Nona Hari Minggu

Nona Hari Minggu
Tempat Apa Ini?


__ADS_3

Langkahnya riang. Seperti murid baru yang datang ke sekolah di hari pertamanya saat kenaikan kelas. Meskipun tidak ada sepatu baru, tas baru dan baju seragam baru tapi Sunday sangat antusias pada hari pertamanya berada di Font. Keinginannya menjadi programer memang belum tercapai tapi menjadi System Analist sudah menjadi awal yang baik baginya.


Satu jam perjalanannya terasa cepat dan sekarang dia sudah melangkahkan kakinya memasuki loby. Gambar pohon-pohon besar yang rindang pada layar plasma di loby memberi kesejukan tersendiri. Sunday menghampiri resepsionis di sisi kanan pintu masuk.


"Pagi... ada yang bisa saya bantu?" Sapa resepsionis itu ramah.


"Mbak, saya pegawai baru di sini jadi saya ingin mendapatkan id card."


"Oh, Anda salah satu pegawai yang lolos seleksi itu?"


"Iya mbak."


"Selamat yaa." Resepsionis itu tersenyum sambil mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Sunday.


"Terima kasih." Sunday menyambut uluran tangannya.


"Atas nama siapa?"


"Sunday." Lalu resepsionis itu mencari sesuatu dibalik mejanya. Dan beberapa saat kemudian memberikan id card yang dimaksud Sunday.


"Selamat bergabung dengan Font..." Resepsionis itu masih dengan senyum ramahnya. Sunday hanya menganggukkan kepalanya.


Kemudian Sunday memasuki lift menuju lantai empat gedung ini sesuai instruksi resepsionis yang mengatakan bahwa tempatnya bekerja ada di lantai empat. Sebelum pintu lift tertutup, tampak seseorang yang tergopoh-gopoh dan berlari menghampiri sehingga pintu lift kembali terbuka.


Seorang pria dengan perawakan agak gemuk masuk sambil terengah-engah. Sunday mengenali pria itu sebagai pegawai baru juga karena ia mendapatinya sedang menunggu interview waktu itu.


"Kau diterima di sini juga?" Tanyanya kemudian. Sunday mengangguk.


"Aku Roni."


"Sunday."


"Sebagai apa?"


"System analyst."


"Kita mungkin akan menjadi satu tim nanti." Pria itu melempar senyum dan setelah itu pintu lift terbuka di lantai tiga lalu ia pun pamit untuk keluar.


Sampai di lantai empat Sunday keluar dari dalam lift. Berjalan melewati lorong berdinding kaca. Dari situ terlihat suasana di sebuah ruangan dengan beberapa orang di dalamnya. Sunday membuka pintu. Sebagian orang menyadari kehadirannya. Lalu seseorang menghampirinya. Wanita muda berambut sepundak.


"Hai, aku Lita. Aku software designer di tim ini. Kau pasti Sunday kan?" Sunday membalas senyum Lita.


"Pak Dedi sudah menunggumu di ruangannya." Lita menujuk sebuah ruangan di ujung.


"Aku kesana dulu."

__ADS_1


"Oke." Lita ramah dan sepertinya periang, sama seperti resepsionis tadi. Apa untuk menjadi pegawai di sini harus berkepribadian riang juga, itu menjadi pertanyaan Sunday saat berjalan menuju ruangan Pak Dedi.


Sunday mengetuk pintu ruang Pak Dedi. Setelah menyuruhnya masuk Pak Dedi lalu mempersilakannya duduk. Pak Dedi adalah seorang Software Tester yang juga menjadi pimpinan tim ini. Selama beberapa saat di dalam ruangan itu, Sunday mendapat pengarahan dan berbagai aturan serta tugasnya berada di tim. Sunday menyimak dengan saksama.


"Baiklah, hanya itu untuk hari ini. Selanjutnya kau akan benar-benar menghadapi pekerjaanmu. Aku tahu orang-orang yang diterima oleh Font pastilah orang-orang terpilih dan dengan kemampuan yang luar biasa. Selamat datang di Font dan mulailah bekerja."


"Terima kasih, Pak." Pak Dedi menganggukkan kepalanya. Sunday keluar dari ruangan itu.


