Nona Hari Minggu

Nona Hari Minggu
Obat Nyamuk


__ADS_3

Sore ini Sunday sengaja tidak langsung pulang ke rumah setelah kuliah terakhirnya. Ada tempat lain yang masih harus ia tuju. Toko buku. Dia membutuhkan buku referensi untuk salah satu mata kuliahnya.


Sebenarnya dia bukan tipa pembaca buku tapi materi kuliah tentu saja membuatnya harus mencari banyak sekali referensi agar program software yang ia buat demi memenuhi tugas bisa tercipta sesuai rancangannya.


Ketika berada di deretan buku pemrograman, Sunday tersenyum nyinyir melihat pemandangan di ujung rak.


Faris bersama seorang gadis sedang tampak memilih buku di deretan rak ilmu kedokteran.


Siapa lagi dia? Mungkin calon dokter. Sunday tersenyum sinis.


Setelah mendapatkan buku yang ia rasa cukup sesuai dengan tugas pemrogramannya, Sunday segera membawanya ke kasir dan membayarnya.


Pukul 16.00 saat Sunday keluar dari toko buku. Sepertinya mampir ke kedai es krim favoritnya akan sedikit menghibur setelah rangkaian kuliah padat dan tugas praktikum yang sudah menantinya. Tempatnya pun tidak begitu jauh dari toko buku yang baru saja ia datangi.


Kedai es krim tampak ramai, semua meja penuh terisi. Sunday celingukan mencari meja kosong. Untunglah sebuah meja di paling ujung ada pasangan yang mulai meninggalkan meja mereka. Tanpa pikir panjang, Sunday segera mendekat dan menempati meja itu.


Tepat sekali, ini adalah sudut favorit Sunday. Tempatnya di sudut ruangan, di sisinya berdinding kaca, jadi ia bisa leluasa melihat ke luar. Menikmati keadaan luar dari sini biasanya bisa menyegarkan fikirannya. Saking antusiasnya menempati tempat ini, ia bahkan lupa belum memesan es krim yang diidamkannya sejak dalam perjalanan.


Ia meninggalkan tasnya di kursi dan memesan es krim kesukaannya. Tak berapa lama es puter rasa pandan sudah ada di tangannya. Saat memutar badannya ternyata mejanya telah ditempati sepasang manusia.


Sunday buru-buru menghampiri tapi saat semakin dekat semakin ia yakin mengenal salah satu dari orang yang menduduki mejanya.


Sunday meletakkan es puter dan duduk di kursinya. Seperti tidak terjadi apa-apa dan tidak ada siapa-siapa.


Faris yang tau ini meja Sunday lalu tersenyum dan menyapanya.


"Sunday, aku sangat berterima kasih kepadamu. Berkatmu aku jadi bisa duduk di sini." Faris menatap Sunday berbinar.


What?! Berkatku? Siapa yang memperbolehkanmu duduk di sini? Rutuk Sunday dalam hati.


"Iya sama-sama." Jawab Sunday pura-pura tenang dengan mengulas senyumnya kaku.


"Aku rasa hanya kamu yang punya tas sebagus itu." Sambil menunjuk tas di kursi sebelah Sunday seolah mengisyaratkan bahwa tas pemberiannya memang bagus walaupun maksudnya adalah memberi tahu bahwa Faris tahu itu meja Sunday dari tas yang ada disitu. Sunday hanya nyengir menanggapinya.


"Faris bilang kamu temannya. Jadi tidak apa-apa kan kalau kita duduk di sini? Semua meja sudah penuh." Gadis itu ikut membuka suaranya.


"Ya tentu saja." Jawab Sunday manis.


Bagaimanapun juga ini tempat umum. Jadi tidak ada salahnya jika mereka duduk bersama di meja yang sama walaupun dengan kepentingan yang berbeda.


Ya, Sunday ingin menyegarkan fikirannya dan Faris ingin berpacaran.


"Kamu mau apa? Aku akan membawakannya untukmu." Bisik Faris kepada gadis di depannya. Sunday tersenyum sinis sambil memalingkan mukanya.


"Es krim coklat ada?" Gadis itu bertanya kembali.


