Nona Hari Minggu

Nona Hari Minggu
Sanggul


__ADS_3

"Hei." Sunday menggoyang-goyangkan lengan Faris.


"Kau kenapa?"


"Ehh, iya, anu." Faris terkesiap.


"Ayo ke sana. Nanti kita tertinggal acara."


Iya, ayo." Faris mengambil ponsel di meja yang tadi dipakainya bermain game lalu mengunci pintu kamarnya. Dan berjalan menuju ke ballroom.


Mereka berjalan agak lambat karena harus mensejajari Sunday yang memakai bawahan kain batik dan alas kaki tinggi 7 cm. Dari samping Sunday, Faris bisa melihat bagaimana rambut Sunday tersanggul dengan sangat indah. Biasanya dia hanya menyanggulnya asal semacam cepol, tapi penata rias itu memang pandai membuat rambut Sunday semakin cantik. Dan sanggul itu benar-benar berhasil menarik perhatian Faris.


"Kenapa rambutmu harus disanggul?"


"Tentu saja. Apakah rambutku harus digerai? Atau bahkan dikuncir ekor kuda? Atau di kepang dua?" Sunday tertawa sendiri membayangkan jika itu benar-benar terjadi.


"Iya jika itu bisa menutupi belakang lehermu."


"Memangnya kenapa?"


"Lehermu terlalu terbuka untuk dipamerkan kepada orang lain." Seketika Sunday tertawa lagi. Satu lagi keanehan yang dilakukan Faris. Sejak kapan lehernya cukup menarik untuk dilihat orang lain.


"Aku benar-benar kehabisan kata untukmu. Kau ini sungguh aneh akhir-akhir ini. Bisa-bisanya leherku jadi menarik perhatian. Aku biasa memperlihatkan leherku tapi tidak ada yang protes sepertimu." Mereka masih berjalan melewati lorong dan menuju ke lift.


"Kalau ku bilang itu bisa menarik perhatian berarti memang begitu kenyataannya. Sebagai pria, aku bisa melihat itu."


"Jadi, menurutmu leherku menarik?"


"Ya, samacam itu."


"Kalau begitu lihatlah sampai kau puas."


"Aku mau melihatnya sampai puas tapi aku tidak ingin orang lain juga melihatnya."


"Ahh, kau ini aneh sekali. Aku tidak mau membicarakannya lagi denganmu."


"Pokoknya, turunkan rambutmu. Lepas sanggulmu."


"Kau sudah gila? Untuk bisa membuat sanggul sebagus ini perias butuh waktu berjam-jam dan dengan keringat bercucuran saking sulitnya." Sunday sedikit hiperbola. Kamarnya berAC jadi tidak mungkin si make up artis tadi bisa berkeringat.

__ADS_1


"Aku tidak peduli. Pokoknya sanggulmu harus dilepas. Faris meraih rambut Sunday tapi secepat kilat Sunday menghindar. Sambil sedikit mengangkat kain batiknya, Sunday berlari dengan menjaga keseimbangannya menuju lift diujung lorong.


"Mau mengajakku bermain-main? Baiklah..." Seringai Faris. Faris menjadi gemas dengan tingkah kekanak-kanakan Sunday. Dia tidak mau kalah dan segera menyusulnya. Kakinya yang jenjang membuat langkahnya lebar dan dengan cepat menyusul. Saat sampai di depan lift, Sunday segera memencet tombol agar pintu lift terbuka. Dan sebentar kemudian pintu terbuka yang diikuti langkah kaki Sunday masuk ke dalam lift. Sunday bermaksud segera memencet tombol lantai yang ia tuju dan meninggalkan Faris dibelakangnya. Tapi ternyata Faris berhasil menyusul dan pintu lift gagal tertutup oleh ujung kaki Faris yang menghalangi.


"Mau meninggalkanku begitu saja? Padahal aku sudah menunggumu sejak tadi." Gerutu Faris dengan nafas terengah setelah berlari.


"Habisnya kau sangat jahat ingin melepas sanggulku."


"Oh iya, lepas sanggulmu sekarang. Kalau kau tidak mau, biar aku saja yang melepasnya." Tangan Faris bersiap meraih rambut Sunday. Didalam lift yang hanya ada mereka berdua itu membuat Faris leluasa memperlakukan Sunday.


"Tidak... tidak... " Sunday memegangi sanggulnya. "Kau tahu sanggul ini dibuat dengan hairspray agar menjadi serapi ini. Kalau kau lepas lalu bagaimana nasib rambutku yang terhairspray? Kau bisa bayangkan? Mana mungkin aku hadir ke pesta dengan rambut yang mirip kuntilanak. Kau mau? Atau itu bisa saja terjadi tapi aku hanya akan diam di kamar. Karena akan sangat memalukan berada ditengah orang banyak dengan penampilan seperti orang gila begitu. Kau mau aku dikamar saja?" Sunday mendekatkan wajahnya kepada Faris. Lebih dekat seperti itu membuat Faris lebih leluasa memandang wajah lembut dan kenyal Sunday. Pipinya yang sepertinya empuk dan kemerahan ingin sekali digigitnya.


"Baiklah baiklah... tetaplah seperti itu. Tapi pastikan kau tidak pernah jauh dariku."


"Memangnya aku mau kemana?"


"Jangan bergeser lebih dari sejengkal dari tempatku berada."


