Nona Hari Minggu

Nona Hari Minggu
Candid Tapi Manis


__ADS_3

"Dia adalah..." Sunday tampak menyimak dengan saksama agar tidak melewatkan apapun.


"Ahh, belum waktunya aku memberitahumu."


"Yaaahh... Dasar pelit." Sunday kecewa.


Faris sampai ingin tertawa melihat Sunday yang cemberut duduk di sampingnya sambil melihat pepohonan ditepi jalan sepanjang perjalanan mereka. Bagaimana mungkin ada gadis sebodoh dia. Jelas-jelas Faris sering sekali mengirim sinyal cinta padanya tapi Sunday tidak pernah memahami itu.


Dasar tidak peka. Batin Faris.


Dan mobil Faris melaju lebih cepat dari sebelumnya karena ia harus mengejar waktu agar Sunday tidak terlambat kuliah setelah ini. Bagaimanapun juga karena pergi dengannya dan diare membuat jadwal Sunday sedikit berantakan.


Sunday sudah tertidur sekarang. Nafasnya yang berhembus teratur menandakan tidurnya sangat lelap. Benar-benar nyaman baginya tidur didalam mobil selama perjalanan. Mungkin baginya seolah tertidur dalam ayunan. Karena sedikit guncangan semakin membuat lelap tidurnya. Faris sudah terbiasa dengan kebiasaan Sunday ini.


Kurang dari 6 jam perjalanan, Faris sudah sampai di depan rumah Sunday. Sunday masih tidur. Jika saja setelah ini tidak ada acara kuliah pasti Faris akan seperti biasa membiarkan Sunday tidur hingga terbangun dengan sendirinya.


"Sun... Sunday..." Faris menepuk pundak Sunday pelan berusaha membangunkan. Sunday mulai menunjukkan pergerakan. Mengeliat perlahan, mengerjapkan matanya lalu menguap.


"Sudah sampai ya?" Suara Sunday serak karena bangun tidur.


"Iya."


"Aku masih mengantuk."


"Tidurlah lagi."


"Aku harus ke kampus."


"Kalau begitu cepatlah bangun. Bagaimana bisa kau tidur terus sepanjang perjalanan." Gumam Faris.


"Aku benar-benar jadi sopirmu."


"Bukankah dilarang berbicara dengan sopir? Jadi lebih baik aku tidur daripada mengajakmu bicara." Kilah Sunday.


"Kau ini, katakan saja kalau kau memang hobi tidur." Tuduh Faris. Tapi Sunday malah terkekeh seperti mengakui memang seperti itulah dirinya.


"Baiklah, terima kasih." Sunday membuka pintu mobil.


"Hei terbalik."


"Apa yang terbalik?"Sunday mengerutkan kening mengurungkan niatnya turun dari mobil Faris.


"Aku yang berterima kasih padamu. Sudah menemaniku beberapa hari ini."


"Oh itu... santai saja. Kita teman, jadi itu bukan apa-apa."


"Tapi berkat dirimu aku terselamatkan dari berbagai introgasi para tetua."


"Kalau begitu kau harus membalas budi baikku." Sunday tersenyum licik.


"Kau mau apa dariku?" Faris seperti tertantang untuk menyanggupi permintaan Sunday.


"Memangnya kau mau?"


"Ya, karena bagaimanapun juga kau sudah membantuku."


"Yakin kau bisa?"

__ADS_1


"Memangnya apa yang kau minta?" Faris mulai penasaran.


"Belum ku fikirkan. Besok saja." Lalu Sunday turun dari mobil.


"Hmmm..." Sudah terlanjur penasaran, Sunday malah menggantungnya.


Sunday tertawa kecil. Setelah melambaikan tangan dan berpamitan, Faris melajukan lagi mobilnya. Sunday bergegas masuk ke dalam rumah. Menukar bajunya, mencuci muka, mengambil tas ransel berisi laptopnya dan mengeluarkan motor dan memanasinya. Di meja makan ada beberapa masakan yang sudah dimasak mamanya sebelum berangkat ke sekolah tadi, tapi Sunday memilih dua lembar roti dan selai coklat sebagai sarapannya pagi menuju siang ini.


Faris sampai rumahnya. Tampak maminya sedang menonton acara TV.


"Bagaimana keadaan Sunday?"


"Baik, Mi."


"Sudah sembuh dari diarenya?"


"Sudah."


"Kasihan dia."


"Iya, kasihan."


Kalau diingat-ingat memang Sunday kasihan. Diajaknya ke pernikahan Dian. Disana harus menginap. Perjalanannya lama. Kembali harus terburu-buru serta setelahnya harus langsung ke kampus untuk kuliah dan magang. Dan, yang paling kasihan adalah memaksanya menjadi pacar pura-puranya. Sering memberinya aturan-aturan yang menguntungkan dirinya tapi tidak untuk Sunday. Dan banyak lagi hal-hal yang dilakukan Faris kepada Sunday. Tapi memang Sunday sangat setia kawan sehingga membantunya selalu ia lakukan dengan sepenuh hati. Terbukti ia tidak pernah mengeluhkan tentang merasa keberatan atau menyerah begitu saja. Kalaupun Sunday melakukan itu, pasti itu karena Faris yang sangat keterlaluan memperlakukan dan memberinya aturan.


