Nona Hari Minggu

Nona Hari Minggu
Sandiwara Diatas Sandiwara


__ADS_3

"Iya, baiklah..." Faris menutup telepon dari Rima. Langit siang ini sangat cerah. Matahari terasa hampir sejengkal saja dikepalanya. Faris berjalan menuju mobilnya. Maminya masih berada di dalam supermarket. Kali ini ia tidak ikut maminya seperti biasa. Lagipula ada mbak Laila juga yang sudah membantu didalam. Berada di dalam mobil sepertinya lebih menenangkan. Ia butuh ketenangan untuk berfikir bagaimana langkah selanjutnya. Sunday mulai tahu apa yang sebenarnya terjadi. Bahwa sebenarnya Rima tidak mungkin dijodohkan dengannya karena sudah bertunangan dengan Herman.


Apa yang harus ia jelaskan kepada Sunday? Ia bahkan belum membuat Sunday benar-benar menyukainya. Ponsel Faris bergetar tanda sebuah panggilan sampai di ponselnya. Faris menghela nafas berat sebelum menerima telepon. Ini adalah untuk pertama kalinya ia tidak ingin menerima telepon dari Sunday.


"Kau ada dimana?"


"Di supermarket."


"Aku ingin bicara denganmu. Aku harap secepatnya kau bisa menemuiku."


"Sepertinya hipnotisku berjalan dengan baik. Pasti saat ini kau sangat merindukanku." Faris masih berusaha santai menanggapi nada suara Sunday yang dingin dengan candaannya.


"Aku tunggu kau di kedai es krim nanti sore sepulang aku dari kampus." Sunday sengaja tidak menanggapi candaan Faris. Ia benar-benar tidak mood untuk bercanda. Ia hanya ingin penjelasan Faris tentang skenario sandiwaranya selama ini.


"Baiklah..."


Tidak berkata apa-apa lagi, setelah itu Sunday menutup teleponnya. Faris menyandarkan kepalanya pada headrest. Firasat yang benar-benar buruk. Bersamaan dengan itu terlihat maminya keluar dari supermarket dengan membawa banyak barang belanjaan. Faris turun untuk membantu membawakan kantong-kantong besar berisi kebutuhan di rumahnya.


Sunday berjalan menuju ke laboratorium fakultas teknik. Tapi fikirannya masih dipenuhi tentang fakta yang baru saja didapatkannya. Jadi selama ini Rima adalah peran pembantu dalam sandiwaranya bersama Faris.


Semakin memikirkannya Sunday akhirnya menemukan fakta lain. Bahwa Faris mengajaknya bersandiwara menjadi pacar pura-puranya yang sebenarnya dia juga bersandiwara kepadanya bahwa dia akan dijodohkan dengan Rima. Seperti sebuah sandiwara di dalam sandiwara. Rumit dan memusingkan. Bagaimana bisa Faris melakukan ini kepadanya? Untuk apa? Kenapa harus membohonginya dan mengajaknya bersandiwara? Motif apa yang melatarbelakangi Faris melakukan ini semua?


Pintu laboratorium sudah ada dihadapannya. Dari luar ruangan tampak sepi tidak terdengar apapun, pertanda tidak ada praktikum di dalam. Sunday memegang gagang pintu tapi bersaman dengan itu seseorang membuka pintu dari dalam. Sunday sedikit kaget.


"Hei, kau disini..." Sunday mendongak pada seseorang di depannya.


"Iya Kak, oh maksudku Pak." Victor tersenyum padanya.


"Kau masih boleh memanggilku Kakak."


"Ahh tidak, sekarang sudah tidak bisa lagi. Mana bisa memanggil dosen dengan panggilan 'Kakak'. Itu jadi tidak sopan."


"Baiklah, kau boleh memanggilku 'Pak' saat dikampus. Tapi jika sedang diluar kampus panggil saja aku seperti sebelum-sebelumnya."


Diluar kampus? Kenapa ada kata di luar kampus? Batin Sunday masih peka meski fikirannya sedang kalut.


"Baik Pak." Sunday tersenyum.


"Aku harus ke kelas dulu. Kau tau, aku sekarang sibuk sekali. Aku tidak bisa lagi bersantai seperti biasanya. Jadwalku sangat padat. Aku rasa ini seperti semacam masa orientasi dosen. Banyak sekali tugas yang diberikan kepadaku seolah aku sedang menjalani training di tempat kerja." Victor terkekeh setelah mengatakan curahan hatinya. Sunday hanya bisa menanggapinya dengan senyum juga. Ia sedang tidak ingin banyak bicara. Bahkan mengatakan penolakan kepada Victor perihal 'penembakannya' waktu itu saja Sunday sedang tidak mood. Isi kepalanya hanya berputar-putar tentang Faris.


