Nona Hari Minggu

Nona Hari Minggu
Genius atau Licik?


__ADS_3

Sunday menikmati perjalanan pulang dengan melihat lampu-lampu kota yang mulai menyala. Ia berhenti di minimarket ruko kompleks perumahan kosnya karena harus berbelanja sedikit kebutuhannya. Melihat samyang instan yang ekstra pedas di rak minimarket ia langsung membelinya beberapa. Sepertinya ia butuh yang pedas-pedas saat ini. Agar emosi marah karena cemburunya bisa tersalurkan dengan baik. Kebiasaan jika moodnya sedang buruk.


Setelah membayar jumlah harga belanjaanya, Sunday keluar dari minimarket sambil menikmati es krim. Rasa dingin dari es krim itu lumayan mendinginkan hatinya. Ia masih berjalan sambil menikmati es krim saat terlihat dari kejauhan Faris berdiri di depan kosnya sambil menekuni ponsel. Beberapa langkah dari tempatnya berdiri, Faris melihat ke arah Sunday.


"Hei, dari mana saja kau. Kenapa baru sampai? Aku sudah menunggumu dari tadi." Omel Faris dengan nada tinggi.


"Kenapa menungguku?" Sunday menggigit es krim terakhirnya lalu membuang stiknya di tempat sampah.


"Kenapa tidak membalas pesanku? Ku telepon juga ponselmu tidak aktif."


"Oh ya?" Sunday merogoh ponsel di dalam tas.


"Ponselku mati, kau lihat?" Sunday menunjukkan ponselnya yang tidak bisa menyala.


"Kenapa mematikan ponselmu?"


"Baterainya habis." Sunday menjawab santai."


"Kau tahu, aku sangat khawatir terjadi apa-apa denganmu."


"Benarkah? Kau bisa khawatir padaku? Aku sangat terharu." Sunday tersenyum sarkas dan Faris tahu itu.


"Ku pikir hanya Gina yang kau khawatirkan." Gumam Sunday yang berjalan menuju pintu pagar kos. Faris lalu menyadari sesuatu.


"Kau mau ke mana? Aku masih ingin bicara padamu."


"Bicara apa? Kita tidak punya sesuatu yang perlu dibicarakan." Sunday membuka pintu pagar tapi kemudian Faris menahan dengan menutupnya kembali.


"Apa maumu?" Suara Sunday lirih.


"Kau marah padaku?"


"Tidak."


"Kau cemburu?"


"Tidak."


"Benarkah?"


"Ya."


"Kali ini kau berbohong dengan sangat buruk." Faris tersenyum kecut.


"Berbohong apa?"


"Ternyata benar kata orang. Wanita mampu menyembunyikan cinta selama 40 tahun, tapi tidak sanggup menyembunyikan cemburu meski sesaat. Dan seperti itulah dirimu saat ini."


"Aku tidak cemburu."


"Kenapa tidak mau mengakuinya? Aku senang melihatmu cemburu." Faris tersenyum menggodanya.


"Kenapa memaksaku untuk cemburu kalau aku memang tidak cemburu."


"Baiklah, aku suka kau yang seperti ini. Itu membuatku semakin menyukaimu." Faris memandang Sunday lembut.


"Apa-apaan kau ini." Sunday merona dipandang seperti itu.


"Minggirlah aku mau masuk."


"Tidak boleh. Aku masih belum puas memandangmu."

__ADS_1


"Sini, pinjami aku ponselmu."


"Untuk apa?"


"Jangan banyak tanya. Berikan saja."


Ragu-ragu Faris mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Setelah menerimanya, Sunday berselfie dengan ponsel Faris dan menampilkan wajah jeleknya. Faris tersenyum kecut melihat tingkah Sunday.


"Ini." Sunday mengembalikan ponsel Faris.


"Kalau kau ingin puas memandangku, lihat saja fotoku." Faris memandang foto Sunday lalu tersenyum. Bahkan dengan wajah dijelek-jelekkan seperti itu Sunday masih tetap terlihat menggemaskan.


Sepertinya aku sudah mengidap sindrom cinta buta sampai apapun yang ada pada dirinya selalu terlihat menawan. Batin Faris sambil memandangi fotonya. Diam-diam Sunday mengendap-endap memasuki pintu pagar. Tapi Faris menyadari itu.


"Kau mau kemana?" Faris menarik tangan Sunday. Sunday mematung sambil menundukkan kepala. Usahanya untuk melarikan diri gagal lagi.


"Aku sudah memberimu fotoku. Mau apa lagi?"


"Aku masih belum selesai." Faris masih menahannya.


"Ngomong-ngomong apa menurutmu Victor memang setampan itu sampai kau memujinya di depan banyak orang. Kau benar-benar tidak menghargaiku. Aku ini pacarmu dan kau seenaknya saja memuji pria lain padahal aku ada disana."


"Kau juga menyuapi Gina di depanku. Kau pikir aku buta dan tidak melihat itu."


"Oh, jadi kau memang ingin membalasku? Cemburu dibalas cemburu? Baiklah, itu cukup menyenangkan. Mari kita saling cemburu. Karena semakin cemburu semakin terlihat seberapa banyak kau menyukaiku." Faris mengerling.


"Apa-apaan." Sunday menggerutu.


"Ngomong-ngomong tentang Victor, tiba-tiba aku memikirkan sebuah ide brilian dengan otak cerdasku."