Sunday menganalisa bahwa gadis ini baru pertama kali ke tempat ini. Dia belum tau menu di sini.

__ADS_1


"Ada." Jawab Faris. "Mau toping apa? Kacang-kacangan, raisin, biskuit..."


"Almond ada?" Potong gadis itu.


"Baiklah, almond." Lalu Faris beranjak ke meja pemesanan.


Sunday sempat melirik gadis yang diduganya sebagai pacar Faris itu. Entah pacar yang keberapa. Wajahnya manis, kulitnya tidak begitu putih tapi tampak terawat. Rok selutut berwarna maroon dan atasan kemeja lengan terompet warna peach bahan katun linen membuatnya terlihat cantik. Oh iya, sepatu wedgesnya tampak menyempurnakan.


Selera Faris terhadap para gadis memang baik. Tentu saja, dia tampan dan keren. Tidak mungkin dia memilih gadis yang biasa saja.


Sangat berbeda dengan Sunday. Sepatu sneakers, midi skirt dan kemeja oversize adalah favoritnya. Biar saja Suzan meneriakinya tidak modis tapi baginya kenyamanan adalah yang utama. Windy, dia cuek. Dia tipe teman yang tidak peduli penampilan orang lain. Tapi sebagai anak seorang pemilik restoran franchise yang cabang restorannya ada di beberapa tempat di seluruh indonesia, dia terbiasa membeli barang branded termasuk baju, sepatu, tas dan asesorisnya. Jadi apapun yang dipakai, meskipun sederhana tetap terlihat mengena.


Sedangkan Suzan, jangan tanya seberapa girly-nya dia. Bahkan dia hafal alat make up mulai dari foundation hingga remover yang bagi Sunday adalah hal yang sangat asing. Karena bagi Sunday lebih mudah mengingat syntax dalam sebuah program daripada mengingat jenis, kegunaan dan merk alat make up.


Sepeninggalan Faris, Sunday masih berpura-pura membaca buku yang baru dibacanya. Tapi kemudian jiwanya jadi tidak tega kalau harus mendiamkan pacar Faris yang ada satu meja dengannya.


"Aku Sunday, kamu?" Sunday berinisiatif memperkenalkan diri karena Faris belum mengenalkan mereka tadi.


"Mery." Menyambut uluran tangan Sunday sambil tersenyum lagi. Kalau jadi pria mungkin Sunday akan bersiap untuk jatuh cinta juga kepada Mery. Senyumnya manis sekali. "Aku melihatmu di toko buku tadi." Lanjutnya.


"Oh ya? Kamu juga ada di toko buku itu?" Tanya Sunday pura-pura tidak tahu. Padahal dirinya jelas-jelas melihat Faris bersama Mery di sana.


"Hmm." Mery mengangguk. "Kamu anak teknik informatika?" Tanya Mery kemudian.


"Teihat dari buku bacaanku ya?" Sunday tersenyum meringis.


"Tergantung tingkat kerumitan software-nya."


"Oh iya, tentu saja." Mery tertawa kecil.


"Kalian tidak sedang membicarakan aku bukan?" Suara Faris tiba-tiba dan kedua gadis itu menoleh bersamaan.


"Tidak!" Jawab Sunday cepat. Mery hanya tersenyum


"Baiklah, ini es krimmu." Faris meletakkan es krim pesanan Mery di depannya. Mery tampak sangat senang melihat es krimnya.


"Tampaknya kalian sudah saling kenal." Kata Faris lagi sambil menyendok es krimnya. "Kamu tahu, ini tempat favorit Sunday. Dia bahkan akan sakau kalau tidak makan es krim di sini sehari saja."


" Benarkah?" Mery menatap Sunday.


"Tidak... tidak... itu tidak benar. Tidak separah itu. Aku memang suka es krim tapi tidak sampai kecanduan. Aku suka tempat ini."


"Iya, saking sukanya tempat ini, dia bahkan belajar dan tidur di sini." Faris semakin gencar membuka rahasianya.


"Iya aku tahu, dia membaca bukunya disini." Mery menimpali dengan masih menyendok es krimnya. "Tapi, apakah sampai tertidur?" Mery mengerutkan keningnya seperti tidak percaya.


