
"Kenapa kau memakai baju itu?" Suara Faris dari ponselnya di ponsel Sunday. Seketika Sunday celingukan melihat ke sekeliling. Bagaimana mungkin Faris bisa tahu baju yang ia pakai.
"Kau memata-mataiku?" Sunday mencari tahu sosok Faris yang tidak terlihat oleh penglihatannya tapi seolah sedang mengawasinya.
"Tidak, aku hanya melihat pergerakanmu." Faris memandang Sunday dari teropong dan berdiri di balkoni rumahnya, bersembunyi dibalik tirai.
"Kenapa tidak kau sewa detektif saja?" Sunday melihat gerakan Faris dari balik gorden di lantai dua rumahnya lalu tersenyum.
"Oh iya, sepertinya aku harus menyewa detektif untuk mengawasi semua pergerakanmu."
"Atau kita hentikan saja misi kita ini. Bagaimana?"
"Hei, kau mengancam?" Faris bernada tinggi.
"Tidak, aku hanya membuat kesepakatan denganmu. Kau bilang misi kita harus berhasil tapi kau malah tidak bisa mempercayaiku. Kalau begitu, kau saja yang melaksanakan misi ini. Jangan aku."
"Andai aku punya akses untuk Victor dan Gina pasti sudah ku lakukan sendiri. Tapi skenarionya adalah kau yang mengantar Victor untuk bertemu Gina. Jadi, dengan berat hati aku harus membiarkanmu pergi bersama Victor kali ini." Faris setengah menggerutu.
"Tapi ingat, jangan ada aksi yang berlebihan."
"Berlebihan bagaimana? Aku berjingkrak-jingkrak di depan Victor begitu?"
"Ya bukan begitu juga."
"Sudahlah, percayakan saja padaku. Aku bisa menjaga hati dan akan menundukkan pandangan sehingga jangankan Victor, bahkan tidak akan ada satu priapun yang akan tertarik untuk menggodaku atau aku tergoda pada mereka."
"Bagus..." Terdengar nada senang dari suara Faris. Sunday tersenyum kecut.
"Ayolah, biarkan aku ikut dengan kalian."
"Tidak, kau hanya akan merusak rencana. Dengan alasan apa kau ada di sana? Itu sungguh tidak masuk akal. Yang ada kita akan jadi ketahuan." Tolak Sunday.
"Tapi aku benar-benar tidak ingin Victor pergi bersamamu saja."
"Baiklah, kita batalkan saja misi kita."
"Tidak... tidak... jangan... baiklah. Aku tidak ikut. Aku tidak akan merusak rencana."
"Nah, anak baik. Diam-diam saja di tempatmu. Jangan sampai semua gagal gara-gara kecerobohanmu."
"Iya..." Jawab Faris malas dengan masih memperhatikan Sunday dengan rok di bawah lutut berwarna toska dan kaos berlengan pipa warna putih polos serta tas slempang kecil yang muat untuk diisi ponsel dan dompet.
"Tapi kenapa kau berpenampilan seimut itu? Itu membuatku gemas."
"Seimut apa? Aku berpenampilan seperti biasanya." Sunday menekuni sepatu datar warna putihnya.
"Aku selalu suka penampilanmu yang aneh itu."
"Aneh? Ini lucu kau tahu."
"Iya, lucu..." Faris tersenyum sendiri melihat Sunday yang memutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri memastikan penampilannya.
"Ehh sudah, Victor sudah datang." Sunday mengakhiri pembicaraannya dengan Faris.
"Hei, ingat jangan terlalu banyak..." Terdengar bunyi telepon ditutup.
"Hallo... Sunday... hallo..." Faris memastikah teleponnya masih tersambung.
"Dasar, langsung diputus begitu saja." Faris memantau lagi dengan teropongnya ke arah Sunday yang memasuki mobil Victor.
"Awas kalau sampai macam-macam." Gumam Faris dengan gusar.
Victor memutar mobilnya keluar dari komplek perumahan kos Sunday dan menyatu dengan kendaraan lain berbagai bentuk dalam berbagai kepentingannya.
"Kita bertemu temanmu di mana?" Tanya Victor dengan pandangan yang masih lurus ke depan.
"Di tempat yang kita pernah makan di sana. Yang ku bilang puding coklatnya enak." Tempat itulah yang sudah Sunday dan Gina sepakati sebagai tempat bertemu mereka kemarin saat bertemu di Font. Gina sudah mulai bekerja kembali.
"Oh baiklah." Victor menambah kecepatannya.
"Temanku sangat ingin bisa belajar pemrograman jadi aku harap kak Victor benar-benar mengajarinya sampai bisa." Sunday menekankan pada kata sampai bisa seperti ingin memberi sugesti kepada Victor agar pertemuan mereka bisa terus berlanjut.
