Nona Hari Minggu

Nona Hari Minggu
Bangun Batasan


__ADS_3

"Sunday... Sunday..." Sebuah suara membuatnya membuka mata. Ia melihat Faris berada disisinya berjalan sambil mendorong troli pasien yang ditidurinya.


"Kau dengar aku?" Pandangan Sunday memudar. Ia tidak bisa melakukan apapun. Tubuhnya terasa lemas. Ia merasa lelah sekali. Lalu kemudian perlahan suasana kembali gelap.


Ada yang menggelelitik hidungnya saat Sunday membuka mata perlahan. Ia meraba oksigen yang ada di hidungnya. Matanya mulai bisa melihat sekeliling dengan jelas. Sebuah ruangan serba putih. Ada infus di tangannya. Ia yakin kini sedang berada di rumah sakit. Ia melihat ke sampingnya dan yakin yang sedang menangkupkan wajah tertidur itu adalah mamanya.


Merasakan pergerakannya, mama Sunday membuka mata dan melihat kepadanya.


"Sunday..." Mamanya tergopoh mendekatkan wajahnya pada Sunday.


"Apa yang kau rasakan?" Sunday menggeleng dan hanya memandang mamanya yang bermata sembab.


"Kau baik-baik saja?" Kali ini Sunday mengangguk.


"Apa yang terjadi?" Sunday berkata lemah.


"Istirahatlah dulu, jangan banyak bicara."


Sunday mencoba mengingat-ingat kejadian sebelumnya. Seseorang memukul kepalanya lalu ia jatuh dan terbangun berada di suatu tempat bersama Roni. Lalu Roni menguncinya di ruangan yang terbakar.


Pintu kamar rawat inap Sunday terbuka. Papa Sunday muncul di baliknya.


"Sunday, kau sudah bangun." Papanya langsung mendekati Sunday. Membelai kapalanya dan mencium keningnya.


"Papa?" Tanya Sunday heran.


"Papa mendengar putri Papa di rumah sakit jadi aku harus datang untuknya." Papa Sunday mengusap air matanya yang meleleh. Mamanya juga berkali-kali menyeka air matanya.


"Aku tidak apa-apa. Kalian jangan khawatir." Sunday tersenyum melihat kedua orang tuanya.


"Kenapa kalian cengeng sekali? Kalian seperti anak kecil." Sunday malah terkekeh.


"Kau masih bisa tertawa disaat seperti ini." Mamanya mencibir.


"Aku baik-baik saja, Ma."


"Bagaimana bisa, kau hampir mati terpanggang kau bilang baik-baik saja?" Mamanya memelototinya sekarang. Sunday tersenyum. Ia mengedarkan pandangan.


"Faris sedang mengurus kasusmu. Baru tadi pagi dia pulang." Ujar Papanya seperti tahu apa yang difikirkan Sunday. Mendengar itu, pandangan Sunday menerawang jauh mengingat kejadian yang dialaminya.


Faris memeriksa tayangan CCTV dan mencari tahu siapa orang yang mengunci Sunday di dalam gudang. Dari bagian yang menampakkan potongan gambar pelaku, Faris tidak bisa mendeteksi wajahnya karena dia memakai hodie. Satu-satunya cara mengetahui siapa pelakunya adalah dengan menanyai Sunday. Hanya saja Faris sudah tidak sabar ingin mengetahui siapa orang yang memperlakukan Sunday dengan kejam serta apa motivasi sebenarnya .


Faris menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Berfikir siapa yang berniat jahat kepada Sunday. Padahal setaunya Sunday bukan tipe orang yang bisa membuat orang lain mendendam kepadanya. Faris menghela nafas panjang sambil memejamkan mata. Kejadian ini pun sudah masuk ke meja polisi dan mereka pun mulai melakukan berbagai penyelidikan dan hanya tinggal menunggu Sunday sadar untuk tahu siapa pelakunya. Ia teringat kejadian semalam.


