Nona Hari Minggu

Nona Hari Minggu
Jangan Pergi


__ADS_3

"Ada ya orang seperti dia. Dia itu jelmaan dewa asmara atau apa? Pandai sekali membuat orang berdebar-debar. Andai aku tidak tahu betapa playboynya dia pasti aku sudah jatuh menjadi mangsanya seperti gadis-gadis lain yang dekat dengannya. Bagaimana bisa mulutnya sangat manis tapi sekaligus beracun." Sunday bergumam sendiri sambil melihat Faris yang masih terlihat lurus dari pintu keluar. Lalu Sunday melihat jam di tangannya. Hampir jam makan siang. Menyalin beberapa cacatan lalu mengembalikan buku-buku ke tempatnya semula. Setelah itu Sunday keluar dan menunggu Lita di lobi untuk makan siang bersama.


"Sedang apa di sini?" Gina menghampiri Sunday.


"Sedang menunggu Lita."


"Mari kita makan siang bersama." Sunday mengangguk.


"Kau tahu, akhir pekan besok aku akan ke Bali bersama Faris." Gina tampak girang sekali saat duduk disamping Sunday di sofa lobi. Mendengar itu Sunday merasa hatinya mencelos.


"Oh ya?" Sunday tersenyum untuk menutupi rasa yang berkecamuk dihatinya.


"Hmm... awalnya aku hanya ingin mengajukan cuti satu minggu di akhir bulan ini tapi ternyata dia tidak memberiku izin karena pekerjaanku yang memang padat. Padahal aku sudah sangat bosan dan ingin secepatnya berlibur. Alih-alih mengizinkan cuti, Faris malah menawarkan agar aku berlibur dengannya. Ahh, senangnya hatiku. Dia memang baik dan perhatian sekali kepadaku." Wajah Gina berkilau-kilau diliputi rasa bahagia.


"Aku harus berbelanja untuk akhir pekan besok. Kau mau menemaniku sepulang kerja nanti?" Sunday tidak tahu harus menjawab apa oleh ajakan mendadak Gina. Melihat Sunday belum juga meresponnya, Gina mulai merayu.


"Ayolah... Aku butuh saran sesama wanita." Gina tetlihat sangat berharap kepadanya dan membuatnya tidak enak sehingga menyetujuinya.


"Baiklah."


"Wah, terima kasih, Sunday." Gina memeluk Sunday manja.


"Hei, kalian sehat?" Lita memandang jijik kepada dua wanita di depannya. Gina lalu melepas pelukannya.


"Dia yang memelukku. Aku rasa baru saja mendapatkan perlakuan tidak senonoh darinya." Sunday menunjuk Gina yang ada di sampingnya dengan pandangan di


"Bicara apa kalian ini. Ayo cepat kita makan, aku sangat lapar." Gina bangun dari duduknya dan kemudian menarik tangan Sunday agar bangun. Lita mengikuti Gina dan Sunday yang bergandengan.


"Ya Tuhan, aku merasa jadi tukang becak berada di belakang sepasang kekasih sejenis ini." Gumam Lita yang lalu keduanya berhenti dan Sunday menarik Lita untuk berjalan disisinya.


🌸🌸🌸


Sunday sudah berada di dalam mall bersama Gina dan harus pasrah ketika dijadikan penasehat fashionnya kali ini. Sebenarnya Sunday ingin menolak tapi Gina pandai sekali membuatnya luluh dan akhirnya bersedia menemani berbelanja keperluannya berlibur bersama Faris. Mengingat itu hati Sunday terasa kecut.


"Baju sudah, sandal, sepatu, baju tidur. Lalu apalagi ya?" Gina bergumam sendiri sambil berfikir. Di kedua tangannya menenteng beberapa handbag merk terkenal. Sunday berjalan di sampingnya. Ia hanya bertugas sebagai fashion consultant.


"Oh iya, bagaimana aku bisa melupakannya. Aku harus membeli beberapa bikini, Sun." Sunday membelalakkan matanya saat Gina menyebut kata bikini.


"Apa harus, Gin?"


"Hei, aku mau ke pantai, Sun. Mana mungkin aku tidak memakai bikini." Gina tertawa kecil sambil masih berjalan melewati gerai-gerai toko.


