Nona Hari Minggu

Nona Hari Minggu
Misi Pertama


__ADS_3

Gina memandangi dirinya di depan cermin. Ia sudah pulang dari rumah sakit dan sedang memandangi bayangan dirinya sendiri.


Aku cantik. Aku menarik. Penampilanku modis. Tapi kenapa itu tidak cukup menarik untuk Faris? Kenapa Sunday yang biasa saja justru bisa membuatnya tergila-gila? Apa ada yang salah denganku? Atau karena Faris sudah terlalu sering bersama gadis cantik sehingga kali ini ia ingin mencoba 'suasana' baru? Ahh, pasti Sunday juga bagian kecil dari petualangannya. Sebentar lagi Faris juga akan kembali melirikku. Gina tersenyum masih memandangi pantulan dirinya sendiri.


Terdengar pintu kamarnya diketuk kemudian Gina berjalan untuk membukanya.


"Non Gina, Bapak sama Ibu sudah menunggu di bawah."


"Kenapa?" Tanya Gina heran.


"Menunggu nona makan siang." Gina mengerutkan kening. Hari ini bukan hari ulang tahunnya. Bukan hari ulang tahun papa atau mamanya juga dan hari ini bukan tanggal penting yang harus ada suatu perayaan.


Asisten rumah tangga Gina sudah meninggalkannya. Gina menutup pintu dan turun ke lantai satu untuk menuju ke meja makan. Tampak papa dan mamanya sedang mengobrol.


"Hai Gina, duduklah." Mamanya tersenyum manis.


"Aku sudah menyuruh bibi memasak makanan kesukaanmu." Sambut mamanya.


"Rendang ini enak sekali." Gina mengambil duduk di sisi mamanya.


"Bagaimana keadaanmu hari ini?" Papanya bertanya.


"Sudah jauh lebih baik." Jawab Gina datar.


"Apa hari ini hari spesial?" Tanyanya heran dengan keberadaan orang tuanya dirumah, dijam yang tak biasa.


"Spesial? Ya hari ini kau baru pulang dari rumah sakit dan kami tidak ada urusan penting." Papanya menjelaskan.


"Aneh, biasanya kalian selalu memiliki urusan penting di luar. Rapat, kunjungan kerja, menjamu rekan bisnis, dan banyak lagi kesibukan-kesibukan penting kalian." Gina tersenyum sinis.


"Kami memiliki banyak waktu untuk bersamamu sekarang." Kata mamanya.


"Tidak biasanya kalian punya banyak waktu. Apa kalian melakukan ini karena tindakanku waktu itu?"


"Gina... mama sangat menyayangimu. Mama menyesal karena selama ini tidak menjadi ibu yang baik untukmu." Mamanya mengelus rambut Gina dengan pandangan mata berkaca-kaca penuh penyesalan.


"Tapi itu sudah tidak berarti lagi untukku sekarang, Ma. Aku sudah tidak butuh kalian lagi dalam hidupku. Aku sudah dewasa. Aku sudah terbiasa hidup tanpa kalian ada di sekitarku dan aku juga sudah sangat merasa nyaman dengan itu. Aku punya banyak teman yang bisa menjadi pelipur laraku. Yang menjadi rumahku saat aku butuh seseorang yang bisa mendengarkanku."


"Maafkan Mama, Gina. Maafkan Mama..." Mamanya sudah menjatuhkan air mata sekarang.


"Maafkan juga Papa yang sering mengabaikanmu. Papa bahkan tidak bisa memenuhi permintaanmu. Mintalah apapun kepada Papa, Gina. Asal jangan sesuatu yang bisa menyakiti orang lain."

__ADS_1


"Kalian hanya berfikir tentang diri kalian sendiri dan kepentingan orang lain. Kalian tidak benar-benar menyayangiku. Aku bahkan sering berfikir kalau mungkin aku sebenarnya hanyalah anak pungut. Bukan anak kandung kalian." Gina berdiri dari duduknya dan kembali naik ke kamarnya. Papa dan mamanya hanya bisa melihat kemarahan Gina dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


Didalam kamar Gina menelungkupkan wajahnya dia atas tempat tidur. Menguraikan air mata oleh sesak di dadanya. Orang tuanya masih tetap sama. Mereka tetap mementingkan orang lain daripada putrinya sendiri.


Sementara itu Sunday masih memegang ponselnya dan menyimak suara dari seberang.


"Pacar?" Sunday mengulang kata seorang wanita yang mengangkat teleponnya di ponsel Victor. Faris mengerjapkan matanya sambil memandang Sunday.


"Hei, apa yang kau lakukan dengan ponselku. Kembalikan padaku." Sayup-sayup terdengar suara Victor dari ponsel Sunday.


"Maaf, itu tadi adikku. Dia memang suka sekali jahil." Suara Victor menjelaskan.


"Oh... ku pikir dia benar-benar pacarmu." Jawab Sunday.


"Bagaimana seandainya dia benar-benar pacarku? Apa kau cemburu?" Mendengar kalimat Victor Sunday jadi gelagapan. Sedangkan Faris memelototkan matanya marah karena Victor mengatakan itu kepada pacaranya.


"Oh tidak, bukan begitu." Sunday mengelus punggung Faris berusaha menenangkannya agar tidak bertindak bodoh yang bisa merusak rencananya.


"Aku tidak pernah tahu kau dekat dengan gadis manapun jadi aku lumayan kaget saat mendengar dia mengaku sebagai pacarmu."


"Katakan saja kalau kau cemburu, aku akan lebih senang jika kau begitu." Ada tawa kecil dari suara Victor. Sunday semakin kebat kebit karena Faris sudah semakin bersungut-sungut berada di sampingnya.


