Nona Hari Minggu

Nona Hari Minggu
Virus Katakan Cinta


__ADS_3

Sunday duduk di depan seperangkat PC laboratorium. Sebuah antivirus sedang bekerja di depannya. Scanning komputer adalah kegiatan rutinnya selama magang, demi menjaga komputer laboratorium dari virus. Tapi pandangannya tidak lepas dari ponselnya. Sunday menatap fotonya dan Faris. Foto itu memang sangat manis. Chemistry antara keduanya memang terlihat sangat kuat.


Tiba-tiba dadanya berdesir dengan selanjutnya adalah efek kupu-kupu datang lagi. Melihat foto itu, Sunday merasa ada perasaan aneh yang dirasakannya. Bahagia dan menenangkan. Memang sangat nyaman berada dekat dengan Faris. Sunday yang anak tunggal merasa senang karena memiliki sahabat yang seperti kakak baginya. Tapi akhir-akhir ini rasa itu menjadi rasa yang aneh. Rasa yang memberinya kebahagiaan. Rasa yang menjadikannya butuh pada sosok Faris. Entah karena Faris yang membiarkan Sunday membutuhkannya atau entah apa. Kadang Sunday bingung dengan himpunan rasa itu sendiri.


Saat masih menekuni fotonya dan Faris, sebuah telepon masuk. Dari Faris.


"Ya... hallo..." Sunday mengangkatnya dengan perasaan agak gugup. Orang yang baru saja difikirkannya sekarang malah menelepon.


"Kau dimana?"


"Dikampus lah, dimana lagi memangnya."


"Pulang jam berapa?"


"Seperti biasa."


"Sore?"


"Ya. Ada apa?"


"Tidak ada apa-apa." Suara Faris terdengar tenang.


"Baiklah, lanjutkan tugasmu." Setelah itu Faris menutup teleponnya.


Apa itu? Hanya untuk itu dia menelepon? Sunday membatin. Dan setelah itu tugas scanning-nya selesai.


Sudah tidak ada tugas magang lagi. Itu kata Victor yang hari ini Sunday hanya perlu menscan PC laboratorium. Kesempatan baik ini ia gunakan untuk membuka laptop dan mulai mengerjakan tugasnya.


Ia tancapkan flashdisk ke USB port, membuka file modul praktikum. Tapi, ada folder asing yang membuatnya merasa aneh. Membukanya dan melihat ada file berupa Microsoft Word. Setelah terbuka, isinya mirip seperti syair puisi. Atau mungkin lirik lagu? Entahlah, tapi Sunday tidak mengenali file itu apalagi isinya. Ditutupnya kembali file itu. Mungkin itu milih seseorang yang meminjam flashdisknya. Beberapa hari yang lalu Suzan memang meminjam flashdisknya, mungkin itu miliknya yang belum ia hapus.


Karena belum menanyakan kepada Suzan, jadi Sunday membiarkan itu ada di sana. Mungkin masih Suzan butuhkan. Sunday kembali mengerjakan tugasnya.


"Ehhmm, ehmm... " Seseorang berdehem disamping Sunday. Sunday menoleh dan itu adalah Victor.


"Apa yang kau kerjakan?"


"Tugas Kak." Sunday cengengesan. "Apa aku masih ada tugas lain?"


"Oh tidak, tadi sudah ku bilang hari ini tugasmu hanya scanning saja. Jadi gunakan waktumu hanya di lab sampai jam magangmu habis."


"Baik Kak."


"Tugas apa yang sedang kau kerjakan?"


"Tugas Ecommers, Kak."


"Butuh bantuan?" Victor menawarkan diri.


"Tidak terima kasih, aku sudah membuat desain sistemnya jadi tinggal mengerjakannya saja."


"Baiklah, jika butuh sesuatu mintalah padaku." Sunday mengangguk. Victor kembali ke mejanya.


Victor memang baik, selalu menawarkan bantuan. Tapi Sunday sering merasa tidak enak jika harus selalu merepotkannya. Lagipula dia juga butuh mengukur kemampuan dirinya dengan mengerjakan sendiri tugasnya dan tidak bergantung pada bantuan Victor.


Sore menjelang. Sunday berjalan menuju tempat parkir. Tapi, ia melihat ada Faris duduk di atas motornya. Wajahnya santai memainkan ponselnya. Sunday berjalan mendekati. Menyadari kedatangan Sunday, Faris mengangkat wajahnya dan melempar senyum. Seketika kupu-kupu dilambung Sunday berterbangan tak beraturan lagi. Sunday membalas senyumnya agak kaku karena sensasi dilambungnya.


"Hai..." Sapa Faris.


"Ada apa?"


"Menunggumu."


"Kenapa?"


"Aku akan mengatakan sesuatu padamu."


"Apa?"


"Aku akan pergi ke suatu tempat selama dua minggu ke depan."


"Kemana?"


"Aku harus mengikuti training penunjang karirku sebagai pelaut di Filipina."


"Oohh..."


"Cuma ooohhh?" Faris seperti tidak puas dengan jawaban Sunday.


"Maumu apa?" Sunday berkacak pinggang.


