Nona Hari Minggu

Nona Hari Minggu
Ke Rumah Sakit


__ADS_3

"Turunkan aku! Turunkan aku!" Sunday berteriak sambil memukul pundak Faris. Tapi Faris tidak menggubrisnya dan hanya tersenyum.


Dalam jarak yang sedekat ini Sunday bisa melihat betapa tampannya Faris. Senyum dibibirnya sangat sempurna. Pandangan mata teduhnya seperti memberikan kenyamanan. Rengkuhan lengannya yang liat seolah Sunday hanya sehelai kapas sekarang.


Dengan masih menggendong Sunday, Faris membuka pintu mobilnya lalu mendudukannya di jok depan. Setelah memasukkan motor Sunday dan berpamitan kepada mama Sunday, Faris segera masuk ke mobilnya, memasang seatbelt dan melajukan mobilnya.


Saat berpamitan tadi mama Sunday sempat berpesan kepasa Faris bahwa dia harus memastikan kalau Sunday merontgen kakinya. Mama Sunday memang selalu panik setiap mendapati Sunday sakit. Tidak heran, Sunday adalah anak semata wayangnya. Satu-satunya harta paling berharga yang ia punya. Jadi sedikit saja Sunday terluka, mamanya akan sedih dan khawatir.


Sunday masih diam. Menata debaran di dadanya yang berisik tak karuan. Dia sangat berharap Faris tidak mendengar seberisik apa sekarang detak jantungnya.


Waktu kecil dia sering digendong papanya tapi dia tidak pernah merasa seperti ini. Yang dirasakan hatinya sekarang benar-benar kacau. Seolah-olah telah meletus sebuah balon hijau.


Apa ini efek karena sudah sangat lama sekali tidak digendong Papa?


Hei jantung, sudah... jangan berisik!


"Kamu baik-baik saja?" Faris memecah kebekuan mereka.


"Iya." Jawab Sunday singkat sambil berusaha menata debaran jantungnya agar kembali tenang.


"Bagaimana bisa kamu jatuh?"


"Sepandai-pandainya tupai melompat saja bisa jatuh, apalagi aku yang tidak bisa melompat." Sunday cuek.


"Hahaha... kau ini sungguh ya." Faris tidak menemukan kata yang tepat untuk perumpamaan Sunday yang nyeleneh itu.


"Ada apa datang ke rumahku tadi?"


"Radar superman-ku menunjukkan bahwa sedang ada yang membutuhkan bantuanku. Jadi aku datang ingin membantu." Faris terkekeh. Sunday tersenyum sinis menanggapi Faris.


"Aku pikir akan ada gadis pembangkang yang takut bertemu dokter. Jadi aku akan dengan senang hati menemaninya. Memastikan kalau dia tidak akan melarikan diri saat dokter datang membawa jarum suntik."


"Hei, aku bukan anak kecil."


"Oh ya?" Faris tergelak. "Kenapa tidak memberitahu kalau kau jatuh dari motor?"


"Buat apa?"


"Karena aku pacarmu sekarang." Faris menahan tawanya. Sunday memutar bola matanya malas.


"Pacar pura-pura. Jadi jangan berharap banyak. Aku bukan pacar-pacarmu itu. Jadi jangan memperlakukan aku seperti mereka."


"Kau tahu, banyak gadis yang ingin ku beri perlakuan manis dan kau orang pertama yang menolaknya."


"Itu karena mereka tidak tahu siapa sebenarnya dirimu."


"Memangnya siapa diriku?" Faris menunjuk hidungnya sendiri.


"Serigala berbulu domba."


"Hahaha... aku serigala berbulu domba?. Wah, kau sangat kejam mengataiku seperti itu. Aku ini benar-benar berhati baik, kau tahu. Aku tidak punya maksud tertentu pada para gadis. Aku hanya memenuhi ajakan mereka saja."

__ADS_1


"Ajakan? Ajakan apa itu?" Sunday menatap tajam ke arah Faris.


"Ajakan makan, ajakan jalan, ajakan berbelanja. Kau pikir ajakan apa?"


"Tidak, tidak ada." Sunday menggelengkan kepalanya panik.


"Pasti penyakit otak kotormu sedang kambuh." Faris menyelidik.


"Tidak, siapa yang punya otak kotor. Aku tidak memikirkan apapun."


"Hah, pastikan saat bertemu dokter nanti rontgen juga kepalamu. Siapa tau kotoran diotakmu sudah terlalu banyak."


"Aku bukan otak kotor." Suara Sunday meninggi.


"Iya, kau otak kotor." Faris tidak mau kalah.


"Tidak."


"Iya."


"Tidak."


"Iya."


Begitulah mereka ketika tidak ada yang ingin mengalah.


🌸🌸🌸


Saat turun dari mobil tadi Faris pun akan menggendongnya lagi tapi ditolak mentah-mentah oleh Sunday. Bagaimana tidak, dia bukan gadis manja untuk mendapatkan perlakuan itu. Dan juga menenangkan jantungnya yang berdetak tak karuan saat bersentuhan dengan Faris itu sangat merepotkan bagi Sunday.


