Nona Hari Minggu

Nona Hari Minggu
Sniper


__ADS_3

Sunday membuka kamarnya saat mendengar sebuah ketukan.


"Hai..." Suara riang Windy dari balik pintu. Serta merta Sunday lalu memeluknya. Rasanya sudah lama sekali mereka tidak berjumpa.


"Aku merindukanmu." Ujar Sunday sambil melepas pelukannya.


"Aku juga." Senyum Windy masih belum lepas dari bibirnya.


"Kau tahu, aku sudah siap mati saat menuju ke sini."


"Kenapa?" Tanya Sunday heran.


"Aku meninggalkan Suzan." Lalu Windy cekikikan.


"Habisnya malas sekali kalau harus menunggunya sampai akhir pekan. Dia itu pekerja keras. Pergi pagi pulang malam."


"Apa bank tempatnya bekerja hampir dilikuidasi?"


"Entahlah... tapi susah sekali bertemu dengannya saat weekdays memang." Mereka sekarang sudah duduk di sofa kamar Sunday.


"Ngomong-ngomong bagaimana keadaanmu sekarang?"


"Aku baik-baik saja."


"Aku kaget setengah mati saat tahu Faris di tv. Makanya aku lalu menghubungimu. Dan ternyata malah kau menjadi korban. Bagaimana itu bisa terjadi?" Windy memandang Sunday serius.


"Entahlah Win. Semua terjadi begitu saja. Rasanya seperti sebuah mimpi buruk bagiku."


"Memang siapa yang bisa melakukan itu padamu. Pacar dari bos besar Font." Windy sambil mengerling saat menyebut kata bos. Sunday menepuk bahunya.


"Aku memang mengenal Roni..."


"Oh namanya Roni."


"Ya, dia salah satu pegawai di divisi lain di Font. Aku mengenalnya hanya sebatas kenal. Tidak akrab sama sekali. Hubunganku dan dia hanya sebatas teman karena bekerja di tempat yang sama. Tapi sepertinya setelah ia tahu hubunganku dengan Faris dia berfikir bisa membalas Faris dengan menyakitiku."


"Benar-benar tidak punya hati. Bagaimana bisa dia membalas dendam kepada seseorang dengan ikut menyakiti orang lain juga." Gerutu Windy marah.


"Tapi apa hubungan semua ini dengan nama yang di sebut-sebut Faris di TV sebagai Desy?"


"Desy adalah adik Roni yang meninggal karena melompat dari gedung sekolahnya. Dan Desy adalah teman Faris. Diduga ia melakukan itu karena patah hati terhadap Faris."


"Ya Tuhan... sampai segitunya pesona Oppa Faris. Kau sangat beruntung memiliki pacar dengan penggemar garis keras begitu."


"Beruntung apanya? Aku terpanggang di dalam gudang kau sebut beruntung?"


"Bukan itu maksudku. Beruntung itu karena kau memiliki pacar se-most wanted Oppa Faris."


"Haduh... tidak segitu juga." Kilah Sunday.


"Tapi bagaimana rasanya pacaran dengan Oppa Faris?" Windy menatap Sunday ingin menggoda.


"Biasa saja." Jawab Sunday sok cuek.


"Oh ya, benarkah? Aku tidak percaya kalau rasanya biasa saja." Windy masih gencar menggodanya.


"Ku pikir Oppa Faris orangnya romantis dan penyayang. Pasti kau dibuat tak berdaya setiap waktu."


"Apa kau ini. Sudah, berhentilah menggodaku." Sunday tersipu.


"Ahh, aku iri sekali kepadamu."


"Sudahlah... kau ini seperti tidak punya pacar saja."


"Yaaa... wajahmu merah. Kau pasti sebahagia itu menjadi pacarnya."


"Ku bilang biasa saja."

__ADS_1


"Oh ya?" Windy menggoda dengan senyum lebarnya. Sunday memukul bahu Windy agar ia berhenti menggoda.


"Oh iya, bagaimana dengan Victor. Dia sudah tau?"


"Ya, tapi dia teman yang baik."


"Aku yakin dia patah hati berat saat tahu kau berpacaran dengan Oppa Faris."