"Paling tidak katakan kau akan merindukanku selama aku tidak ada."

__ADS_1


"Hmmm... jangan bermimpi di sore hari. Itu tidak baik untuk kesehatanmu." Faris seketika tertawa.


"Baiklah... jangan macam-macam selama aku tidak ada. Aku akan terus mengawasimu."


"Oh ya? Bagaimana caranya? Kau kan tidak ada di sini."


"Aku memasang beberapa cctv di tempat-tempat kau berada. Aku juga menyewa detektif swasta untuk selalu mengikutimu."


"Sepertinya kau terlalu banyak menonton film." Faris cekikikan. Sunday cemberut. Bagaimana bisa ada orang sekonyol Faris.


Faris sudah berhenti dari tawanya, berganti menatap Sunday lekat dengan sisa senyum malaikatnya. Sunday salah tingkah dipandang seperti itu.


"Aku akan merindukanmu." Jantung Sunday berdetak berisik mendengar apa yang dikatakan Faris padanya.


"Setiap jauh darimu rasanya sangat menyiksa." Lanjut Faris.


"Sehari tidak menjahilimu rasanya badanku gatal semua." Lalu Faris tertawa. Sunday memukul bahunya.


"Kau sungguh terlalu. Bagaimana bisa kau begitu jahat terhadapku."


"Hanya itu yang aku bisa." Faris masih dengan tersenyum.


"Benar-benar kau ini..." Sunday hampir memukulnya lagi tapi tangan Faris berhasil menangkapnya.


"Habisnya kalau ku cintai kau juga tidak bersedia." Faris mengerling. Kupu-kupu berterbangan lagi kesana kemari memenuhi lambung Sunday dan kali ini membuat efek hangat diwajahnya.


Selanjutnya mereka hanya diam saling menatap. Faris hanya ingin menatap Sunday lama. Karena setelah ini ia harus berangkat. Perasaan sukanya pada Sunday membuatnya ia tahu hari-hari macam apa yang akan ia jalani selama dua minggu ke depan. Ia sangat tahu rasanya jauh dari Sunday. Meskipun hanya dua minggu dan bukan berbulan-bulan seperti biasanya tapi kepulangannya kali ini adalah masa dia dan Sunday jauh lebih dekat satu sama lain. Tentu saja itu karena sandiwaranya bersama Sunday sebagai pacar sehingga banyak alasan untuk berdekatan.


Sunday menyadari tangannya masih ada di genggaman Faris dan berusaha melepaskannya lagi.


"Jangan lepaskan. Nanti kau bisa menyesal."


"Kenapa?" Sunday menautkan kedua alisnya.


"Karena saat aku sudah berangkat, kau akan rindu menggandeng tanganku."


"Malas sekali denganmu..." Sunday memutar bola matanya tapi ia masih membiarkan Faris menggenggam tangannya.


Sebuah panggilan masuk ke ponsel Faris.


"Iya, aku berada di area parkir." Lalu Faris menutup telepon itu dan memasukkan kembali ponsel ke saku celana jeansnya. Tak lama kemudian sebuah mobil mendekati tempat parkir motor.


"Baiklah, aku berangkat sekarang."


"Iya."


"Benar-benar sekarang?"


"Aku sudah bilang kan."


"Aku pikir..."


"Kenapa? Belum siap ku tinggalkan?" Faris menggodanya.


"Tidak, tidak mungkin. Lebih cepat lebih baik. Aku senang karena paling tidak selama dua minggu ke depan aku tidak perlu mendapat gangguan darimu. Kalau bisa lebih lama disana itu lebih menyenangkan."


"Benarkah? Kau benar-benar tidak akan merindukanku?"


"Tidak."


"Ya sudah, jangan rindu padaku. Awas kalau kau merindukanku."


"Tidak mungkin."


"Taksi online sudah menungguku di sana, aku harus pergi sekarang." Sunday menoleh kearah yang ditunjuk Faris dimana taksi online pesanannya terparkir.


"Baik-baik di sini. Jangan dekat dengan pria manapun. Ingat, aku menyewa detektif untuk mengawasimu." Faris menggoda Sunday yang hanya menjulurkan lidahnya.


Setelah mengangkat tas ranselnya, Faris meninggalkan Sunday. Sunday memandang Faris yang semakin menjauh. Hatinya terasa kosong. Perasaannya menjadi hampa. Kenapa rasa itu datang tiba-tiba, Sunday bahkan tidak mengerti. Taksi online Faris meninggalkan area kampus. Sunday menaiki motornya dan mulai melajukannya juga untuk pulang.


🌸🌸🌸


Kantin siang ini ramai. Di jam makan siang memang biasanya dua kali lipat lebih ramai daripada jam-jam biasa. Sunday meminum softdrink-nya hingga setengah. Sensasi dingin yang diteguknya memberi rasa segar pada tubuhnya siang ini. Di laboratorium sedang ada kuliah. Dia juga tidak memiliki tugas magang. Jadi ia menghabiskan waktu dikantin saja sambil makan siang. Sebuah pesan masuk di ponselnya.


Faris : sudah merindukanku?


