Nona Hari Minggu

Nona Hari Minggu
Penunggu Kantin


__ADS_3

Hari mulai sore. Pukul 16.02. Faris menengok jam tangannya. Sunday belum menghampirinya di kantin. Kantin mulai sepi. Suzan & Windy sudah pulang 2 jam yang lalu. Yang dilakukan Faris setelah itu hanya bermain game di hpnya.


Lama-lama ia benar-benar bosan. 5 botol minuman sudah habis, camilan juga sudah tidak ada lagi di mejanya. Konyol sekali dia menunggu Sunday seharian di kantin ini. Faris menertawakan dirinya sendiri.


Mendung mulai memayung. Anginnya bertiup kencang. Kantin tidak sepenuhnya dikelilingi dinding. Ada sebagian tempat yang hanya beratap tapi tidak berdinding. Jadi ketika angin bertiup udara dingin segera masuk.


"Ya Tuhan, kamu benar-benar menungguku?" Sunday tiba-tiba ada di depan Faris tanpa ia sadari.


"Tentu saja, aku sudah mengatakan akan menunggumu."


"Ayo kita pulang." Ajak Sunday. Faris beranjak dari tempat duduknya.


"Kau benar-benar tidak punya kerjaan ya." Kata Sunday dalam perjalanan menuju tempat parkir.


"Sudah ku bilang aku sedang tidak punya pekerjaan saat ini. Jadi aku menungguimu di kantin." Faris berjalan di sebelahnya.


"Tapi sudah ku bilang juga aku akan lama selesainya."


"Suzan & Windy sudah keluar dari tadi."


"Aku magang dulu."


"Iya, aku tahu dari mereka." Jawab Faris santai yang sudah sampai di tempat parkir dan membuka pintu mobilnya. Sunday pun masuk karena gerimis mulai turun.


"Kenapa tidak pulang saja."


"Sudah ku bilang akan menungguimu berarti aku benar-benar menungguimu."


"Dasar tidak punya kerjaan." Ulang Sunday agak kesal. Kenapa ada orang seperti Faris, yang membuang waktu hanya untuk menunggunya dari pagi hingga sore begini.


"Memangnya kenapa kalau aku menungguimu? Kamu takut pacarmu akan tahu?"


"Pacar siapa?" Sunday bertanya kepada Faris karena tidak faham dengan apa yang dia katakan.


"Pacarmu."


"Aku tidak punya pacar."


"Oh iya lupa, pacarmu kan aku."


"Hah, malas sekali berbicara denganmu." Sunday menutup bibirnya rapat-rapat karena kesal Faris selalu menggodanya begitu. Dan sebaliknya dengan Faris, dia cengengesan melihat ekspresi Sunday seperti itu.


Hujan sudah sepenuhnya turun sekarang. Mobil Faris melaju sedang karena hujan membuat jarak pandang yang pendek. Hingga tiba di depan rumah Sunday hujan belum reda.


"Terima kasih sudah menunggu dan mengantar jemputku."


"Jangan berterima kasih, aku hanya bosan dan butuh suasana baru jadi menungguimu juga demi kebaikan jiwaku." Elak Faris.


"Baiklah, aku masuk dulu." Sunday hendak membuka pintu tapi Faris meraih tangannya. Melarang Sunday keluar.


"Ada apa?"


"Mari ku antar kau masuk." Faris mengambil payung di belakang joknya.

__ADS_1


"Tidak usah, aku akan masuk sendiri. Sini aku bawa sendiri payungnya." Tolak Sunday. Ia tidak mau satu payung berdua lagi dengan Faris. Terlalu merepotkan menenangkan hatinya yang akhir-akhir ini sering labil entah kenapa.


