
"Aku menyukaimu..."
"Apa?"
"Cantik sekali." Faris masih menatap ke arah Sunday yang semakin gusar. Faris mengulurkan tangannya menyentuh rambut Sunday. Sunday jadi gugup dan hampir menghindar. Tapi selanjutnya Sunday tahu seekor kupu-kupu bertengger di jari telunjuk Faris.
"Kupu-kupu?" Sunday memandang penuh takjub. Seekor kupu-kupu dengan corak warna cerah itu sangat cantik. Sunday sedikit salah tingkah karena sempat GR saat Faris mengucapkan kata suka dan cantik sebelumnya. Ternyata yang dimaksudnya adalah kupu-kupu itu.
"Cantik sekali bukan." Faris menyodorkannya kepada Sunday
"Iya. Cantik." Sunday berniat memindahkan kupu-kupu itu ke jarinya tapi kupu-kupu itu malah terbang.
"Yaaa..." Sunday terlihat kecewa karena kupu-kupu tidak mau hinggap di jarinya.
"Aku yakin kupu-kupu itu betina." Tebak Faris.
"Kenapa kau yakin sekali?"
"Ya, terbukti dia mau saat kusentuh tapi langsung terbang saat kau ingin menggantikannya."
"Alasanmu tidak ilmiah. Apa hubungannya dengan itu."
"Hei, kupu-kupu juga tahu dengan siapa dia harus mau disentuh."
"Benar-benar tidak masuk akal." Sunday mencibir.
"Kupu-kupu saja suka bersamaku, apalagi para gadis." Faris menyombong.
"Dasar narsis."
"Sudahlah, apa aku harus memperjelasnya? Kau juga tahu kalau setiap gadis yang bertemu denganku tidak akan bisa menolak pesonaku."
"Aku tidak melihat pesonamu." Sunday memandangi sisi wajah Faris kanan dan kiri bergantian pura-pura memastikan sesuatu.
"Lihatlah lebih dekat." Faris mendekatkan wajahnya sehingga kini wajah mereka ada pada jarak kurang dari sejengkal. Mendapat tindakan tiba-tiba dari Faris seperti itu Sunday terkesiap dan reflek memundurkan tubuhnya selangkah. Jantungnya mulai berisik lagi.
"Aku mau masuk." Sunday bergegas kembali masuk ke dalam ruang pesta untuk menghindari Faris melihat kegugupannya. Tapi Faris terlanjur tahu itu dan tersenyum. Hatinya sedikit senang melihat respon Sunday karena tujuannya memang adalah menyampaikan pesan cintanya melalui tindakan. Berharap dengan begitu Sunday bisa tahu apa yang dirasakan Faris dan perlahan bisa menyukainya juga.
Ya, Faris memutuskan untuk mendekati Sunday lebih jauh. Bukan sekadar teman seperti sebelumnya tapi lebih dari itu. Mulai saat ini Faris ingin menjadi satu-satunya pria didekat Sunday dan ingin membuat Sunday tidak punya waktu memikirkan pria lain.
Ia tidak bisa lagi berlama-lama menahan perasaannya. Apalagi setiap melihat Victor mendekati Sunday ingin rasanya mengatakan untuk jangan mendekati gadis yang disukainya itu. Rasa cemburu sering menyiksa dirinya. Jadi, akan lebih baik jika ia melakukan pendekatan dan berusaha membuat Sunday menyukainya juga.
Sunday membaur dengan para undangan lain diikuti Faris dibelakangnya. Dari jarak beberapa langkah diantara mereka membuat belakang leher Sunday yang terbuka itu terlihat jelas. Leher jenjang dengan anak rambut yang menjuntai tipis itu terlihat menggemaskan bagi Faris. Faris sangat menyukainya.
Sunday akhirnya duduk disebuah kursi di sudut ruangan yang disana tampak sepi. Jiwa tidak suka keramaiannya menuntunnya ke sana. Faris masih mengikutinya dan duduk disebelah Sunday.
"Kau benar-benar menempel kepadaku." Gumam Sunday.
"Sudah ku katakan kau tidak boleh jauh dariku. Jadi, kita akan selalu bersama." Sunday mendengus.
