
Sunday keluar dari ruang kerjanya, berjalan menyusuri koridor dan menuju lift. Menggerak-gerakkan kepalanya kesamping kanan dan kiri berusaha mengurangi otot lehernya yang tegang. Sebentar kemudian lift terbuka. Sunday hampir melangkah masuk tapi kemudian tertahan saat melihat seseorang di dalam lift. Faris berdiri tegap disana. Memandang lurus ke arah Sunday. Sudah terlanjur pintu lift terbuka dan juga ia yang tidak mungkin melewatkan lift itu karena takut Faris berfikir Sunday tidak berani menghadapinya, akhirnya Sunday menguatkan diri untuk masuk tapi dengan pandangan yang tertunduk.
Sunday berdiri di depan Faris. Hening. Tidak terjadi percakapan apapun atau pergerakan apapun. Mereka saling diam. Berkali-kali Sunday memejamkan mata dan mengatupkan bibirnya rapat menahan sesuatu yang berdetak berisik di dadanya. Akhirnya pintu terbuka, Sunday bergegas keluar dari dalam lift. Faris tersenyum melihat tingkah lucu Sunday yang terlihat kekanak-kanakan itu.
Lega, itu rasa yang Sunday definisikan setelah meninggalkan lift. Tanpa menengok kanan dan kiri, ia berlalu begitu saja. Tapi hampir langkahnya sampai di pintu lobi, ponselnya berdering.
"Sun, laporan analisamu mana?" Suara Boby terdengar jelas.
"Ada di mejaku."
"Tidak ada, aku sudah mencarinya."
"Benarkah?" Lalu Sunday melihat ke dalam tasnya. File itu ternyata terbawa olehnya.
"Oh ini terbawa olehku."
"Lalu bagaimana? Kau dimana sekarang?"
"Aku akan kembali. Aku masih di lobi."
"Baiklah, ku tunggu."
Sunday mengutuki kebodohannya. Karena tidak dalam konsentrasi penuh, ia jadi tidak fokus. Memutar tubuhnya dan bermaksud kembali mengantarkan file kepada Boby. Sebenarnya ia sudah senang karena terbebas dari Faris, tapi karena file itu ia jadi harus berbalik dan bertemu dengannya lagi. Ahh, merepotkan sekali. Tapi sekarang Faris tidak sendiri, ada Gina disampingnya. Sepertinya tadi Faris sempat menunggu Gina. Terbukti, mereka baru berjalan meninggalkan depan lift sekarang.
"Kau kembali, Sun?" Tanya Gina heran melihat Sunday yang berjalan terburu-buru menuju ke arahnya. Ke arah lift lebih tepatnya.
"Ada yang tertinggal." Jawab Sunday. Ya, file laporan analisa tertinggal di tasnya.
Tak ingin memperpanjang percakapan, Sunday terus berlalu dan mendekati pintu lift. Malas sekali melihat mereka berdua.
Dasar playboy, dia bahkan membiarkan Gina memeluk lengannya seperti itu. Dia pikir tempat ini untuk bermesraan. Gerutu Sunday.
Ya Tuhan, kenapa rasanya begini sekali. Selalu serba salah bertemu Faris. Sebaiknya aku harus keluar dari Font. Sekarang ganti batinnya mengeluh.
File sudah diberikan kepada Boby, Sunday kembali turun. Badannya benar-benar lelah hari ini. Semalam juga dia kurang tidur karena lingkungan di kosnya listrik padam jadi kipas tidak bisa menyala. Meskipun cendela sudah ia buka tapi tetap saja udaranya sangat panas. Sunday berjalan gontai keluar lobi Font.
Langit sudah gelap. Sejak bekerja di Font, ia sering seperti kehilangan waktu. Rasanya baru masuk, tahu-tahu sudah jam makan siang. Baru selesai makan siang, tapi tiba-tiba hari sudah gelap. Ia benar-benar sibuk. Tapi Sunday suka kesibukannya. Ia sangat menyukai pekerjaannya. Tentu saja sebelum Faris mengacak-acak tiap harinya seperti saat ini. Sunday jadi sering khawatir akan bertemu Faris di suatu tempat di Font. Itu sungguh membuatnya tidak tenang.