"Kenapa dia tidak kuliah lagi saja?"
"Sepertinya sangat rumit kalau harus kuliah lagi. Dia harus bekerja di Font."
"Bisa mengambil kelas malam atau pertemuan akhir pekan di kampus-kampus swasta."
"Lebih mudah melakukan kursus seperti ini, Kak. Lebih mudah mengatur jadwalnya. Sepertinya temanku juga tidak butuh ijazah, dia hanya ingin bisa karena dia bekerja di Font yang adalah perusahaan software."
"Memangnya dia bekerja di divisi apa?"
"Tanyakan langsung saja padanya nanti, Kak. Masa iya kau malah menginterogasiku." Sunday sengaja melakukan itu agar Victor memiliki topik pembicaraan nanti saat bersama Gina.
"Kau ini, begitu saja tidak boleh bertanya." Sunday hanya tersenyum menanggapi ucapan Faris.
Mobil Victor memasuki pelataran parkir sebuah kafe. Siang ini kafe sudah mulai ramai. Banyak meja yang sudah terisi. Saat melewati pintu kafe, Sunday celingukan mencari Gina tapi tidak terlihat dimana-mana.
"Mana temanmu?"
"Sepertinya dia belum datang. Mari kita duduk di sana."
Akhirnya Sunday mengajak Victor yang berjalan di belakangnya untuk duduk di suatu meja kosong. Setelah sampai di meja yang ditunjuk Sunday, Victor meletakkan tas laptopnya. Beberapa saat kemudian terlihat Gina memasuki pintu kafe. Sunday melambai kepadanya dan Gina melemparkan senyum sambil berjalan menghampiri.
"Lama menungguku ya?" Ucap Gina sambil menarik kursinya.
"Tidak juga, kami baru saja sampai." Jawab Sunday.
__ADS_1
"Ini tutor yang aku katakan kemarin."
"Gina." Gina memperkenalkan diri.
"Victor." Balas Victor
"Aku pernah melihatmu di Font."
"Oh ya?"
"Waktu kau bersama Sunday. Ku pikir kalian pasangan."
"Ahh, tidak juga." Faris tersenyum lebar bersamaan dengan Sunday. Pesanan mereka datang. Sunday lalu meminum jusnya.
Setelah sedikit berbasa-basi, lalu Victor menawarkan diri untuk mulai mengajarkan dasar-dasar pemrograman.
"Baiklah, mari kita mulai." Victor membuka tas laptop dan menyalakan laptopnya. Gina tampak antusias.
"Aku selalu ingin bisa atau paling tidak aku tahu apa dan bagaimana pemrograman itu. Karena hidupku di software house membuatku menjadi orang asing ketika tidak mengerti apa itu pemrograman." Gina tertawa kecil.
"Dari sini kau akan mulai mengerti dasar-dasarnya." Faris mengubah letak laptopnya menjadi menghadap Gina. Sedangkan Victor ada di hadapannya.
"Kenapa kalian tidak duduk bersebelahan saja? Itu akan lebih mudah dalam menjelaskannya, kak." Saran Sunday yang sedari tadi masih ada disana dan sedikit memberi bumbu penyedap kepada mereka.
"Duduklah di samping Gina, Kak."
"Oh iya, kau benar."
Hati Sunday bersorak. Paling tidak saat duduk berdekatan begitu mereka bisa mulai untuk akrab satu sama lain. Sunday pura-pura melihat jam tangan.
"Ya Tuhan, aku sudah hampir terlambat." Ujar Sunday yang pura-pura panik.
"Ada apa, Sun?" Tanya Gina disela mendengar penjelasan Victor.
"Aku ada janji dengan seorang teman jadi aku harus bergegas menemuinya."
"Kalau begitu pergilah sebelum temanmu menunggu." Kata Gina.
"Iya, aku pergi dulu ya."
"Baiklah." Gina menjawab lagi. Victor mengangguk. Sunday pura-pura bergegas dari sana sambil mengulas senyum. Misi satu terlampaui. Tinggal menunggu perkembangan dan melaksanakan misi berikutnya.
Saat Sunday berjalan menuju halte dekat kafe, seseorang menarik tangannya. Sunday tersentak mendapat perlakuan itu dan reflek memukul lengannya. Seseorang bertopi baseball dan berkaca mata hitam itu mengaduh. Suaranya membuat Sunday mengenali.
"Kau, kenapa ada di sini? Sudah ku bilang jangan merusak rencana." Ujar Sunday setelah Faris membuka kaca matanya.