"Tapi kalau kau merasa tidak nyaman, baiklah aku akan pergi. Hanya saja, aku akan tetap mengawasimu. Pastikan kau tidak mengundang perhatian pria lain."
"Hei, kau pikir aku gadis apakah?" Sunday melotot marah
"Baiklah... lagipula, kalau ada yang berani main mata denganmu, bisa kupastikan akan kuhabisi dia." Sekarang Sunday memutar bola matanya malas. Setelah itu Faris benar-benar berbaur ke tengah kerumunan para tamu.
Setengah jam berlalu. Ternyata semakin membosankan sendirian begitu. Diam-diam Sunday menyesali kenapa mengusir Faris pergi. Paling tidak saat bersamanya ia punya teman mengobrol atau teman berdebat. Ponsel juga ditinggalkannya di kamar. Dia benar-benar hampir mati bosan.
Berniat memanggil Faris tapi ia tidak tahu Faris ada di mana. Lagipula ada rasa gengsi juga jika harus meminta Faris kembali duduk dengannya disini. Saat mengedarkan pandangan ke seluruh ruang demi memutus bosan, matanya menangkap Faris sedang mengobrol dengan seorang gadis. Gadis itu cantik. Dengan gaun berwarna abu metalik selutut dengan potongan lurus dan lengan terbuka. Rambutnya dibiarkan tergerai dan sedikit curly dibagian ujungnya.
Sunday penasaran apa Faris mengenalnya. Apa dia salah satu anggota keluarganya? Atau dia hanya seorang tamu undangan? Mereka tampak akrab. Sesekali berbincang lalu tertawa bersama. Sepertinya seru sekali obrolan mereka. Hati Sunday mendadak bagai terjepit. Tidak berdarah tapi sakit.
__ADS_1
Tapi... kenapa rasanya begini? Kenapa aku terusik? Bukankah dia sudah biasa begitu. Batin Sunday.
Apa yang dilihatnya benar-benar menyita perhatian Sunday. Ia tidak bisa mengalihkan pandangannya sama sekali. Ingin sekali mendekati Faris dan membawanya menjauhi gadis itu.
Akhirnya ia menyerah dan mengambil semangkuk bakso untuk kedua kali tapi kini dengan porsi sambal yang jauh lebih banyak sehingga sekali sendok sudah membuat Sunday kepedasan. Saking pedasnya Sunday sampai-sampai matanya berair. Keringatnya mengucur. Diambilnya segelas es buah berharap bisa memadamkan sensasi pedas dimulutnya. Tapi memang sambal yang super banyak itu memberinya sensasi pedas yang luar biasa.
Akhirnya baksonya habis. Tapi gelas Sunday kosong. Ia bermaksud mengambil lagi tapi seseorang menyodorkan segelas lagi. Sunday menerima gelas itu dari tangan Faris.
"Kau ini makan bakso pakai sambel atau makan sambel pakai bakso?" Faris melihat Sunday dengan pandangan kasihan bercampur lucu. Wajah Sunday merah karena kepedasan.
"Ku ambilkan minum lagi." Faris beranjak mengambil minuman. Beberapa saat ia kembali lalu memberikan kepada Sunday. Sunday masih belum berkata apapun. Dia terlalu sibuk mengatasi rasa pedas di mulutnya.
Keringat Sunday memenuhi dahinya. Faris mengelap keringat itu dengan sapu tangannya tapi Sunday menghindar dan tetap diam tidak mengatakan sepatah katapun. Faris mulai merasa ada yang janggal. Tapi ia tidak tahu kenapa Sunday tiba-tiba seperti itu. Bibir Sunday terkunci.
"Kau kenapa?"
"Tidak kenapa-kenapa." Jawab Sunday dingin.
"Apa rasa pedas sudah mengubahmu menjadi batu?" Ucapan Faris membuat Sunday menoleh dengan kedua alis yang hampir bertaut.
"Kenapa tiba-tiba diam?"
"Aku kekenyangan." Jawab Sunday asal.
"Oh ya? Bukankah makanmu belum begitu banyak?" Goda Faris.
"Aku mau ke kamar."
"Acara belum selesai."
"Tapi aku harus ke kamar."
"Kenapa?"
