
"Ya, aku menyukaimu." Faris masih menatap Sunday.
"Menyukaimu sebagai seorang gadis yang bernama Sunday. Yang membenci pelaut di seluruh dunia." Faris berhenti sejenak untuk menghela nafas berat dan menghembuskannya perlahan.
"Kau tahu, aku bingung bagaimana caranya agar aku bisa masuk kedalam hatimu. Sudah lama aku mencoba menjadi lebih dekat kepadamu untuk lebih dari sekadar teman. Tapi sepertinya kau terlanjur membangun batasan agar aku tidak pernah bisa menunjukkan perasaanku kepadamu. Bahkan untuk sedikit menunjukkan perhatianku saja kau seolah selalu menolaknya dengan menganggapnya sebagai candaan. Jadi yang terfikir kemudian adalah ini, mengajakmu berpura-pura menjadi pacarku. Aku harap dengan begitu aku bisa menunjukkan perhatianku padamu." Faris masih menatap Sunday lurus. Sunday masih belum ingin mengatakan apapun. Ia masih memberi kesempatan Faris untuk mengutarakan semua yang ingin ia utarakan.
"Jadi asal kau tahu, semua perhatianku padamu selama ini bukanlah pura-pura. Aku benar-benar melakukannya karena aku ingin. Aku ingin mendekatimu dengan berpura-pura kita berpacaran. Aku harap dengan begitu mungkin saja kau akan menyukaiku juga pada akhirnya."
"Kau benar-benar playboy sejati. Kau bahkan memikirkan cara ini untuk bisa mendapatkan perhatianku." Sunday mencibir.
"Jadi, selama ini cara ini juga pasti yang kau gunakan untuk mendapatkan hati para gadis itu. Kau sungguh hebat. Jenius." Sindir Sunday.
"Kalau kau berfikir begitu, kau salah besar. Sudah ku bilang aku tidak seburuk yang kau fikirkan. Aku hanya ingin mendapatkan cintamu. Itu saja."
"Lalu kau menggunakan segala cara? Kau pikir semua itu boleh bagimu? Kau pikir aku tidak punya perasaan jika kau permainkan seperti ini?"
"Aku minta maaf... aku tidak menyangka kau akan semarah ini."
"Tidak menyangka akan semarah ini? Kau ini sungguh membuatku tidak habis fikir. Tentu saja aku akan marah kau jadikan objek permainanmu."
"Jangan sebut ini permainan, karena aku melakukan semua itu dengan ketulusan hatiku."
"Kau bahkan membuatku bermain sandiwara tapi kau menyangkal kalau ini hanya sebatas permainan yang kau buat untukku."
"Baiklah... baiklah... aku minta maaf. Yang jelas aku melakukannya karena aku menyukaimu. Aku tidak tahu harus bagaimana mendekatimu. Yang terpikir olehku hanya itu."
"Aku membencimu..." Gumam Sunday dengan mata berkaca-kaca.
"Sunday... maafkan aku. Aku benar-benar tidak bermaksud begitu."
Sunday beranjak meninggalkan Faris ditempatnya. Ia terlalu lelah berdebat dengan Faris. Faris masih saja mempertahankan pendapatnya bahwa ia boleh membawa Sunday bersandiwara demi kepentingannya sendiri. Ia tidak memikirkan perasaan Sundya yang merasa dibohongi, merasa dibodohi dan dipermainkan dalam satu waktu yang sama.
Faris mengejar Sunday yang berlari menuju pintu. Memanggilnya berulang kali tapi Sunday tidak menghiraukan. Air matanya terburai dan semakin tidak bisa dibendung lagi. Sampai di luar pintu masuk, Faris berhasil meraih tangannya. Seketika Sunday berhenti karena tertahan Faris.
"Aku harap kita tidak lagi bertemu. Sebuah kesalahan aku membiarkanmu untuk menjadi temanku." Sunday melepaskan genggaman tangan Faris dan berjalan menuju motornya. Faris terpaku di tempatnya. Ia menyadari bahwa apa yang dilakukannya sangat menyakiti Sunday walau awalnya ia tidak bermaksud begitu.
Faris masih menatap Sunday yang berlalu meninggalkan pelataran kedai es krim itu. Rasa bersalahnya benar-benar menguasai dirinya. Gadis yang ia sukai telah dibuatnya menangis. Faris tidak tahu harus bagaimana menenangkan Sunday dari kemarahannya. Sunday terlanjur membencinya.