Faris berlari menuju sumber kebakaran seperti yang diteriakkan oleh orang-orang yang ternyata adalah menuju ke arah gudang. Ia yakin Sunday ada di dalam gudang saat membaca pesan singkat dari nomor tak dikenal di ponselnya. Saat itu api sudah mulai mengepung seluruh gudang. Faris panik dan memberanikan diri mendobrak pintu setelah tidak mendengarkan larangan banyak orang di sana. Dan benar, saat pintu terbuka ia melihat seseorang tergeletak dibawah tumpukan barang-barang tak terpakai.


Setelah mengangkatnya, Faris bergegas meninggalkan tempat dengan suhu panas karena api yang mengelilingi. Diluar sudah ada beberapa orang yang menyemprotkan air melalui instalasi hidran. Faris membaringkan Sunday jauh dari gudang yang terbakar.


"Sunday... kau bisa mendengarku?" Faris gelisah Sunday menutup matanya dengan rapat dan tidak meresponnya sama sekali. Tidak mau berlama-lama, Faris mengangkatnya kembali dan membawanya ke arah mobilnya terparkir. Sampai sana ia meminta seseorang untuk mengendarai mobilnya dan ia sendiri berada di jok belakang menjadi tumpuan tubuh Sunday yang tidak sadarkan diri. Dalam hatinya ia hanya berharap Sunday baik-baik saja.


🌸🌸🌸


Pintu kamar inap Sunday terbuka, Faris tampak dibaliknya. Sunday menoleh dan menyambut kedatangannya dengan senyum.


"Bagaimana keadaanmu?" Ujar Faris di sisi tempat tidur Sunday.


"Terima kasih. Haruskah aku memanggilmu Superman? Atau Batman? Spiderman? Ultraman?" Sunday lalu terkekeh setelah mengatakannya.


"Aku bukan Superman karena tidak bisa terbang. Aku bukan Batman karena aku tidak punya jubah anti peluru. Aku juga tidak bisa memanjat tembok seperti Spiderman. Apalagi Ultraman? Aku bukan semua itu." Faris tersenyum memandang Sunday yang duduk bersandar bantal.


"Bagaimana kau tahu aku ada di sana?"


"Sudah ku bilang aku bisa melihat keberadaanmu berkat GPS yang sudah ku tanam di tubuhmu." Mendengar itu wajah Sunday mendadak merona. Ia teringat kembali sejarah GPS ditanamkan padanya seperti kata Faris waktu itu.


"Kau ini paling bisa." Sunday tertawa kecil menutupi wajah tersipunya.


"Jadi yang kau katakan pada polisi itu semuanya benar?" Sunday mengangguk. Siang tadi memang polisi mendatanginya untuk menggali informasi.


"Bagaimana kau mengenalnya? Kenapa aku tidak tahu kau mengenal Roni?" Faris menatap Sunday lurus.

__ADS_1


"Aku benar-benar merasa kecolongan." Faris menggelengkan kepalanya. Sunday masih diam mengatupkan bibirnya.


"Ada berapa banyak lagi pria yang kau kenal dan aku tidak tahu?"


"Ya Tuhan, apa yang kau katakan. Kau pikir aku ini apa? Apa aku harus memberimu data siapa saja orang yang ku kenal? Apakah itu penting?"


"Tentu saja. Agar aku tahu siapa yang layak dan tidak layak menjadi temanmu."


"Aku bukan tipe orang yang suka memilih-milih teman."


"Tapi terbukti orang yang kau kenal malah berniat mencelakaimu. Itu membuktikan kau butuh sedikit seleksi saat berteman."


"Entahlah..." Sunday diam mendengar omelan Faris dengan segala keposesifannya itu.


"Mulai sekarang kau tidak boleh sembarangan berkenalan apalagi berteman dengan orang lain. Terlebih lagi semua orang sudah tahu kau itu siapa."