"Sudahlah, jangan menggodaku terus tentang hal itu. Kau ini seperti tidak punya pekerjaan lain saja." Karena itu Sunday teringat tadi pagi Victor datang mengunjunginya tadi pagi dan mengatakan sangat sedih mendengar Sunday mengalami kejadian yang bisa dikategorikan sebagai tindak kekerasan itu.


"Aku terkejut saat mendengarmu terluka tapi aku lega karena sekarang kau terlihat baik-baik saja." Ujar Victor dengan tatapan sendunya.


"Ya, aku bersyukur bisa selamat dari kejadian itu." Balas Sunday sambil mengulas senyum.


"Apa Faris memang seperti itu?" Victor mulai membuka pembicaraan tentang Faris.


"Kita tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Tapi aku percaya padanya. Aku memutuskan untuk mendukungnya. Entah baik atau buruk aku hanya harus ada di dekatnya." Sunday memandang Victor lurus saat mengatakan semua itu.


"Beruntung sekali dia memiliki seseorang yang sangat peduli sepertimu." Suara Victor lirih. Ada rasa tidak enak di hati Sunday mendengar itu tapi ia juga memang tidak bisa membalas perasaannya.


"Hei, apa yang kau fikirkan?" Tepukan Windy dibahu menyadarkan Sunday kembali.


"Ehh, tidak ada." Sunday mengulas senyum pada sahabatnya.


🌸🌸🌸


Sunday mengeliat setelah terbangun dari tidurnya. Ia merasakan ada sesuatu di dekatnya lalu membuka mata. Ternyata Faris sedang duduk di tepi tempat tidurnya.


"Kau di sini?" Tanya Sunday dengan suara bangun tidurnya.


"Hmmm..."


"Sudah berapa lama kau di sini?" Tanya Sunday lagi sambil mengambil posisi duduk.


"Baru saja."


"Hei bos, kau membolos ya?"


"Ya, karena bos juga manusia. Yang kadang ingin membolos dan bisa lelah jika bekerja terus menerus." Faris mengeluh tapi lalu terkekeh.


"Kau benar-benar bukan bos teladan." Cibir Sunday dan Faris hanya membalasnya dengan tawa kecil.


"Aku merindukanmu." Mendengar jawaban singkat Faris, wajah Sunday memerah.


"Belum 24 jam tidak bertemu apa bisa sudah merasakan rindu?"


"Sudah ku katakan, aku bahkan merindukanmu saat sudah bertemu."


"Kau benar-benar masih keturunan Kahlil Gibran ya? Kenapa bawaannya ingin membuat orang tersipu terus." Sunday mencibir, Faris tertawa mendapat julukan itu.


"Senang melihatmu tersenyum begitu. Aku ingin bisa melihatnya setiap saat."


"Hei, jangan serakah. Bisa melihatku setiap hari itu sudah anugerah besar untukmu." Faris tergelak lagi. Pacarnya ini memang sering sekonyol itu dan ia merasa sangat terhibur.


"Tapi aku memang seperti itu, tidak suka pada hal yang hanya setengah-setengah."


"Kau memang mr. perfectionist. Bagaimana bisa ingin semua yang ada di hidupmu sesuai dengan keinginanmu."


"Hei, berusaha itu tidak pernah salah kan?"


"Iya iya... baiklah. Terserah kau saja." Sunday menyerah dan tidak ingin mendebat Faris lagi.


"Bagaimana urusanmu semalam?" Tanya Sunday tiba-tiba. Faris mangulas senyum kecut.


Malam itu sebenarnya Ratna ingin Faris melaporkan apa yang sudah dilakukan Gilang kepada Desy.


Flashback:

__ADS_1


"Aku harap kau bersedia melaporkan Gilang." Ujar Ratna. Faris memandang Ratna lekat mencari arti ucapannya, kenapa harus ia yang melapor.


"Aku terlalu pengecut untuk melaporkannya." Kata Ratna kemudian.


"Bukan masalah melaporkannya. Tapi kau tidak apa-apa jika laporanku bisa membuatnya ditahan dengan tuduhan pembunuhan."


"Tidak apa-apa." Jawab Ratna yang kini mulai menangis lagi.


