Nona Hari Minggu

Nona Hari Minggu
Jamuan Makan Malam


__ADS_3

"Siapa bos gila itu?"


"Ehh, Kak Novi. Oh maksudku Bu Novi." Sunday terlihat sungkan dan malu-malu telah ketahuan membicarakan Faris, adiknya.


"Apa itu adalah Faris?"


"Oh bukan... bukan, Bu." Sunday menggeleng cepat.


"Aku rasa tidak ada bos disini yang gila kecuali Faris." Kak Novi tersenyum.


"Kau baru saja dikerjai olehnya? Iya kan?"


"Itu..." Sunday ragu-ragu.


"Aku tahu anak itu memang suka usil. Suka sekali mempermainkan orang lain." Kak Novi tertawa kecil sekarang.


"Ngomong-ngomong, apa dia menindasmu? Apa dia mengerjaimu habis-habisan?"


"Tidak juga, hanya saja dia sering berlaku seenaknya terhadapku." Keluh Sunday.


"Dia biasanya manis pada setiap gadis. Apa denganmu dia seperti itu?" Tanya Kak Novi heran.


"Apa itu karena kalian sudah putus?"


"Ahh, kurasa memang begitu." Sunday tertawa kecil menjawab pertanyaan Kak Novi yang ia jawab dengan jawaban tak berdasar. Bagaimana mereka bisa putus, padahal tidak pernah pacaran. Dan Lagi, dia sering membuatku melakukan hal-hal yang kadang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan."


"Wah, anak itu benar-benar melakukan penyalahgunaan jabatan. Bagaimana bisa dia membuat seorang pegawai melakukan pekerjaan diluar job description-nya. Aku akan menegurnya nanti."


Kak Novi menepuk pundak Sunday. Sunday tersenyum kepadanya.


"Terima kasih atas perhatiannya."


"Aku harap apapun perlakuan Faris terhadapmu, itu tidak akan membuatmu menyerah dan bosan berada di Font. Kau harus selalu bersikap profesional seperti yang kau katakan saat tahap interview waktu itu." Sunday langsung tersadar bahwa mungkin ini yang dimaksud dengan menyuruhnya untuk tetap bersikap profesional saat bekerja di Font. Mungkin tahu saat ini pasti tiba. Saat Faris menjadi bos dan dia sebagai bawahannya.


"Baik kak..." Sunday mengangguk.


🌸🌸🌸


"Iya Ma... aku pulang. Ini aku sudah keluar dari kos."


"Kenapa kau tidak bersama Om Rudi saja."


"Mama... ini cuma butuh satu jam. Tunggu aku di rumah dengan manis yaa."


"Kau ini memang keras kepala."


"Sudahlah, Ma. Apa serindu itu padaku."


"Tentu saja, bagaimana kau bisa tidak pulang selama tiga minggu. Aku sampai turun berat badan karena memikirkanmu sepanjang waktu. Tidak enak makan, tidak bisa tidur." Celoteh Mamanya. Sunday menahan tawa mendengar kealayannya.


"Iya... iya, Ma. Satu jam lagi Mama bisa memeluk, mencium dan meperlakukan aku semau Mama."


"Benarkah?" Suara Mamanya terdengar girang.


"Tapi itu bukan berarti boleh memperlakukanku seperti bawang putih atau cinderella."


"Kalau tidak salah itu adalah nama-nama orang yang teraniaya kan ya?" Sunday cekikikan.


"Kau pikir Mamamu ini ibu tiri yang kejam?" Sunday tertawa. Sunday melewati rumah Faris. Sekilas ia menoleh melihat kesana dan mendapati mobil Gina terparkir dihalaman rumahnya. Hatinya mencelos.


"Sun? Kau masih disana?"


"Oh iya Ma, ku tutup dulu. Tunggu aku di rumah saja." Sunday menutup telepon setelah mamanya berpesan untuk berhati hati di dalam bus dan menghimbau untuk menjaga baik-baik barang-barangnya.


Menyukaiku? Menyukaiku tapi membawa Gina ke rumahnya. Bagaimana aku bisa percaya dia berubah. Hati Sunday kesal.

__ADS_1


Sunday sampai di halte. Senja ini ia pulang ke rumahnya. Hari ini Sunday sengaja pulang tepat waktu agar ia bisa pulang ke rumahnya sebelum larut pulang. Beberapa menit menunggu bus tiba di halte. Sunday memasuki bus.


Sunday memasuki pagar setelah asisten rumah tangga membuka pintu gerbang. Mamanya sudah menyambut di teras. Sunday setengah berlari menyongsong Mamanya bagai tidak bertemu bertahun-tahun lamanya.


"Apa pekerjaanmu terlalu banyak sampai kau tidak sempat pulang?" Kata Mama Sunday sambil merangkul pundak Sunday.


"Sepertinya aku harus bicara kepada Om Rudi. Bisa-bisanya dia memberi banyak pekerjaan kepada putrinya. Mas... Mas Rudi..." Mama Sunday ke ruang kerja Om Rudi sambil memanggil-manggil nama suaminya. Sunday naik ke atas, ke kamarnya.


