Nona Hari Minggu

Nona Hari Minggu
Varian Tidur


__ADS_3

Faris menghampiri motornya. Gina mengikutinya dari belakang.


"Kau memabawa motor?" Tanya Gina melihat Faris yang mendekati sebuah motor.


"Iya."


"Mobilmu kemana?"


"Ada." Faris memasang helmnya.


"Lalu?" Gina heran kenapa Faris bermotor saat menemuinya.


"Aku tidak tahu kalau kau tadi di antar sopir."


"Ahh, tahu begitu aku tidak menyuruhnya pulang." Gina menghentakkan kakinya kesal. Faris tertawa kecil.


"Sudahlah, sini naik keboncenganku." Faris sudah menaiki motornya.


"Aku tidak bisa naik motor. Aku bisa masuk angin kalau naik motor."


"Kalau begitu ku beri tips naik motor yang aman dan bebas masuk angin."


"Bagaimana?"


"Jangan berbicara dan jangan bernafas saat naik motor. Aku yakin tidak akan ada angin yang masuk ke tubuhmu. Jadi kau tidak akan masuk angin." Setelah mengatakan itu Faris tertawa. Gina bertambah sewot dan memukul bahu Faris.


"Aku tidak suka ini." Gina merengek dan mengeluh saat menaiki motor Faris sedangkan dia memakai rok diatas lutut.


"Lalu bagaimana aku duduk?" Ia kesulitan karena roknya yang sempit.


"Kau harus duduk miring. Jangan seperti ini." Perintah Faris.


"Ya Tuhan, ini merepotkan sekali." Sekali lagi Gina mengeluh. Lalu ia duduk miring dengan tangan kanan yang memeluk pinggang Faris karena ia benar-benar takut jatuh.


Perlahan motor Faris melaju dan mulai meninggalkan kafe menuju rumah Gina. Tiba-tiba Gina tersenyum. Naik motor ada baiknya juga menurutnya. Ia jadi bisa memeluk Faris seperti ini. Gina tersenyum sendiri lalu menempelkan pipinya pada punggung Faris. Jalanan malam sepi. Faris sengaja mencari jalan-jalan sepi karena Gina tidak memakai helm.


Mereka akhirnya sampai di rumah Gina. Rumah besar berlantai 2 dengan ornamen-ornamen klasik gaya Yunani. Gina turun dari motor Faris. Pinggangnya lumayan ngilu karena posisi miringnya yang tidak seimbang. Jok motor Faris yang meluncur ke depan membuat Gina jadi duduk dengan posisi miring.


"Naik motor kenapa rasanya melelahkan." Keluh Gina.


"Tapi berkendara dengan motor itu menyenangkan." Jawab Faris.


"Menyenangkan apanya, pinggangku sakit." Faris hanya tersenyum melihat Gina yang cemberut seperti itu.


"Masuklah." Perintah Faris yang masih duduk diatas motornya.


"Katamu kau akan menemaniku tidur."


"Kau ingat juga rupanya." Faris terkekeh.


"Aku bukan orang yang pelupa. Ayo masuklah." Gina menggandeng lengan Faris untuk masuk.


"Kemana semua orang?" Tanya Faris setelah masuk. Gina membawa kunci sendiri. Ia tidak mau terlantar di luar karena asisten rumah tangga yang sudah tidur saat dia pulang.


"Mama ada di Singapura, Papa entah kemana. Mungkin ada meeting atau apa aku tidak tahu." Gina melangkah masuk menuju kamarnya dilantai atas. Faris mengekorinya.


"Apakah tidak apa-apa aku masuk ke kamarmu?"


"Kenapa? Memangnya akan ada yang peduli? Aku sudah dewasa. Aku bebas melakukan apapun." Jawab Gina santai. Faris hanya mengangguk mengerti. Gina sudah sampai pintu kamarnya dan mempersilakan Faris masuk.


"Masuklah." Ragu-ragu Faris memasuki kamar itu. Kamar yang luas dengan aksen yang sangat girly. Aroma harum menyeruak masuk melalui hidungnya.