"Maksudmu?" Sunday menautkan alisnya.


"Ya, semua orang tahu kalau kita adalah sepasang kekasih." Jawab Faris pelan.


"Apa?" Sunday membelalakkan matanya.


"Bagaimana itu terjadi?"


"Sejak semalam video kita di kolam renang tersebar di grup chat Font."


"Benarkah?" Sunday belum hilang kekagetannya. Faris mengangguk.


"Lalu bagaimana? Aku harus bagaimana?"


"Kenapa kau panik sekali. Bukankah itu bagus? Kita jadi tidak perlu menunjukkan hubungan kita." Faris tersenyum lebar.


"Itu kan maumu."


"Kenapa kau ini selalu ingin kita pacaran secara diam-diam. Apa kau malu punya pacar setampan dan semapan diriku?"


"Aku sedang tidak tertarik dengan kenarsisanmu tapi aku merasa Roni menjadi jahat kepadaku saat tahu hubungan kita."


"Ya, Roni memiliki video kita. Jadi aku rasa dia menyebarkannya dan membuat seluruh orang di Font tahu hubungan kita."


"Ya benar, itu penyebarnya pasti Roni." Faris memiliki pandangan menerawang jauh.


"Dan juga... " Sunday ragu-ragu ingin mengatakan sesuatu.


"Ada apa?" Faris melihat Sunday lekat.


"Apa kau mengenal Desy?"


"Desy?" Faris mengerutkan kening.


"Ya."


"Siapa Desy?"


"Roni menyebut nama Desy dan mengatakan kalau kau meninggalkannya." Ujar Sunday lirih. Faris membulatkan matanya. Lalu diam sambil berfikir.


"Desy? Apa Desy yang dimaksud Roni adalah dia?" Faris bergumam kepada dirinya sendiri.


"Kau... meninggalkannya?" Sunday hati-hati sekali mengatakannya. Faris menatap Sunday lurus.


"Kau percaya padaku kan?" Faris menggenggam tangan Sunday dan memandangnya dalam-dalam. Sunday melemparkan pandangannya ke tempat lain.


"Ini juga yang ku takutkan jika hubungan kita diketahui oleh orang lain." Sunday menundukkan pandangannya dalam-dalam.


"Maafkan aku." Faris mengeratkan genggaman tangannya.


"Mulai sekarang, dengarkan saja apa yang ku ucapkan. Jika ku katakan jangan, maka kau harus berhenti. Jika ku katakan ayo, kau harus mengikutiku."


"Memangnya siapa kau ini harus mendikteku." Sunday manyun.

__ADS_1


"Sepertinya karena terlalu banyak asap yang masuk ke otak hingga membuatmu kehilangan sebagian ingatanmu?"


"Apa?" Sunday menyolot.


"Kau lupa aku ini pacarmu? Jadi sudah seharusnya kau menurut saja apa kataku dan jangan banyak membantah."


"Ya Tuhan, kau ini benar-benar diktator."


"Percayalah hanya padaku."


"Tidak, aku hanya percaya kepada Tuhanku."


"Jangan bawa nama Tuhan. Habis urusan kalau kau sudah membawa-bawa Tuhan." Gerutu Faris.


"Yang jelas aku akan membuat Roni benar-benar mempertanggung jawabkan perbuatannya." Ujar Faris selanjutnya.


"Tapi apa benar Roni sepenuhnya bersalah?"


"Jadi, kau fikir dia melakukan itu padamu karena ingin membalas dendam kepadaku?"


"Dia mengatakan bahwa kau juga harus merasakan bagaimana rasanya kehilangan dan aku juga harus meninggalkanmu lebih dulu agar aku tidak dicampakkan olehmu."


"Omong kosong apa itu? Jadi kau lebih percaya padanya dari pada padaku?" Sunday diam.


"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu." Ujar Faris dengan pandangan mata memastikan.


"Tapi siapa sebenarnya Desy?"


