
Satu minggu sudah Sunday bekerja di Font. Hari-harinya disibukkan dengan analisa beberapa software pesanan client. Dua hari yang lalu juga ia melakukan meeting di luar kantor dengan seorang client yang memesan sistem informasi untuk toserba yang akan dibukanya. Client ingin sistem informasinya meliputi penjualan lengkap dengan segala informasi stok. Jadinya sekarang ia melakukan analisa untuk sistem informasi ini. Tim fedora memang terkenal ahli dalam menangani sistem informasi sederhana berbasis desktop dan itulah sebabnya tim fedora memiliki banyak project untuk itu.
"Belum selesai, Sun?" Lita sudah ada di sebelah mejanya.
"Sedikit lagi, hanya tinggal melampirkan daftar kebutuhan sistem yang diminta client."
"Kalau begitu aku pulang dulu."
"Oke." Sunday tersenyum pada Lita.
Di ruangan itu masih ada Boby yang melakukan coding. Sunday menghampiri Boby dan memberikan hasil analisa sistem yang sudah selesai ia kerjakan.
"Bob, ini lampirannya. Daftar permintaan client ada di sini. Lihatlah juga sebelum ku serahkan di meeting besok."
"Kau memberiku bocoran?" Boby tersenyum pada Sunday.
"Ya, paling tidak setelah melihat analisaku kau punya bayangan akan dibuat dengan apa dan bagaimana sistem ini agar besok saat meeting bisa langsung dirundingkan."
"Baiklah, idemu bagus. Terima kasih."
"Sama-sama. Oh iya, kau tidak pulang?"
"Pulang. Tapi sebentar, tinggal beberapa baris sintaks. Kalau berhasil running aku langsung pulang."
"Tapi kalau debug error?" Tanya Sunday memberikan kemungkinan terburuk
"Ya tetap pulang." Lalu Boby tertawa. Sunday juga dan pamit untuk meninggalkan ruangan.
Keluar pintu lift sebuah telepon masuk. Dari Victor.
"Sudah pulang?"
"Ini baru mau pulang."
"Tunggulah di situ. 10 menit aku datang."
"Hei... kau ada di sini?" Tidak mendapat jawaban lagi, telepon diputus.
Victor mengatakan untuk menunggunya. Itu artinya dia sedang ada di sekitar sini. Sunday lalu duduk di sofa loby. Mengambil ponsel dan menulis beberapa note untuk agendanya besok. Sebuah rutinitas yang ia lakukan agar pekerjaannya bisa terselesaikan secara sistematis.
"Sunday? Kau benar Sunday." Seseorang sudah berdiri di hadapan Sunday. Sunday terkesiap.
"Aku pikir kemarin hanya salah lihat, tapi ternyata benar ini kau." Sunday sudah berdiri mensejajari wanita dengan dress longgar itu.
"Kak Rima?"
"Kau bekerja di sini sekarang?"
"Iya Kak."
"Ya Tuhan... Kita akhirnya bertemu lagi. Sudah sangat lama sekali ya. Bagaimana kabarmu? Kau suka bekerja di sini? Apa para senior memperlakuakanmu dengan buruk?" Rima memberondong Sunday dengan berbagai pertanyaan. Sunday hanya meringis tidak tahu harus mulai menjawab dari mana.
"Ahh, aku terlalu banyak bicara yaa." Lalu Rima tertawa kecil.
"Tidak apa-apa, Kak. Yang jelas aku baik dan juga menyukai pekerjaanku karena timku sangat solid serta membimbing sekali."
"Syukurlah." Tampak Rima menghembuskan nafas lega.
"Sebenarnya waktu itu aku sangat merasa bersalah kepadamu. Aku hanya ingin membantu Faris." Mendengar nama Faris disebut, dada Sunday berdesir.
"Aku minta maaf yaa. Aku tahu ini terlambat. Tapi waktu itu Faris bilang kau marah besar dan melarangku untuk datang padamu. Jadilah aku tidak pernah menemuimu. Tapi aku masih sering menanyakan kabarmu kepada Herman. Hingga akhirnya kau lulus dan aku tidak tahu lagi bagaimana kabarmu." Jelas Rima panjang lebar.