Teringat suatu sore dibalkoni kapal saat selesai bekerja. Faris mengemasi beberapa perlengkapan bekerjanya hari itu.
"Kau, sepertinya mengenal putriku." Ujar pak Subagio disamping Faris yang masih berkemas. Faris mendongakkan kepalanya dan melihat Pak Subagio yang melihat ke arah laut lepas didepannya. Faris meletakkan perangkat terakhirnya ke dalam kotak.
"Aku lihat kau sering bertukar komentar di media sosial putriku. Kau sangat akrab dengannya?"
"Oh itu... kami memang berteman, Pak."
"Jangan-jangan kau bermaksud mendekatinya?"
"Ahh, tidak Pak. Aku hanya berteman dengannya." Faris tertawa lebar menutupi kegugupannya.
"Aku hafal pria sepertimu. Awalnya berteman tapi lama-lama kau akan mendekatinya."
__ADS_1
"Bukan begitu, Pak. Tapi aku memang ingin berteman dengannya. Dia putri Bapak, mana berani aku mendekatinya lebih dari sekadar teman."
"Kau tahu, dia membenci pelaut."
"Benarkah?" Faris tampak kaget. Bagaimana mungkin putri seorang pelaut membenci pelaut.
"Aku meninggalkan mamanya untuk menikahi wanita lain. Ia berfikir bahwa pelaut selalu melakukan itu kepada pasangannya." Pak Subagio menundukkan kepalanya. Wajah supervisornya yang biasa ramah itu kini terlihat sendu.
"Aku akui itu kesalahanku dan seharusnya tidak berhubungan dengan pekerjaanku. Tapi Sunday terlanjur mengira bahwa pelaut selalu punya banyak waktu untuk berselingkuh, jadilah hingga saat ini kita memiliki hubungan yang kurang baik." Faris masih menyimak dengan saksama cerita atasannya itu.
"Meskipun tidak dekat dengan Sunday, aku selalu mencari tahu tentangnya. Aku juga tahu bahwa setiap pulang kau juga sering mendatanginya." Kali ini Pak Subagio menatap tajam ke arah Faris. Faris gelagapan.
"Oh... itu... iya, kami berteman jadi aku rasa bertemu seorang teman bukan masalah."
"Tapi dia putriku, jadi kalau kau coba mempermainkannya kau akan mati di tanganku."
"Wah, jangan begitu, Bos. Aku ini pria baik-baik." Faris menatap atasannya itu dengan senyum lebarnya serta mengganti panggilannya menjadi Bos agar sedikit lebih akrab.
"Pikirkan lagi kalau kau ingin mendekati putriku. Dia sangat istimewa bagiku."
"Siap, Bos. Tapi putrimu sangat cantik bagaimana bisa aku tidak ingin mendekatinya." Faris berkelakar.
"Kau ini, mau mati ditanganku ya. Berani macam-macam kepada putriku, aku sendiri yang akan mendorongmu ke laut untuk menjadi makan siang hiu."
"Hahaha... Bos ini lucu sekali. Aku mana berani mempermainkan putri bosku sendiri. Bunuh diri itu namanya."
"Jadi, kau menyukai putriku?"
"Memangnya kau bisa? Aku saja yang ayahnya tidak bisa melakukan itu." Pak Subagio meremehkan.
"Akan ku coba, Bos. Bos tenang saja."
"Tidak, aku tidak akan memberikan putriku untuk dimakan buaya darat sepertimu."
"Bos ini kejam sekali mengataiku buaya darat."
"Hei, kau pikir aku tidak tahu reputasimu. Aku sudah mendengar banyak hal tentangmu. Tentang teman-teman gadismu itu."
"Bagaimana Bos tau?" Faris heran dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal
"Kau pikir karena aku sudah tua jadi aku tidak pernah masuk club di lantai 5?" Pak Subagio menyeringai. Faris tersenyum kecut. Ya, di tempat dugem itulah biasanya ia bersama para gadis. Berkenalan, mengobrol pokoknya dia tidak pernah sendirian dan selalu menemukan teman wanita disana.
"Itu hanya teman untuk mengobrol saja, Bos."
"Itulah, putriku sangat berharga kalau hanya kau jadikan teman mengbrol saja."
"Apa aku harus menikahinya dulu agar aku mendapatkan izin mengobrol dengannya?"
"Tidak semudah itu, anak muda. Kau pikir untuk menikahinya akan mudah saja bagimu? Kau harus lulus seleksi calon menantu olehku." Pak Subagio tertawa kepada Faris.
