Nona Hari Minggu

Nona Hari Minggu
Diare Menguras Hati


__ADS_3

"Bagaimana? Kau ingin aku membuatmu berkata jujur dengan caraku?" Faris semakin mendekatkan wajahnya. Sunday semakin gelisah.


"Hei, minggirlah..." Sekuat tenaga Sunday mendorong tubuh Faris hingga mundur beberapa langkah. Detak jantung Sunday berantakan.


"Kenapa kau peduli dengan sikapku. Kau saja tidak bisa menjaga sikapmu." Faris mengernyitkan dahinya.


"Kau bilang kita harus berakting sebagai pacar, tapi apa yang kau lakukan. Kau tetap mendekati gadis-gadis."


"Gadis yang mana?"


"Gadis yang mana? Kau pikir aku tidak melihatnya? Kalau kau ingin mendekati mereka, jangan di tempat yang aku bisa melihatnya. Lagipula kau bilang waktu itu tidak akan lagi mendekati para gadis sesuka hatimu. Tapi apa kau sudah terlalu gatal untuk berhenti begitu saja."


"Hei, apa maksudmu?" Faris mendadak menyergap Sunday mendorong kedua bahunya seperti keadaan sebelumnya hingga bersandar pada pintu.


"Apa yang kau katakan aku tidak mengerti."


Dalam ketiaksiapan diperlakukan seperti itu, Sunday seketika tersentak.


"Apa kau sudah tidak ingat?" Sunday menyunggingkan senyum masam lalu memalingkan wajahnya. Faris tampak berfikir. Dan kemudian tersenyum lalu melepas cengkeramannya di kedua bahu Sunday.


"Oh, jika yang kau maksud adalah gadis yang mengobrol denganku di sebelah meja kambing guling itu, dia hanya salah satu tamu. Aku hanya menyapanya dan bersikap ramah. Aku kan kerabat mempelai jadi juga harus menjamu tamu dengan baik."


"Oh ya? Benarkah itu maksudmu? Atau kau hanya mencari-cari alasan dan memanfaatkan keaadaan?"


"Alasan apa? Memang itu kenyataannya. Hanya saja kau tahu kan pesonaku selalu berhasil membuat para gadis sangat cepat menyukaiku." Faris tersenyum lebar.


"Hah, malas sekali mendengarkan kenarsisanmu. Dasar kau memang playboy." Sunday mencibir.


"Atau sebenarnya kau... cemburu?" Faris memicingkan matanya memandang Sunday. Sunday mengerjap-ngerjapkan matanya. Wajahnya mendadak merona. Tapi lalu ia tertawa ntuk menutupi kegugupannya.


"Hei... kalau mau berfikir aneh-aneh terhadapku sebaiknya minta izin dulu kepadaku." Sunday masih dengan tertawa.


"Kenapa harus? Ini kepalaku, ini juga fiikiranku. Terserah apa yang mau ku fikirkan."


"Tapi fikiranmu itu bisa jadi fitnah jika tidak kau koordinasikan denganku terlebih dulu."


"Oke baiklah, kalau kau tidak cemburu lalu kenapa kau marah saat aku dekat-dekat gadis lain?"


"Itu karena..." Sunday bingung sendiri harus menjawab apa karena ia tidak menemukan variabel yang tepat untuk menjelaskan sikapnya. Kenapa dia bisa marah melihat Faris bersama gadis lain.


"Itu karena... kau bilang kita harus berpura-pura benar-benar menjadi pasangan kekasih. Apa tidak akan mencurigakan kalau kau masih suka seperti itu? Mereka mungkin saja akan curiga dengan sikapmu yang masih suka ganjen begitu." Jelas Sunday. Untung saja ia punya alasan untuk sikap marahnya tadi.


"Oh ya, benarkah?"


"Tentu saja. Kau pikir kau cukup layak untuk ku cemburui? Maaf Tuan, kita tidak sedang dalam suatu hubungan yang memperbolehkan ada rasa cemburu diantara kita." Suara Sunday sedikit bergetar mengatakan semua itu.


"Oke, aku rasa aku sudah menyalah artikan sikapmu. Tapi sebenarnya akan sangat menyenangkan jika ada seseorang yang mencemburui." Faris terkekeh.


"Lakukan saja dimimpimu." Sunday tersenyum kecut.


"Baiklah, sekarang istirahatlah. Nanti sore kita akan pulang." Faris berbalik dan menuju kamarnya.


Sunday memasuki kamarnya sendiri. Didalam kamar, tempat yang pertama ia tuju adalah tempat tidurnya. Ia rebahkan tubuhnya sambil memutar kembali ingatannya. Bagaimana ia sangat benci melihat Faris mengobrol sangat akrab dengan seorang gadis. Hatinya menjadi sakit seketika. Apa benar dirinya cemburu? Tapi kenapa? Bukankah seperti ucapannya sendiri, ia dan Faris tidak layak untuk saling mencemburui? Tapi semakin ke sini ia seperti tertular oleh Faris yang selalu melarangnya dekat-dekat pria lain terutama Victor. Begitu juga dirinya pun tidak suka Faris dekat dengan gadis lain.


