
Jika harus mengatakan siapa orang paling bodoh di dunia saat ini, Sunday dengan lantang akan mengatakan adalah DIRINYA. Bagaimana bisa Faris mempermainkannya dan dia tidak tahu tapi bahkan mendukung segala instruksinya.
"Benar-benar bodoh. Kau bodoh sekali, Sunday. Kau bodooooh..." Sunday berteriak di jalanan yang sepi. Ia hanya ingin meluapkan kekesalannya. Kesal pada Faris yang memperdayanya. Kesal pada dirinya yang bodoh sekali.
Saat tiba di depan rumahnya, pintu pagar terbuka. Sepertinya ada tamu. Sebuah mobil memang terparkir di depan pagar. Sunday bertanya-tanya siapa pemilik Pajero Sport warna putih itu. Setelah memarkir motornya, Sunday memasuki rumah dengan langkah pelan. Ia tahu mamanya sedang berbincang dengan seseorang. Tepatnya laki-laki. Terdengar dari suaranya.
"Sunday... kemarilah..." Mamanya melambaikan tangan memberinya isyarat untuk mendekat. Didepannya duduk seorang laki-laki berpostur tinggi agak gemuk tapi berkulit bersih. Sunday tidak mengenal pria itu.
"Ini om Rudi, teman kuliah Mama dulu." Sunday berinisiatif menjabat tangannya dengan mengulurkan tangan.
"Kamu benar putri Ana?" Tanya Om Rudi dengan senyum lebarnya.
"Iya, Om." Sunday mengernyitkan kening seraya tersenyum kecut.
"Bagaimana mungkin kamu jauh lebih cantik dari Mamamu." Candanya kemudian.
"Mana mungkin? Sudah jelas wajah cantiknya mewarisi wajahku." Mama Sunday mencak-mencak.
"Mamamu ini tidak pernah berubah. Dari dulu sampai sekarang sukanya narsis." Sunday tertawa receh menyaksikan dua orang jadul itu.
"Baiklah, aku masuk dulu ya, Om. Silakan dilanjutkan ngobrolnya."
"Oh iya, aku juga harus pulang."
"Kenapa tergesa, Om?"
"Hari sudah mulai malam. Mata tua suka kesusahan kalau menyetir saat gelap begini."
"Sadar juga kalau sudah tua." Cibir Mama Sunday.
"Lebih baik sadar diri daripada tidak tahu diri."
"Hei, siapa yang tidak tahu diri?"
"Entahlah..." Om Rudi memasang wajah pura-pura tidak tahu. Padahal yang dimaksudnya adalah Mama Sunday. Dari situ Sunday tahu seakrab apa Mamanya dan Om Rudi.
"Ya sudah Sunday, aku pulang dulu. Oh iya An, jangan lupa kirimkan padaku nomor teman-teman yang lain. Aku tunggu."
"Siapp, Pak." Mama Ana memberi hormat ala prajurit kepada Rudi. Dan dibalas senyum olehnya.
Om Rudi sudah meninggalkan rumahnya. Saatnya Sunday mengintrogasi mamanya. Kebiasaan Sunday jika ada pria yang datang bertamu.
"Jadi, siapa om Rudi itu, Ma?"
"Bukankah sudah ku bilang dia teman kuliah Mama."
"Iya, tapi mama lulus kuliah sudah sangat lama sekali."
"Lalu memangnya kenapa kalau kita masih berteman."
"Bukan itu yang ingin aku tahu." Sunday mengikuti mamanya yang memasuki ruang tengah.
"Lalu apa?"
"Bagaimana kalian bisa bersama lagi?"
"Oh, kemarin mama bertemu dengannya di sekolah. Kebetulan ia seorang project manager di perusahaan software yang membuat sistem informasi di sekolah."
"Lalu mama mengundangnya ke rumah?" Goda Sunday.
"Apa dia seorang single?"
"Hei... apa maksudmu Mama mengundangnya. Dia sendiri yang ingin datang. Kita dulu teman karib jadi apa salahnya jika datang ke rumah."
"Tidak ada yang salah, tapi akan sangat bagus jika om Rudi seorang duda atau bahkan perjaka." Sunday cekikikan. Ya, dia tidak boleh terlihat sedih. Masalahnya hanya dengan Faris, jadi dengan orang lain dia tidak boleh terlihat menyedihkan.
__ADS_1
"Mama tidak menanyakan itu kepadanya. Biar saja dia single, double ato triple."
"Ahh Mama... dia terlihat kece."
"Siapa teman Mama yang tidak kece. Semua teman priaku kau bilang kece."
"Masa Mama tidak tahu. Aku kan ingin Mama berpacaran dengan salah satu dari mereka."
"Mama tidak ingin. Mama suka jadi jomblo. I am single and very happy." Mama Sunday malah bernyanyi menirukan sebuah lagu.