Entah ini takdir Tuhan atau sebuah kutukan, kenapa aku harus bertemu lagi dengan Faris dan bahkan sekarang harus setiap hari. Sunday menundukkan kepalanya lesu.
🌸🌸🌸
__ADS_1
Telepon di meja Sunday berbunyi. Sunday mengangkatnya.
"Ke ruanganku sekarang. Kau harus merevisi file analisamu." Suara Faris tegas di dalam telepon. Dengan malas Sunday mendatangi Faris di ruangannya.
"Ini revisilah." Faris menyodorkan file di sebuah filecase berwarna merah.
"Tapi Boby tidak ada masalah dengan file saya, Pak."
"Hei, kalau aku ingin ini direvisi berarti harus direvisi. Boby tidak butuh kata-kata tersusun rapi. Setelah dia faham maksudmu, dia akan mengerjakan sesuai design yang dibuat. Tapi tulisan analisamu ini akan dijadikan arsip jadi aku tidak mau ada tulisan yang tidak layak untuk menjadi arsip." Nada suara Faris mulai meninggi.
"Baik Pak." Sunday lalu berbalik dan bermaksud keluar dari ruangan Faris.
"Kau mau kemana?"
"Merevisi tulisan saya, Pak."
"Siapa yang menyuruhmu boleh keluar dari ruanganku." Sunday mengangkat alis mendengar kalimat Faris.
"Revisilah di sini."
"Tapi, Pak. Softfile saya ada di laptop."
"Kan semua file sudah ada di dalam CD yang kau backup ini. Pakai saja ini lalu hasil revisi burning di CD yang baru." Faris mengeluarkan setumpuk CD blank.
"Dengan begitu aku lebih mudah mengawasimu."
Mengawasi? Memangnya aku penjahat yang perlu diawasi sampai segininya? Batin Sunday kesal. Belum pernah ia mendapat tugas merevisi laporan di tempat. Biasanya kalaupun ada kesalahan ia merevisi di ruang kerjanya sendiri yang disana ia bisa tetap rileks dan tidak diawasi seperti seorang terdakwa seperti ini.
Sunday sudah menghadapi laptop dihadapannya. Memasukkan CD dan menunggunya terbaca oleh laptop. Setelah terbaca lalu dibuka folder softfile-nya.
"Bagian mana yang harus saya revisi, Pak?" Faris menggeser duduknya lebih dekat kepada Sunday lalu meletakkan jarinya pada touchpad laptop. Sunday gelagapan Faris berada sedekat itu. Reflek ia memundurkan badannya hampir menyentuh sandaran sofa, memberi cukup ruang pada Faris menyentuh touchpad.
"Kalimatmu yang ini sangat rancu sehingga akan menimbulkan banyak pemahaman. Dan juga tanda bacamu salah pada paragraf ini."
Sebenarnya dia ini lulusan teknik atau lulusan bahasa Indonesia? Sejak kapan bahasa laporan harus benar-benar sesuai dengan PUEBI? Tanpa sadar Sunday menghembuskan nafas kasar. Faris melihat ke arahnya. Ia buru-buru memalingkan wajah ke arah lain.
"Tunggu apa lagi? Kerjakan."
"Baik, Pak." Sunday berusaha patuh layaknya bawahan walaupun hatinya gondok karena seolah Faris sengaja mengerjainya.
"Lakukan dengan benar."
__ADS_1
"Iya Pak." Sunday mulai menyentuh keyboard dan mengetikkan huruf-huruf. Setelah selesai Sunday melihat ke arah Faris disampingnya yang sedang menekuni ponselnya.
Ya, Faris memang setampan itu. Dari samping begini wajahnya semakin mempesona. Tidak pernah salah Gina sampai menggilainya seperti itu. Tiba-tiba mulai ada satu, dua, tiga, empat, lima dan jumlahnya selalu bertambah kupu-kupu berterbangan di lambungnya. Sensasi yang selama ini seperti sudah tidak pernah Sunday rasakan lagi dan sekarang mulai muncul lagi.
