
"Dia lucu sekali." Sunday memandang dengan sangat gemas bayi mungil di dalam incubator di ruang bayi.
"Kenapa semua bayi selalu lucu?" Faris merasa Sunday lebih lucu saat bertingkah imut begitu. Pandangan mata Sunday berbinar mengagumi bayi mungil yang dilahirkan oleh Rima.
"Lebih lucu mana dibandingkan denganku?" Celetuk Faris.
"Kau? Yang benar saja. Satu-satunya kelucuan yang bisa terlihat darimu adalah saat menanyakan itu." Sunday tertawa.
"Kau membandingkan dirimu dengan bayi Kak Rima? Tentu saja lebih lucu dia dari sudut mana saja."
"Oh ya? Kalau aku memasang wajah begini bagaimana?" Faris memasang wajah sok imut dengan ekspresi duck face.
"Jangan lakukan itu. Itu sama sekali tidak lucu. Itu aneh sekali padamu."
"Benarkah? Tapi kau sering melakukan itu padaku."
"Oh, jadi kau menjiplakku?" Sunday melotot.
"Tidak juga, aku hanya mencoba apa akan semenggemaskan dirimu juga saat aku berpose seperti itu."
"Hei, wajahmu tidak cocok untuk pose itu. Kau lebih menggemaskan kalau begini." Sunday memelototkan matanya lalu menarik ujung hidungnya ke atas hingga lubang hidungnya seperti jadi membesar dan memonyongkan mulutnya.
"Itu jelek sekali. Mana mungkin aku bisa tampan dengan wajah semacam itu." Faris menyundul kepala Sunday. Sunday tertawa lalu memandang bayi mungil itu lagi.
"Ahh, aku meleleh melihatnya. Dia imut sekali. Bolehkan aku menggunakannya sebagai gantungan kunci? Jadi aku bisa membawanya kemana-mana." Faris tersenyum mendengar apa yang diucapkan Sunday.
"Aku saja, aku bisa kau bawa kemanapun kau mau."
"Kalau kau, aku tidak mau. Terlalu berat." Faris tersenyum kecut.
"Ayo kita pulang." Faris menggandeng tangan Sunday dan menariknya untuk beranjak dari tempat itu.
"Aku masih ingin memandang bayi imut kak Rima."
"Ayo kita menikah lalu kubuatkan yang tidak kalah lucunya dengan itu."
"Tidak mau, aku mau sekarang."
"Benarkah?" Wajah Faris sumringah.
"Apa yang kau fikirkan?" Sunday memukul bahunya.
"Ayo pulang." Ganti Sunday yang menggandeng Faris. Memeluk lengannya seperti Gina biasa melakukannya. Faris sedikit merasa aneh.
"Apa seenak itu memeluk lenganmu?" Sunday bergumam pada dirinya sendiri. Faris jadi tahu kenapa Sunday melakukannya.
"Aku suka digandeng olehmu seperti ini." Ujar Faris sambil tersenyum melirik Sunday.
"Apa memang seenak itu?" Sunday mendongak menatap wajah Faris dengan masih berjalan menuju pintu keluar rumah sakit.
"Rasanya biasa saja kalau Gina yang melakukannya. Tapi itu jadi lain saat denganmu."
"Kau pandai sekali merayuku." Sunday pura-pura merajuk padahal hatinya senang.
"Serius, sensasinya sangat berbeda."
"Benarkah?"
"Ya."
"Kalau begitu apa aku harus selalu melakukan ini padamu?"
"Lakukan saja, kau pacarku. Kau boleh melakukan segala hal padaku."
"Apa aku juga boleh menggigitmu seperti ini?" Sunday menggigit lengan Faris. Faris mengadug kesakitan.
__ADS_1
"Memangnya kau vampir menggigitku seperti itu." Faris mengelus bahunya.
"Aku lapar. Ayo kita makan."
"Baiklah." Mereka keluar dari rumah sakit menuju tempat parkir. Sejak tadi siang mereka memang tidak makan apapun saat menunggu proses persalinan Rima. Dan sekarang keduanya baru sadar ternyata hari sudah hampir malam.
Mobil Faris berhenti di pelataran Font. Mengantar Sunday yang harus mengambil tas dan ponsel yang tertinggal di mejanya tadi pagi.
"Pulanglah, aku akan pulang sendiri nanti."
"Aku akan menunggumu."
"Tidak usah. Mungkin aku juga akan sedikit menyelesaikan pekerjaanku dulu."
"Jangan bodoh. Ini sudah malam. Kau lupa kalau aku melarangmu menjadi pegawai teladan saat bersamaku."