Sunday tersenyum kecut membaca pesan Faris.


Sunday : cuci mukamu dulu


Faris : kenapa?

__ADS_1


Sunday : sepertinya kau sedang mengigau


Faris : 😁


Faris : tapi aku merindukanmu


Kali ini Sunday terdiam. Tidak tahu harus menjawab apa. Dua hari sejak kepergian Faris ia memang baru kali ini menghubunginya. Mungkin kelas yang diikutinya membuat Faris menjadi sibuk.


"Dooorrrrr!" Tiba-tiba seseorang dari arah belakang mengagetkannya. Sunday hampir melompat. Suzan dan Windy ada dibelakangnya.


"Kalian ini." Sunday memukul pundak kedua temannya itu bergantian. Mereka hanya tertawa melihat wajah pucat Sunday yang kaget itu.


"Habisnya kau serius sekali." Suzan masih dengan sisa tawanya.


"Sedang chatting dengan siapa? Serius sekali." Ada nada menggoda di nada suara Windy.


"Ah tidak, hanya browsing beberapa artikel untuk laporan praktikum."


"Oh ya? Ku lihat kau membuka aplikasi Whatsapp." Windy mencibir.


"Oh itu hanya melihat bebrapa pesan dari grup chat."


"Benarkah? Kalaupun dari pacarmu juga tidak apa." Kali ini Suzan ikut mengintrogasi.


"Bukan..." Sunday gugup takut mereka tahu kalau ia sedang melakukan chatting dengan Faris. Bisa-bisa mereka menggoda Sunday sampai ampun-ampun.


"Oh iya, file-mu tertinggal di flashdisk-ku." Sunday berusaha mengalihkan perhatian.


"File apa?"


"File puisi." Sunday meminum minumannya lagi.


"Puisi?" Suzan menatap Sunday.


"Ya, waktu itu kau meminjam flashdisku. Bukankah itu file milikmu? Aku tidak menyangka kau punya bakat menjadi penyair juga."


"Hei, siapa yang penyair dan file apa? Aku tidak mengerti."


"Aku pikir itu milikmu."


"Coba ku lihat."


Sunday mengambil laptop di dalam tasnya lalu menekan tombol power. Setelah laptop menyala, Sunday memasukkan flashdisknya.


Ada yang tak sempat tergambarkan oleh kata ketika kita berdua. Hanya aku yang bisa bertanya, mungkinkah kau tahu jawabnya? Malam jadi saksinya, kita berdua diantara kata yang tak terucap. Berharap waktu membawa keberanian untuk datang membawa jawaban. Mungkinkah kita ada kesempatan ucapkan janji takkan berpisah selamanya?


"Rasanya aku pernah tahu kalimat-kalimat ini. Sepertinya lirik sebuah lagu." Windy menerka sambil mengingat-ingat.


"Benarkah? Lagu siapa? Judulnya apa?" Sunday mulai penasaran.


"Yang jelas ini bukan file-ku. Aku bahkan tidak mengenal lagu itu." Suzan mengalihkan pandangan dari laptop Sunday.


"Lalu siapa yang meninggalkan file ini?" Sunday berfikir.


"Selain aku, siapa lagi yang pernah meminjam flashdiskmu?"


"Sepertinya kemarin Rino mengcopy modul praktikum dari flasdisk-ku. Doni juga meminjam flashdisku saat demo project waktu itu. Oh iya, Victor juga kapan hari meminjam untuk mem-back up master program."


"Nah, itu milik salah satu dari mereka." Suzan menyimpulkan.


"Ya... bisa jadi." Sunday menjawab.


"Dan sepertinya file itu sengaja ditinggalkan untuk sengaja kau baca." Selidik Windy.


"Koq bisa?" Sunday bingung.


"Dari alasan yang kau ungkapkan kenapa mereka meminjam flashdisk, tidak ada alasan bagi mereka mengcopy-paste file itu melalui flashdisk-mu. Aku yakin itu adalah sebuah pesan terselubung." Windy melakukan analisa.


"Pesan terselubung?" Sunday masih belum mengerti pesan terselubung apa.


"Kemungkinan diantara mereka ada yang mengungkapkan perasaannya padamu secara rahasia."


"Ahh, kau ini. Itu tidak mungkin. Kau ini terlalu banyak membaca komik detektif Conan."


"Hei, ini hanya analisaku. Tapi kemungkinan itu bisa terjadi."


"Rino dan aku tidak sedekat untuk saling suka. Doni juga pacarnya Mita. Victor? Dia bahkan orang yang cuek terhadapku. Kami hanya berteman dan tidak pernah lebih dari itu. Jadi, itu tidak mungkin. Ini pasti tidak sengaja ter-paste tapi lupa belum dihapus saja."


"Terserah. Bisa saja itu terjadi." Windy mengangkat bahunya.


Tapi Sunday terusik juga dengan file itu. Terutama milik siapa.

__ADS_1


"Jangan-jangan itu virus jenis baru? Virus katakan cinta..." Celetuk Suzan tiba-tiba yang diikuti Sunday dan Windy tertawa bersamaan.


__ADS_2