
Faris melepaskan plester kompres di kening Sunday. Lalu beranjak dari tempatnya dan menuju tempat sampah kecil tertutup di sudut ruangan. Membuang plester kompres bekas Sunday di sana. Sunday menyentuh keningnya dan merasa baik-baik saja.
"Kenapa ada kompres di keningku?"
"Tadi kau sempat demam."
"Oh ya? Aku merasa aku baik-baik saja."
"Tubuhmu lemas kekurangan cairan, itu yang menyebabkan kau sedikit demam. Aku khawatir demammu bertambah tinggi jadi ku letakkan kompres dikeningmu."
"Kau... khawatir terhadapku?" Sunday memasang wajah serius menatap Faris yang sekarang duduk di sofa. Dia hanya bercanda soal permainan pedofil tadi. Detak jantung Sunday berangsur-angsur kembali normal.
"Aku yang membawamu kemari jadi aku harus bertanggung jawab atas dirimu. Aku harus mengembalikanmu pulang dalam keadaan utuh, tidak tergores apalagi pecah."
"Hei, kau pikir aku ini apa." Faris terkekeh. Perumpamaannya ternyata membuat Sunday tersinggung.
"Aku lega karena kau sudah kembali terlihat segar. Tadi aku sangat takut saat badanmu hangat dan bibirmu pucat. Aku pikir aku akan berakhir di ruang penyidikan dan harus menghadapi introgasi polisi karena menjadi saksi atas kematianmu yang tragis. Lalu besoknya akan terbit berita di koran, tv atau berita online bahwa ada seorang gadis yang mati di kamar hotel gara-gara diare yang disebabkan semangkuk bakso dengan banyak sambal. Disitu juga dijelaskan bahwa itu dilakukan si gadis karena setelah melihat pacarnya mengobrol dengan gadis lain. Hal tersebut adalah bentuk kekesalan dan menuju arah percobaan bunuh diri karena dipicu rasa cemburu yang berlebihan." Faris menahan tawa sambil seolah membacakan berita.
"Ayo lanjutkan." Sunday mulai menahan amarah. Tapi Faris semakin ingin tertawa.
"Akhirnya pacar si gadis menjelaskan bahwa dia bukanlah siapa-siapa dan hanya salah seorang tamu di pernikahan saudaranya yang mendapat perlakuan ramahnya. Tidak ada hubungan apapun. Akhirnya si gadis posesif itu mengerti dan menyadari kesalahfahamannya lalu meminta maaf dan mencium pacarnya yang tampan, mempesona dan baik itu." Akhirnya Faris tertawa juga membacakan narasinya. Sunday manyun.
"Dasar narsis. Kau pikir semua gadis berfikir begitu tentangmu?"
"Tentu saja. Kau lihat sebelah manaku yang tidak menarik?"
"Tidak ada yang menarik sama sekali"
"Kau ini sepertinya perlu diperiksa oleh dokter mata."
"Mataku baik-baik saja."
"Kalau begitu, mungkin otakmu yang bermasalah dan tidak bisa memproses berita yang dikirim oleh matamu."
"Mataku juga sehat."
"Berarti kemungkinan besar kejiwaanmu yang memang bermasalah."
"Aku juga tidak gila. Kaulah yang seharusnya butuh bertemu psikiater untuk mendapat sesi konsultasi demi penyakit narsismu yang bertambah parah itu."
"Sudah ku bilang itu bukan sebatas kenarsisanku tapi memang kenyataanya begitu."
"Dasar, overconfidence." Gumam Sunday memalingkan wajahnya. Faris tersenyum jumawa.
"Ahh, aku ngantuk sekali." Faris menarik kedua tangannya ke atas sambil menggeliat. Lalu menpuk sofa dan hendak membaringkan tubuhnya.
"Hei, jangan tidur disitu." Cegah Sunday.
"Kenapa?"
"Kau punya kamar sendiri jadi tidurlah dikamarmu sendiri."
"Ini juga kamarku. Aku yang membayar tagihannya."
Benar juga, Faris yang membayar biaya menginap di hotel ini termasuk kamar Sunday. Sunday tampak salah tingkah.
"Tapi... kau juga punya kamar lain yang bisa kau tiduri."