"Ternyata reflekmu bagus juga. Baru ku sentuh tanganmu saja aku kau hadiahi pukulan." Faris mengelus lengannya.
"Habisnya kau mengagetkanku. Ku pikir kau orang jahat yang akan melakukan perbuatan tidak senonoh dengan menggandeng tanganku."
"Tapi kau kan bisa menyapaku dulu sebelumya. Agar aku tidak salah sangka terhadapmu."
"Iya, maaf."
"Apakah pukulanku cukup sakit?" Faris mengangguk manja.
"Rasakan. Salah sendiri mengagetkanku." Lalu Sunday terus berjalan menuju halte.
"Kau mau kemana?" Faris mengikutinya setengah berlari.
"Pulang." Jawab Sunday singkat.
"Kau tidak peduli pada sakit dilenganku? Sepertinya tulangku retak karena pukulanmu." Keluh Faris sambil menyodorkan lengannya kepada Sunday.
"Aku bukan Hercules yang bisa meremukkan tulangmu hanya dengan pukulan kecil seperti itu."
"Tapi ini sakit." Keluh Faris.
"Kau ini manja sekali. Memangnya tulangmu terbuat dari tepung terigu bisa selembek itu." Sunday masih cuek terhadapnya.
"Kau ini benar-benar tidak perhatian terhadap pacar sendiri." Gerutu Faris. Ada beberapa orang di halte yang juga menunggu bus tapi mereka tampak tidak peduli dengan keberadaan Sunday dan Faris. Tiba-tiba Faris menarik tangan Sunday dan membuatnya terkejut.
"Hei apa ini? Mau kemana?" Sunday terpaksa mengikuti langkah Faris setelah tangannya ditarik seperti itu.
"Jangan naik bus. Kita pergi bersama saja." Sunday mengerti maksud Faris dan menurut tangannya digandeng seperti itu kembali ke tempat parkir kafe dimana mobil Faris diparkir.
Sekarang mereka sudah ada di dalam mobil yang melaju di tengah suasanya lalu lintas hari minggu.
"Kita mau kemana?" Sunday heran karena mobil Faris melewatkan tikungan yang menuju ke arah kosnya.
"Sudahlah, jangan cerewet. Kita akan berjalan-jalan."
"Kau mau menculikku?"
"Anggap saja begitu." Jawab Faris santai.
"Wah, aku harus menelepon polisi agar segera menangkapmu."
"Telepon juga penghulu. Jaman dulu jika ada anak gadis dibawa lari oleh seorang pemuda maka pemuda itu wajib menikahinya."
"Oh ya? Darimana kau tahu tentang itu?" Sunday mengerutkan keningnya.
"Aku ini Edward Cullen, jadi dimasa itu aku sudah ada."
"Wah, berarti usiamu sudah ratusan tahun sekarang?"
"Ya, begitulah."
__ADS_1
"Ternyata aku berpacaran dengan pria lanjut usia." Sunday mencibir.
"Meskipun lanjut usia tapi aku masih sangat tampan kan."
"Hahh, tidak ada ya satu detik dalam hidupmu yang tidak perlu menarsiskan diri."
"Aku bukan narsis, tapi hanya berkata jujur saja." Faris menyunggingkan senyum sambil masih melihat jalan di depannya. Melihat itu Sunday jadi gemas. Bagaimana bisa ada orang tampan sekaligus narsia begitu.
Faris memarkir mobilnya di parkir taman kota. Sunday melihat ke sekeliling tempat yang tampak ramai itu.
"Kau yakin berhenti di sini?"
"Yakin. Kenapa? Kau tidak suka tempat ini?"
"Bukan begitu. Hanya saja tempat ini sangat ramai."
"Kenapa memangnya?" Tanya Faris heran.
"Aku tidak mau ada orang yang tahu kebersamaan kita."
"Tenang saja, tidak akan ada yang mengenalimu dengan ini." Faris menyodorkan topi dan kaca mata hitam kepada Sunday.
"Apa ini?" Sunday menimang benda-benda pemberian Faris dan sadar bahwa ia telah mempersiapkan semua itu.
"Ayo kita turun." Faris membuka pintu setelah memakai kaca matanya kembali. Sunday ragu-ragu memakai atribut yang diberikan Faris tadi.
"Aku terlihat aneh." Keluh Sunday dengan topi di atas kepalanya dan kaca mata hitam itu.
"Tidak, kau cantik dengan itu."
"Benarkah?"
"Ya, apapun yang kau pakai kau selalu cantik dan aku selalu suka." Seketika Sunday tersipu. Pipinya menghangat.
