Nona Hari Minggu

Nona Hari Minggu
Menular


__ADS_3

Faris dan Sunday berjalan tergesa menyusuri koridor rumah sakit. Wajah keduanya terlihat panik. Bagaimana mungkin Gina bertindak sebodoh itu.


Langit malam ini terlihat berbintang. Bulan pun bersinar cukup terang. Faris dan Sunday sedang makan lalapan di warung tidak jauh dari tempat mereka tinggal.


"Kenapa kalau soal tempat makan saja kau cepat sekali tahu." Faris menyuapkan lalapan ke dalam mulutnya.


"Kau lupa kalau aku ini reporter acara kuliner?"


"Reporter? Bukan presenter?"


"Tidak, aku memutuskan untuk bertindak sebagai reporter saja. Menjadi presenter bisa membuatku repot. Kau tahu kan wajah menarikku pasti akan menarik perhatian para produser film dan agen periklanan jika tampil di tv." Ucap Sunday percaya diri tapi cuek.


"Memang apa beda reporter dan presenter? Mereka semua sama-sama menampang di depan kamera. Lagipula apa ini? Kau narsis sekali. Sejak kapan kau narsis begini?"


"Sejak tertular darimu."


"Tertular dariku? Sejak kapan WHO menetapkan sifat narsis menjadi penyakit menular? Kalau aku mau narsis ya memang aku mau. Tapi kenapa saat kau narsis itu jadi tertular dariku?"


"Ya, karena sejak mengenalmu aku jadi mulai terbiasa menarsiskan diri. Kau itu memang mirip dengan sejenis pandemi. Sangat berbahaya dan mudah menular."


"Memangnya aku virus?" Gerutu Faris yang menyuapkan lagi nasinya.


"Ya, kau memang virus." Ujar Sunday santai.


"Virus cinta." Sunday berbisik kepada Faris yang ada di sebelahnya. Ada sensasi geli ditelinga Faris karena hembusan nafas Sunday. Faris tertawa kecil. Tapi kemudian wajahnya merah, tersipu.


"Apa kemampuan merayumu juga tertular dariku?" Faris menatap Sunday lembut. Sekarang berganti Sunday yang berdebar dipandang seperti itu.


"Sepertinya begitu." Sunday lalu memalingkan wajahnya agar Faris tidak menangkap wajah tersipunya.


Ditengah aksi saling membuat tersipu, ponsel Faris menyuara.


"Ya Om. Apa? Dimana? Baiklah, aku akan ke sana." Faris terlihat tegang saat menerima telepon.


"Kenapa?" Sunday kali ini seperti tertular tegang juga oleh Faris.

__ADS_1


"Gina meminum banyak obat tidur dan sekarang ada di rumah sakit. Om Rangga memintaku ke sana." Faris beranjak dari duduknya.


"Aku ikut." Faris memandang Sunday lekat.


"Aku hanya akan ada di luar, aku tidak ikut menemui Gina." Sunday seperti tahu apa yang difikirkan Faris. Ia tahu disaat seperti ini ia tidak ingin menjadi masalah. Ia tidak tahu kenapa Gina mencoba membunuh dirinya sendiri, tapi sebagai teman ia memiliki rasa kepedulian kepada Gina dan ingin tahu keadaannya.


Faris memasuki kamar rawat inap Gina. Sunday menunggunya di luar. Duduk di sebuah kursi tunggu. Ia sangat berharap Gina baik-baik saja saat ini.


Faris mendapati Gina yang terbaring lemah dan tertidur pulas. Matanya masih terlihat bengkak meski terpejam sekalipun. Terlihat sekali ia habis menangis. Wajahnya masih pucat dan terlihat lelah. Setelah melihat keadaan Gina yang yakin telah melewati masa kritisnya beberapa saat kemudian Faris keluar dari kamar inap Gina. Sunday bermaksud menghampiri tapi ia urungkan niatnya karena Faris diikuti oleh seorang pria dibelakangnya. Papa Gina.