"Jika yang dimaksud Roni adalah Desy yang itu, aku rasa dia salah faham."


"Iya, tapi memangnya siapa dia? Jangan berbelit-belit begitu."


"Dia temanku saat SMA dan tiba-tiba menjatuhkan diri dari lantai tiga gedung sekolah kami?" Sunday membelalakkan matanya setelah mendengar penuturan Faris.


"Banyak yang mengatakan bahwa itu karena aku memutuskannya dan berpacaran dengan gadis lain."


"Kau benar-benar adalah playboy sejati sejak dulu."


"Hei, dengarkan aku dulu. Jangan secepat itu menyimpulkan." Sunday lalu mengatupkan bibirnya.


"Aku dan Desy tidak pernah berpacaran. Kami memang dekat. Kami sering belajar bersama, pergi nonton dan makan. Tapi aku hanya menganggapnya teman dan tidak pernah lebih. Kejadian itu memang terjadi saat aku sedang mulai menjalin hubungan dengan temanku yang lain. Dan mungkin ia mengganggap aku sudah mencampakkannya lalu berpacaran dengan gadis lain."


"Ahh, rumit sekali." Sunday sinis.


"Lalu bagaimana keadaan Desy? Apakah dia..."


"Ya... dokter tidak bisa menyelamatkannya dari gegar otak parah saat kepalanya membentur beton lapangan basket." Sunday membungkam mulutnya yang sempat menganga.


"Aku benar-benar tidak tahu kalau selama ini dia memiliki perasaan yang berbeda. Sampai saat buku hariannya ditemukan di dalam tasnya. Dia membuat pesan terakhir di sana."


"Tentang apa?"


"Aku tidak tahu pasti tapi sepertinya itu tentang pertemanan kami. Hanya saja aku tidak mau mudah percaya karena dia benar-benar sangat mengenalku dan tahu aku baik kepada setiap orang. Aku juga suka pergi dengan para gadis sebagai teman, bukan pacar." Mendengar itu Sunday diam. Faris juga tidak mengatakan apapun lagi.


"Gina juga mengalami hal yang sama." Sunday bergumam pelan.


"Jadi kau mau mengatakan semua itu juga adalah salahku?"


"Berhentilah bersikap baik kepada semua orang. Bangunlah batasan jika memang kau tidak ingin kedekatan kalian diartikan lain."


"Aku tidak pernah bermaksud begitu."


"Tapi secara tidak sadar kau memang seperti itu." Faris memandang Sunday yang menggunakan nada tinggi saat mengatakannya.


"Maafkan aku."


"Maafmu bukan kepadaku. Tapi kepada semua gadis yang kau perlakukan dengan manis." Sunday memalingkan wajah dari pandangan Faris.


Setelah itu suasana menjadi hening. Sunday tidak ingin berbicara apapun lagi kepada Faris. Begitu pula sebaliknya. Apapun yang ingin Faris katakan pasti Sunday akan menganggapnya pembelaan diri.

__ADS_1


Sunday merubah letak duduknya dan sekarang mengambil posisi berbaring. Faris melihat ada kemarahan di kalimat terakhir Sunday. Ia berfikir bahwa apa yang dilakukannya tidak menyalahi aturan. Ia menganggap apa salahnya bersikap baik. Bukankah itu jauh lebih baik daripada bersikap buruk? Lalu ketika orang lain berfikiran sesuka mereka apa itu adalah salahnya? Menyalah artikan kebaikannya apa itu juga kesalahan yang harus ia pertanggung jawabkan? Faris masih berfikir bahwa berbuat baik ternyata kadang juga dianggap kesalahan oleh orang lain.


"Aku pulang dulu." Faris pamit ketika melihat Sunday diam membelakanginya dan memejamkan mata. Ia tahu Sunday mungkin hanya berpura-pura tidur untuk menghindari perdebatan lebih panjang dengannya.


__ADS_2