"Maksudku apa harus memakai bikini? Memakai pakaian biasa kan tidak masalah. Saat ke pantai aku malah memakai celana panjang dan baju panjang. Kau tahu kan sinar matahati di negara khatulistiwa ini cetar membahana. Kau tidak takut kulitmu terbakar?" Bujuk Sunday.


"Tidak, lagi pula oleh-oleh terbaik dari berlibur adalah kulit yang berubah eksotis."


"Oh baiklah, terserah kau saja." Sekarang Gina sudah memasuki sebuah toko yang di bagian depannya terpampang sebuah manekin yang memamerkan bikini potongan terbuka. Sunday ngeri melihat bikini-bikini yang mini itu.


"Sun, menurutmu ini bagaimana?" Gina menunjukkan sepasang bikini yang dipegangnya dan masih dalam gantungan.


"Aku rasa itu terlalu terbuka." Sunday bergidik melihat bikini motif garis-garis horizontal warna warni yang hanya terdiri dari bra dan celana dalam yang bagian pinggangnya terdapat tali.


"Atau yang ini?" Tunjuk Gina pada sepasang bikini berwarna hitam polos dengan tali yang sangat kecil tanpa pengait dan pemakaiannya cukup ditali saja.


"Ini juga terlalu mini."


"Ya Tuhan Sunday, yang namanya bikini itu pasti selalu terbuka dan mini. Kalau tertutup itu namanya gamis." Gina tertawa.


"Sudahlah, kali ini biar aku yang memilih sendiri." Sunday lalu bersandar di samping kamar pas. Membayangkan Gina memakai bikini-bikini itu kepalanya berdenyut. Ketika memakai itu pasti sebagian besar tubuhnya terbuka dengan bebas dan dengan leluasa pula Faris akan menikmati keindahan tubuh Gina. Mengingat itu ada rasa gelisah yang mulai menyusup kedalam fikirannya.


Dari jarak beberapa langkah, Gina berjalan ke arah Sunday sambil menenteng paperbag dengan atribut toko.

__ADS_1


"Sudah?"


"Ya, aku sudah selesai. Tapi sekarang perutku lapar. Ayo kita cari makanan."


"Oke." Sunday bersama Gina menuju lantai atas mall untuk menuju sebuah restoran.


Setibanya di sebuah resto, Gina segera memesan makanan kepada pramusaji. Sunday juga. Dan acara makan malam mereka pun berlangsung singkat. Sunday sudah tidak sabar untuk pulang ke kosnya dan merebahkan diri. Berputar-putar bersama Gina membuat kakinya sangat lelah.


"Aku tidak sabar menunggu hari jumat." Gina riang saat berkendara menuju ke rumah Sunday.


"Ahh, pantai berpasir putih akan jadi saksi bisu penyatuan cinta kami."


"Penyatuan cinta?" Gina panik entah kenapa.


"Ya, aku harap Faris akan menyatakan cintanya disana. Atau kalau tidak, biar aku yang mengungkapkan cinta lebih dulu. Aku wanita modern yang harus memiliki inisiatif." Gina lalu terkekeh. Perasaan Sunday semakin gusar.


"Bagaimana menurutmu, Sun?"


"Apa boleh wanita mengungkapkan cinta lebih dulu?"


"Kau ini bagaimana? Katamu dulu wanita juga bisa melakukan emansipasi dalam hal mengungkapkan cinta. Tapi sekarang kau seperti membuat semangatku mengendor."


"Bukan begitu, aku hanya meninjau ulang apa yang kau lakukan sudah benar. Karena ada sebagian pria yang lebih suka sikap manis dan malu-malu seorang gadis dari pada seorang gadis yang dominan."


"Iya ya, Faris tipe yang mana ya?" Gina tampak sedikit berfikir.


"Ahh, apa katanya nanti. Tapi ku rasa aku harus segera mengungkapkan cinta kepada Faris. Aku lelah tersiksa menahan cintaku sendirian."


"Baiklah, ku rasa kau sudah siap dengan segala konsekuensinya." Ujar Sunday lemah, tidak bisa berkomentar apa-apa lagi. Hatinya tidak tenang.


Mobil Gina berbelok ke arah gang rumah kos, Sunday.