"Iya tentu saja. Dan karena aku membayar semua biaya kamar jadi aku bebas tidur dimanapun sesuka hatiku."
__ADS_1
"Tidak... tidak bisa begitu. Kau... kau bilang ini kamarku jadi aku yang lebih berhak tidur disini."
"Itu benar. Aku juga tidak melarangmu tidur disini."
"Bukan itu maksudku." Sunday tampak gusar, bingung bagaimana menjelaskannya kepada Faris.
"Tapi aku tidak ingin berada satu kamar denganmu."
"Tidak ingin satu kamar? Lalu siapa yang akan menjagamu? Kau kan sakit."
"Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja."
"Benarkah? Tapi tadi kau bilang padaku jangan pergi."
Sunday terbelalak. Mana mungkin dia mengatakan hal itu.
"Oh ya? Aku bilang begitu?"
"Hmm. Kau bahkan memegang tanganku agar tidak meninggalkanmu."
Sunday mencoba mengingat-ingat apa benar dia melakukannya. Atau itu hanya akal-akalan Faris untuk membohonginya. Sunday memandang Faris penuh selidik. Faris tampak polos dan terlihat sedang tidak mengerjainya. Lalu Sunday diam lagi. Mencoba berfikir keras apa benar semua yang dikatakan Faris. Lalu dalam diamnya, Sunday mengingat sesuatu...
Faris menempelkan plester ke dahinya. Merasakan ada sensasi dingin di kepalanya, Sunday membuka matanya pelan. Kepalanya terasa berat.
"Tidurlah lagi. Semua akan baik-baik saja." Sunday mendengar suara lirih Faris sambil memasang plester turun panas itu.
"Jangan pergi." Sunday meraih tangan Faris dan menggenggamnya.
"Aku tidak akan pergi."
"Aku takut kau pergi lagi."
"Aku tidak akan kemana-mana. Aku akan selalu bersamamu."
Sunday terkesiap mengingat itu semua. Jantungnya berdebar tak beraturan. Wajahnya merona. Faris memandangnya dengan heran.
"Sudah... aku merasa sangat baik sekarang. Jadi, tidurlah dikamarmu sendiri. Aku tidak akan merepotkanmu lagi." Sunday berusaha menutupi kegugupannya
"Masalahnya bukan merepotkan atau tidak, tapi aku yang bertanggung jawab akan dirimu jadi aku harus memastikan kau benar-benar baik-baik saja."
"Tidak apa-apa, aku sehat. Aku sudah tidak mulas lagi. Aku tidak demam dan juga aku tidak diare lagi."
"Tidak, aku akan tetap disini."
"Ayolah, pergilah ke kamarmu sendiri."
"Tidak mau."
"Ayolah." Sekarang Sunday sudah turun dari tempat tidur dan menarik tangan Faris agar bangun dari duduknya.
"Tidak, aku harus bersamamu. Kau bilang tadi kau tidak ingin aku pergi lagi." Faris menyembunyikan senyumnya dengan memalingkan wajahnya.
Sunday mendadak merona Faris mengatakan itu. Bagaimana mungkin dia mengatakan itu kepada Faris. Itu sungguh menjatuhkan harga dirinya dan membuatnya kehilangan muka.
"Aku tidak mengatakannya dengan benar. Maksudku tadi aku memang butuh ditemani. Tapi karena sekarang aku baik-baik saja jadi aku sudah tidak butuh teman."
"Jadi begitu? Habis manis sepah dibuang? Kau ini kejam sekali. Hanya memanfaatkan saat kau butuh."
"Bukan begitu... tapi... ahh, kau ini." Sunday menghentakkan kakinya kesal.
__ADS_1
"Baiklah aku saja yang ke kamarmu." Sunday berjalan keluar. Tapi beberapa saat kemudian dia kembali.
"Ada apa?" Faris menahan tawa melihat tingkah Sunday.
"Mana kuncinya?"
"Sudahlah, berdua itu lebih baik."
"Tidak. Aku tidak mau."
"Kau memohon hingga bersujud pun tidak akan ku berikan kuncinya. Dan kita akan selalu bersama malam ini. Jadi, patuhlah saja. Melawanku pun akan percuma." Faris menyeringai. Sunday jadi merinding.