Tiga minggu tidak pulang ternyata ia bisa juga merindukan kamar barunya ini. Tapi sebenarnya ia lebih merindukan lagi kamarnya di rumah lama.


Setelah mandi dan beristirahat sebentar Sunday turun untuk makan malam. Di meja sudah ada Om Rudi.


"Hai, Sun. Mari kita makan malam. Mamamu sengaja memasak semua ini untukmu."


"Benarkah? Baru saja aku mau bertanya apa akan ada acara hajatan di rumah ini." Sunday mengabsen satu per satu masakan yang ada di meja.


"Ini bisa untuk makan satu RW, Om."


"Saking senangnya kau pulang, mamamu sampai masak sebanyak ini. Dia khawatir kau tidak makan dengan baik saat di kos."


"Ahh, mama berlebihan. Lalu siapa yang harus memakan makanan sebanyak ini, Om?"


"Kau. Kan itu semua khusus ku buat untukmu." Sahut Mama Sunday dari arah ruang tengah.


"Bunuh saja aku, Ma. Sebelum aku mati kekenyangan." Sunday meletakkan kepalanya diatas meja makan. Pura-pura mati. Mamanya kembali ke dapur.


Bertepatan dengan itu seseorang masuk ke dalam rumah diantar oleh asisten rumah tangga.


"Faris..." Gumam Sunday melihat Faris masuk dan Gina. Ya, ada Gina bersamanya. Memeluk erat lengan Faris seperti biasa. Hati Sunday berkedut kacau.


"Duduklah, Ris." Om Rudi mempersilahkan.


"Kau juga, Gina."


"Wah, aku jadi merasa sangat tersanjung disambut langsung dimeja makan. Om tahu saja kalau kita belum makan." Faris duduk di kursi sebelah Sunday. Gina mengambil duduk di sebelah Faris.


"Benar, sepertinya lezat semua. Aku langsung lapar melihat hidangan ini."


"Om tahu tidak, aku langsung semangat waktu Faris mengajakku kemari. Aku sangat penasaran dan ingin tahu rumah Sunday." Gina bercerita dengan antusias.


"Benarkah?" Om Rudi bertanya.


"Sunday, kenapa tidak ajak Gina sekali-kali main ke sini." Om Rudi ganti memandang Sunday.


"Maunya begitu, Om. Tapi aku juga jarang pulang." Sunday berdalih.


"Iya, Sunday itu sekarang jadi worka... worka... apa, Mas?" Mama Sunday membawa senampan bakwan dari dapur.


"Workaholic." Jawab Om Rudi.


"Nah, itu." Mama Sunday memandang Faris.


"Ya Tuhan, Faris... kau terlihat lebih tampan sekarang." Mama Sunday memuji.


"Ya Tuhan Mama. Itu memalukan." Sunday memprotes mamanya yang ia rasa menjadi genit kepada Faris.


"Kenapa? Apa Mama salah? Bukankah itu memang benar?" Mama Sunday meminta dukungan semua penghuni meja makan. Faris tersenyum. Senyum khas malaikat. Sunday sempat meliriknya.


"Lihatlah Ma, Faris jadi besar kepala." Sunday mencomot bakwan.


"Ayo, jangan dilihat saja. Silakan dicicipi." Mama Sunday tidak peduli keluhan Sunday dan mempersilakan semua orang menikmati hidangan di meja makan.


Makan malam diselingi dengan berbagai obrolan. Tentang Font dan tentang kehidupan sehari-hari penghuni meja makan malam itu. Sunday memakan makanannya dengan lahap. Tidak bisa dipungkiri kalau ia memang rindu masakan mamanya. Walaupun sesekali hatinya berkedut menyaksikan dua tamu disebelahnya.


Faris masih mengobrol dengan Om Rudi dan terlihat Gina juga ikut menyahut obrolan mereka. Tiba-tiba ponsel di saku Sunday bersuara. Sunday meninggalkan meja makan dan mengangkat telepon.

__ADS_1


"Ya Kak, aku sedang di rumah. Aku akan ke sana. Apa? Menjemputku? Oh baiklah kalau begitu." Sunday menutup teleponnya dan kembali ke meja makan.


"Maaf aku harus keluar dari jamuan makan ini." Sunday pamit.


"Mau kemana, Sun? Kan kita sedang ada tamu." Tanya mamanya.


"Aku ada janji dengan Victor, Ma." Faris seketika memandang Sunday dengan sorotan mata membentuk kilatan di sudutnya.


"Tapi bagaimana dengan Faris dan Gina?"


"Aku sudah membuat janji dengannya jauh-jauh hari, Ma."


"Tidak apa-apa, Tante. Lagipula aku datang untuk menemui Om Rudi dan Tante. Kami bisa bertemu Sunday di Font setiap hari." Ujar Faris.


