Nona Hari Minggu

Nona Hari Minggu
Sudut Pandang


__ADS_3

"Apa kau bisa bersamaku sekarang karena aku bukan pelaut lagi?" Pertanyaan Faris membuat Sunday tersenyum lebar.


"Ku pikir kau tidak akan menanyakan itu." Sunday masih dengan sisa senyumnya.


"Baiklah, aku tidak akan bertanya lagi jika itu mengusikmu."


"Salah satunya memang itu." Ujar Sunday kemudian.


"Jadi, jika aku masih seorang pelaut kemungkinan kecil aku bisa bersamanu."


"Sepertinya begitu."


"Kau ini benar-benar konsisten." Gerutu Faris. Sunday tersenyum lagi.


Hari itu adalah hari libur pertama yang mereka habiskan bersama. Sangat sederhana tapi mereka bahagia. Hingga hari ini hari bekerja kembali di mulai. Sunday keluar dari pintu pagar kosnya lalu berjalan menyusuri gang.


"Hei Nona, apa aku boleh berjalan bersamamu?" Sapa Faris yang keluar dari pagar rumahnya dengan senyum malaikat yang sangat memikat.


"Tidak. Aku ingin berangkat sendiri." Jawab Sunday singkat sambil memamerkan senyum manisnya.


"Kenapa denganmu? Kau tidak mau berangkat kerja denganku?"


"Aku tidak ingin semua orang berfikir yang bukan-bukan tentang kita."


"Berfikir tentang apa? Kenyataannya kita memang memiliki hubungan." Faris mulai meninggi.


"Aku tidak mau mereka berfikir aku mendompleng kekuasaanmu. Kau seorang bos dan aku pegawai biasa. Menjadi putri tiri seorang project manager saja aku tidak ingin orang-orang tahu apalagi jika aku dan kau memiliki hubungan."


"Kau ini. Lagipula siapa yang akan peduli dengan kau putri siapa dan pacar dari siapa. Itu karena kau terlalu banyak mengkhawatirkan yang belum terjadi."


"Tidak, aku memikirkannya dan aku rasa merahasiakan identitasku adalah cara tepat agar aku bisa bekerja dan berteman dengan baik di Font. Tanpa ada yang sungkan terhadapku atau sebaliknya malah memanfaatkanku." Jelas Sunday.


"Lalu sampai kapan kita akan backstreet begini?"


"Mmmmm..." Sunday tampak berfikir. "Sampai saat yang belum ditentukan." Sunday cekikikan.


"Apa??? Kenapa jadi tidak jelas waktunya?" Faris memelototi Sunday.


"Aku tidak mau backstreet. Aku mau semua orang tahu kita memiliki hubungan. Aku juga akan menjelaskan pada mereka bahwa kita sudah saling mengenal sejak kita sama-sama belum ada di Font."


"Kau sudah gila ya. Itu bahkan akan membuatku terlihat seolah sebagai pegawai yang masuk karena relasi."


"Ahh, entahlah. Kau ini selalu mendebat kata-kataku. Terserah apa maumu." Faris lalu kembali masuk ke dalam dan memasuki mobilnya. Sunday menghela nafas berat melihat itu. Faris keluar dengan mengendarai mobilnya. Ia tampak marah. Bahkan saat mobilnya melintasi Sunday pun ia tidak menoleh sedikitpun kepadanya. Sunday menghela nafas berat.


Inilah konsekuensi yang harus diterimanya memiliki hubungan spesial dengan para petinggi Font. Anak tiri Om Rudi dan Pacar Faris.


🌸🌸🌸


Sunday meninggalkan perpustakaan setelah mengembalikan buku yang ia baca. Faris tampak berjalan dengan seorang Design Tester dari tim lain. Mereka berjalan bersisipan tapi Faris bahkan tidak meliriknya sama sekali. Sunday tertawa kecil pada dirinya sendiri. Faris mungkin masih marah padanya.


Sunday memasuki ruangannya dan menemukan Lita yang sedang sibuk dengan beberapa kertas hasil printout desainnya. Pak Dedi memberikan hasil dari uji cobanya kepada Sunday. Beberapa hari lagi ada jadwal instalasi program milik salah satu klien.


Sore menjelang, Sunday turun dari lift dan sampai di lantai dasar. Biasanya dijam ini ia akan bertemu Gina tapi sepertinya hari ini tidak masuk kerja.


Apa dia belum pulang dari Bali? Atau dia masih terlalu lelah untuk masuk kerja? Sunday membatin sambil melanjutkan langkahnya keluar dari lobi Font. Bersamaan dengan itu ia melihat Faris mengendarai mobilnya melintas dan meninggalkan pelataran Font.