"Sepertinya aku juga harus tinggal di rumah kos yang kau huni agar bisa lebih dekat dengan Faris. Pasti sangat menyenangkan bisa berangkat dan pulang bersama saat bekerja." Diakhir kalimatnya Gina tertawa kecil. Sunday menanggapi dengan senyum kecut.


"Terima kasih, Sun." Ujar Gina saat Sunday melepas seatbelt-nya.


"Yaa..." Sunday menyunggingkan senyum dan membuka pintu mobil.


"Aku pulang dulu, sampai bertemu besok di Font." Sunday mengangguk seraya melambaikan tangan kepada Gina yang bersiap mundur untuk memutar balik mobilnya.


Sunday membuka pintu pagar tapi tidak jadi masuk dan kembali melihat mobil Gina. Setelah memastikan mobil Gina berlalu dan tidak berhenti di rumah Faris, ia seperti lega.


"Kenapa aku jadi ingin tahu Gina ke rumah Faris atau tidak? Itu kan bukan urusanku. Kenapa aku peduli." Gumam Sunday saat masuk ke dalam kosnya.


🌸🌸🌸


Sunday memasuki Font. Ia melihat Gina berdiri di depan pintu lift. Akhir-akhir ini bertemu Gina rasanya seperti bertemu polisi patroli saat tidak memiliki SIM. Ingin putar balik saja rasanya. Gina melihat ke arahnya dan melambaikan tangan. Sunday membalasnya dengan senyum.


"Hari ini aku sangat bahagia. Aku ingin pekerjaan hari ini cepat berakhir." Seperti biasa Gina memamerkan kegirangannya. Berapa hari ini ia memang sepertinya sangat bahagia dan sangat menantikan hari ini. Akhir pekan romantis yang ia habiskan bersama Faris di Bali.


"Ku pikir kau berangkat pagi ini."


"Mana mungkin Faris mau meninggalkan pekerjaannya. Kami akan berangkat dengan pesawat malam ini." Sunday mengangguk. Tapi ia tidak ingin menanyakan apapun lagi. Hatinya masih saja tidak tenang.


Seorang pria dan wanita berlibur berdua saja. Gina sudah bersiap dan mengatur segala strategi untuk meluluhkan Faris di sana. Mengingat bikini yang Gina beli waktu itu hati Sunday terasa panas. Bagaimana mungkin pria normal bisa menolak keindahan yang ditampilkan dari balutan bikini itu.


Ahh, aku pasti sudah gila memikirkannya terus. Itu tidak ada urusannya sama sekali denganku. Sunday menggelengkan kepalanya berusaha mengusir fikiran-fikirannya yang tidak masuk akal.


Jam kerja pun berakhir dan hari ini yang ada dikepala Sunday adalah tentang Faris dan Gina yang akan berlibur bersama. Seperti ada rasa tidak rela jika mereka pergi bersama.


Sunday masih berjalan di gang menuju kosnya. Senja ini awal bagi setiap orang untuk menikmati akhir pekan mereka. Salah satunya adalah Faris dan Gina. Sunday melihat sebuah taksi terparkir di depan rumah Faris. Ia melihat Faris sedang menerima telepon dan keluar dari rumahnya dengan seorang sopir taksi yang membawa kopor untuk dimasukkan ke dalam bagasi. Sunday mengumpulkan segala keberanian untuk menghampiri Faris. Faris melihatnya.

__ADS_1


"Kau akan ke Bali?"


"Ya." Faris memasukkan ponsel ke dalam saku celananya.


"Kau tahu juga?" Sunday mengangguk.


"Dasar anak itu. Seperti anak kecil saja mengatakan kepada semua orang akan berlibur." Faris tertawa ringan. Sunday masih diam mematung dan mengatupkan bibirnya rapat. Faris menjadi heran dengan sikap tak biasa Sunday itu.


"Kau kenapa?" Tanyanya khawatir.


"Apa kau harus pergi?" Sunday memandang Faris lurus.


"Ya, kenapa?" Faris melihat ada sesuatu dimata Sunday. Entah apa tapi rasanya sangat mengganggu fikirannya.


"Tidak apa-apa. Pergilah." Sunday bermaksud berlalu.


"Hei, ada apa?" Faris menarik lengan Sunday untuk menahannya agar tidak pergi.


"Tidak apa-apa, bersenang-senanglah." Mata Sunday mulai berkaca-kaca.