"Tuh kan, Ma. Faris juga tidak keberatan." Om Rudi hanya bisa tersenyum melihat Sunday. Ia faham bahwa kepulangannya ke rumah hanya 2 hari jadi wajar jika ia memanfaatkan waktu untuk bersama teman-temannya juga. Sunday pun berpamitan keluar karena Victor sedang menuju ke rumahnya. Tapi baru saja membuka pintu, mama Sunday memanggilnya.


"Ada apalagi, Ma?"


"Baju Gina tertumpah saos asam manis. Pinjamkan bajumu padanya untuk mengganti." Dengan malas Sunday kembali masuk. Sebenarnya ia sudah hampir tidak tahan dengan pemandangan di sana. Gina yang selalu berada di dekat Faris. Dan Faris yang merasa nyaman-nyaman saja mendapat perlakuan manis Gina. Mengambilkan nasi, lauk, sayur, melayaninya dengan sangat baik. Hati Sunday seperti terbakar melihat hal itu.


Sunday memilih baju dikamarnya dan memberikan kepada Gina.


"Ini sepertinya muat untukmu. Lebar dada kita sepertinya sama, hanya saja tinggi badan kita yang berbeda." Gina menerima baju yang Sunday sodorkan.


"Gantilah bajumu. Aku akan keluar."


"Terima kasih, Sun. Maaf merepotkanmu."


"Tidak apa-apa." Sunday mengulas senyum kepada Gina. Bagaimanapun juga bukan salah Gina menyukai Faris dan membuat Sunday gelisah setiap melihat kedekatannya dengan Faris. Tidak ada yang salah siapa menyukai siapa. Mereka berdua sama-sama lajang dan bebas menyukai satu sama lain jika itu mungkin. Memikirkan itu, tanpa sadar Sunday menghembuskan nafas berat.


Selesai mengganti pakaiannya, Gina segera keluar dari kamar Sunday dan mereka turun bersama. Setelah sampai bawah, Sunday segera keluar untuk menunggu Faris.


🌸🌸🌸


"Ris, sudah berapa lama kau dan Sunday saling mengenal?" Tanya Gina ditengah perjalanan pulangnya.


"Kenapa tiba-tiba menanyakan itu?"


"Aku hanya penasaran saja. Kalian sepertinya cukup akrab. Padahal Om Rudi belum lama menikahi mama Sunday."


"Ceritanya sangat panjang. Dan serba kebetulan." Jawab Faris santai.


"Oh ya? Bagaimana? Ayolah ceritakan." Gina merengek.


"Kita harus memesan tiket sampai Dubai dulu soalnya panjang ceritanya jika diceritakan bisa sampai sana." Faris terkekeh.


"Sudahlah, mau sampai Afrika juga aku mau."


"Jalan kaki tapi."


"Digendong olehmu." Goda Gina.


"Gempor kakiku saat sampai disana nanti." Jawab Faris lagi dan kemudian mereka tertawa.


"Ayo ceritakan..." Gina masih saja menagih cerita Faris dan akhirnya ia pun menyerah lalu menceritakan dari awal bahwa ia adalah teman papa Sunday sebagai seorang sailor di kapal dan yang suatu ketika menitipkan oleh-oleh untuk Sunday. Hingga ceritanya sampai pada Om Rudi yang menikah dengan Mama Sunday sehingga Sunday menjadi anak tirinya.


"Jadi kau mengenal Sunday sudah sejak lama."


"Ya, begitulah. Tapi memang itu serba kebetulan."


"Ya, kebetulan yang sangat kebetulan." Gumam Gina kemudian.


Mobil Faris masih meluncur di jalan raya. Fikiran Gina masih melayang-layang memikirkan apa yang tadi sempat ditemukannnya di kamar Sunday. Hatinya penasaran. Selembar foto bergambar Sunday yang berkebaya dan Faris memakai baju batik sedang duduk berdua itu terjatuh di lantai kamar Sunday. Dan yang membuat Gina lebih penasaran lagi bahwa foto itu seperti diambil di momen yang sama dengan foto keluarga yang dipajang Faris di ruang kerjanya. Foto keluarga saat resepsi pernikahan sepupu Faris.


Gina ingat di deretan foto itu semua adalah keluarga Faris. Awalnya memang Gina tidak mengenali wajah Sunday di foto berukuran kurang lebih 24R itu karena pengaruh make up tapi setelah melihat foto yang terjatuh itu, ia jadi ingat bahwa salah satu wajah di foto Faris adalah Sunday.

__ADS_1


Yang membuatnya heran adalah sedekat apa Faris dan Sunday hingga ia mengajak Sunday datang ke acara keluarga sepenting itu? Suatu hari Faris bilang foto itu diambil sekitar 2 tahunan yang lalu. Sedangkan mama Sunday dan Om Rudi baru menikah. Gina fikir Faris dan Sunday belum lama saling mengenal.


Lalu apa sebenarnya hubungan Faris dan Sunday? Sedekat apa mereka? Apa ada sesuatu diantara mereka? Gina membatin.


__ADS_2