Nona Hari Minggu

Nona Hari Minggu
Martabak Manis


__ADS_3

Sebuah ketukan di pintu membuat Sunday yang sedang menonton film The Nun di ruang tengah pun terlonjak kaget hingga laptop yang ada dipangkuannya nyaris jatuh.


Siapa yang malam-malam begini mengetuk pintu. Mengagetkan saja. Rutuk Sunday dalam hati sambil berjalan ke arah pintu. Ibunya sudah masuk ke dalam kamar setelah menyelesaikan makan malamnya.


"Hai..." Sapa orang didepannya dengan senyum sempurna.


"Ada apa malam-malam ke sini?"


"Aku hanya ingin mengantarkan ini." Sambil menyodorkan kotak yang dilapisi plastik. Dari aromanya tercermin apa isinya.


"Apa ini?" Sunday memastikan. Bungkusan itu masih hangat saat bersentuhan dengan tangan Sunday.


"Martabak manis kesukaan kamu." Jawab Faris


"Wah, terima kasih. Tumben baik."


"Hei, kapan aku pernah tidak baik kepadamu?" Faris mencibir.


Sunday menjulurkan lidahnya. Faris hanya bisa merasa gemas pada gadis dihadapannya itu.


"Mau masuk dulu?" Tawar Sunday agar terkesan sopan karena bagaimanapun juga Faris tetaplah tamu.


"Tidak usah. Sudah malam. Takut digerebek pak RT."


"Memangnya kenapa harus digerebek?" Sunday bergidik.


"Memang apa yang kamu pikirkan?"


"Tidak ada." Jawab Sunday gugup karena setahunya jika pak RT melakukan aksi gerebek dimalam hari pastilah terjadi sebuah tindak kejahatan. Entah perjudian, pesta miras atau tindakan asusila. Sungguh memalukan.


"Tentu saja aku takut digerebek pak RT karena tidak melapor dulu kepadanya berkunjung ke rumah warga di jam selarut ini."


"Ooohh..." Sunday mengangguk mengerti.


"Dasar otak kotor. Pasti pikiranmu sudah macam-macam tadi." Faris menyundul kepala Sunday dengan jari telunjuknya.


"Siapa yang otak kotor. Aku bahkan tidak memikirkan apapun." Sunday berbohong.


"Baiklah... baiklah... aku pulang dulu."


"Oh iya, pulanglah." Sunday mempersilakan. "Terima kasih." Ucapnya lagi.


Sunday baru masuk ke dalam rumah begitu Faris menghilang dari pandangannya bersama Toyota Rush hitam itu. Kemudian mengetuk pintu kamar mamanya berharap mamanya belum tidur. Dan benar saja mamanya membukakan pintu sambil memakai kaca mata plusnya, kebiasaanya saat berhubungan dengan tulis menulis atau bacaan.


"Mama sedang apa?"


"Membuat laporan RPP."


"Makan yukk." Sunday mengangkat bungkusan ditangannya sambil mengulas senyum lebar.


"Apa itu?" Lalu Sunday mendekatkan kotak berlapis kantong plastik ke depan wajah mamanya bermaksud memberinya pembauan atas apa yang disodorkannya.


"Martabak manis?" Sunday mengangguk.


"Kamu pesan makanan dari ojek online?"


"Tidak ma, Faris yang mengantar." Sunday berjalan ke ruang makan. Meletakkan bungkusan di atas meja, mengambil piring lalu meletakkan martabak manis dengan toping coklat-keju kesukaan Sunday di atasnya.


"Kamu jangan suka merepotkan Faris." Mamanya mencomot satu potong lalu memakannya.

__ADS_1


"Aku tidak tahu malah kalau dia akan datang mampir membawa martabak manis." Mulut Sunday penuh dengan martabak


"Faris itu baik ya."


"Hmm." Sunday tidak bisa membuka mulutnya yang penuh martabak.


"Dia juga sepertinya pria yang manis dan sopan."


"Manis dan sopan. Iya dia memang manis dan sopan." Komentar Sunday sinis.


Mama tidak tahu saja kalau dia bahkan manis kepada semua gadis.


"Apa tidak apa-apa dia baik kepadamu?"


"Memangnya kenapa, ma?"


"Kalian pacaran?" Tanya mamanya to the point.


"Uhuk... uhuk..." Sunday sampai terbatuk mendengar pertanyaan mamanya.


"Minum... minum..." Mama Sunday menyodorkan segelas air minum. Sunday ngos-ngosan setelah terbatuk-batuk beberapa saat.


"Tidak ma. Tidak akan. Tidak mungkin. Tidak tidak tidak dan tidak." Sunday menjawab pertanyaan mamanya dengan tegas.


"Kenapa tidak? Karena dia pelaut?" Mamanya tahu apa yang difikirkan Sunday.


"Mama... semua pelaut itu sama saja. Semua tidak ada bedanya dengan papa. Playboy, berhati banyak, mata keranjang."


"Tapi Faris tampan dan baik." Mamanya menggoda Sunday.


"Mama sayang... ketampanan dan kebaikan hati Faris itu pasaran. Mama jangan terlalu percaya diri kalau mendapat kebaikan Faris." Sunday berapi-api.


"Maksudku, mama jangan tertipu pada penampilan fisik & gayanya. Ahh, mama sih tidak cukup baik mengenal dia."


"Memangnya sebaik apa kamu mengenal Faris?" Mamanya menyelidik.


"Pokonya Faris itu tidak seperti yang mama harapkan deh."


"Koq mama lagi?" Mama Sunday bingung karena seolah dia berharap Faris sesuai dengan ekspektasinya.


"Terus sebenarnya Faris itu anaknya bagaimana?" Mamanya penasaran.