Seperti instruksi Pak Dedi, Sunday bergabung dalam tim Fedora, begitu sebutan untuk tim ini. Font memiliki beberapa tim untuk tiap project yang dipercayakan oleh para client. Font adalah software house yang cukup besar yang memiliki banyak client. Banyak perusahaan-perusahaan besar yang memakai jasa Font untuk pengembangan sistem informasinya. Entah berupa aplikasi ataupun pengembangan website perusahaan agar dikenal banyak kalangan. Mulai perusahaan berskala sedang hingga berskala besar di negeri ini menggunakan jasa Font dalam pembuatan software untuk perusahaan mereka. Tidak hanya itu, bahkan beberapa perusahaan asing pun memakai jasa Font untuk bekerja sama dalam pengelolaan sistem informasi berbasis desktop dan web. Itulah sebabnya Font menjadi salah satu perusahaan software yang cukup populer di negeri ini dan sangat diminati oleh para lulusan teknik informatika dan sejenisnya.


Sunday duduk di kursi meja yang ditunjukkan oleh Lita setelah berkenalan dengan tim yang akan bekerja dengannya. Ada Boby sebagai programer, Lita sebagai software designer, Mario sebagai design tester dan pak Dedi sebagai software tester. Sunday memulai tugas pertama dengan melanjutkan tugas pendahulunya yang sudah resign, menjadi system analyst sistem informasi milik suatu sekolah.


🌸🌸🌸


Jam istirahat. Sebagai pegawai baru, Sunday belum begitu mengenal Font dengan baik jadi ia memutuskan untuk bersama Lita saat makan siang tiba.


"Jika sedang tidak ada waktu biasanya aku makan siang di cafetaria di lantai dasar." Jelas Lita. Sunday menyimak karena dia benar-benar sebagai junior disini.


"Tapi kalau aku punya banyak waktu aku akan makan keluar untuk makan siang. Ehh, jangan salah faham dulu. Makanan di cafetaria cukup enak. Pilihannya juga banyak. Ada indonesian food, chinese food, dan western food. Oh iya, baru-baru ini ada juga menu korean food. Kau tahu kan demam korea sedang melanda negeri ini. Semua yang berbau Korea sedang trend di sini. Drama korea, K-Pop dan apalah aku juga tidak terlalu mengikuti." Lalu Lita terkekeh sendiri. Sekarang mereka sudah sampai cafetaria. Lita mengajaknya ke sini sekalian memperkenalkan Font secara pribadi dan karena inisiatifnya sendiri. Sunday sangat berterima kasih untuk hal itu.


Sampai di cafetaria mereka memesan makanan indonesia. Sunday memesan ayam goreng kremes yang rasanya lumayan enak. Diantara kesibukan makannya, Lita menyenggol bahunya. Sunday menoleh.


"Ada apa?" Tanya Sunday dengan mulut penuh makanan.


"Dia adalah orang dekat pemilik Font." Sunday mendapati gadis cantik dengan rok span selutut warna navy blue dan atasan kemeja bunga-bunga besar yang sepertinya bermaterial sifon. Sepatu hight heel hitam mempercantik kaki jenjangnya.


"Aku mendengar gosip bahwa dia masih kelurga dekat owner."


Mendengar itu Sunday teringat tentang kak Novi. Apa gadis itu berhubungan dengan kak Novi. Sunday ingin bertanya kepada Lita tentang kak Novi tapi ia urungkan niatnya. Ia tidak mau Lita berfikir yang bukan-bukan tentangnya.


Jam makan siang hampir berakhir setelah menghabiskan makanannya, Sunday dan Lita bermaksud kembali ke ruang mereka. Tapi sebelum kembali Sunday berpamitan kepada Lita untuk ke toilet dulu di lantai dasar dan membiarkan Lita lebih dulu ke ruang kerjanya. Tapi saat masuk ke kamar mandi tiba-tiba langkah kakinya menjadi tidak seimbang dan dia jatuh karena terpeleset lantai yang licin. Sunday jatuh terduduk.


Mendengar teriakan Sunday terjatuh, seseorang keluar dari kamar mandi dan menghampirinya. Membantu Sunday bangun dari jatuh.


"Siapa yang menumpahkan pembersih lantai ini. OB yang tidak bertanggung jawab. Aku akan mencarinya." Gumam gadis yang menolong Sunday itu.


"Kau tidak apa-apa?" Nada suaranya seperti khawatir. Sunday mengelus tulang ekornya yang membentur lantai kamar mandi.


"Aku tidak apa-apa." Jawab Sunday.