"Pasti ada alasan tiba-tiba kau ingin kembali kamarmu." Faris menyelidik.
"Tidak ada alasan." Sunday cuek dan meninggalkan Faris. Tapi Faris mengikutinya.
"Hei, aku mencari kalian." Kak Novi tiba-tiba memegang bahu Sunday yang berjalan ke arah pintu keluar.
"Mau kemana?"
"Tidak kemana-mana." Jawab Faris cepat sebelum Sunday yang menjawab dan jawabannya adalah ke kamar.
"Ada apa, Kak?"
"Ku pikir kalian sudah meninggalkan acara."
"Belum kak. Mana mungkin kami pergi sebelum acara berakhir." Faris melirik Sunday yang hanya diam disampingnya.
"Baguslah. Nanti di akhir acara semua keluarga akan foto bersama. Jadi jangan sampai kalian melewatkan itu."
"Iya kak." Setelah itu Novi pergi meninggalkan Faris & Sunday.
"Kak Novi bilang kita tidak boleh kemana-mana sampai akhir acara. Jadi itu artinya kau harus tetap di sini."
"Kak Novi bilang keluarga. Sedangkan aku bukan bagian dari keluarga"
"Tapi kau pacarku sekarang."
"Pura-pura. Hanya sebatas pacar pura-pura ya. Jangan lupakan itu." Sergah Sunday.
__ADS_1
"Tapi dimata mereka kita benar-benar pasangan jadi kita akan menjadi pacar seperti yang mereka tahu." Sunday terlihat masih kesal. Ia hembuskan nafasnya kasar.
"Kau bilang akan membantuku. Apa kau lupa itu?" Faris berbisik lirih di telinga Sunday dan memberi sensasi geli saat nafas Faris menyentuh kulit telinganya. Sunday terkesiap merasakan itu.
Akhirnya sunday mengurungkan keinginannya untuk meninggalkan acara dan kembali duduk ke kursi ditepi ruang pesta. Faris ikut duduk disebelahnya. Sunday belum ingin mengajak Faris bicara.
Menjadi pacar apaan. Dia bahkan berbincang akrab sekali dengan gadis lain di tengah pesta. Memangnya dia bisa menjamin kalau keluarganya tidak melihat itu. Aku saja bisa melihatnya dengan jelas. Gerutu Sunday di samping Faris.
Sedangkan Faris masih belum mengerti juga apa penyebab sebenarnya Sunday jadi pendiam begitu. Bertanya lagi kepada Sunday juga akan percuma karena ia tahu sifat wanita yang ketika marah tidak akan bercerita dan berharap para pria menjadi dukun yang peka terhadap perasaannya. Padahal itu adalah hal yang sangat sulit.
Tamu undangan hampir tidak ada hanya tinggal beberapa saja yang memang datang agak terlambat dan sisanya adalah keluarga dekat. Sunday masih pada aksi bungkamnya. Faris masih menemaninya dengan tidak mengajaknya bicara juga. Dia tidak boleh salah bicara jadi harus sabar menunggu hingga Sunday melunak.
Setelah sesi pemotretan dari pihak keluarga mempelai pria selesai, sekarang giliran untuk keluarga mempelai wanita yang adalah tuan rumah pesta. Satu per satu pembawa acara memanggil nama keluarga untuk berfoto. Dan sekarang giliran keluarga Faris. Tampak Papi-mami Faris serta kak Novi dan suaminya yang menggandeng Rafael berjalan mendekati pelaminan.
"Ayo." Faris menarik tangan Sunday. Awalnya Sunday enggan tapi kembali Faris menghentakkan tangannya dan memberi isyarat dengan matanya agar Sunday berdiri dari duduknya. Akhirnya Sunday bangun. Faris sedikit lega. Paling tidak Sunday masih mau saat diajaknya berfoto.
Sampai di atas pelaminan, semua berdiri di sisi kanan dan kiri pengantin. Para pria disisi pengantin pria, para wanita di sisi pengantin wanita. Setelah kilatan flash, menandakan gambar mereka sudah tersimpan dalam memori kamera DSLR sang fotografer. Setelah memberi ucapan selamat, Sunday dan semua yang ada di pelaminan pun turun dan disusul keluarga lain yang akan berfoto juga.