"Cerdas? Kau ini benar-benar memiliki totalitas tinggi dalam hal menarsiskan diri." Gumam Sunday sambil tersenyum kecut.


"Bagaimana?" Faris meminta pendapat Sunday.


"Entahlah, harus ku sebut cerdas atau licik kau ini."


🌸🌸🌸


Siang ini Sunday sedang ada di ruangan Faris. Merencanakan misi pertama mereka. Misi membuat Gina berhenti menyukai Faris. Faris tahu ia harus benar-benar lepas dari Gina. Sekarang ia memiliki Sunday yang harus dijaga perasaannya. Meskipun sikap Faris kepada Gina hanya sebatas perlakuan lebih mirip seorang kakak kepada adiknya tapi tetap saja itu bisa membuat Gina selalu berharap dan Sunday bisa cemburu karenanya. Jadilah Faris memikirkan sebuah ide untuk mencomblangi Gina dengan Victor.


"Mereka sama-sama seorang single jadi akan lebih baik jika bersatu padu menjadi sebuah double." Ujar Faris.


"Dari kemarin ku fikirkan lama-lama aku jadi curiga." Sunday memicingkan mata ke arah Faris.


"Curiga apa?" Farid bergidik dipandang seperti itu oleh Sunday.


"Kau sengaja ingin mencomblangi Gina dan Victor karena demi keuntunganmu sendiri juga kan."


"Itu sudah jelas. Kalau Gina pada akhirnya menyukai orang lain, aku jadi terbebas darinya dan kau juga pasti senang kan karena pacarmu yang tampan ini hanya akan menjadi milikmu seorang." Faris terkekeh.


"Memangnya sekarang pacar siapa saja?"


"Aduh, aku salah bicara. Maksudku, kalau Gina sudah memiliki pacar paling tidak dia tidak akan mendekatiku dan mengganggu hubungan kita."


"Benarkah?" Sunday menyelidik. Faris mengangguk.


"Tapi kenapa harus Victor? Bukankah teman priamu juga banyak."


"Yang terfikir olehku saat ini hanya Victor."


"Bukan, aku tahu maksudmu pastilah karena agar Victor juga tidak mendekatiku lagi. Iya kan?"

__ADS_1


"Ahh, itu hanya fikiranmu saja." Elak Faris


"Oh ya? Tapi aku mencium bau-bau konspirasi yang sengaja kau buat." Sunday semakin memojokkan.


"Baiklah... baiklah... aku memang memikirkan itu. Aku juga ingin Victor menjauh darimu. Aku takut suatu saat dia juga bisa menarik perhatianmu. Karena ku rasa dia juga selalu berusaha mendekatimu. Sehingga akan baik jika dia bisa bersama Gina. Kemarin saat Gina mengatakan ingin belajar pemrograman, otakku langsung mengarah kepada Victor. Tapi kau malah menawarkan diri."


"Kau ini sangat licik." Sunday mencibir.


"Tapi bagaimana caranya membuat mereka berdua menjadi dekat?"


"Itu dia, mulailah dengan meminta bantuan Victor untuk menjadi tutor Gina dalam belajar pemrograman. Katakan saja kepada Gina kalau ternyata kau memiliki banyak project yang harus kau kerjakan sehingga tidak punya waktu untuk mengajarinya."


"Wah, ternyata kau ahli juga dalam hal seperti ini."


"Ahh, sudahlah jangan memujiku terus. Anggap saja kau beruntung memiliki pacar sejenius diriku."


"Genius atau licik ternyata tidak jauh berbeda ya."


"Hei, apa yang kau katakan. Kau selalu mengataiku licik. Aku ini memang jenius."


"Iya... iya... kau jenius." Sunday menahan tawanya.


"Jadi mulailah dengan menanyakan kepada Victor kira-kira kapan dia punya waktu untuk mengajari Gina."


"Baiklah..." Sunday mencari nama Victor di ponselnya.


"Kau yakin tidak akan cemburu aku menelepon Victor?" Goda Sunday.


"Untuk hal ini aku akan menekan rasa cemburuku. Tapi itu juga tidak berarti kau boleh melakukan kontak dengannya secara sembarangan yang tidak ada hubungannya dengan misi kita."


"Ahh, dasar posesif."


"Sudah, cepat telepon dia. Tunggu apa lagi?"


"Iya... iya..." Sunday menombol nomor Victor.


"Gunakan loudspeaker. Aku juga mau mendengarnya." Perintah Faris lagi.


"Dasar tukang curiga." Gumam Sunday. Masih terdengar nada sambung di sana. Tapi lalu mulai ada tanda-tanda telepon diangkat.


"Hallo..." Sunday dan Faris saling pandang karena suara yang ada di sana adalah suara seorang wanita. Sunday memastikan nomor yang ia hubungi adalah nomor Victor. Dan memang benar itu adalah nomornya.


"Iya hallo. Maaf, apa benar ini nomor kak Victor?"


"Ya... dengan siapa ini?"


"Aku Sunday. Bisa bicara dengan Victor?"


"Dia masih ada di kamar mandi. Mau meninggalkan pesan?"


"Oh tidak."


"Baiklah..."


"Sebentar... jangan ditutup dulu."


"Iya..."


"Kalau boleh tahu, kamu siapa?"


"Aku pacarnya." Seketika Sunday dan Faris saling melebarkan bola mata. Terbayang rencana yang mereka susun gagal sudah.

__ADS_1


__ADS_2