"Bagaimana kalau lem saja aku pada tubuhmu agar kita bisa menempel terus."


"Ide yang bagus." Faris tersenyum lebar.


"Hahh, kau ini sungguh aneh." Sunday memalingkan wajahnya ke arah lain.


Ternyata Faris mengajak Sunday mendekati maminya. Menarik kursi disebelah maminya dan menyuruh Sunday duduk. Kak Novi juga tampak di sebelah papi Faris. Suami Kak Novi tidak terlihat. Rafael juga. Mungkin Kak Farhat sedang membujuk Rafael yang tidak bisa diam dan hobi 'jalan-jalan'.


"Duduklah disini." Sunday menurut. Mami Faris menoleh ke arahnya.


"Sunday..." Sapa mami Faris. "Kau terlihat sangat cantik." Wajah Sunday mendadak merah atas pujian itu. Tapi Sunday hanya menanggapi dengan senyum.


'"Sudah ku duga, pandanganku tentangmu benar."


"Tentang apa, Tante?"


"Ukuran tubuhmu." Sunday mengangguk mengerti.


"Kau mengingatkanku pada masa mudaku. Tubuhku juga sebagus dirimu. Sekarang saja baru begini." Sambil menegakkan badan dalam duduknya.


"Tapi Tante masih cantik. Tubuh tante juga masih bagus." Puji Sunday. Memang tubuh Mami Faris masih terlihat langsing dan bugar walaupun sudah menjadi seorang nenek.

__ADS_1


"Benarkah?" Wajah Mami Faris sumringah mendapatkan pujian itu.


"Tapi Faris selalu mengataiku gendut." Mami Faris tampak cemberut.


"Siapa sih yang tidak dikatainya gendut. Bahkan kak Novi juga dibilangnya gendut."


"Benarkah?" Mami Faris membelalakkan matanya. Postur Novi yang tinggi tapi berisi juga dikatakan gendut. Padahal postur itu sangat pas jika dibilang bohay.


"Sepertinya dia butuh periksa mata."


"Sepertinya begitu, Tante." Lalu mereka cekikikan. Papi Faris menoleh. Mendapati mereka berdua sedang bersenda gurau seperti itu tanpa sadar bibirnya tersenyum. Senang melihat mereka berdua seakrab itu. Ibu mertua dan menantu perempuan. Ya, pada akhirnya dia akan memiliki menantu perempuan nanti.


Sunday celingukan mencari-cari Faris. Setelah mendudukkan dengan maminya Faris pergi entah kemana. Acara akad nikah segera dimulai. Kedua mempelai sudah ada di meja akad. Tiba-tiba Faris duduk disampingnya.


"Darimana saja? Lama sekali." Sunday berbisik.


"Kenapa? Baru ku tinggal sebentar saja sudah kangen?" Faris mengerling. Melihat kerlingan Faris hati Sunday berdesir. Biasanya Sunday malas sekali melihatnya begitu tapi kali ini kenapa Faris terlihat manis sekali. Buru-buru Sunday memalingkan wajahnya. Takut jantungnya melompat dari tempat asalnya berlama-lama melihat Faris tersenyum manis begitu.


"Sudah, akui saja." Faris masih menggodanya.


"Malas sekali denganmu." Sunday pura-pura cemberut. Faris tersenyum.


Bersamaan dengan itu, acara akad pun dimulai. Hikmat, sakral dan semua berjalan lancar. Setelah acara akad nikah, kedua mempelai dibawa untuk berganti busana dan melanjutkan acara resepsi.


Kursi tempat duduk saat acara akad nikah sekarang sudah dibawa ke tepi ballroom. Tamu undangan mulai berdatangan. Satu per satu para tamu menjabat tangan kedua mempelai memberi selamat.


Faris benar-benar menepati ucapannya dan tidak membiarkan Sunday jauh dari dirinya.


"Kau bosan?" Tanya Faris saat melihat Sunday yang menguap di tengah keramaian seperti itu. Sunday hanya meringis.


Sejujurnya Sunday memang mulai bosan. Tidak ada yang ia lakukan selain duduk dan berdiri atau menikmati beberapa hidangan pesta. Perutnya pun sudah mulai kenyang dan kalau sudah begini bisa saja kantuk datang secara tiba-tiba.


"Ikut aku." Ajak Faris dengan menggandeng tangan Sunday agar tidak terpisah dalam kerumunan.


Ternyata Faris mengajak Sunday ke sisi luar Ballroom yang memiliki balkoni itu.


"Disini sepertinya lebih nyaman." Faris melepas genggaman tangannya. Sunday masih diam dengan debaran halus yang dirasakannya.


"Kenapa diam saja. Bukannya kau butuh membuang energimu yang tadi kau isi dengan sejumlah dim sum?" Goda Faris. Sunday memalingkan wajahnya sambil tersenyum kecut.

__ADS_1


"Baksonya juga enak." Tambah Sunday lalu dia tertawa. Faris melihatnya. Suka sekali melihat Sunday tertawa seperti itu. Wajahnya menjadi kemerahan saat ia tertawa. Sangat menggemaskan. Ingin sekali Faris memegang pipi Sunday yang kenyal itu.


"Aku menyukaimu..." celetuk Faris tiba-tiba. Sunday terbelalak.


__ADS_2