"Aku akan mandi dulu." Kata Gina kemudian. Faris mengangguk dan duduk di sofa kamar itu.


Faris membuka ponselnya. Ada beberapa pesan masuk. Setelah memeriksanya ia berganti melihat sosial media miliknya. Melihat apa ada yang menarik. Lalu terlihat foto Lita dan Sunday berselfie. Lita memang menambahkan dirinya ke dalam daftar temannya beberapa hari yang lalu dan Faris menyetujuinya. Faris tidak begitu pilih-pilih teman di sosial media. Apalagi mereka adalah bawahannya, maka Faris akan menerima permintaan pertemanan mereka.

__ADS_1


Foto itu diambil Lita disela-sela kerjanya. Terlihat senyum Lita dan wajah lucu ala duck face Sunday. Faris memperbesar foto itu dan memfokuskan pada wajah Sunday. Meski dengan wajah manyun seperti itu Sunday tetap saja terlihat menggemaskan. Tanpa sadar Faris jadi tersenyum melihat foto Sunday.


Melihat fotonya saja sudah sesuka ini. Apalagi kalau benar-benar bersamanya. Senyum Faris bertambah lebar.


"Kau, kenapa senyum-senyum begitu?" Faris menoleh ke arah Gina lalu menutup ponselnya. Gina naik ke atas tempat tidurnya. Faris mengikuti.


Gina sengaja memakai pakaian tidur yang sedikit terbuka malam ini. Faris tahu apa maksudnya dan langsung naik ke tepi tempat tidur. Gina merasa pipinya panas saat Faris mulai mendekatinya. Dadanya berdebar hebat menantikan tindakan Faris selanjutnya.


"Kau bilang takut masuk angin, tapi kenapa bajumu mini sekali. Pakailah selimutmu." Faris memasang selimut menutupi tubuh Gina yang telentang hingga menutupi lehernya. Gina seketika bengong. Ekspektasinya berhamburan sudah.


"Kau..."


"Sudah, tidurlah. Kau bilang ingin ku temani tidur. Jadi cepatlah tidur. Kalau tidak aku akan pulang sekarang." Faris bersiap bangun dari duduknya.


"Ehh, jangan... jangan... jangan pergi." Gina menarik lengan Faris untuk kembali duduk di tepi tempat tidurnya.


"Kau bilang mau menemaniku tidur." Gumam Gina dibalik selimutnya. Dia sangat malu karena telah berfikir Faris akan melakukan hal lebih kepadanya.


"Kau pikir apa yang kulakukan sekarang? Bukankah aku sedang menemanimu?"


"Iya, tapi kenapa kau tidak berbaring di sisiku?"


"Kalau aku berbaring disisimu, itu artinya aku bukan menemanimu tidur tapi kita tidur bersama." Mendengar penuturan Faris, kepala Gina seperti berputar. Bisa-bisanya Faris pandai bermain kata-kata dan mengartikannya ke bentuk yang sangat berbeda.


"Cepatlah tidur, ini sudah larut."


"Tidurlah disini malam ini." Suara Gina manja dan dibuat selembut mungkin.


"Aku hanya mengatakan padamu untuk menemanimu tidur, bukan tidur di rumahmu jadi aku tidak akan menginap." Gina seperti sudah kehabisan kata untuk merayu Faris. Dia pandai sekali berdalih.


"Ya sudah terserah kau saja." Gina lalu berbalik memunggunginya dan mengangkat selimut hingga kepalanya.


Sebenarnya Faris ingin sekali tertawa melihat tingkah Gina tapi ia tahan. Dia bukannya bodoh dengan segala bentuk bahasa tubuh Gina. Dia juga pria dewasa yang memiliki hasrat. Tapi Faris tidak akan sembarangan melakukan hal yang tidak boleh ia lakukan. Apalagi dengan Gina yang ia tidak memiliki perasaan apapun terhadapnya. Lagipula walau sebanyak apapun gadis yang jalan dengannya selama ini tidak ada satupun diantara mereka yang berakhir dengan tidur bersamanya. Faris tetaplah pria yang menjunjung norma-norma kesusilaan.