"Ya Tuhan, celanamu..." Gadis itu menunjuk celana Sunday yang penuh dengan noda pembersih lantai yang basah dan lengket. Melihat itu Sunday lalu mengelapnya dengan air dari wastafel dengan tangannya. Semakin ia basahi noda yang ditimbulkan semakin lebar. Ada rasa iba dari pegawai wanita itu melihat Sunday yang sibuk membersihkan celananya.


"Tunggulah di sini, akan ku bawakan kau ganti."


"Ehh, tidak usah. Ini juga akan kering." Sunday tidak menyangka jika gadis yang diceritakan Lita di kantin itu akan menawarkan bantuan disaat seperti ini.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Tunggulah." Lalu ia menghilang dibalik pintu kamar mandi. Sunday hanya bisa pasrah menunggu.


Beberapa menit kemudian gadis itu kembali dengan sesuatu ditangannya.


"Pakailah ini." Ragu-ragu Sunday menerimanya. Gadis itu dengan cepat menaruh baju ganti ditangan Sunday dan akhirnya Sunday benar-benar mengganti celananya.


"Agak kepanjangan, tapi tidak apa-apa. Tetap bagus untukmu. Lingkar pinggang kita sama." Gadis itu tersenyum manis.


"Oh iya, aku Gina. Kau?"


"Sunday..."


Lalu Gina berjalan keluar diikuti Sunday dibelakangnya. Jam istirahat sudah berakhir.


"Aku akan melaporkan ini ke bagian kebersihan. Bagaimana mungkin pembersih lantai bisa berserakan begitu. Padahal saat aku masuk tadi belum ada." Omel Gina dengan langkahnya keluar pintu toilet.


"By the way, apa kau pegawai baru dari perekrutan kemarin?"


"Iya, ini hari pertamaku."


"Wah, selamat datang..." Gina meraih tangan Sunday dan menyalaminya. Entah sudah yang keberapa kali Sunday mendapat ucapan selamat datang hari ini. Sunday merasa para pegawai di sini benar-benar ramah.


"Terima kasih." Sunday tersenyum kepada Gina.


"Kau ada di tim apa?"


"Aku di tim fedora."


"Oh, tim Pak Dedi?"


"Ya, benar." Mereka sudah sampai pintu lift sekarang. Setelah menombol di sisi pintu, lift pun terbuka. Sunday dan Gina memasuki lift.


"Saat melihatmu tadi aku merasa pernah bertemu denganmu tapi entah kapan dan dimana. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Pertanyaan Gina kali ini membuat Sunday mengerutkan kening.


"Entahlah, aku rasa kita belum pernah bertemu sebelumnya. Mungkin karena wajahku yang pasaran jadi memiliki banyak kembaran di luar sana." Sunday lalu tertawa kecil.


"Kau ini bisa saja." Gina ikut tertawa juga. Pintu lift terbuka di lantai 3, Gina keluar. Sunday melanjutkan ke lantai 4. Tapi sebelum pintu lift sepenuhnya tertutup ia melihat Gina menyapa seorang pria paruh baya yang wajahnya tidak asing bagi Sunday.


Papi Faris? Kenapa ada Om Sasono di sini? Kemarin ada Kak Novi, sekarang ada Om Sasono. Sebenarnya tempat apa ini? Kenapa ada banyak keluarga dekat Faris di sini?


Sunday seperti memutar kembali ingatannya tentang orang-orang dekat Faris itu. Dan lagi Lita bilang Gina adalah kerabat pemilik Font. Jangan-jangan Gina juga salah satu keluarga dekat Faris? Apa Gina saudara Faris yang lain? Melihat kedekatan Gina dengan Om Sasono mungkin hubungan mereka antara keponakan dan paman. Samar-samar tadi Sunday memang sempat mendengar Gina memanggil Om Sasono dengan sapaan 'Om'. Lalu siapa sebenarnya pemilik Font? Om Rudi pasti tahu. Tapi tentu saja Sunday tidak punya keberanian untuk bertanya-tanya kepada Om Rudi.


"Bagaimana ini kalau Om Sasono mengingatku?" Sunday berfikir.


"Tapi, Kak Novi saja tidak mengenaliku jadi kemungkinan Om Sasono juga tidak akan ingat siapa aku. Ya, semoga Om Sasono tidak tahu siapa aku." Sunday berkali-kali menarik nafas untuk menenangkan dari kegugupannya.

__ADS_1


__ADS_2