__ADS_1


"Dia benar-benar semarah itu." Sunday tersenyum kecut memandang mobil Faris menjauh.


Udara sore hari mulai terasa sejuk. Matahari sudah tenggelam setengahnya dan setiap detik semakin tenggelam. Tiba-tiba seseorang menarik tangannya. Faris menarik Sunday untuk masuk ke halaman rumahnya.


"Apa-apaan ini?"


"Aku merindukanmu." Wajah Faris polos memandang Sunday.


"Bukankah kita sudah bertemu tadi di Font."


"Rasanya sangat menyiksa hanya bisa memandang tanpa bisa menyentuhmu." Faris menyundul bahu Sunday dengan ujung jarinya.


"Kau pikir aku ini sabun cuci kau colek-colek begitu." Sunday menggeser letak berdirinya.


"Kau tahu, bahkan saat melihatmu pun aku masih saja merindukanmu."


"Ahh, kau ini alay sekali." Sunday memalingkan wajah menyembunyikan rona di pipinya.


"Ya sudah, kau sudah bertemu denganku. Aku pulang. Aku mau mandi dan beristirahat. Aku lelah sekali." Sunday menggeleng-gelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk mengurangi pegal di lehernya.


"Mandilah di sini, nanti aku akan memijitimu."


"Apa??? Tidak, aku tidak mau." Sunday setengah berteriak.


"Kalau tidak mau ya sudah. Kenapa kau histeris begitu. Memangnya aku mau mengapakanmu." Faris menyipitkan mata menyelidik tindakan berlebihan Sunday.


"Ya sudah aku pulang." Sunday beranjak meninggalkan Faris.


"Setelah mandi kembalilah kesini."


"Aku lelah, aku mau tidur."


"Kenapa aku?"


"Sudah jangan banyak alasan. Cepatlah mandi lalu kembalilah kemari." Sunday cemberut meninggalkan Faris yang menahan tawanya.


Setelah mandi Sunday kembali ke rumah Faris. Padahal ia ingin bersantai dikamarnya tapi setelah keluar dari kamar mandi tadi ada 10 panggilan tak terjawab di ponselnya dan itu semua dari Faris. Jadilah ia tetap harus kembali ke rumah Faris sekarang. Pintu pagar rumah Faris tidak di kunci lagi.


"Orang ini, kebiasaan sekali tidak mengunci pagarnya." Gumam Sunday dan langsung masuk ke dalam halaman. Ia buka pintu rumahnya juga sepi.


"Kemana dia?" Saat sampai di ruang tengah baru ia lihat Faris sedang berjongkok didepan sebuah api unggun. Sunday menghampirinya.


"Apa yang kau lakukan disitu? Main api unggun ya?"


"Api unggun? Aku sedang membuat tungku untuk membakar ikan."


"Membakar ikan?" Sunday duduk berjongkok disamping Faris. Sekilas Faris meliriknya. Cahaya api tungku membuat wajah Sunday membentuk siluet dengan cahaya kemerahan diujung hidungnya.


"Wah, kau membersihkan ikan sendiri?" Sunday melihat ikan yang sudah dibersihkan itu disebuah nampan.


"Ya, tentu saja."


"Aku tidak percaya kau bisa melakukan ini." Sunday menyelidik.


"Lihatlah jari-jariku yang manis ini jadi penuh luka karena sirip ikan-ikan nakal itu." Faris menunujukkan jari-jarinya yang berplester kepada Sunday.

__ADS_1


"Begitu saja terluka."


"Hei, paling tidak hargai usahaku dengan pujian. Kau ini suka sekali mencibirku." Faris bersungut-sungut. Sunday tersenyum yang lebih mirip menahan tawa.


"Itu sudah jadi bara, letakkan ikannya di atas tungku." Sunday pura-pura tidak menghiraukan sikap manja Faris kepadanya.


Semua ikan yang mereka bakar kini sudah habis. Mereka yang kekenyangan sekarang sedang duduk di teras samping rumah dengan sisa kepulan asap dari tungku buatan Faris.


"Mungkin seperti ini kehidupan sepasang suami istri. Setelah makan malam lalu duduk bersantai sambil mengobrol." Faris lalu cekikikan sendiri sambil duduk bersantai menyelonjorkan kakinya.


"Siapa yang sedang kau bicarakan?" Sunday meminum es jeruk yang dibuatnya tadi sebelum makan.


