lumayan enak."
"Tidak, aku sedang tidak ingin makan bakso."
"Tapi kau bilang kau suka bakso."
"Iya, hanya saja aku ingin makan capcay sekarang." Sunday beralasan. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah ia tidak ingin bakso membuka ingatannya kembali saat bersama Faris.
Victor sudah menyelesaikan makannya. Lalu Sunday juga menyusul dengan suapan terakhirnya dan meminum orange juice sebagai penutup.
"Jadi, apa yang ku dengar waktu itu benar?" Tanya Victor tiba-tiba tapi membuat Sunday bingung.
"Apa itu?"
"Saat kau bersama temanmu yang bernama Faris di kampus sore itu." Sunday terdiam sejenak mengingat-ingat kejadian waktu itu.
"Tentang apa?" Sunday kembali bertanya karena ia tidak faham dengan pertanyaan Victor.
"Saat kau bilang aku adalah pacarmu." Sunday yang meminum orange juicenya lagi tersedak mendengar penuturan Victor. Victor menghampiri Sunday dan menepuk-nepuk punggungnya berusaha membantu Sunday meredakan dari batuknya. Lalu setelah terlihat Sunday tidak batuk lagi, Victor kembali duduk ditempatnya semula.
"Maksudku... bagaimana aku menjelaskannya..." Sunday terlihat bingung.
"Apa itu adalah jawaban yang selalu ingin kau katakan padaku?"
"Begini Kak, aku tahu kau sangat baik dan bersamamu memang terasa cukup nyaman. Tapi aku..." Sunday tampak gelisah. Harus bagaimana menjelaskan kepada Victor tentang apa yang dirasakannya.
Victor memang memiliki kepribadian baik. Sikapnya yang pendiam memang cenderung diartikan berbeda oleh sebagian besar orang yang baru mengenalnya. Ada yang menganggap ya sombong atau bahkan anti sosial. Tapi jika sudah mengenal Victor dengan baik maka semua itu tidak terlihat sama sekali.
Dan hari ini Victor seperti menuntut jawaban kepada Sunday. Jawaban yang ia sampaikan kepada Faris saat itu.
"Sun... apa itu artinya kau menerimaku? Apa kita sekarang pacaran?" Victor memperjelas maksudnya. Sunday semakin gelisah dan senyumnya mulai mengembang.
🌸🌸🌸
2 tahun kemudian...
Suasana rumah Sunday tanpak ramai. Beberapa orang ada di sana. Banyak juga rangkaian bunga di beberapa tempat. Sunday tampak duduk di kursi di kamarnya, mengenakan kebaya warna abu muda yang terlihat pas ditubuhnya. Seorang perias menyapukan alat make up warna alaminya ke wajah Sunday. Sunday sepertinya pasrah saja saat mendapat perlakuan make up artis itu. Rambutnya yang disanggul membuatnya sangat cantik.
Sunday masih menerima perlakuan manis dari make up artis saat Victor menghubungi ponselnya.
"Kau sudah selesai apa belum?" Kata Victor dari seberang telepon.
"Sebentar..." Sunday mengalihkan ponsel dari telinganya.
"Masih berapa lama, mbak?" Tanya Sunday pada perias itu.
"5 menit lagi siap, mbak." Sunday mengangguk lalu menjawab kembali ponsel Victor.
"5 menit lagi aku keluar." Kata Sunday kepada Victor.
Benar, 5 menit kemudian Sunday sudah terlihat sempurna. Ia pandangi wajahnya pada cermin di depannya. Ia tahu hari ini pasti akan datang. Hari bahagianya.
__ADS_1
"Sunday, ayo cepat. Acara sebentar lagi dimulai." Mamanya melongok dari arah pintu. Sunday keluar dengan perasaan senang. Debaran jantungnya menjadi semakin cepat karena saking bahagianya.
Seorang mempelai pria sudah duduk berhadapan dengan penghulu...