Begitulah mamanya. Selalu tidak mau tiap Sunday merayu-rayu untuk menikah lagi. Merasa tidak dihiraukan mamanya yang mulai menonton sinetron, Sunday memasuki kamarnya. Meletakkan tas slempangnya dan duduk di kursi meja belajar. Sunday menghembuskan nafas berat mengingat kejadian tadi sore.
Kenapa rasanya seperti ini menjadi orang bodoh. Batin Sunday sambil menelungkupkan wajahnya di meja belajar.
πΈπΈπΈ
"Sun, sudah selesai menginstalasinya?" Tanya Beni dimejanya. Sunday tidak merespon. Dia masih bertopang dagu.
"Sun... Sunday..." Ulang Beni.
"Oh, iya Ris..."
"Ris?" Beni mengulang kata Sunday memastikan pendengarannya.
"Oh maksudku, iya Kak." Sunday mengutuk dirinya kenapa yang keluar adalah sapaan nama Faris. Dia pasti sudah dikutuk untuk mengingat nama itu terus. Sejak hari itu Sunday memang mengabaikan pesan dan panggilan dari Faris. Bahkan kedatangan Faris kerumahnya pun ditolaknya. Ia harus membujuk mamanya untuk berbohong bahwa dia sedang tidak ada di rumah. Saat ke kampus pun ia menghindarinya. Membiarkannya dan tidak menanggapi penjelasannya. Bagi Sunday, sudah cukup Faris membohongi sekaligus mempermainkannya.
"Sudah selesai instalasinya?"
"Oh ini..." Ternyata Sunday belum mengklik tombol next untuk melengkapi instalasinya.
"Belum, kak. Sebentar lagi." Baru ia memencet tombol next dengan mouse ditangannya.
"Kenapa lama sekali ya?"
"Aku belum menombol next untuk kelengkapan instalasinya." Sunday terkekeh.
Proses instalasi selesai. Sunday pamit kepada Beni untuk pulang. Sudah pukul empat sore lebih.
Di lorong menuju pintu keluar fakultas teknik Sunday melihat Victor berjalan ke arahnya. Jujur Sunday selalu tidak nyaman bertemu Victor. Ia merasa punya hutang setiap berjumpa dengannya. Setiap Sunday ingin mengatakan jawabannya Victor selalu menghindar dan menundanya dengan dalih Sunday tidak boleh terburu-buru menjawab. Dia masih akan menunggu Sunday. Itu membuatnya seperti punya beban tersendiri.
Victor sudah semakin dekat. Kegelisahan Sunday datang lagi.
"Hai Sun."
"Iya Pak."
"Sudah mau pulang?"
"Iya."
"Mau pulang bersama?"
"Saya membawa motor, Pak." Bahasa Sunday selalu menjadi formal setiap bertemu Victor sejak ia menjadi dosennya.
"Ohh... sayang sekali. Padahal aku sedang ingin makan nasi goreng di dekat rumahmu."
"Oh silakan Pak, jam segini sudah mulai buka sepertinya."
"Tapi aku ingin ke sana bersamamu."
"Kenapa? Bapak kan sudah tahu tempatnya."
"Agar kita bisa mengobrol akrab seperti dulu lagi. Antara Sunday dan Victor yang seorang laboran, bukan dosen." Lalu Victor tertawa. Sunday ikut tersenyum kecut.
"Pak Victor ada-ada saja." Sunday melempar senyumnya lagi.
__ADS_1
"Oh iya, aku harus pulang, Pak. Permisi..."
"Aku juga mau pulang." Victor mensejajari langkah Sunday. Dalam perjalanan menuju tempat parkir Sunday sempat melirik ke arah Victor. Dengan kemeja polos warna biru muda dan lengan panjang yang dilipat sembarangan sampai siku, Victor terlihat berbeda. Wajahnya yang terbiasa pendiam membuat kharismanya sedikit terbentuk. Dan ia dengar bahwa sejak menjadi dosen, Victor menjadi populer dikalangan mahasiswa terutama para mahasiswa baru.
Terbukti sore ini mereka sempat berpapasan dengan dua mahasiswa yang wajahnya masih terlihat imut dan manis menyapa Victor dengan pandangan kagum. Setelah ia berlalu pun sempat mendengar kedua mahasiswa itu berbisik satu sama lain.
"Kau tahu, Pak Victor ini mirip Nam Joo Hyuk ya."
"Iya, aku rasa begitu."
Sunday merasa geli dan ingin tertawa mendengarkan itu. Ia yakin Victor juga pasti mendengarnya dengan volume bisik-bisik sekeras itu.