"Aku tidak tahu apa yang difikirkannya. Dia gadis yang kuat. Tapi waktu itu dia bahkan menangis saat aku mengatakan kau tidak bisa menikah dengannya." Ujar Papa Gina di depan pintu kamar inap.


Sunday bisa mendengar kalimat Papa Gina karena berada beberapa langkah saja dari tempat Faris dan Papa Gina berbincang. Faris melirik Sunday yang menundukkan wajahnya menekuri lantai. Faris tahu Sunday mendengar pembicaraan itu.


"Jika boleh menjadi jahat, aku akan berpura-pura tidak tahu kau memiliki orang yang kau sukai dan memohon padamu untuk menikahi Gina. Apa aku bisa melakukan itu?" Papa Gina menatap Faris dengan air mata menggantung di pelupuk matanya.


"Gina putriku satu-satunya. Aku tidak mau kehilangan dia. Fikirkanlah lagi. Apa kau tidak kasihan padanya. Hanya kau yang bisa membuatnya bahagia. Dia tidak butuh kami yang adalah orang tuanya tapi bahkan frustasi saat kau menolak menikahinya. Kaulah yang diharapkan Gina." Papa Gina menyeka air matanya. Mama Gina juga mendengar perbincangan mereka dan masih menunggui Gina yang belum bangun dari tidurnya setelah mendapatkan perawatan medis. Faris tidak bisa berkata apa-apa selain hanya menggenggam tangan papa Gina sambil menyakinkan semua akan baik-baik saja.


"Aku akan berbicara dengan Gina saat dia sudah bangun besok."


"Aku mohon, buatlah dia bahagia. Aku sangat berharap kepadamu." Papa Gina masih mengusap mata basahnya lagi sebelum ia kembali masuk ke dalam kamar inap Gina. Faris membalik badan melihat Sunday yang masih duduk menekuri lantai. Memainkan kedua kakinya seperti sedang mengusir rasa gelisah. Ia dekati gadis itu.


"Ini semua karena aku." Kalimat Sunday yang lebih mirip sebuah gumaman dengan wajah sendu yang kental.


"Hei apa maksudmu?" Ucap Faris lirih. "Kau tidak ada hubungannya sama sekali dalam hal ini."


"Gina sangat menyukaimu tapi aku malah merebutmu darinya."


"Kau tidak merebutku dari siapapun. Aku menyukaimu, begitu juga kau kepadaku. Kita memiliki rasa yang sama sejak awal. Gina hanya menyukaiku tanpa aku bisa membalasnya. Lalu bagaimana bisa itu dikatakan kau merebutku darinya? Itu tidak benar." Faris mengusap pipi Sunday yang basah oleh setitik air mata yang jatuh. Tidak bisa dipungkiri Sunday memang merasa bersalah. Ia tahu Gina sangat menyukai Faris tapi demi perasaannya sendiri Sunday mengabaikan perasaan Gina.


"Aku akan mencari cara agar Gina tidak melakukan kebodohan lagi. Kau hanya harus terus berada di sisiku. Jangan lakukan apapun. Jangan beranjak menjauh apalagi pergi. Percayakan semua padaku."


"Menikahlah dengannya. Bukankah kau ingin menikah juga?" Sunday memandang Faris dengan pandangan yang entah kenapa seperti ribuan jarum menusuk hatinya. Faris menautkan kedua alisnya. Seperti berfikir apa kalimat itu benar-benar Sunday ucapkan dari hatinya atau karena ia merasa bersalah kepada Gina.


"Aku hanya ingin menikah denganmu. Itulah kenapa aku mengajakmu menikah. Dengan begitu ku pikir tidak akan ada perjodohan antara aku dan Gina. Lagipula bagaimana mungkin aku menikahinya kalau aku sama sekali tidak merasakan cinta terhadapnya. Aku hanya mencintaimu. Apa kau tega membiarkanku tersiksa menikahi gadis yang tidak ku sukai? Apa kau mau melihatku tidak bahagia?" Sunday menggeleng perlahan. Benar juga, Faris juga berhak memilih jalan hidupnya sendiri dan tidak perlu berkorban apapun. Tapi bagaimana dengan Gina? Bagaimana dengan dia yang sudah terlanjur cinta mati terhadap Faris dan merasa tidak bisa hidup tanpanya? Sunday masih diam membisu memikirkan Gina.