"Iya." Jawab Faris cepat.

__ADS_1


Sejurus kemudian Sunday menendang kaki Faris yang ada di ujung mejanya. Faris mengaduh.


Sunday teringat waktu itu. Ia memang pernah benar-benar tidur di sini. Itupun karena tugas kuliahnya sangat banyak jadi ia merasa butuh sesuatu yang manis untuk menambah energinya tapi baru saja membuka laptop dan mengetikkan beberapa baris syntax program ia sudah sangat mengantuk dan tertidur. Itu adalah hal terkonyol yang pernah ia lakukan. Parahnya, saat ia bangun sudah ada Faris yang duduk di sampingnya dan sudah dapat dipastikan menyaksikan aksi konyolnya sambil mengiler itu. Sangat memalukan.


"Kenapa Ris?" Mery bingung dengan Faris yang tiba-tiba mengeluh kesakitan memegang kakinya dibawah meja.


"Digigit nyamuk."


"Mana ada nyamuk disini.?" Mery heran.


"Ada, nyamuknya bahkan tidak hanya menggigit tapi juga bisa menendang." Sunday melotot kepada Faris.


"Mana, aku lihat." Mery perhatian.


"Tidak usah, aku baik-baik saja."


Sunday merasa jengah berada di depan sepasang jelangkung itu, yang tiba-tiba menempati mejanya tanpa permisi. Mereka benar-benar tampak seperti orang pacaran kebanyakan. Saling tatap, berbalas senyum dan sekarang malah saling suap bertukar mencicipi es krim masing-masing.


Sunday benar-benar tidak tahan walaupun sudah berpura-pura membaca buku Pemrograman Berbasis Web ditangannya. Bukan hanya karena ia sedang jomblo tapi dia benar-benar merasa pandangannya telah ternoda dengan adegan romantis yang ditayangkan secara live dihadapannya. Sunday pun berdiri dan berpamitan.


"Ehm... aku rasa sudah hampir malam, jadi aku pulang dulu."


"Oh, baiklah." Jawab Faris sambil mengelap ujung bibir Mery yang tercecer sisa es krim. Sunday tambah risih melihatnya.


"Barengan sama kita saja." Celetuk Mery.


"Dia bawa motor." Faris melipat tisu bekas dimejanya.


"Oh, baiklah. Hati-hati, Sunday." Mery melambaikan tangan. Sunday mengulas senyum dan berlalu meninggalkan mereka.


Sampai di tempat parkir Sunday mengipas wajahnya dengan tangannya. Suasana di dalam membuatnya gerah.


"Mana mungkin ada seseorang yang tidak berperikejombloan seperti itu. Memamerkan kemesraan di depan seorang jomblo. Sungguh keterlaluan." Gerutu Sunday sambil memasang helmnya.


"Dia bilang aku nyamuk. Hah, padahal aku dia jadikan obat nyamuk di sana."


Kemudian Sunday menstarter motornya tapi tidak menyala. Ternyata dia lupa memasang kuncinya. Saking kesalnya hingga Sunday lupa kalau kuncinya belum terpasang. Dicarinya di dalam tas, diobok-obok bahkan dilongok ke dalamnya tetap saja tidak ketemu.


"Kamu mencari ini?" Suara di belakangnya. Sunday menoleh. Faris mengangkat kunci dengan gantungan boneka taddy bear mini ditangannya. Sunday segera menyahut kunci itu begitu Faris mendekat.


"Dasar pelupa." Ujar Faris kemudian sambil tersenyum lebar. Seperti mengejek.


Sunday segera memasang kunci, menstarter sepedanya lalu bermaksud pergi. Tapi Faris menahan laju setirnya.


"Kamu bahkan belum berterima kasih." Cegah Faris.


"Baiklah..." Sunday memutar bola matanya malas. " Terima kasih." Lalu pergi meninggalkan Faris.

__ADS_1


Faris tersenyum melihat aksi Sunday yang sok cuek itu. Berharap ada yang terjadi di dalam hati Sunday walaupun Faris tidak begitu yakin apakah itu bisa terjadi.


__ADS_2