"Ahh, aku tidak peduli. Aku tidak tahu. Aku tidak mau memikirkannya lagi." Sunday menggeleng-gelengkan kepalanya cepat mencoba mengusir fikiran-fikiran aneh yang ada di dalam kepalanya. Ia mulai memejamkan matanya mencari ketenangan dari kegelisahannya.


Sunday merasa ada yang mengganggu tidurnya. Perutnya mulas bukan main. Ia langsung berlari ke kamar mandi untuk melancarkan keluhannya. Setelah selesai, ia duduk di sofa kamarnya sambil mengelus-elus perutnya yang masih terasa melilit. Tiba-tiba sebuah bel berbunyi. Dengan memegangi perutnya Sunday menuju pintu. Saat membukanya Faris yang terlihat.


"Kau belum bersiap?"


"Perutku mules sekali. Sebentar... " Sunday kembali lari ke kamar mandi. Faris melongo dan masuk ke kamar Sunday. Menunggunya hingga keluar dari kamar mandi.


Setelah keluar, lalu kembali lagi masuk ke kamar mandi. Faris yang melihat itu mulai khawatir.


"Kau kenapa?" Tanya Faris saat Sunday keluar dari kamar mandi dan masih memegangi perutnya.


"Aku diare..." Sunday terlihat lemah dan menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur dalam posisi meringkuk. Faris mendekatinya.

__ADS_1


"Pasti karena bakso kuah sambelmu tadi." Sunday tidak merespon dan hanya meringis menahan mules diperutnya.


"Sini ku lihat." Faris melepas tangan Sunday yang ada dipermukaan perutnya.


"Kau mau apa?" Sunday menepis tangan Faris.


"Mau melihat perutmu."


"Tidak boleh. Enak saja mau melihat perutku. Nanti perutku akan ternoda olehmu."


"Ya Tuhan, cuma mengusapnya dengan minyak kayu putih ini."


"Sini, biar aku sendiri yang melakukannya." Sunday menyahut minyak kayu putih dari tangan Faris yang di ambil dari kotak P3K di kamar itu. Faris hanya memperhatikan tingkah Sunday.


"Hei, kenapa malah melihatku. Sana palingkan wajahmu. Jangan lihat perutku."


"Iya iya baiklah... dasar cerewet."


"Mau memanfaatkan keadaan ya. Dasar!"


"Perlu kau tahu aku hanya ingin membantu, bukannya ingin berbuat yang tidak-tidak."


"Siapa tahu otakmu sedang kotor."


"Hei, yang biasa otak kotor itu kan kau, bukan aku."


"Enak saja, aku ini orang yang polos dan suci, tidak mungkin aku punya otak yang kotor. Yang lebih pantas adalah kau."


"Kenapa aku?"


"Ya, kau. Kau berpotensi untuk punya otak yang kotor."


"Kenapa aku berpotensi?"


"Karena kau... ahh, tidak..." Sunday kembali berlari ke kamar mandi.


Dia pergi. Apa dia marah ku katai otak kotor? Atau dia malas denganku yang sedang diare. Atau... dia meniggalkanku pulang? Kejam sekali. Sunday berspekulasi sendiri sambil berbaring di atas tempat tidur. Badanya terasa lemas dan tidak bertenaga sama sekali.


Faris masuk kembali ke dalam kamar Sunday setelah dari toko obat terdekat. Ia masih meringkuk di atas tempat tidur membelakangi pintu.


"Minumlah obat anti diare ini." Ujar Faris seketika dan membuat Sunday terjingkat karena tiba-tiba dia sudah berdiri dibelakangnya.


"Bagaimana kau... bisa... masuk..." Sunday terbata karena heran. Dia pikir Faris sudah pulang dan juga bagaimana dia bisa masuk ke kamarnya seperti itu. Bukankah pintunya terkunci.


"Tentu saja itu gunanya dibuat pintu."


"Bukan itu maksudku. Kau masuk dari pintu sedangkan pintunya terkunci."


"Siapa bilang terkunci. Pintu tidak terkunci. Aku meninggalkannya tanpa mengunci."


"Untung saja saja satu-satunya orang jahat disini adalah kau jadi hanya kau yang keluar masuk kamar seorang gadis tanpa rasa canggung."


"Apa maksudmu? Apa aku orang jahat itu? Aku ini superhero-mu. Ini minumlah obat anti diaremu." Sunday terperanjat. Ternyata Faris keluar tadi untuk membeli obat anti diare untuknya. Ada rasa bersalah telah mengatakan bahwa Faris adalah orang jahat walaupun itu tidak diucapkannya sepenuh hati.