"Kau sungguh benar-benar melakukan itu padaku? Kau ini keterlaluan." Sunday tersenyum kecut.
"Tentu saja, pada akhirnya aku akan memecatmu. Jadi untuk apa bekerja keras."
"Baiklah... terserah apa maumu. Aku masuk dulu." Sunday turun dari mobil Faris dan melangkah memasuki Font.
Font malam hari hanya meninggalkan beberapa orang saja. Hanya mereka yang sedang lembur mengerjakan project. Tim Sunday sudah tidak tersisa disana. Ruangannya sepi. Ia ambil tasnya. Tapi ponselnya tidak ada. Ia mencari dibawah map-map dan diantara tumpukan buku-buku pun tidak ada. Lalu dibuka laci mejanya dan ternyata ponselnya ada di sana. Pasti Lita yang menyimpannya. Setelah itu ia kembali keluar. Tapi tampak Faris masih menunggunya. Terlihat dari mobilnya yang masih terparkir di depan lobi.
"Kenapa kau menungguku?" Sunday menghampiri mobil Faris.
"Sudah ku bilang aku akan menunggumu."
"Nanti kalau terlihat orang bagaimana?" Sunday melihat kesekitarnya.
"Masuklah, ku beri tahu agar tidak terlihat orang." Sunday menurut dan memasuki mobil Faris.
"Tutuplah pintunya." Setelah itu Faris mengendarai mobilnya keluar dari pelataran Font. Faris berkendara menuju rumahnya. Sunday menunggu Faris memberi tahu cara agar orang lain tidak bisa melihat mereka.
"Lalu, bagaimana caranya?"
"Ahh, kau terlalu pandai untuk seorang amatiran sepertiku." Sunday tertawa. Faris menyungging senyum penuh kemenangan karena telah berhasil mengajaknya pulang juga akhirnya.
Mobil Faris melaju pelan memasuki jalan menuju rumahnya. Tapi oleh sorot lampu mobil terlihat Gina berdiri bersandar pada body mobilnya.
"Itu Gina. Aku harus bagaimana? Dia pasti berfikir yang macam-macam tentang kita." Sunday panik. Faris keluar dari mobil, Sunday mengikuti.
"Kalian pulang bersama?" Wajah Gina tampak heran memandang Sunday keluar dari dalam mobil Faris.
"Ya, kami tadi dari rumah sakit menemani kak Rima." Jawab Sunday dengan perasaan tidak enak.
"Oh iya, itulah kenapa aku kemari. Aku ingin menanyalan tentang itu pada Faris. Rima baik-baik saja, Ris?" Tanya Gina sambil tersenyum. Wajah cantiknya selalu terlihat sempurna dengan senyum itu.
"Dia baik, bayinya juga sangat sehat walaupun terlahir premature." Jawab Faris.
"Mmm... Jadi, kalian memang hanya pulang bersama kan?"
"Tentu saja." Sunday menjawab cepat.
"Tidak, kami juga makan malam bersama. Sudah lama aku ingin pulang atau berangkat bekerja bersama Sunday." Jelas Faris. Sunday gelisah dan memberinya kode dengan matanya agar tidak melanjutkan kata-katanya.
"Kenapa?" Tanya Gina pura-pura tidak memahami maksud Faris.
"Karena kami berpacaran."
"Ris!" Sunday meneriaki Faris.
"Gina, kau tahu kan aku hanya akan selalu menjadi sahabatmu?" Faris mendekati Gina.
"Ya, tentu saja. Kita sudah lama bersahabat dan hingga saat ini pun kita masih tetap bersahabat."
__ADS_1
"Aku harap kau mengerti."
"Pasti. Tapi sejak kapan kalian bersama?" Tanya Gina biasa saja. Melihatnya seperti itu Faris merasa aneh karena Gina tidak menunjukkan ekspresi kecewa sama sekali pada kejujurannya.
"Belum lama juga." Jawab Faris. Sunday masih belum bisa berkata apa-apa. Ia hanya menyimak pembicaraan Faris dan Gina.
"Baiklah, selamat untuk kalian." Gina menyelamati sambil tersenyum.
"Kalau begitu aku pulang dulu." Gina membuka pintu mobilnya.
"Oh iya, bayi Rima laki-laki atau perempuan?"
"Perempuan." Jawab Faris.
"Ya sudah, aku pamit." Gina memasuki mobilnya. Setelah kepergian Gina, Sunday menghampiri Faris.
"Kau pasti sudah gila mengatakan semua itu padanya."
"Ya, aku bahkan hampir gila karena sudah lama ingin sekali mengatakan semua itu." Faris memandang Sunday.