Tidak terlihat bergerak, Faris merasa kalau Gina sudah tidur. Perlahan Faris bangun dari duduknya ditepi tempat tidur Gina lalu keluar melalui pintu kamar yang tidak ditutup sejak masuk tadi.


🌸🌸🌸


Sunday keluar dari ruangan Pak Dedi setelah mengambil beberapa berkas yang di periksa olehnya. Hari ini Sunday akan melakukan instalasi sistem di tempat klien.


"Sun, ini CD berisi tutorial untuk user." Lita menyodorkan CD yang terbungkus CD case itu.


"Letakkan di situ." Lita meletakkannya di atas meja. Sunday masih sibuk mempersiapkan segala hal untuk instalasinya hari ini.


"Sunday." Panggil Pak Dedi dari pintu ruangannya.


"Iya Pak."


"Pak Faris akan melakukan istalasi bersamamu jadi tunggulah di lobi."


"Apa???" Sunday sampai berteriak mendengar itu.


"Hei, kenapa tanggapanmu berlebihan begitu?" Pak Dedi heran dengan sikap Sunday.


"Kenapa dia ikut?"


"Aku rasa dia bos yang sangat baik. Dia bilang ingin melihat proses instalasi itu langsung."


"Tapi ini kan project sederhana, Pak."


"Entahlah, tapi dia juga bilang bekerja bersama pegawai biasa mungkin akan membuatnya belajar banyak hal." Jelas pak Dedi lagi. Sunday menundukkan kepala lesu. Ia tidak tahu harus berbuat apa.


"Ditemani Project Sponsor tampan? Aku mau menggantikanmu." Ujar Lita yang sudah disampingnya sekarang.


"Benarkah kau mau?" Mata Sunday berbinar.

__ADS_1


"Tentu saja, tapi aku masih punya beberapa project yang harus ku selesaikan." Lita tertawa kecil.


"Huh, bisa-bisanya kau memberiku harapan palsu." Lita semakin cekikian melihat Sunday cemberut begitu.


Sunday sudah sampai lobi tapi 15 menit menunggu Faris belum terlihat juga.


Dia ini sebenarnya jadi ikut apa tidak. Kenapa lama sekali. Rutuk Sunday dalam hati. Ia masih duduk di sofa lobi dengan gelisah. Lalu terlihat Faris keluar dari pintu lift. Sunday berdiri dari tempat duduknya.


"Ayo." Ajak Faris. Sunday mengikutinya dari belakang dengan wajah masam.


"Kau yang menyetir." Faris memberikan kunci mobil kepada Sunday.


"Hei, kau pikir aku bisa mengendarai mobil?" Sunday nyolot seketika.


"Jaga bicaramu, kau masih dalam jam kerja. Aku ini atasanmu." Sunday melengos kesal dengan kalimat Faris. Mentang-mentang dia bos lalu seenaknya menyuruh-nyuruh dirinya.


"Kalau kau tidak bisa ya sudah aku saja." Lalu Faris masuk ke dalam mobilnya yang diikuti oleh Sunday.


Mobil melaju meninggalkan Font dan mereka masih diam. Sunday tidak ingin berbicara apapun. Yang terdengar hanya suara lagu yang di putar oleh Faris.


Melihat Sunday yang masih diam di sebelahnya, Faris menyunggingkan senyum. Sunday sangat menggemaskan saat bibirnya terkatup begitu. Tidak bosan-bosan Faris mencuri pandang ke arahnya. Sehingga saat sampai di sebuah minimarket pun mereka masih saling diam. Lalu Faris dan Sunday memasuki minimarket yang di sambut oleh seorang pria yang sudah pernah Sunday temui sebagai pemilik minimarket itu.


"Silakan sebelah sini." Pemilik minimarket mempersilakan Sunday melakukan instalasi. Sunday lalu mendekati salah satu komputer tempat pegawai melakukan transaksi. Di minimarket ini ada dua kasir dan Sunday memulai dengan komputer di salah satu kasir.