"Baiklah." Faris menyerahkan payungnya. Sunday membuka payungnya diluar mobil baru dirinya turun. Setelah berpamitan, Sunday pun memasuki halaman rumahnya. Faris masih menyaksikan Sunday hingga masuk ke dalam rumahnya. Entahlah, dia suka sekali melakukan itu. Rambut Sunday yang sepunggung saat berjalan ikut begerak seirama gerak langkahnya. Itu sungguh membuatnya terpesona.


🌸🌸🌸


Sunday sedang merebus mie instan di dapur. Udara dingin sangat cocok untuk makan yang hangat-hangat berkuah.


Ponsel di meja makan bergetar tanda ada sebuah pesan masuk.


Victor : apa kau pulang dengan selamat?


Pesan dari Victor. Tumben dia mengirim pesan yang isinya tidak berhubungan dengan magang.


Sunday : iya kak


Victor : tidak kehujanan?


Sunday : tidak kak


Victor : syukurlah


Sunday tidak membalasnya lagi karena tidak tahu harus membalas apa. Dia melanjutkan merebus mienya. Setelah selesai dibawanya mie itu ke meja makan. Tapi baru mau memasukkan mie ke dalam mulutnya, sebuah telepon masuk. Sunday melihat nama penelepon lalu mengangkatnya malas.


"Apa kabar, Sunday?" Sapa suara berat dari seberang.


"Baik." Jawabnya singkat lalu memasukkan mie yang masih agak panas itu ke dalam mulutnya.


"Papa mengirim sejumlah uang ke rekeningmu. Apa sudah masuk?"


"Sudah ku bilang Papa tidak perlu repot melakukan itu. Kami bisa memenuhi kebutuhan kami sendiri walau tidak dengan uang Papa."


"Ayolah Sunday, Papa adalah papamu yang wajib menafkahimu. Jangan tolak pemberian Papa. Kamu adalah putri Papa."


"Ya, aku memang putri Papa. Itu tidak akan berubah sampai kapanpun. Jadi, biarkan itu cukup untuk kita, Pa. Hubungan kita hanya itu."


"Sunday... maafkan Papa." Papanya selalu meminta maaf kepada Sunday kalau pembicaraan mereka sudah sampai pada titik ini. "Papa tidak bermaksud meninggalkanmu. Andai mamamu mengizinkan, Papa pasti akan senang sekali mengajakmu tinggal bersama Papa."


"Tidak, terima kasih, Pa. Aku bukan Papa. Aku sangat mencintai Mama. Jadi aku tidak akan pergi meninggalkan Mama demi apapun dan demi siapapun."


"Papa memang bersalah kepadamu dan Mamamu. Tapi, ketahuilah bahwa Papa tidak pernah berhenti menyayangimu."


"Baiklah Pa, aku sedikit sibuk. Jadi aku tutup teleponnya."


"Baiklah Sunday, jaga dirimu baik-baik. Papa menyayangimu." Sunday tidak menjawab apapun dan lalu menutup telepon itu.


Sunday menatap kosong mie dihadapannya yang mulai dingin dan mengembang lalu menghela nafas berat.


Rasa sakit hati kehilangan sosok seorang ayah dalam hidupnya belum sembuh hingga saat ini. Sejak kepergian Papanya, Sunday seolah sudah kehilangan rasa cinta kepadanya.


Dulu saat Sunday masih kecil, ia sering melihat Mamanya menangis di tengah malam sambil memandangi foto mereka bertiga saat pergi ke taman hiburan. Di foto itu, Sunday dan kedua orang tuanya tampak bahagia. Kalau tidak salah foto itu diambil saat usia Sunday baru berumur 3 tahun.


Dari situ Sunday tahu bahwa mamanya sangat tersakiti dihianati oleh Papanya. Mamanya yang selalu tampak manis dan tegar dihadapan Sunday sebenarnya menyimpan luka yang teramat dalam.