Suzan bilang Victor mirip Gong Yo tapi kedua mahasiswa itu bilang ia lebih mirip Nam Joo Hyuk. Tapi menurut Sunday mata kedua mahasiswa barusan sepertinya lebih sehat. Benar kalau dipandang Victor memang agak mirip Nam Joo Hyuk. Apa itu karena potongan rambutnya yang mirip Nam Joo Hyuk saat berperan sebagai dewa Habaek di film The Bride Of Habaek sehingga Victor agak mirip dengannya. Gara-gara berteman dengan Suzan, Sunday jadi tahu beberapa aktor korea. Tapi kalau dilihat-lihat wajah Victor bisa dikategorikan tampan. Jadi pantas saja banyak mahasiswa yang mulai memperhitungkannya saat ia menjadi dosen karena lebih sering bertatap muka dengan mereka.
Sunday masih berjalan disebelah Victor saat kaki kirinya terpeleset lantai basah teras depan loby fakultas sisa hujan tadi siang. Tapi cepat tanggap Victor meraih Sunday dan menjaga keseimbangannya agar tidak terjatuh. Dengan begitu, mau tidak mau Sunday harus berada dalam dekapan Victor. Menyadari itu, buru-buru Sunday melepaskan dirinya dari pelukan Victor.
"Maaf..." Ucap Sunday sedikit gugup.
"Maaf untuk apa?"
"Oh, maksudku terima kasih sudah membantuku untuk tidak jatuh."
"It's oke." Victor tersenyum pada Sunday. Lalu mereka melanjutkan berjalan menuju tempat parkir. Tidak jauh dari tempat Sunday berjalan seseorang memanggilnya. Faris.
Entah ini kedatangan Faris yang keberapa ke kampusnya, sebanyak itu pula Sunday tak menghiraukan. Tapi kali ini ia harus membuat Faris berhenti melakukan itu.
"Ada apa lagi?"
"Kita harus bicara."
"Membicarakan apa lagi? Kita sudah tidak perlu membicarakan apapun."
"Dengarkan aku, Sun. Aku mohon. Aku tidak pernah bermaksud membuatmu marah." Entah ini penjelasan Faris yang keberapa kali. Ia benar-benar ingin membuat Sunday percaya padanya.
"Aku sudah tidak butuh penjelasanmu yang masih tentang itu-itu saja. Kau tidak bisa memahami bagaimana rasanya menjadi aku."
"Aku tahu. Aku sangat tahu bagaimana perasaanmu. Itulah kenapa aku ingin meminta waktumu untuk menjelaskan banyak hal padamu."
"Sudah tidak perlu. Aku memang mudah kau bodohi, tapi sekarang aku sudah tidak sebodoh itu lagi. Jadi, mari kita tidak bertemu lagi. Aku bukan gadis yang cocok untuk menjadi teman apalagi pacarmu. Karena aku sudah memiliki pacar." Kata Sunday dan itu membuat Faris serta Victor yang sedari tadi menyaksikan mereka berdebat jadi kaget.
Pacar? Siapa? Victor yang mendengar itu cukup penasaran. Dulu memang ia pikir Sunday berpacaran dengan Faris. Tapi kemudian Sunday bilang Faris hanya seorang teman. Lalu sekarang dia bilang kepada Faris bahwa dia memiliki pacar. Victor tidak menyangka jika Sunday sepopuler itu. Bertambah lagi saingannya.
"Siapa?"
"Kau tidak perlu tahu."
"Aku harus tahu pria seperti apa yang menjadi pacarmu."
"Kenapa? Mau membandingkan dengan dirimu? Yang jelas dia bukan orang yang licik sepertimu." Mata Sunday mulai menggenangkan air.
"Siapa orangnya?" Faris tampak marah sekarang.
"Dia." Tunjuk Sunday kepada Victor yang berdiri tidak jauh dari tempat mereka.
Victor yang sejak tadi menunggu Sunday terkesiap mendengar Sunday mengatakan bahwa dia adalah pacar Sunday.
Apa aku tidak salah dengar? Sunday bilang aku pacarnya? Apa ini adalah jawaban yang selama ini ingin ia katakan kepadaku sejak kemarin? Apa benar dia menerima cintaku? Wajah Victor mendadak sumringah.
πΈπΈπΈ
**Selamat malam Kakak...
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H. Kalau aku punya salah entah UPnya lama atau UPnya ga bisa banyak, atau ceritanya kurang menarik atau... apa lagi ya? Mmm... π€ pokonya kalau novelku tidak sesuai harapan Kakak Kakak semua, mohon dimaafin ya π
Oh iya, jangan lupa jaga kesehatan dan usahakan berlebaran #dirumahaja. Manfaatkan teknologi untuk saling bersilaturahmi. Tetap jaga jarak aman dengan sesama dan tetap baca kelanjutan ceritaku terus ya. Dan lagi jangan lupa tinggalkan π serta β€ π
__ADS_1
Ehh, sebagai parcel lebaran, nih aku kirim fotonya Victor sebagai pengantar tidur Kakak semua biar malam ini tidurnya nyenyak terus besok bangun pagi buat sholat ied π**