"Tidak apa-apa, Kak. Aku sudah melupakan itu." Sunday menyunggingkan senyum.
"Benarkah? Selama ini aku benar-benar merasa bersalah." Rima memegang pundak Sunday.
"Oh iya, aku dengar dari Herman kau dan Victor berpacaran?"
"Ahh, tidak Kak. Tidak seperti itu." Sunday gelagapan mendengar pertanyaan Rima.
"Tapi Herman pernah melihat fotomu di screensaver ponsel Victor." Rima menyelidik
Pak Herman dan Victor memang dekat sejak Victor bahkan masih menjadi laboran dan belum menjadi dosen. Jadi kemungkinan Pak Herman untuk tahu tentangnya dengan Victor sangat besar. Dan sudah pasti dari Pak Herman juga Kak Rima tahu semua itu.
"Ahh, itu mungkin hanya mirip denganku."
"Kau ini masih saja mengelak."
"Kakak ada di tim apa?" Sunday mengalihkan pembicaraan.
"Aku ada di Red Hat."
"Wah, aku dengar orang-orang keren ada di sana. Menangani berbagai project multimedia."
"Ahh, kau berlebihan." Rima mengibaskan tangannya.
"Kau pegawai baru dari perekrutan periode kemarin kan?" Sunday mengangguk.
"Di tim apa?"
__ADS_1
"Tim fedora, Kak."
"Tim paling sibuk dengan banyak sekali project. Semangat ya."
"Iya, Kak." Sunday tersenyum.
"Ehh, Kakak mau pulang?"
"Iya, kau berkendara sendiri atau naik angkutan umum?"
"Aku naik bus."
"Mau pulang denganku? Tapi tidak sampai rumahmu. Rumahmu jauh sekali dari sini. Mau sampai halte?"
"Tidak usah, Kak. Kali ini aku sedang menunggu taksi online." Sunday sengaja berbohong. Karena jika ia tahu Victor akan menjemputnya bisa-bisa ia akan berfikir bahwa dirinya benar-benar berpacaran dengan Victor.
Setelah berpamitan, Rima pun keluar dari pintu loby. Sunday memijat keningnya.
Tempat apa ini sebenarnya? Satu per satu orang dekat Faris muncul disini. Kak Novi Om Sasono, Kak Rima. Jangan-jangan sebentar lagi Faris akan muncul dari dalam lift. Ahh, lalu aku harus bagaimana jika Faris benar-benar muncul?
Sunday terjingkat saat ponsel yang dari tadi dalam genggamannya bergetar.
"Iya, aku segera keluar." Victor sudah menunggunya di jalan raya depan Font. Sunday menghampirinya.
"Kenapa ada di sini?" Tanya Sunday setelah Victor kembali melajukan mobilnya.
"Aku baru saja mengikuti seminar di gedung balai kota."
"Oh...."
"Makan dulu yuk. Ada rekomendasi makanan enak di sini?"
"Oh, sore begini ada nasi pecel enak sebelum bundaran di depan itu."
"Wah, belum lama di sini kau sudah punya daftar warung makan enak."
"Namanya juga reporter acara kuliner." Sunday lalu terkekeh. Victor tersenyum kecut.
Victor memarkir mobilnya di samping warung nasi pecel yang buka mulai jam 3 sore itu. Sunday tahu tempat ini saat lembur waktu itu. Lita yang menunjukkannya. Dan menurut Sunday pecelnya memang enak. Bumbu pecelnya pas, tidak terlalu manis dan juga yang sangat menyenangkan adalah pilihan sayur dan lauknya banyak.
Setelah masuk Sunday lalu memesan pecel dengan sayur daun turi, lauk daging sapi dan telor asin. Oh iya, peyek disini kriyuk sekali dengan taburan kacang tanah atau ebi boleh memilih sesuka hati. Pokoknya recomended. Sedangkan pecel Victor berisi sayuran standar dengan lauk daging saja.
🌸🌸🌸
"Sunday..." Suzan memonyong-monyongkan bibirnya isyarat cium. Padahal yang dicium adalah layar poselnya.
"Aku kangeeeeennn..." Sunday yang hendak makan siang mengurungkan niatnya. Ia memberi isyarat pada Lita untuk makan siang lebih dulu.