"Tetangga kita yang rumahnya di Afrika sana." Faris menjawab dengan kesal. Sunday selalu tidak peka.


"Kenapa kita di Indonesia tetapi punya tetangga di Afrika? Kau ini ada-ada saja." Sunday tertawa kecil.


"Dasar kau ini." Faris gemas dengan kejayusan Sunday.


"Sepertinya terlalu banyak bermain dengan algoritma, fikiranmu jadi seaneh ini." Sunday tertawa sekarang melihat Faris mulai naik emosinya.


"Iya iya... begitu saja kau marah." Sunday masih dengan sisa tawanya.


"Kau tahu, aku selalu suka melihat wajah cemberutmu. Kalau cemberut, kau mirip sekali dengan boneka taddy bear. Pipimu jadi mengembang." Faris meraba pipinya sendiri memastikan apa ia memang seperti itu sekarang.


"Meskipun mirip taddy bear tapi kau masih setampan ini. Itu membuatku suka berlama-lama memandangimu." Faris terkesiap dengan kalimat Sunday. Baru kali ini ia memujinya tampan. Biasanya Sunday lebih sering mencibirnya. Tapi kali ini Sunday seperti mengatakannya dengan tulus apalagi dengan pandang lembut Sunday seperti itu, membuat Faris jadi berdebar.


"Kau benar-benar mengatakan itu? Aku rasa ikan itu tadi beracuh hingga membuatmu meracau begitu." Sunday menggeleng. Faris lalu tersipu malu.


"Salah satu alasan lagi kenapa aku menyukaimu memang karena kau tampan. Aku juga wanita normal yang melihat itu darimu. Tapi bukan hanya itu yang membuatku menyukaimu. Kesungguhanmu meyakinkan aku atas cintamu yang membuatku sadar bahwa ada yang jauh lebih penting dari hanya sekadar profesi. Aku memutuskan untuk belajar mengubah sudut pandangku tentang profesi seseorang dan itu sangat tidak berhubungan dengan sifat dan sikap seseorang. Kalau Papa meninggalkan aku dan Mama itu karena memang pililihan Papa, bukan karena dia seorang pelaut." Sunday lalu menoleh ke arah Faris yang memandangnya.


"Kenapa baru sekarang fikiranmu terbuka begini? Kenapa tidak dari dulu-dulu saja. Aku kan jadi tidak selalu mengejar-ngejarmu terus. Melelahkan sekali selalu mencari cara bisa meluluhkan hatimu." Sunday tersenyum melihat wajah Faris yang entah ekspresi apa yang sedang ditunjukkannya itu.


"Terima kasih karena kaulah yang sudah mengubah sudut pandangku." Faris membulatkan matanya lalu melebarkan senyumnya.


"Ahh, senang sekali. Sepertinya aku akan memulai lagi karir pelautku."


"Silakan saja, tapi hubungan jarak jauh biasanya sulit akan berhasil."


"Apa maksudmu?" Sunday tersenyum penuh arti kepada Faris yang memandang lurus padanya.


"Jadi maksudmu LDR akan membuat kita putus?"


"Bisa jadi." Sunday mengangkat pundaknya.


"Tidak, kita tidak boleh putus." Sekarang Faris meraih lengan Sunday lalu menyandarkan kepala dipundaknya. Ia terkesiap mendapat perlakuan Faris yang sudah sedekat itu padanya. Tubuhnya menegang.


"Tubuhmu harum sekali. Aku suka." Ucap Faris lirih masih dengan kepala yang menempel dipundak Sunday. Debaran di dadanya semakin cepat saat Faris menggenggam jemarinya lalu memainkannya dengan lembut.


Tiba-tiba ponsel Faris berdering di sampingnya. Faris mengangkat kepalanya dan menjawab telepon dari papinya itu. Sunday seperti bisa bernafas lega setelah terbebas dari Faris. Ia tata kembali debaran berisik di dadanya.


"Besok malam datanglah ke rumah. Kita akan bersama-sama ke rumah Gina."


"Acara apa, Pi?"


"Acara melamar Gina untukmu."

__ADS_1


"Apa Pi?!" Faris tidak yakin pendengarannya sedang normal saat ini. Apa yang didengarnya pastilah salah. Sunday yang ada di sampingnya sampai terjingkat mendengar Faris setengah berteriak.


Faris memandang Sunday yang memandangnya polos. Wajah yang selalu dirindukannya. Wajah yang tidak pernah berhenti diimpikannya sejak lama. Wajah yang ingin ia selalu bersamanya sebagai teman hidupnya nanti.


__ADS_2