"Sudah?" Faris tiba-tiba menoleh ke arahnya dan membuat Sunday salah tingkah karena terpergok memandanginya seperti itu.
"Ehh, iya... sudah, Pak." Faris kembali mendekati Sunday. Kali ini Sunday menggeser duduknya. Faris memeriksa pekerjaan Sunday.
"Bagus. Masukkan ke dalam CD. Jangan tertinggal satu file pun. Semua data dan project harus tersimpan."
"Iya, Pak." Sunday berjalan ke meja Faris mengambil CD blank lalu kembali ke mejanya semula dan mengeluarkan CD lama. Setelah itu baru memasukkan CD blank ke dalam CD room laptop Faris.
Proses burning CD memerlukan waktu beberapa saat jadi Sunday harus menunggu. Sepi. Meski berisi dua orang tapi ruangan itu terasa sepi. Tidak ada percakapan diantara mereka. Sunday sempat melirik ke arah Faris yang masih kembali memainkan jari-jarinya pada ponsel. Kadang men-scroll, kadang men-zoom in, kadang men-zoom out. Entah pekerjaan apa yang sedang ia lakukan menggunakan smartphone-nya.
Done. CD room terbuka otomatis pertanda proses burning selesai. Sunday mengeluarkan CD dari dalam CD room.
"Ini sudah selesai, Pak." Sunday menunjuk pekerjaanya yang sudah selesai.
"Mana printout revisinya?" Saking inginya ia keluar dari tempat itu sampai-sampai lupa belum mem-print hasil revisi.
"Oh iya Pak, akan saya print." Sunday mengotak atik lagi laptop itu. Laptop dan printer sudah terkoneksi karena menggunakan sistem wireless jadi Sunday tinggal melakukan print saja. Setelah selesai Sunday mengambil hasil printout di sudut meja kerja Faris lalu kembali duduk.
"Maaf Pak, saya butuh stapler dan selotip."
"Ambillah di laci mejaku paling atas." Faris memerintah dengan masih memandangi ponselnya. Sunday menuju tempat yang ditunjuk Faris. Kemudian kembali duduk. Membongkar kertas yang sudah dijilid itu lalu mengganti beberapa halaman dengan yang sudah direvisi. Setelah itu menjilidnya kembali.
Sunday cukup mahir melakukan hal itu. Ia dengan cekatan dan rapi saat mengerjakan penjilidan hardfile laporannya.
"Sudah, Pak." Semua pekerjaan Sunday sudah tertata rapi diatas meja. Faris meletakkan ponselnya dan meraih file yang selesai Sunday jilid. Membukanya satu persatu.
"Baiklah. Kau boleh kembali ke ruanganmu."
"Iya Pak." Dengan senang hati Sunday meninggalkan tempat yang baginya seperti penjara itu.
"Permisi Pak." Faris kembali melanjutkan aktifitasnya dan hanya mengangguk. Sunday menutup pintu kembali lalu bernafas lega setelahnya.
"Bagaimana dia menjadi se-perfectionist itu. Atau dia hanya ingin balas dendam terhadapku. Wah, aku sungguh dalam bahaya. Bisa-bisanya dia menggunakan jabatan untuk menindasku semaunya." Sunday tampak geram.
"Lihat saja, kalau dia berani melakukan hal-hal yang tidak masuk akal lagi kepadaku akan ku pastikan aku tidak akan diam lagi. Dia itu benar-benar..." Sunday mengepalkan kedua tangannya gemas.
Sementara itu di dalam ruangannya, Faris meletakkan kembali ponselnya setelah yakin Sunday benar-benar sudah keluar. Menghembuskan nafasnya seolah sudah tertahan sangat lama.
__ADS_1
"Hahh... ku pikir aku bisa bertahan tapi ternyata itu masih terasa sangat sulit." Faris sedikit melonggarkan dasinya.
"Mana mungkin dia masih tetap semanis itu. Sangat menggemaskan. Ingin sekali aku memakannya." Faris tertawa kepada dirinya sendiri.