"Ya itu, ma. Playboy, pacarnya banyak. Ada di mana-mana. Dia selalu pakai jurus berbaik & bermanis hingga yang disukai jatuh cinta kepadanya."


"Jadi, dia baik & manis kepadamu juga karena ingin kamu jatuh cinta kepadanya?"


"Kalau dia masih berani berfikir begitu, biarkan itu hanya terjadi di mimpinya. Karena sejak awal mengenalku, dia tau aku membenci hubungan percintaan yang ditawarkan oleh para pelaut dengan alasan yang sangat jelas."


"Tapi sejauh ini kalian baik-baik saja."


"Tentu saja, aku menerimanya menjadi teman karena aku memang hanya ingin berteman, tidak lebih."


"Kalau dia ingin lebih?"


"Siapa suruh berani berharap lebih. Sudah sangat jelas aku tidak ingin menjalin hubungan romansa dengan pelaut dan dia sangat tahu itu." Sunday sangat bersemangat mengutarakan idealismenya.


"Ya baiklah... sudah kenyang, mama mau tidur saja." Mama Sunday berjalan menuju kamarnya.


Ana, mama Sunday menutup pintu kamarnya lalu duduk di tepi tempat tidur. Dia tau apa yang dialami putrinya. Seperti sebuah trauma mengenal seorang pelaut setelah kepergian papanya bersama wanita lain.

__ADS_1


#Flashback :


"Jadi, sudah berapa lama?" Ana, mama Sunday bergetar dalam suaranya. Terlihat sekali ia menahan rasa di dalam dadanya.


"Dua tahun." Jawab Subagio, papa Sunday singkat masih menekuri meja di depannya.


"Baiklah, jika aku tidak bisa menjadi satu-satunya istrimu maka aku tidak berhak lagi atas apapun dirimu." Ana merasakan dadanya sangat sesak menahan air mata yang tidak boleh jatuh. Setidaknya jangan saat ini. Dia harus terlihat tegar dihadapan pria yang mencabik-cabik hatinya dengan mengatakan bahwa dia telah memiliki wanita lain selain dirinya.


Walaupun dalam kepalanya hadir pertanyaan bagaimana bisa suami yang dicintainya dengan sepenuh hati bisa berpaling darinya. Ana tidak akan pernah bertanya pada suaminya apa yang kurang darinya. Karena baginya kekurangannya bukan sebuah kesalahan yang bisa membenarkan perbuatan suaminya terhadapnya.


Ana juga tidak menanyakan siapa dan bagaimana wanita lain suaminya karena siapapun wanita itu pasti tidak lebih baik darinya. Seorang wanita baik tidak akan menikah dengan pria yang sudah menikah dan tega menyakiti hati wanita lain.


Subagio menatap Ana. Mencari tahu kenapa begitu mudah bagi istrinya untuk melepaskannya begitu saja. Dia hanya ingin meminta izinnya agar menikah secara resmi dengan istri kedua yang selama ini dirahasiakan dari istri pertamanya.


Istri keduanya sedang hamil dan agar kelak anaknya memiliki status yang legal, Subagio bermaksud menikah secara legal pula. Bagaimanapun juga dia seorang lelaki yang harus bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan. Di memutuskan untuk menikahi wanita lain saat dia sudah beristri jadi apapun kemungkinan terburuk yang dia hadapi harus diterimanya.


Itulah kenapa hingga saat ini Subagio masih memberi segala kebutuhan Sunday. Dan meskipun Sunday tidak pernah mau menerima pemberiannya Subagio akan tetap selalu memberikannya karena itu kewajibannya sebagai seorang ayah.


"Kau tidak menahanku?" Tanya Subagio dengan nada penasaran.


"Aku tidak bisa bersama pria yang tidak menghargaiku." Ana masih bersikap dingin. "Pergilah. Mari kita akhiri ini."


Semudah itu. Pikir Subagio.


Entahlah, dia menjadi tidak mengerti apa yang istrinya, oh tepatnya calon mantan istrinya pikirkan. Semua begitu mudah bagi istrinya untuk melepaskan dirinya kepada wanita lain. Jauh di lubuk hati Subagio ada rasa bersalah yang teramat besar, tapi sering kali rasa bersalah itu dikalahkan oleh rasa cintanya kepada istri keduanya.


Malam itu juga mereka sepakat untuk berpisah. Ana memastikan tidak akan mempersulit perceraian mereka dan Sunday harus bersamanya. Subagio setuju tapi dengan syarat Ana tidak boleh membatasi geraknya untuk tetap menyayangi Sunday.


Ana menyanggupi, karena bagaimanapun juga Subagio adalah ayahnya dan itu berlaku selamanya.


🌸🌸🌸


Tiink! Sebuah pesan Whatsapp masuk ke ponsel Sunday.


Faris : bagaimana martabaknya? Enak?


Sunday : enak


Faris : iyalah, kurirnya tampan sekali.


Sunday : apa hubungannya???


Faris : Sebegitu penasarannya sampai ada 3 tanda tanya disana 🤭


Sunday : jangan mengalihkan perhatian 😠


Faris : oke, rasa martabaknya menjadi enak tentu saja karena kurir yang mengantar sangatlah tampan sehingga apapun yang ia sentuh menjadi sesuatu yang disukai.


Sunday : 🤮 narsis


Faris : masih tidak percaya?


Sunday : penjelasanmu sangatlah tidak ilmiah


Faris : ketampanan seseorang bisa memberi energi positif untuk sekitarnya. Jadi saat martabak itu sampai padamu juga sudah tertular energi positifku sehingga rasanya sangat enak 🤤


Sunday : terserah


Kalau tidak ada yang berinisiatif mengalah,perang adu mulut, ehh, adu pesan Whatsapp itu tidak akan berhenti begitu mudah.

__ADS_1


__ADS_2