"Lalu bagaimana denganmu? Bagaimanapun juga dia suamimu."


"Aku tahu, tapi dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Dan kau harus terbebas dari segala pikiran buruk masyarakat terhadapmu." Ratna menyeka air matanya.


"Aku siap jika setelah ini aku mati ditangannya karena telah membongkar perbuatannya kepada Desy."


"Mendengar ceritamu, aku ingin sekali mengungkapkan semua itu dan mengembalikan nama baikku. Tapi bagaimana denganmu dan keluargamu?"


"Apalah artinya hidup nyamanku dan keluargaku jika itu membuatmu menjadi korbannya. Kau yang dihujat seluruh orang di negeri ini karena menyebabkan Desy meninggal. Aku tidak bisa terus hidup seperti ini, Ris."


"Cobalah fikirkan lagi. Apakah ini memang yang terbaik?"


"Ya, aku yakin." Jawab Ratna mantap. Tapi Faris harus berfikit panjang untuk hal ini. Ia memang bisa menyelamatkan nama baiknya, tapi seperti yang Ratna katakan bahwa ia harus mempertaruhkan nyawanya demi itu.


"Beres." Jawab Faris singkat karena ia belum ingin bercerita apapun kepada Sunday.


"Benarkah?" Sunday seperti tidak percaya begitu saja.


"Ya..." Jawab Faris lagi.


"Oh iya, kau tidak boleh bekerja dulu beberapa hari ini." Faris berusaha mengalihkan perhatian.


"Kau mau aku mati gabut?"


"Istirahatlah dulu hingga kau benar-benar sehat."


"Aku cukup sehat untuk naik ke lantai 4 dengan menggunakan tangga darurat."


"Tidak, pokonya kau harus istirahat dulu."


"Aahh... aku sudah bosan dan ingin segera bekerja lagi."


"Paling tidak di rumahlah saja 2 hingga 3 hari ini."


"Jadi setelah 2 atau 3 hari aku boleh bekerja lagi kan." Sunday mengerjap-ngerjapkan matanya.


"Tergantung."


"Kau ini bagaimana. Katamu setelah itu aku boleh masuk kerja lagi. Jadi aku tidak peduli kau larang atau tidak yang jelas 2 hari lagi aku akan ada di Font." Omel Sunday. Faris hanya tertawa melihatnya seperti itu.


Hari sudah mulai senja, Faris berpamitan untuk pulang. Sunday mengantarnya sampai pintu walau Faris sudah melarangnya. Tapi buka Sunday namanya kalau tidak mendebat Fatis. Sehingga akhirnya Faris memperbolehkan dirinya turun dari kamarnya.


"Aku rasa kau benar-benar tidak ingin kehilangan waktu bersamaku." Goda Faris yang sudah sampai teras.


"Jangan terlalu berharap." Cibir Sunday.


"Kenapa harus malu mengakuinya? Itu terlihat jelas diwajahmu."


"Ahh, sudah pulanglah. Sebentar lagi malam." Sunday mendorong Faris menuju mobil yang terparkir di halaman rumahnya. Setelah itu Faris masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin.


"Aku pulang dulu. Kalau rindu, telepon saja aku."


"Malas sekali." Sunday memutar bola matanya malas. Faris terkekeh. Setelah itu ia melajukan mobilnya. Tapi baru akan keluar halaman tiba-tiba sebuah motor berhenti tepat di depan mobil Faris. Sunday yang melihat itu jadi ikut terkejut. Dan yang lebih mengejutkan lagi ketika seseorang yang memakai masker itu mengeluarkan senjata api dan mengarahkan kepada Faris.


Terdengar bunyi dentuman keras tembakan. Sunday histeris saat pria itu menembak ke arah Faris dari kaca depan mobilnya. Dari teras rumahnya, Sunday berlari menghampiri Faris yang masih ada di dalam mobil. Dada Faris bersimbah darah. Sunday panik. Seorang security pun melakukan hal yang sama menghampiri Faris setelah mendengar bunyi tembakan.


"Faris... Faris... " Faris hanya memejamkan mata dan tergolek lemas.


"Pak, panggilkan ambulan. Cepat." Teriak Sunday panik luar biasa.

__ADS_1


__ADS_2