"Kalau begitu, ada apa meneleponku?"


"Begini, apa weekend kau ada acara?"


"Mmm... sepertinya tidak."


"Begini Kak, aku memiliki seorang teman. Dia ingin belajar pemrograman. Aku rasa Kak Victor adalah orang yang tepat."


"Kenapa aku tepat, bukankah kau pegawai Font, jadi kau pasti lebih mahir dariku."


"Bukan masalah mahir dan tidak tapi aku tidak tahu caranya mengajari seseorang. Tidak sepeti kau yang sudah terbiasa menjadi pengajar. Pasti dia akan mudah menerima yang kau ajarkan daripad aku yang mengajarinya."


"Kau kan juga pernah mengajar, aku rasa kau pasti bisa."


"Mengajar anak SD hanya sebatas microsoft office, Kak. Tapi dia ingin belajar bahasa pemrograman, itu sangat jauh berbeda. Aku tidak punya kemampuan itu." Jelas Sunday untuk mengelak secara halus.


"Jadi aku ingin Kak Victor saja yang mengajarinya. Mau ya, Kak? Ya?" Sunday memohon. Faris yang ada di sebelahnya sudah mulai panas dingin dengan usaha Sunday yang sedikit memakai rayuan itu.


"Baiklah, karena dia temanmu dan karena kau yang memintanya aku akan menjadi tutornya."

__ADS_1


"Yeeeyyy... terima kasih, Kak. Aku akan mengabarimu lagi setelah aku menyampaikan kabar baik ini kepada temanku."


"Ya..." Lalu Sunday menyudahi teleponnya. Ia melihat Faris disampingnya yang diam mematung. Hawa dingin sangat terasa di ruangan itu.


"Apa AC di ruangan ini baru saja diperbaiki? Dinginnya sangat terasa." Sunday menggosok kedua bahunya.


"Jadi seperti itu saat kau bersama Victor?" Wajah Faris seperti ditutupi awan tebal dan terlihat kilatan-kilatan petir di sudut matanya.


"A-apa maksudmu?" Sunday bergidik ngeri melihat Faris dalam mode : cemburu seperti itu.


"Jadi kau juga biasa mendapatkan rayuannya seperti itu?"


"Ahh, tidak. Victor tidak biasanya begitu. Entahlah, kenapa dia tadi begitu." Sunday tertawa untuk menutupi kegugupannya mendapati Faris yang terlihat marah.


"Tidak ada yang boleh merayumu selain aku. Hanya aku yang boleh cemburu kepadamu. Siapapun yang berani bersikap sepertiku kepadamu, aku akan menghajarnya." Faris sudah penuh kemarahan.


"Iya... iya... tidak akan ada yang berani menggodaku. Kau tenang saja."


"Lalu yang itu tadi apa? Victor merayumu seperti itu. Itu pasti karena dia tidak tahu kau sudah punya pacar. Jadi cepat katakan padanya kalau kau sudah berpacaran denganku."


"Bukan. Bukan begitu. Itu pasti karena kita sudah berteman baik sejak lama jadi dia bersikap biasa kepadaku."


"Jadi, begitu kau bilang biasa? Wah, kau tertangkap basah sekarang." Faris menatap Sunday dengan seringai di bibirnya.


"Mulai sekarang jangan berhubungan lagi dengannya."


"Hei, kau bilang aku harus membuat Gina dan Victor saling dekat. Lalu bagaimana aku mendekatkan mereka kalau tanpa menghubungi Victor? Kau pikir aku ini dukun pelet yang bisa membuat mereka dekat hanya dengan menggunakan boneka voo doo? Yang benar saja." Sunday membalasnya kesal.


"Ahh, terserah kau saja." Faris juga masih kesal walaupun apa yang dikatakan Sunday memang ada benarnya juga.


"Baiklah, pokonya jangan menghubungi Victor tanpa kepentingan apapun yang berhubungan dengan misi kita. Aku tidak mau dia merayumu lagi seperti itu." Sunday hampir kehabisan cara bagaimana agar Faris berhenti mencemburuinya dan marah seperti itu.


"Iya baiklah... kau ini kenapa tidak mengerti maksudku?" Sunday mulai mencoba bersikap lembut dengan menyandarkan kepala ke bahu Faris. Seketika Faris terkesiap dengan tindakan Sunday.


"Saat kau marah begini aku jadi takut sekali kepadamu. Kau seperti berubah menjadi orang lain." Sunday menggenggam tangan Faris sambil sedikit mendongak ke atas melirik keadaannya. Dan berhasil, sikap manja Sunday bisa sedikit meredakan amarah Faris. Sunday mengulas senyum tipis saat Faris tidak menunjukkan reaksi berlebihan lagi seperti sebelumnya.


"Kau tahu kenapa Tuhan menciptakan jari tangan kita dengan celah-celah?" Sunday bertanya kepada Faris seraya merapatkan jari tangannya ke dalam jemari Faris dan mengangkatnya.


"Tidak tahu." Jawab Faris dingin.


"Karena agar kita bisa saling menggenggam seperti ini." Lalu Sunday menggenggam jemari Faris dan kemudain tertawa imut. Faris tersenyum. Sekarang Sunday mulai bisa terbuka kepadanya. Mulai bisa bersikap manis bahkan mengutarakan rayuan walaupun terdengar sangat receh. Tapi memang itulah yang diharapkannya. Sunday bisa menyukai seperti ia menyukainya. Hatinya terasa menghangat dengan bunga-bunga yang mulai bermekaran disana.

__ADS_1


__ADS_2