"Baiklah..." Sunday kembali duduk di tempat tidurnya. "Aku akan tetap di sini. Tapi pastikan kau tidak pernah mendekatiku." Sunday memakai selimut untuk menutupi kakinya.
"Oke, aku tidak akan mendekatimu. Tapi kadang aku suka berjalan saat tidur."
"Mimpi berjalan?"
"Hmm." Sunday bergidik lagi.
"Yang benar saja. Bagaimana aku tau kau benar-benar ngelindur atau hanya modus saja." Sunday menyipitkan matanya. Faris akhirnya terbahak melihat Sunday cukup cerdas.
"Baiklah ayo kita tidur. Ada waktu 2 jam untuk kita tidur. Setelah bangun kita akan pulang. Katamu hari senin kau ada kuliah siang. Tentang magangmu, izinlah dulu. Karena pukul 8 kita belum sampai sana."
"Iya..." Sunday mengakui jika Faris memang teliti sehingga menjadwal semuanya dengan baik.
Akhirnya Sunday mulai membaringkan tubuhnya. Tapi beberapa saat kemudian lampu dimatikan. Sunday gelagapan.
"Kenapa lampunya dimatikan?"
"Tidur itu baiknya dalam gelap agar semua organ tubuh kita beristirahat dengan maksimal." Jelas Faris yang sudah kembali berbaring di sofa.
"Tidak. Nyalakan lagi."
"Kau bisa menyalakan lampu di nakas."
"Itu tidak bisa menerangi seluruh ruangan."
"Kau ini aneh sekali. Kenapa tidur ditempat yang sangat terang." Akhirnya Faris bangun dan menyalakan lampu lagi.
"Aku takut kau berbuat yang aneh-aneh kepadaku."
"Kau ini benar-benar hobi berfikiran buruk kepadaku."
"Kau sendiri yang membuatku begitu."
"Oh ya? Kapan? Yang mana?" Faris melipat kedua tangannya didada.
"Kapan saja, dimana saja. Kau itu pria dan aku wanita. Di dalam satu kamar. Itu sangat berbahaya."
"Ahh, sudahlah... aku tidak ingin berdebat lagi. Aku sangat mengantuk. Aku mau tidur. Silakan kau ada dalam ketakutanmu. Pokoknya aku tidur." Faris menutup wajahnya dengan bantal kusi dan setelah itu tidak ada pergerakan lagi. Sepertinya dia sudah benar-benar tertidur.
Sekarang sepertinya Sunday yang tidak bisa tidur. Intensitas tidurnya yang lama tadi membuatnya tidak mengantuk lagi. Sepanjang waktu ia hanya menatap langit-langit kamar sementara disitu hanya terdengar bunyi detak jam.
Sunday memiringkan tubuhnya ke samping dan melihat bantal penutup wajah Faris jatuh. Ia pun turun untuk mengambilnya. Untuk mengambilnya ia harus berjongkok. Tepat saat itu ia berada lurus dengan wajah Faris. Wajah lelapnya sangat damai. Tidak ada senyum nakal, tidak ada kerlingan menjengkelkam dan tidak ada seringai yang membuatnya takut.
Tapi yang paling mengusik dirinya adalah walau tertidur pun Faris tetap terlihat mempesona. Dia memang selalu tampan dalam segala keadaan.
Tiba-tiba dadanya terasa menghangat yang rasa itu turun ke perut dan memberi efek kupu-kupu terbang lagi. Setelah meletakkan bantal di sisi Faris, ia berdiri. Bertanya-tanya kenapa akhir-akhir ini ia merasakan sensasi aneh ini.
__ADS_1
Diambilnya ponsel dan mulai menjelajah di google. Mengetikkan tentang keluhannya. Sejurus kemudian muncul deretan artikel tentang apa yang ia cari. Sunday terbelalak dengan isi artikel pertama yang dibacanya. Masih kurang puas dan mungkin saja itu hanya sebuah hoax, Sunday berpindah ke artikel lain yang isinya mirip juga.
Dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang dibacanya. Tubuhnya seperti melemas seketika membaca artikel-artikwl itu.