"Aku pergi dulu."


"Baik Pak." Victor berjalan meninggalkannya.


"Oh iya, aku rasa aku rindu makan nasi goreng di dekat rumahmu. Kapan-kapan ayo kita makan disana lagi."

__ADS_1


Mungkin ini yang dimaksudnya sebagai bertemu di luar kampus. Batin Sunday lagi.


"Boleh, Pak."


"Itung-itung sebagai salam perpisahan."


"Salam perpisahan?"


"Iya, kita akan berpisah sebagai rekan laboratorium karena aku sudah tidak menjadi laboran lagi dan berganti menjadi dosenmu."


"Oh... iya, Pak." Sunday menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan senyum lebarnya.


Sekarang Victor sudah benar-benar meninggalkannya. Sunday memasuki laboratorium. Beni sedang duduk dibelakang mejanya. Sunday menghampiri dan menantikan tugas apa hari ini yang diberikan untuknya.


"Sun, hari ini tolong bantu aku instal ulang software PDF versi terbaru ini. Aku sudah menginstalnya di 5 komputer di sebelah sana dan akan ku kerjakan juga 2 deret disebelahnya. Sisanya tolong kau instal juga. Di sini master programnya." Beni menyodorkan sebuah flashdisk berkapasitas 32 GB.


"Oke Kak." Sunday berjalan menuju komputer yang diinstruksikan Beni.


🌸🌸🌸


"Aku pulang, Kak."


"Oke, Sun."


Sunday meninggalkan Beni di laboratorium itu sendiri. Sepertinya ia masih mengerjakan beberapa hal. Dan karena tugas Sunday sudah selesai serta jam pulang juga sudah tiba maka Beni pun memperbolehkannya pulang.


Memasuki kedai, Sunday belum menemukan Faris disana. Ia pun memesan es puter rasa pandan. Manis serta gurih es puter mungkin bisa sedikit mendinginkan kepalanya yang lelah berfikir sejak tadi.


15 menit duduk, tampak Faris memasuki kedai dan berjalan ke arahnya. Senyumnya terkembang. Masih semanis biasanya. Lambung Sunday bergemuruh oleh kupu-kupu yang berterbangan lagi. Entahlah, ia hampir frustasi mengatasi lambungnya yang selalu bermasalah ini.


"Sudah lama menungguku?" Masih dengan senyum malaikat dan tatapan lembutnya.


"Lumayan." Jawab Sunday dingin.


"Aku memesan dulu." Sunday mengangguk. Menunggu Faris dengan segala pemikiran yang berebut ingin ia utarakan. Sebentar kemudian Faris kembali dengan secangkir moccachino.


"Baiklah... kau bilang ingin membicarakan sesuatu denganku. Apa itu adalah kabar gembira bahwa kau berhasil ku hipnotis sehingga benar-benar jatuh cinta kepadaku?" Faris masih berusaha mengajak bercanda. Ia tahu ada mendung tebal disertai petir-petir menggelegar diatas kepala Sunday. Mungkin saja sebentar lagi akan ada badai yang memporak-porandakan dirinya.


"Jadi, bagaimana Kak Rima bisa akan dijodohkan denganmu sementara dia sudah bertunangan dengan Pak Herman?" Kalimat Sunday tanpa basa-basi. Ia memang bukan seseorang yang pandai berbasa-basi dan lebih suka berbicara pada pokok permasalahan yang ingin ia utarakan.


"Oh jadi itu yang mau kau bicarakan." Faris meneguk moccachino panasnya sedikit lalu meletakkannya kembali di atas meja.


"Aku sangat penasaran. Bagaimana bisa seseorang yang sudah bertunangan juga bisa menjalani perjodohan?" Sunday mengulang dan memberi penegasan di kata terakhirnya.


"Aku hanya meminta bantuannya untuk bersandiwara di depanmu menjadi seseorang yang akan dijodohkan denganku."

__ADS_1


"Untuk apa?"


"Agar aku punya alasan untuk mengajakmu bermain sandiwara juga."


"Kenapa?"


"Aku ingin menunjukkan kepadamu bahwa aku bukan seperti yang kau fikirkan."


"Apa yang ku fikirkan tentangmu memangnya kau tahu?"