"Ayo..." Faris menggandeng tangannya. Rasanya ada yang berterbangan di lambung Sunday. Sensasi itu rasanya cukup akrab dengannya. Faris selalu berhasil membuatnya merasakan sensasi itu.
"Sudah lama aku ingin berjalan seperti ini." Sunday sempat melirik ke arah Faris yang berjalan disisinya dan menggenggam erat tangannya. Dari sisi ini Sunday bisa melihat hidung mancung dan bibir manis milik Faris. Kulit putihnya agak kemerahan diterpa matahari siang ini. Cukup menawan membuat hatinya berdebar diatas normal menikmati wajah pacarnya.
"Kita duduk disana." Ajak Faris menuju sebuah bangku panjang dibawah pohon.
Mereka berdua duduk dengan hanya sejengkal jarak saja. Dengan jari-jari tangan Faris yang sudah terlepas dari jari-jari Sunday.
"Aku suka tempat ini." Gumam Faris.
"Tempat ini lumayan bagus. Nyaman." Timpal Sunday.
"Saat kecil Papi & Mami sering mengajakku ke sini." Pandangan Faris menerawang jauh seolah mengingat-ingat sesuatu.
"Dulu aku akan berlarian kesana kemari atau bersepeda bersama kak Novi dan kak Nova. Mama selalu membawakan banyak cemilan untuk kita makan setelah lelah bermain." Faris tampak bahagia mengenang masa kecilnya.
"Dulu aku tengil sekali. Suka sekali mengganggu orang-orang yang sedang berpacaran. Meneriaki mereka atau mengageti saat mereka sedang serius adalah kesukaanku. Setelah itu Papi atau Mami akan meminta maaf kepada mereka. Tapi aku senang-senang saja." Faris terkekeh.
"Kau waktu kecil dan kau yang sekarang tidak jauh berubah. Tetap saja tengil."
"Oh ya? Apa sekarang aku masih begitu?"
"Ya, kau masih setengil itu sekarang."
"Tidak, aku tidak seperti itu." Elak Faris.
"Kau tidak sadar saat memberiku tugas yang tidak masuk akal atau pekerjaan yang tidak penting itu sangat menggangguku?" Faris lalu tertawa.
"Maaf untuk itu. Aku memang sengaja melakukannya." Masih dengan sisa tertawanya.
"Kau bilang sengaja?" Sunday membelalakan matanya memandang Faris dengan wajah santainya.
"Jadi kau sengaja mengerjaiku?"
"Bukan begitu, aku hanya senang saat kau ada di dekatku. Aku suka melihatmu. Aku suka memandang wajahmu. Sudah ku bilang aku selalu merindukanmu walau saat melihatmu sekalipun. Jadi aku sengaja melakukannya agar kau ada di dekatku."
"Kau ini benar-benar suka sekali menyiksaku."
"Aku tidak bermaksud menyiksamu. Aku ingin mendekatimu dan membuatmu menyukaiku."
"Tapi tidak dengan cara itu pun aku sudah menyukaimu." Ucap Sunday sedikit kesal. Tapi setelah kata terakhirnya, Sunday menutup mulut dengan telapak tangannya.
"Benarkah? Apa aku tidak salah dengar?" Faris menyeringai. Mendekatkan wajahnya pada Sunday.
"Tidak, bukan begitu maksudku. Tapi... " Sunday seperti panik.
"Ahh, aku mau ke sana." Sunday tiba-tiba beranjak dari duduknya. Dan meninggalkan Faris.
"Kau mau ke mana?" Kejar Faris. Sunday tidak menghiraukan dan tetap berjalan. Ia tidak mau Faris menanyakan banyak hal dan membuatnya harus menjelaskan kalimatnya itu. Ia sungguh malu. Wajahnya memerah.
Sunday masih berjalan cepat menghindari Faris. Tapi tepat di persimpangan, Sunday bertabrakan dengan seseorang. Sunday terpental ke sisi rerumputan dan orang yang bertabrakan ke sisi yang lain. Faris yang melihat itu segera berlari menghampiri.
"Kau tidak apa-apa?" Faris menarik tangan Sunday untuk bangun. Seseorang juga bangun dari jatuhnya sambil mencari sesuatu didekatnya.
"Kau mencari ini?" Tanya Faris pads gadis yang Sunday tabrak.
"Iya." Gadis itu senang ponselnya ditemukan oleh Faris. Sunday seperti akrab dengan suara gadis itu. Ia yang sedang memgibas roknya yang kotor jadi mendongak memastikan bahwa pendengarannya tidak salah.
"Friday?"
"Kak Sunday?"
Faris yang ada di antara mereka jadi terbengong. Ada perkumpulan orang-orang dengan nama hari di sekitarnya saat ini.
__ADS_1