__ADS_1


Bagaimana tidak, diusianya yang masih muda harus menjadi single parent. Merawat Sunday sendirian tanpa partner. Dan di saat pernikahannya yang belum lama dia harus merasakan pahitnya diduakan cintanya. Hingga saat ini Mamanya pun belum ingin menikah lagi karena tidak sampai hati memberikan ayah tiri kepada Sunday. Itu alasan Mama Sunday tiap ia menanyakan kenapa Mamanya selalu suka sendiri dan tidak menikah lagi.


Tapi Sunday tidak terlalu yakin hanya itu alasan mamanya. Mungkin ada alasan lain yang mamanya tidak ingin Sunday tahu.


"Kalau makan jangan melamun. Nanti ayamnya mati." Celetuk mamanya yang tiba-tiba ada di depan Sunday, membuyarkan pikirannya. Saking melamunnya sampai-sampai dia tidak menyadari mamanya yang sudah keluar dari kamar dan mengamatinya sebelum membuyarkan lamunannya.


"Kan tidak punya ayam, Ma" Sunday gelagapan tapi kemudian tersenyum.


"Ngomong-ngomong, itu mi kuah atau mi goreng?" Sindir mamanya yang melihat mie Sunday sudah sepenuhnya mengembang menyerap semua kuah gurihnya.


"Mie kuah goreng, Ma." Jawab Sunday asal. Mamanya tertawa lalu masuk ke dalam kamar mandi.


🌸🌸🌸


Keesokan harinya sebelum Sunday berangkat ke kampus, Faris sudah berdiri di depan pintu rumahnya.


"Ada apa?"


"Apa tidak boleh aku mengambil payungku?"


"Ya Tuhan, pelit sekali." Gerutu Sunday. Faris terkekeh.


Padahal Faris menggunakan payung hanya sebagai alasan untuknya bisa bertemu dengan Sunday hari ini. Karena Sunday terlalu menggemaskan baginya untuk dilewatkan walau sehari saja. Tidak peduli jika ia harus menempuh perjalanan dari rumahnya untuk ke rumah Sunday selama 1 jam lamanya. Baginya itu adalah hal mudah.


Sunday keluar teras dan membawa payung Faris. Sengaja ia tidak mempersilahkan Faris masuk karena mamanya sudah berangkat mengajar. Sunday tidak enak membawa teman pria masuk ke rumah saat tidak ada mamanya. Ia khawatir kalau para tetangga akan berfikiran buruk terhadapnya.


"Ini." Sunday menyerahkan payung kepada Faris.


"Bukannya setelah ini kau harus pergi kuliah?"


"Iya." Jawab Sunday singkat. "Tapi bagaimana kau tahu kalau aku akan ke kampus setelah ini?" Sunday menyelidik.


"Oh itu, kemarin aku mendengar Suzan & Windy membicarakannya jadi aku pikir kau juga punya jadwal yang sama."


"Oh..." Sunday faham. "Ya sudah pulanglah, aku akan berangkat." Usir Sunday.


"Sekalian ku antar saja."


"Tidak tidak... aku tidak mau menyiksamu dengan menungguiku sampai sore seperti kemarin. Aku berangkat sendiri saja."


"Tapi kakimu kan belum pulih." Sambil menunjuk kaki Sunday.


"Tidak, kakiku sudah baik-baik saja. Aku yakin aku sudah bisa memakainya untuk berlari sekarang."


"Jangan, itu masih butuh waktu untuk benar-benar pulih total."


"Hei, yang punya kaki adalah aku, jadi aku tahu pasti apa yang terjadi dengan kakiku."


"Benarkah?" Faris mengerutkan kening.


"Hmm." Sunday mengangguk pasti.


"Baiklah, kalau begitu. Aku pulang dulu."

__ADS_1


"Iya." Jawab Sunday. Kemudian Faris pun benar-benar pulang dengan berat hati karena tidak berhasil mengantar Sunday ke kampusnya. Itu artinya pagi ini dia tidak bisa berlama-lama bersama Sunday.


__ADS_2