"Hei, malah melamun." Mami Faris mengguncang bahunya.


"Ehh, iya Mi."


"Apa yang sedang kau fikirkan?"


"Tidak ada, Mi."


Seketika wajah Faris memerah dan mulai salah tingkah.


"Kenapa Mami tiba-tiba bertanya seperti itu?"


"Aku lihat kau tidak pernah membiarkannya sendiri. Kau perhatian sekali kepadanya. Aku lihat baru kali ini kau benar-benar serius jalan bersama seorang gadis."


"Aku sudah bilang kalau dia pacarku, Mi. Sedangkan gadis lain hanya teman. Tentu saja aku memperlakukan mereka dengan cara yang berbeda."


"Jadi benar kau menyukainya?"


"Tentu saja. Kalau tidak, kenapa aku repot-repot memacarinya."


"Baiklah... kali ini seriuslah kalian."


"Mana bisa, Mi. Dia masih kuliah. Kami tidak bisa seserius yang Mami inginkan."


"Ahh, kau ini. Ternyata masih saja tetap sama." Mamanya cemberut.


"Tenang Mi... kalau aku benar-benar menjalin hubungan dengan seorang gadis, itu berarti ada kemajuan dalam caraku menyukai seseorang. Tapi kami akan menjalaninya bertahap. Meski pelan namun pasti." Faris mengerling pada Maminya.


"Mami pikir sudah bisa tenang saat kau bersama Sunday. Tapi ternyata kau masih sama saja."


"Aku menyukai Sunday, Mi. Paling tidak Mami masih punya harapan melihatku menikah dengan Sunday nanti. Tapi nanti ya, Mi. Sunday harus kuliah dulu dan aku tidak ingin mengganggunya."


"Terserah kau sajalah. Pokoknya Mami mau kau berhenti bergonta ganti pacar. Mami bingung menangani pacar-pacarmu itu." Faris cekikikan.

__ADS_1


"Mami sih... siapa suruh punya anak laki-laki setampan ini. Jadi banyak yang suka kan akhirnya." Goda Faris pada Maminya sambil memeluk.


"Ahh, narsis sekali kau."


🌸🌸🌸


"Sunday..." Suzan berteriak nyaring diujung lorong. Sunday menoleh ke belakang dan mendapati Suzan sedang berlari ke arahnya.


"Bagaimana?" Tanyanya tiba-tiba dan membuat Sunday bingung.


"Apanya?"


"Pestanya." Suzan sambil menata nafasnya.


"Ya begitulah."


"Kau, dress apa yang kau pakai?"


Sunday mengambil ponsel dan membuka galerynya.


"Ini..." Sunday menunjukkan fotonya.


"Wah..." Suzan yang hobi hiperbola terlihat membelalakkan matanya lebar.


"Kau dan Oppa Faris... sungguh serasi."


"Serasi apanya?" Sunday ikut melihat layar ponselnya.


"Apa yang kau lihat? Kau bilang ingin melihat penampilanku di pesta. Kenapa malah komentarmu jadi tentang hal lain."


"Iya iya... kebayamu bagus. Pas sekali. Tapi apa sebelumnya kau harus fitting dulu?"


"Tidak, mami Faris yang memperkirakan ukuran kebayaku."


"Calon mertuamu keren sekali."


"Iya, dia memang baik dan perhitungannya tentang kebaya itu memang tepat."


"Hei, kau benar-benar pantas bersanding dengan Oppa Faris. Bersama keluarganya begini kau sangat cocok." Lalu Suzan cekikikan. Ia menggeser tiap foto dan melihat foto-foto kiriman Faris kemarin.


"Ehh, tapi aku paling suka fotomu yang ini." Suzan menunjuk foto Sunday bersama Faris duduk berdua dan saling menyunggingkan senyum.


"Kalian terlihat seperti pasangan sungguhan."


"Oh ya?" Sunday memandangi foto itu. Melihat itu Sunday berfikir kapan foto itu diambil. Kak Novi benar-benar pandai mengambil gambar mereka. Meskipun candid tapi foto itu memang tampak sangat manis.


"Kalian sangat bahagia di foto itu."


"Aku bahkan lupa kapan melakukannya. Si pemotret memang pandai mengambil angle fotonya."


"Benarkah? Atau memang itu yang saat itu kalian rasakan?" Suzan menyelidik.


"Apa maksudmu?"


"Kau dan Oppa Faris sebenarnya adalah pasangan sungguhan."


"Hei, jaga ucapanmu." Sunday melotot bersiap untuk marah tapi Suzan malah tertawa.

__ADS_1


Akhirnya mereka memasuki kelas yang disana sudah ada Windy melambaikan tangan tanda menyerah. Ehh, tapi ini kan bukan acara uji nyali. Hehehe. Windy melambaikan tangan dikursinya memberi tanda bahwa kursi disekitarnya sudah ia booking untuk dua sahabatnya ini. Kebiasaan saat kuliah agar bisa selalu bersama.


__ADS_2