"Kau kenapa?" Faris heran dengan sikap Sunday kali ini.


"Bisakah kau tidak pergi?" Akhirnya Sunday mangatakan apa yang ada dikepalanya. Faris terkesiap dengan pertanyaan Sunday. Tiba-tiba Sunday melarangnya melakukan sesuatu yang tidak berhubungan dengannya. Sungguh sebuah keanehan.


"Kenapa?" Tanya Faris heran.


"Tidak kenapa-kenapa. Sudah, pergilah. Anggap saja aku tidak pernah mengatakan apapun." Sunday lalu meninggalkan Faris dengan perasaan herannya. Sunday masih terus berjalan meski Faris memanggil namanya dan akhirnya masuk ke dalam kosnya tanpa menoleh sedikitpun.


Sunday terengah setelah berjalan secepat itu untuk menghindari pertanyaan Faris lebih lanjut. Hal bodoh yang dilakukannya adalah melarang Faris pergi. Ia sadar bahwa itu tidak patut ia lakukan karena dirinya bukanlah siapa-siapa. Tapi ia tidak bisa menampik jika hatinya sakit setiap mengingat mereka akan berlibur berdua saja.


Senja berganti malam. Guyuran air dingin dikepalanya ternyata tidak mampu menyegarkan fikirannya. Otaknya masih terus bekerja memikirkan Faris dan Gina. Mungkin mereka sekarang sudah berada di bandara atau bahkan sudah di dalam pesawat. Terbayang di pelupuk matanya Gina yang bersandar manja kepada Faris seperti kebiasaannya. Tanpa terasa air matanya menetes. Sunday meraba pipinya yang terasa basah.


Kenapa sesakit ini rasanya cemburu. Ia mengusap air matanya. Hingga sebuah telepon masuk.


"Faris?" Gumam Sunday melihat nama di layar ponselnya. Ragu-ragu Sunday mengangkatnya.


"Halo..."


"Katakan kau ingin aku tidak pergi."


"A-apa?" Sunday terbata mendengar kalimat Faris dari seberang ponsel.


"Katakan padaku kau ingin aku tetap disana bersamamu."


"Ris..."


"Katakan kau melarangku untuk tidak pergi bersama Gina."


"Tapi..."


"Katakan saja kau tidak ingin aku pergi bersamanya." Faris memberondong dengan pernyataan-pernyataan yang memang ingin Sunday katakan sejak awal.


"Katakan Sun..."


Dan semua kalimat Faris seperti memberinya kekuatan untuk mengatakan sebuah kejujuran kali ini. Kejujuran bahwa ia tidak ingin Faris pergi bersama Gina. Ia ingin Faris ada disini saat ini untuk bersamanya. Hanya bersamanya.


"Jangan pergi... aku ingin kau disini bersamaku." Jawab Sunday lirih. Selanjutnya tidak ada jawaban di sana, yang terdengar hanya bunyi telepon ditutup. Sunday terduduk di tempat tidur masih menggenggam ponsel di tangannya. Hatinya berkecamuk perasaan yang campur aduk. Rasanya lega mengatakan itu tapi hatinya masih sakit mendapati fakta bahwa Faris bersama Gina, bukan bersamanya saat ini.


Perlahan Sunday merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Matanya menatap langit-langit. Perlahan ada cairan meleleh ditiap sudut matanya. Sunday memejamkan matanya berusaha mengurangi air matanya yang mengalir dengan deras. Tapi saat memejamkan mata wajah Faris justru seperti tergambar jelas dihadapannya.


Beberapa waktu Sunday hanya berbaring di tempat tidur dengan sisa air mata yang masih ada di sudut matanya. Telepon berdering kembali. Dengan malas ia meraih ponsel tidak jauh dari tempatnya berbaring. Sunday mengangkatnya.

__ADS_1


"Keluarlah... aku menunggumu." Satu kalimat Faris yang cukup membuat Sunday segera beranjak dari tempat tidurnya dan menghambur keluar. Ia buka pintu kos dan menemukan Faris berdiri di depan pagar. Ada rasa yang memenuhi dadanya dan ingin sekali diluapkannya. Sunday menghampiri Faris dan melabuhkan pelukannya kepada pria yang sepanjang hari difikirkannya itu.


__ADS_2