"Faris?" Sapa seorang dokter yang berpapasan dengannya di loby rumah sakit.


"Hei." Sapa Faris lalu mereka bercipika cipiki.


"Kau disini, ada apa?" Tanya Mery dengan memakai jas dokternya.


"Mengantarnya." Faris menunjuk Sunday. "Kau bertugas di sini?"


"Iya, aku baru satu minggu di sini." Senyum Mery masih terkembang manis. Dirinya memang sangat cocok menjadi dokter. Keramahan dan kecantikannya membuat siapapun yang sakit jadi merasa terhibur.


"Kenapa, Sunday?" Mery melihat amplop besar yang dibawa Sunday lalu turun ke kakinya yang dibebat.


"Tidak apa-apa hanya terkilir sedikit."


"Semoga cepat sembuh ya." Mery menepuk pundak Sunday. "Baiklah, aku harus kembali bekerja." Mery bersiap pergi tapi kemudian berbalik lagi.


"Oh iya Faris, sabtu sore kamu sibuk?"


"Sepertinya tidak."


"Aku ingin bertemu denganmu".

__ADS_1


"Baiklah." Faris membalas senyum Mery.


"Nanti aku kirim alamatnya."


"Oke." Kali ini Mery berjalan meninggalkan mereka. Sebelumnya ia mencipika cipiki lagi Faris dan Sunday yang kemudian pergi meninggalkan rumah sakit.


"Apa kamu selalu seperti itu kepada para gadis?"


"Seperti apa?" Faris masih berkonsentrasi menyetir.


"Berciuman pipi."


"Iya, bukankah itu bagian dari salam?"


"Ahh, iya aku lupa. Sebagian besar kehidupanmu di luar negeri jadi melakukannya disini pun sudah biasa bagimu."


"Hahaha... aku hargai pendapatmu. Tapi itu hanya cipika cipiki. Hanya sebuah salam. Orang-orang sini juga sudah banyak yang melakukannya. Tidak hanya aku dan Mery."


"Iya, aku tahu. Tapi aku masih tidak habis fikir kenapa pria dan wanita mudah sekali melakukan itu. Oke, sesama wanita melakukannya bagiku tidak masalah karena memang mereka sejenis. Tapi pria dan wanita? Ahh, benar-benar kacau."


"Baik, kau mungkin memegang teguh adat ketimuranmu tapi itu bukan lagi budaya kebarat-baratan. Banyak orang di negeri ini juga melakukannya."


"Aku heran kenapa mereka bangga sekali memamerkan budaya yang bukan budayanya sendiri." Gumam Sunday. Faris masih tersenyum menanggapi kepolosan berfikir Sunday. Sengaja tidak diperpanjang perdebatan ini karena Faris tahu Sunday akan terus menjatuhkan teorinya dengan dalih budaya yang tidak sesuai dengan bangsa timur. Lebih baik Faris mengalihkan pembicaraanya pada hal lain.


"Dan lagi, bagaimana bisa kamu selalu mengiyakan setiap ajakan para gadis. Padahal kau bilang mereka bukan pacarmu."


"Aku orang yang baik dan tidak akan menolak sebuah undangan. Selagi aku bisa, aku akan datang." Faris menjawab santai.


"Bagaimana bisa kamu secuek itu. Kamu tidak pernah mencari tahu kenapa mereka ingin bersamamu?"


"Aku suka berfikir positif. Aku hanya berbuat baik dan membahagiakan orang lain."


"Belum ada yang menamaimu tukang PHP ya?"


"Apa itu?" Faris penasaran.


"Pemberi harapan palsu."


"Hei, aku tidak pernah memberi harapan apapun. Kami hanya berteman. Sudah, itu saja. Kenapa kau menuduhku yang bukan-bukan." Faris tidak terima dengan julukan yang disematkan Sunday.


"Kau ini benar-benar tidak peka terhadap wanita."


"Oh ya? Peka bagaimana?"


"Kebaikanmu itu bisa jadi membuat mereka berfikir lain lalu jatuh cinta padamu."


"Benarkah? Apa kalau aku baik juga padamu itu artinya kau akan jatuh cinta padaku?" Goda Faris.


"Tidak akan." Sunday tegas. Faris hanya tersenyum menanggapinya. Faris faham apa yang Sunday bicarakan. Ia tahu bahwa Sunday tidak ingin dirinya mempermainkan hati para gadis dengan bersikap manis kepada mereka. Sunday sudah sering memarahinya tentang hal itu tapi Faris tetap pada prinsipnya sendiri.


Sebenarnya sore ini Faris hanya ingin menemui Sunday saja. Hanya ingin melihat wajah Sunday. Karena itu membuatnya senang.

__ADS_1


Awalnya dia sendiri bingung harus menggunakan alasan apa. Tapi melihat Sunday yang sepertinya butuh diantar ke rumah sakit membuat Faris merasa kedatangannya menjadi tepat waktu.


__ADS_2