Sementara Sunday melakukan inatalasi, tampak Faris sedang berbincang-bincang dengan pemilik minimarket. Proses instalasi sedang berlangsung. Sambil menunggu, Sunday berdiri di depan komputer melihat ke arah Faris.


Faris yang berbincang dengan sesekali tersenyum kepada pemilik minimarket itu lumayan menyita perhatiannya. Dengan atasan tess warna mint dan jas berwarna gelap senada warna bawahannya Faris terlihat tampan. Ya, Faris terlihat menawan dalam segala penampilannya. Wajah tampan dan tubuh proporsionalnya membuat apapun yang dipakainya terlihat baik. Tanpa sadar perlahan kupu-kupu berterbangan lagi. Buru-buru Sunday memalingkan pandangannya.


Proses instalasi selesai. Faris dan Sunday berpamitan kepada pemilik minimarket.


"Terima kasih sudah mempercayakan pembuatan software sistem informasi kepada Font. Jika terdapat kendala pada sistem jangan ragu untuk menghubungi kami di layanan customer service." Ujar Sunday sebelum mereka beranjak.


"Kami juga sangat berterima kasih. Kami merasa sudah sangat tepat memilih Font sebagai software house pembuat sistem kami."


Setelah saling berjabat tangan, Faris dan Sunday melangkahkan kaki keluar dan menghampiri mobil.


"Jadi, kau belum bisa menyetir hingga sekarang? Mau ku ajari?" Ujar Faris memecah kesunyian diantara mereka saat mobil sudah mulai melaju di tengah jalan raya.


"Maaf, kita masih berada di jam kerja untuk membicarakan hal yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan." Jawab Sunday acuh. Faris seketika tertawa. Sunday membalasnya juga setelah apa yang dilakukan Faris kepadanya soal jam kerja tadi.


"Baiklah, jadi apa yang harusnya kita bicarakan saat jam kerja?"


"Entahlah. Aku memilih diam jika tidak ada yang harus ku bicarakan."


"Aku mengajakmu bicara karena agar kau tidak tertidur." Sunday serta merta memandang Faris tajam. Mendapat pandangan itu, Faris kembali berujar.


"Bukankah itu kebiasaanmu?" Sunday diam dan menyadari kebiasaannya. Tapi bagaimana mungkin Faris masih mengingat itu. Bukankah itu sudah lama sekali.


"Tidurlah kalau kau sekarang ingin tidur."


"Tidak, aku tidak memiliki kebiasaan itu lagi."


"Oh ya? Kebiasaanmu bisa berubah?"


"Tentu saja. Aku sudah tidak seperti itu lagi sekarang." Jawab Sunday yakin karena selama ini setiap naik mobil Victor atau bus ia tidak pernah tertidur. Faris hanya menanggapinya dengan senyum.


Mobil masih melaju sedang. Sunday sudah menguap entah yang ke berapa kali. Matanya hingga berair karenanya. Lalu lama-lama matanya semakin berat dan tak tertahankan hingga akhirnya terpejam, tidur. Faris tertawa kecil melihat Sunday yang sudah terlelap. Baru saja ia menyangkal akan tertidur tapi sekarang sudah sangat pulas.


Gerimis mulai turun saat mobil Faris berhenti. Ia melihat ke samping dan Sunday yang masih tertidur. Sudah lama sekali ia tidak melihat wajah menggemaskan Sunday saat terlelap. Wajah imut dengan pipi mirip marsmello itu ingin sekali digigitnya. Wajah yang selama ini dirindui dan kadang hingga terbawa ke dalam mimpi.


Faris kembali ke posisi duduknya semula saat Sunday mulai mengeliat sambil membuka mata.


"Kita sudah sampai?" Ujarnya merasakan mobil sudah diam tak bergerak. Tapi kemudian ia duduk tegak sambil melihat sekelilingnya.


"Kita dimana ini?" Sunday menoleh ke arah Faris karena pemandangan disekelilingnya terasa asing.

__ADS_1


"Di rumahku." Jawab Faris ringan. Sunday terbelalak.


__ADS_2