"Jangan pergi dulu, setelah ini masih ada acara berfoto dengan seluruh keluarga besar." Ujar mami Faris.
Lagi? Batin Sunday tidak percaya.
Sebentar menunggu, pembawa acara mempersilahan seluruh saudara dekat yang adalah om & tante Dian untuk berfoto yang bersama orang tua Dian. Setelah itu baru para sepupu Dian yang mendapat giliran berfoto dengan formasi sama seperti sebelumnya. Para pria disisi pengantin pria, para wanita di sisi pengantin waniya. Dan satu kali take semua acara benar-benar selesai.
Sunday turun dari sisi pelaminan yang lain dari tempat Faris turun. Merasa tugasnya selesai, Sunday pun turun dan berniat menuju ke kamarnya dengan segera. Ia ingin sekali cepat-cepat sampai disana dan merebahkan badannya. Bersamaan dengan keluarga lain yang juga mulai meniggalkan pesta, Sunday mempercepat langkahnya saat tahu Faris membuntutinya dari belakang.
Segera masuk ke dalam lift yang masih diikuti Faris juga. Tapi mereka masih saling diam dan tidak berbicara satu sama lain karena didalamnya ada beberapa keluarga Faris. Pintu lift terbuka di lantai kamar Sunday dan Faris. Setelah Faris dan Sunday berpamitan kepada seluruh orang di dalam lift, mereka melangkah keluar.
Sunday berjalan tergesa seolah mengejar sesuatu. Faris mengikuti. Saat Sunday sampai didepan pintu kamarnya dan bermaksud mengunci pintu, Faris menarik tangannya, mendorong tubuhnya hingga membentur pintu dan mengunci pergerakan Sunday dengan mengungkungnya diantara kedua tangan Faris yang bertumpu pada pintu didepannya.
"Kenapa? Kenapa kau begini kepadaku?" Wajah Faris kini hanya tinggal sejengkal saja dengan wajah Sunday sehingga terlihat jelas pandangan tajam Faris yang langsung tertuju pada matanya.
"A-aku tidak kenapa-kenapa. Sudah ku bilang aku tidak kenapa-kenapa." Sunday gugup di kungkung seperti itu. Jantungnya berdetak dengan berisik sekali.
"Lalu kenapa kau tiba-tiba mengabaikanku?"
"Aku tidak mengabaikanmu. Aku hanya lelah?"
"Oh ya? Kau lelah tapi kau bisa berjalan dengan sangat cepat seperti itu?"
"Aku ingin buru-buru sampai kamar dan beristirahat."
"Benarkah? Itu bukan alasanmu saja.?"
"Iya."
"Kau tidak berbohong?"
"Ti-tidak." Sunday gugup karena ia berbohong.
"Kau tahu, aku benci seseorang berbohong padaku." Faris belum melepaskan kungngkungannya.
"Jika yang berbohong padaku adalah seorang pria maka aku akan memukulnya. Tapi jika yang berbohong wanita maka aku akan..." Faris tidak melanjutkan kalimatnya tapi memberi isyarat dengan bibirnya yang sedikit dimajukan. Sunday faham isyarat itu dan reflek menutup bibirnya sendiri.
"Kau ini seenaknya saja mengancam orang." Sunday protes
"Aku tidak mengancam, aku hanya berusaha membuat orang lain berkata jujur."
"Dasar pemaksa."
"Jadi, kau mau mengatakan padaku atau tidak?" Faris menyeringai. Sunday memalingkan muka. Jantungnya benar-benar tidak bisa ia kendalikan. Dari jarak sedekat ini dan bahkan dalam seringainya pun Faris terlihat mempesona.
__ADS_1
"Bagaimana? Kau ingin aku membuatmu berkata jujur dengan caraku?" Sunday menjadi panik. Apalagi perlahan Faris mulai menunduk dan mendekatkan wajahnya ke wajah Sunday. Sunday semakin gugup. Bingung dengan langkah yang harus ia buat. Dalam keadaan seperti itu otaknya malah seperti mati beku. Tidak ada yang bisa dipikirkan olehnya. Sementara wajah Faris sudah semakin dekat dan dekat sekarang. Sunday semakin berdebar.