__ADS_1


"Aku akan memikirkan cara agar Gina bisa mengerti dengan keadaanku. Agar dia bisa menerima bahwa aku hanya menyayangi seperti kakaknya."


Sunday memandang Faris dan mencari kesungguhan dimatanya. Faris mengulas senyum lagi.


"Ayo kita pulang. Kau harus bekerja besok." Faris bangun dari duduknya dan menarik tangan Sunday agar ikut bangun juga. Perlahan Sunday berdiri dari duduknya dan mengikuti langkah Faris meninggalkan rumah sakit.


Mobil mereka melaju membelah jalan raya. Udara menjadi dingin karena hujan yang baru saja mengguyur dan menyisakan rintik gerimisnya. Sunday masih tertidur saat mobil Faris sampai di depan kosnya. Faris tidak ingin membangunkan hingga ponsel Sunday bersuara di saku celana jeansnya. Perlahan Sunday membuka mata.


"Ya..." Sunday menguap sambil mendengar suara dari ponselnya.


"Besok saja ku kirim padamu, Kak. Baiklah..." Lalu Sunday menggenggam ponselnya setelah menutupnya lebih dulu.


"Kenapa Victor meneleponmu semalam ini?" Terlihat sekali ada nada tidak suka dari suara Faris.


"Dia hanya meminjam program tugas akhirku untuk referensi mata kuliahnya."


"Itu pasti hanya alasannya saja untuk bisa bertemu denganmu. Memangnya dia tidak bisa meminjam pada orang lain?"


"Sepertinya tidak, dia hanya meminta agar aku mengirimkan padanya melalui email."


"Kalau begitu berarti dia hanya ingin mendengar suaramu saja." Faris semakin cemberut.


"Hei... tuan pencemburu, kenapa kau suka sekali mencemburuiku?" Goda Sunday.


"Karena kau pacarku makanya aku mencemburuimu. Akan sangat lucu kalau aku mencemburui pacar orang lain. Kurang kerjaan itu namanya. Atau jika kau yang mencemburui pacar orang lain, itu berarti kau sudah siap mendapat 'pelajaran' dariku." Sunday tertawa.


"Kau sangat lucu, tuan taddy bear. Aku gemas sekali." Sunday mencubit pipi Faris. Faris lalu menurunkan tangan Sunday.


"Jangan cubit pipiku, cium saja."


"Huh, maunyaaaaa." Sunday mencibir. Faris menjadi gemas.


"Kalau begitu aku saja yang menciummu." Faris lalu mencium jemari lembut Sunday yang ada dalam genggamannya. Sunday menegang dan memandang Faris malu-malu.


Sifat pencemburu dan posesif Faris membuat Sunday yakin bahwa pria itu mencintainya dengan sungguh-sungguh. Tidak seperti penilaian awalnya dulu bahwa Faris adalah pria yang rajin berganti-ganti gadis. Semakin ke sini, semakin jauh mengenalnya Faris memang tidak se-playboy itu. Dia pria yang baik.

__ADS_1


"Masuklah..." Sunday mengangguk lalu membuka pintu mobilnya. Setelah melambaikan tangan, Sunday benar-benar menghilang di balik pintu kosnya. Saat itu Faris baru memundurkan mobil dan memasukkan ke dalam garasi rumahnya. Memasuki rumahnya yang sunyi, Faris menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Berfikir bagaimana caranya agar bisa membuat Gina bangkit kembali tanpa dirinya harus selalu disisi Gina lagi. Karena sekarang dia sudah bersama Sunday. Prioritasnya adalah Sunday, bukan lagi gadis lain.


Faris memejamkan matanya berharap akan ada solusi untuk menghadapi Gina besok.


__ADS_2