"Ya, seorang pelaut yang playboy dan suka berganti-ganti pacar."


"Tapi bukankah kau memang seperti itu?"


"Aku tidak seperti itu. Saat aku menjadi pacar seseorang aku akan benar-benar mencintainya dan menjaga perasaannya. Dan itu yang ingin ku tunjukkan padamu."


"Aku masih bingung dengan maksudmu. Hanya karena itu kau membohongiku dengan alasan sandiwara? Aku benar-benar tidak habis fikir. Aku bisa menerimamu sebagai teman. Selebihnya aku tidak peduli. Seorang playboy atau bukan itu bukan urusanku. Tapi kau berbohong kepadaku itulah yang membuatku seolah menjadi orang yang sangat bodoh. Bisa-bisanya aku dengan mudah percaya pada rencanamu yang lucu itu. Mengajakku berpura-pura pacaran dengan alasan untuk menghindari perjodohan. Ya Tuhan..." Sunday menggelengkan kepalanya dan merasa sangat kesal sekarang. Faris tega sekali menjadikannya sebagai mainan, alat untuk menjalankan leluconnya.


"Bukan begitu maksudku. Aku benar-benar tidak bermaksud menjadikanmu sebagai mainanku. Tapi hanya saja aku..."


"Apa? Kau pasti senang sekali selama ini mempermainkanku. Mengarahkanku dengan berbagai skenario yang kau buat. Aku benar-benar seperti boneka yang dengan sangat mudah kau mainkan."


"Tidak Sun, aku tidak bermaksud seperti itu."


"Tidak bermaksud seperti itu? Tapi kenyataannya kau sudah melakukan semua itu. Apa kau tidak menyadarinya?" Nada suara Sunday meninggi. Seseorang yang duduk di meja dekatnya sampai menoleh karena merasa terusik.


"Itu hanya kesimpulanmu saja. Kau tidak tahu sebenarnya aku tidak pernah mempermainkanmu. Aku hanya bingung bagaimana caranya menarik perhatianmu. Aku tidak bisa lebih dekat kepadamu karena aku adalah seorang pelaut. Kau yang anti pati kepada pelaut membuatku melakukan semua ini."


"Oh jadi karena aku membenci pelaut lalu kau bisa membalas dendam untuk semua pelaut di muka bumi ini dengan mempermainkanku?" Sunday semakin berapi. Faris bertambah bingung bagaimana menjelaskan kepada Sunday dengan cara yang tepat. Sunday sudah mulai diluar kendali.


"Mana mungkin aku melakukan hal sekonyol itu terhadapmu. Aku tidak seburuk itu. Memikirkannya saja aku tidak pernah."


"Lalu apa? Kenapa kau menjadikan aku sebagai objek permainanmu? Apa bagimu aku sebodoh itu? Aku bukan..."


"Karena aku menyukaimu." Faris memotong kalimat Sunday.


Sunday terbelalak dan mencoba mencerna kalimat Faris yang sekarang sedang memandangnya lekat. Matanya menyiratkan kesungguhan. Seperti tidak ada keraguan saat Faris mengatakan itu. Sehingga secara tiba-tiba dan dengan perlahan namun pasti jantung Sunday berdetak semakin lama semakin berisik. Melihat Faris yang tidak berkata apapun setelah kalimat terakhirnya membuat Sunday mulai gugup.


"Kau..."


"Aku menyukaimu..." Ulang Faris dengan lebih lembut tapi seolah memberi kesan penegasan. Mencoba meyakinkan Sunday bahwa ia serius dengan ucapannya dan tidak ingin ia berfikiran seenaknya lagi.


Sementara Sunday belum bisa menemukan kalimat yang tepat untuk membuka bibirnya, debaran didadanya itu berubah menjadi perasaan yang indah namun sulit ia jelaskan. Ada kenyamanan, kelegaan dan entah apa lagi tapi yang jelas itu membuat Sunday meleleh ditempatnya semeleleh es puternya yang mulai mencair.


Senja ini matahari semakin meredup, mengisyaratkan bahwa ia harus menenggelamkan diri agar bulan tidak sungkan lagi menampakkan sinarnya. Sunday & Faris masih berhadapan di meja yang sama. Berbicara tapi tanpa kata. Saling tanya tapi tidak dengan bersuara. Masih saling menikmati keheningan diantara mereka, Faris mengulang kalimatnya kembali.

__ADS_1


"Aku menyukaimu, mencintaimu, ingin selalu bersamamu..."


__ADS_2