"Kau tahu, cukup melelahkan berpura-pura tidak terjadi apa-apa saat bersamamu di depan Gina. Aku ingin memperlakukanmu sebagai pacarku kapanpun dan dimanapun." Faris menghela nafas berat. "Lagipula dengan begini kita juga tidak perlu lagi melanjutkan mencomblangkan Gina dengan Victor. Aku merasa jadi sangat egois saat merekayasa hubungan mereka."
"Ya, itu ada bagusnya juga. Tapi bagaimana kalau dia melakukan hal bodoh lagi? Kau mau bertanggung jawab?"
"Aku akan mempertanggungjawabkan apapun jika itu memang berasal dari kesalahan yang sudah ku lakukan. Tapi jika tidak, aku tidak harus bertanggung jawab apalagi merasa bersalah."
"Faris..." Sunday tidak percaya Faris mengatakan itu.
Faris sudah berusaha sebaik mungkin untuk tidak menyakiti siapapun. Tapi pada kenyataanya semua itu pasti terjadi. Pasti akan ada yang tersakiti bila terjebak dalam sebuah hubungan bersegitiga. Dan dalam hal ini Faris tidak ingin Sunday menjadi orang yang tersakiti itu. Ia tidak pernah bermaksud jahat kepada Gina tapi tidak mungkin juga selamanya ia menyembunyikan hubungannya bersama Sunday. Ia bahkan tidak bisa menggandeng Sunday di tempat ramai. Ia tidak bisa pergi dan pulang bersama saat bekerja. Ia tidak bisa menikmati hubungannya dengan Sunday. Sebuah hubungan yang seharusnya manis, kenapa harus menjadi sebuah rahasia. Yang ketika bisa bersama mereka harus mencuri-curi kesempatan.
"Tidak apa-apa. Kau lihat sendiri kan. Gina tampak baik-baik saja dan bisa menerima hubungan kita. Dia tidak akan berbuat nekat. Dia sudah pernah merasakan sakitnya over dosis jadi dia tidak akan mengulanginya lagi."
"Darimana kau tahu?"
"Aku sudah cukup mengenalnya selama ini." Jelas Faris dan Sunday mengangguk mengerti.
"Jadi, kau mau pulang ke rumahku?" Tawar Faris.
"Tidak, aku mau pulang ke kos." Jawab Sunday lemah. Ia merasa ingin segera tidur dan berharap malam tidak lekas berganti pagi.
"Tidurlah denganku." Apa yang dikatakan Faris membuat Sunday menatapnya tajam.
"Kau sudah tahu kan perbedaan tidur bersama dan melek bersama." Faris terkekeh.
"Oke baiklah, mari kita tidur dan melek bersama." Sunday menggandeng tangan Faris dan berjalan ke arah rumahnya. Faris sedikit bingung antara percaya dan tidak.
"Tapi di mimpimu saja." Setelah itu Sunday melepas tangan Faris lalu berbalik dan berlari ke arah kosnya. Faris tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal memandang Sunday yang melambaikan tangan ke arahnya sambil berjalan mundur.
Gina menyusuri jalan raya denga suara audio keras di dalam mobilnya. Mengalun sebuah lagu rock dengan volume maksimal. Kemarahannya memuncak. Pengakuan Faris membuatnya tidak bisa berpura-pura tidak tahu lagi tentang hubungannya dengan Sunday. Padahal ia menggunakan itu sebagai cara untuk tetap mendekati Faris dan mengacaukan hati Sunday sehingga ia merasa tersakiti. Tapi sekarang semua itu akan menjadi sulit baginya. Ia harus memikirkan lagi cara untuk mencemari hubungan mereka.
"Hanya aku yang harus bersama Faris. Tidak wanita manampun." Gumamnya masih dengan memegang setir dan menginjak pedal gas lebih dalam.
🌸🌸🌸
"Jadi, kau mau menjelaskan kepada kami apa yang terjadi?" Sunday seperti seorang tersangka dikerumuni seperti itu. Lita, Boby, Mario dan Pak Dedi.
"Atau aku harus menginterogasimu diatas kursi listrik?" Lita sok mengancam.
"Kau ini bicara apa?" Sunday salah tingkah baru saja datang langsung dicecar pertanyaan semacam itu.
"Kenapa Pak Faris menyeretmu keluar? Apa kalian memang seakrab itu?" Boby menimpali.
"Kalian hanya salah faham. Itu... itu... itu karena..."
"Hei, apa yang kalian lakukan?" Terdengar suara seseorang dari arah pintu. Semua orang menoleh. Sunday yang sangat mengenal suara Faris akhirnya hanya memejamkan mata dan mengatupkan bibirnya.
__ADS_1
"Pak Faris..." Gumam mereka hampir bersamaan.