"Kapan kita bisa bertemu?"
"Kapan ya, Suz?" Sunday kembali bertanya karena ia juga belum tahu kapan.
"Kau ini benar-benar jadi orang sibuk se-Indonesia Raya ya sekarang." Sunday terkekeh saat mendengarkan tudingan Suzan.
"Kau tahu, project yang ku tangani banyak sekali."
"Oh iya aku hampir lupa kalau sekarang kau bukan guru komputer di SD lagi tapi kau bekerja di software house terbesar di negeri ini."
"Bukan begitu, tapi aku takut akhir pekan juga harus bertemu client jadi aku tidak bisa berjanji."
"Iya... iya... aku faham. Ya sudahlah, nasabahku sudah memanjang ini."
"Kau siap dipecat ya, melayani sambil video call?"
"Tidak mungkin dong, Sun. Itu namanya aku sudah gila." Suzan lalu tertawa.
Setelah Suzan menutup video call-nya, Sunday turun untuk makan siang. Kalau sedang sendiri begini makan di cafetaria sepertinya lebih praktis. Lita dan teman timnya pasti sudah makan sup buntut di restoran seberang jalan depan Font. Tapi Sunday terlalu malas berjalan sendirian walau hanya untuk menyusul ke sana.
"Sunday tunggu..." Panggil seseorang. Sunday mengenali suara itu dan menoleh.
"Mau ke cafetaria?" Gina agak terengah saat sudah ada di depan Sunday.
"Iya."
"Ayok." Gina merangkul lengan Sunday. Gina termasuk orang yang gampang akrab. Walau baru mengenal Sunday tapi ia sudah merasa dekat.
"Yang kemarin itu pacarmu?" Tanya Gina.
"Pacar? Yang mana?" Sunday menautkan alisnya.
"Yang menjemputmu kemarin sore."
"Oh itu. Dari mana kau tahu?"
"Aku melihatmu."
"Dia hanya teman."
"Benarkah?"
__ADS_1
"Ya."
"Meskipun tidak punya pacar tapi kau ada yang menjemput saat lelah pulang kerja. Ahh, senangnya." Gina sekarang malah menyandarkan kepalanya ke pundak Sunday. Walaupun Sunday lebih pendek darinya tapi tetap saja melakukan itu dan berjalan agak miring.
"Kau juga bisa meminta jemput pacarmu kan. Tinggal minta saja padanya."
"Aku juga tidak punya pacar." Gina cemberut. "Aku hanya punya seseorang yang ku suka."
"Seseorang yang kau suka?"
"Iya. Aku menyukainya sejak lama tapi aku tidak tahu apa dia menyukaiku atau tidak."
Mereka sekarang sudah sampai cafetaria. Sunday memesan menu favoritnya di sini. Bakso jamur. Suzan tidak suka bakso jadi ia memesan nasi goreng ayam. Sambil menunggu pesanan mereka duduk di meja dekat kasir.
"Tanyakan saja padanya." Sunday menimpali lalu ia cekikikan sendiri.
"Coba aku seberani itu." Gina cemberut dan menopang dagunya.
"Pakai saja dalih emansipasi wanita."
"Apa itu dibolehkan?"
"Kan emansipasi, jadi apa yang pria lakukan, wanita juga boleh saja melakukannya." Sunday memprovokasi.
"Apa itu ide bagus?" Gina memandangnya dengan pandangan polos. Lalu Sunday tertawa. Gina malah jadi bingung.
"Gina, coba kau periksa seberapa perhatian dia denganmu. Seberapa sering dia menghubungimu dan seberapa banyak waktu yang ia luangkan untukmu. Dari situ kau akan tahu apa dia menyukaimu atau tidak."
"Semua sudah ku lakukan tapi dia sangat sulit ditebak."
"Makanya berpacaranlah dengan orang, jangan dengan TTS. Kau jadi kesulitan menebak kan."
"Ihhh... kau ini." Gina memukul bahu Sunday yang lalu mengaduh. Mereka memang mulai seakrab itu. Mulai bercanda dan saling curhat saat ada kesempatan.
"Aku sangat menyukainya. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa sangat menyukainya." Sunday jadi tersenyum melihat teman barunya yang sedang kasmaran itu.