"Wah... ini sih seperti halnya dengan akan menikahi putri seorang sultan."
__ADS_1
"Tentu saja, dia adalah putriku yang berharga. Aku sangat menyayanginya. Menyakitinya sama saja dengan menyuruhku mengirimmu ke neraka."
"Bos, menyeramkan sekali." Faris terkekeh.
"Kau sudah tahu kan. Jadi, jangan sembarangan mendekati putriku apalagi menyakitinya. Bertemanlah dengan baik. Putriku tidak mudah berteman. Jadi ketika dia berteman denganmu, jangan berikan kesan buruk kepadanya."
"Baik Bos." Faris sumringah. "Apa ini berarti aku boleh berteman lebih serius dengannya?"
"Jangan harap." Lalu Pak Subagio meninggalkan Faris yang manyun.
"Dasar bapak over protective."
Sebelum kepulangannya kemarin Faris juga sempat berbincang lagi dengan Pak Subagio saat berpamitan. Dan karena meskipun mereka bos dan anak buah, tapi Pak Subagio atasan yang baik jadi membuat bawahanya nyaman dan akrab juga dengannya. Batasan bos dan anak buah itu hanya berlaku saat jam kerja saja. Diluar itu, Pak Subagio selalu lebih santai dengan pegawai lain, tidak peduli itu adalah bawahannya.
"Pak, minggu depan aku akan pulang. Apa ada titipan untuk tuan putri?" Sebutan Faris untuk Sunday.
"Tidak, aku tidak akan membuatmu punya alasan menemuinya." Faris menyengir karena modusnya dengan mudah terbaca oleh Pak Subagio.
"Tanpa itu pun aku memang akan menemuinya."
"Hei, dasar bocah kurang ajar." Pak Subagio menatapnya tajam.
"Pak... sudahlah, biarkan yang muda yang bercinta. Bapak tenang saja."
"Aku tidak akan tinggal diam jika kau macam-macam kepadanya."
"Tidak akan, Pak. Aku yakin dengan perasaanku."
"Apa?" Pak Subagio menatap Faris heran melihatnya berwajah seserius itu.
"Aku menyukai anak Bapak."
"Apa ini sebuah lamaran?"
"Anggap saja seperti itu."
"Tapi Sunday masih kuliah. Aku belum mau menikahkannya dalam waktu dekat."
"Aku ingin mendekati putri Bapak dengan baik jadi aku harus meminta izin dulu kepada ayahnya." Pak Subagio tidak menyangka Faris yang suka nyeleneh itu tiba-tiba meminta izin kepadanya untuk mendekati Sunday, putrinya. Se-gantleman ini ternayata Faris.
"Kau yakin? Sudah ku katakan dia adalah putriku yang berharga jadi siapa saja yang membuatnya bahagia akan sangat kuhargai, tapi yang membuatnya menangis akan mendapatkan bayaran setimpal dariku."
"Wah... kalau seperti ini aku merasa sedang mendekati putri seorang bos mafia." Faris terkekeh lagi.
"Dan lagi, karena putriku sangat cantik dan banyak yang menyukainya, kau harus siap ditolak olehnya. Apalagi kau yang seorang pelaut. Aku tidak yakin kau akan dengan mudah bisa mendekatinya."
"Ku anggap itu sebagai tantangan dan motivasi untukku, Pak." Faris mengatakan itu dengan keyakinan. Sedangkan Pak Subagio hanya menyungging senyum kecut kepada Faris.
Faris menatap langit sore yang mulai gelap. Hari ini Sunday menolaknya. Sunday bahkan membencinya. Cara Faris mendekatinya membuat Sunday marah.
Faris berjalan mendekati mobil, masuk ke dalamnya. Tidak segera melarikannya pergi tapi masih duduk menghadapi setir. Berfikir bagaimana caranya agar Sunday bisa memaafkannya. Faris semakin galau. Bukan takut menjadi camilan hiu seperti kata ayah Sunday waktu itu, tapi Faris terlanjur sangat menyukai gadis itu dan benar-benar ingin menjatuhkan hati hanya kepadanya. Belum pernah ia menyukai seorang gadis seperti kepada Sunday. Faris menghela nafas panjang lalu menghembuskan perlahan. Setelah itu menstarter mobilnya dan membawanya meninggalkan pelataran parkir kedai es krim itu.
__ADS_1