"Terima kasih." Ucap Sunday akhirnya. Lalu mengambil air mineral di meja nakas samping tempat tidurnya dan meminum obatnya.


"Instirahatlah dulu. Oh iya minum juga minuman berisotonic itu agar tenagamu kembali pulih." Sunday mengangguk.


Setelah meminum obatnya, Sunday membaringkan lagi badannya yang lemah.


"Kita pulang jam berapa?" Tanya Sunday kepada Faris yang duduk di sofa memainkan ponselnya.


"Kita tidak akan pulang sampai kau sembuh dari diaremu. Pasti akan merepotkan kalau kau sering minta berhenti untuk ke toilet selama perjalanan."


"Setelah minum obat aku pasti akan sembuh."


"Sudahlah jangan banyak bicara. Tidurlah, nanti ku bangunkan kalau waktunya pulang."

__ADS_1


"Baiklah..." Sunday lalu memejamkan matanya berharap nyeri di perutnya segera reda.


Ruangan sepi, Sunday mengeliat dan melihat tubuhnya sudah berselimut. Seingatnya tadi saat tidur dia tidak memakai selimut. Melihat jam dan dia terbelalak, sudah jam 1 dini hari. Dilihatnya Faris tidak ada di sofa. Mungkin dia kembali ke kamarnya. Sunday sudah dalam posisi duduk bersandar tempat tidur sekarang.


"Kau sudah bangun." Suara Faris tiba-tiba yang keluar dari kamar mandi.


"Ayo kita pulang."


"Ini sudah terlalu malam. Berbahaya jika berkendara di malam hari. Lagipula aku mengantuk. Itu tidak baik untuk pak sopir, kau tahu."


"Tapi aku sudah berjanji pada mama hanya menginap satu malam saja."


"Oh itu, tadi mamamu menelepon ke ponselmu lalu ku beri tahu kau sakit diare dan sedang tidur jadi ku katakan padanya mungkin kau akan menginap semalam lagi disini."


"Benarkah?"


"Hmm."


Sunday diam. Otaknya seperti berfikir. Faris melihat itu.


"Apa yang kau fikirkan?" Tanya Faris.


"Jadi selama ini kau ada di kamarku?"


"Iya, kenapa?"


"Tidak apa-apa."


"Kau takut aku melakukan sesuatu padamu?"


"Iya." Lalu Faris tersenyum kecut.


"Aku tidak melakukannya pada orang yang tidur."


"Melakukan apa?"


"Menurutmu?" Faris malah balik bertanya.


"Apa?" Sunday penasaran.


"Apa? Dasar otakmu benar-benar kotor."


"Apa maksudmu. Kau yang membuatku berfikir yang tidak-tidak. Aku hanya minta kejelasan, tapi kau menjawabnya dengan ambigu. Itu membingungkan." Sunday mulai sewot. Faris jadi gemas.


"Terserah apa yang kau fikirkan. Yang jelas malam ini kita sudah menghabiskan malam bersama dalam satu kamar hotel." Ujar Faris sambil mengerling. Sunday merinding mendengar kalimat itu.


"Hei, jangan ucapkan itu. Atau aku akan memukulmu."


"Mana bisa bocah sekecil dirimu memukul pria dewasa sepertiku."


"Bocah? Pria dewasa? Dasar pedofil."


"Pedofil? Memangnya apa yang sudah kulakukan padamu?"


"Kau... kau suka sekali mengerjaiku."


"Itu bukan kategori pedofil. Atau kau memang ingin mendapatkan perlakuan fedofilku yang sebenarnya?" Faris menyeringai.


"Heh, jangan macam-macam ya." Sunday beringsut dari duduknya semula dan menarik selimutnya sampai ke atas dadanya. Faris mulai mendekatinya dan duduk di tepi tempat tidur.


"Jangan dekat. Pergi sana ke kamarmu." Usir Sunday gemetar.


"Tidak mau. Aku sedang ingin menjadi seorang pedofil."


"Hei, kau sudah gila ya."


"Tidak, aku tidak gila. Aku seorang pedofil." Sunday menggeser tubuhnya sampai ke sisi tempat tidur yang lain. Faris masih mendekatinya.

__ADS_1


"A-apa yang mau kau lakukan?" Sunday sudah semakin ngeri tapi Faris seperti tidak menghiraukannya dan semakin dekat. Sunday sudah memejamkan matanya rapat-rapat saat Faris berada sangat dekat. Tapi selanjutnya yang ia rasakan adalah telapak tangan Faris yang menyentuh keningnya dan melepas sesuatu disana. Sunday mengerjap-ngerjapkan matanya dengan ekspresi polos. Kebiasaannya jika sedang bingung.


__ADS_2