"Sudah ku bilang katakan saja padanya daripada kau gelisah seperti ini." Sunday menerima baksonya dan langsung membumbui ala dirinya. Pesanan Gina juga sudah sampai di depannya.
"Baiklah, kalau bertemu dengannya aku akan mengatakannya."
"Bagus, laksanakan..." Sunday berusaha menyemangati.
"Makan siang di sini saja?" Ada suara bass seorang pria dibelakang Sunday. Sunday menoleh.
"Iya Om, sedang malas makan di luar." Jawab Gina. Sunday hanya menyungggingkan senyum kepada Om Rudi dan tidak mau terlihat akrab agar Gina tidak curiga bahwa ia memiliki hubungan dengan Om Rudi.
"Om makan siang juga?" Lanjut Gina.
"Tidak, aku hanya membeli espresso ini." Menunjukkan gelas plastik yang dipegangnya.
"Baiklah, aku pergi dulu."
"Silakan Om." Jawab Gina lagi. Sunday sekali lagi hanya mengulas senyum.
"Kau ini bertemu Papamu tapi seperti tidak saling kenal." Sunday terperanjat. Sendok yang dipegangnya jatuh ke dalam mangkuk. Dia sudah bersandiwara sebaik mungkin tapi ternyata...
"Jadi kau tahu tentang itu?"
"Hmm..." Gina menyuapkan makanannya.
"Darimana kau tahu?"
"Dari Om Rudi." Gina masih mengunyah dengan santai. Berbanding terbalik dengan Sunday yang tampak gelisah.
"Sudahlah, aku juga tidak akan mengatakan kepada siapapun. Om Rudi bilang kau tidak mau dianggap bekerja disini karena hubungan relasi. Iya kan."
"Iya. Nepotisme Bagiku sangat memalukan kalau orang-orang beranggapan aku diterima bekerja di sini karena ayah tiriku sebagai project sponsor."
"Kenapa malu? Seluruh orang dikantor ini tahu kalau aku juga bekerja di sini karena relasi dan aku tidak malu sama sekali." Ini saat yang tepat untuk Sunday tahu siapa sebenarnya Gina.
"Lagipula kau diterima karena kemampuanmu hingga lolos tes jadi apa yang salah bekerja dengan keluarga disini."
"Relasi? Kau relasi siapa?" Tanya Sunday hati-hati.
"Papaku, Om Sasono dan Om Rudi adalah teman baik. Jadi mereka sudah saling mengenal satu sama lain sejak lama. Sebenarnya Papaku memiliki perusahaan manufaktur yang memproduksi alat-alat rumah tangga. Seperti alat makan yang kita gunakan ini produksi pabrik Papa. Panci, penggorengan dan semua yang ada di cafetaria ini adalah produksinya juga.
"Ooo... Tapi kenapa kau tidak bekerja di perusahaan papamu saja?" Sunday cukup penasaran dengan hal itu.
"Kurang menantang. Rasanya lebih nikmat jika menerima gaji karena aku bekerja, bukan karena aku mengelola."
"Kau ini aneh-aneh saja. Bukannya lebih baik bekerja di tempat sendiri."
"Sudah kubilang kan, kurang menantang." Gina mempertegas.
Selagi berdebat tiba-tiba ponsel Gina bergetar menyuarakan dering ringtone dari whatsapp.
"Ya Tuhan, panjang umur. Dia menelepon." Wajah Gina berubah sangat cerah demi telepon itu. Gina menunjukkan layar ponsel di hadapan Sunday. Seketika Sunday tersedak bakso pedasnya hingga terbatuk-batuk. Gina menyodorkan minum walau sedang mengangkat telepon. Kemudian Sunday menjauh agar Gina tidak terganggu pada suara batuknya.
Apakah ini hanya kebetulan atau memang benar-benar kebetulan karena semua kembali berputar lagi ke dalam hidup Sunday. Semua orang yang sudah lama tidak ia temui tiba-tiba satu persatu muncul.
__ADS_1
Sekarang batuk-batuk Sunday sudah reda tapi badannya terasa lemas karena foto profil whatsapp yang Gina tunjukkan itu. Bagaimana mungkin dunia yang seluas ini jadi seperti mengecil bagi Sunday.