Nona Hari Minggu

Nona Hari Minggu
Perkumpulan Keluarga


__ADS_3

Terdengar bel berbunyi saat Sunday keluar dari kamar mandi.


"Pasti itu Faris." Bukan menuju pintu untuk membukakan pintu, Sunday malah menuju meja rias di samping tempat tidurnya. Memastikan kalau tidak ada belek lagi di matanya. Setelah yakin matanya bebas belek, baru Sunday berjalan ke arah pintu. Dan benar saja, setelah pintu dibuka yang terlihat adalah Faris dengan senyum mengembang serupa malaikatnya. Perut Sunday mendadak kambuh. Ada sensasi aneh disana. Seperti ada benda yang berterbangan ke sana kemari didalam perutnya.


"Ayo ke tempat tanteku."


"Baiklah aku ganti baju dulu."


"Oke. Aku tunggu." Faris hendak melangkah masuk.


"Eits, mau kemana?"


"Masuk." Wajah Faris polos.


"Hei, kau pikir aku akan membiarkanmu masuk selama aku ganti baju?" Sunday bersungut-sungut.


"Memang kenapa?" Faris tersenyum menyeringai ke arahnya. "Aku juga tidak ingin melihatmu berganti baju."


"Tidak. Kau tunggu di luar saja. Sepertinya kau tidak bisa dipercaya."


"Oh ya? Apa selama ini aku pernah bersikap kurang ajar kepadamu?"


"Tidak sih, tapi aku harus memperhitungkan kemungkinan terburuk. Jadi, tunggulah di sini." Lalu Sunday menutup pintunya kembali. Faris hanya tersenyum melihat tingkah Sunday seperti itu.


Lalu beberapa saat kemudian Sunday keluar dari kamarnya. Setelan rok dibawah lutut dengan blouse motif bunga keci berlengan manset kancing. Sedikit retro tapi cukup manis.


Saat membuka pintu kamar, Sunday melihat Faris brsandar di dinding sambil memainkan ponselnya.


"Ayo." Ajak Sunday sambil menutup kembali pintu kamar dan menguncinya. Faris menoleh dan mendapati Sunday berwajah segar dengan saputan sedikit bedak dan lipgloss. Lalu beranjak dari tempatnya bersandar.


"Kau mau kemana?" Tanya Faris. Sunday mengernyitkan dahinya.


"Bukankah kita akan ke tempat saudaramu?"


"Tidak, aku baru saja memesan makanan yang akan diantar ke kamarmu. Jadi kita makan saja dulu. Aku lapar sekali. Kau juga pasti lapar kan?"


"Ya, lumayan."


Lalu mereka memasuki kamar kembali. Faris meraih remote dan menyalakan tv. Sunday mengambil ponsel dari dalam tasnya. Tidak ada pesan untuknya. Yang ada hanya pesan-pesan dari grup chat.


"Keluargamu menginap di sini juga kan?"


"Iya. Kenapa?"


"Kenapa aku tidak melihat salah satupun dari mereka?"


"Mereka sudah ada di rumah pamanku sejak tadi pagi."


"Oh..." Hanya itu yang Sunday ucapkan.


Bel berbunyi. Faris berdiri dari duduknya untuk membuka pintu. Ia yakin pesanan makanannya sudah datang. San benar, saat pintu dibuka, seseorang dengan seragam hotel berdiri di samping troli yang penuh dengan hidangan.


Setelah meletakkan semua pesanan, Faris sempat memberinya tip dan pegawai hotel itupun keluar.


"Makanlah." Ajak Faris. Sunday mengangguk dan mulai mengambil makanannya.


🌸🌸🌸


Saat memasuki pagar, sudah terlihat berbagai kesibukan dirumah besar berdesain victorian itu. Ada banyak orang disana. Mobilpun terparkir rapi dihalaman yang luas itu. Ada sekitar 10 mobil. Halaman rumah itu memang luas. Dengan rumah besar disana memperjelas pemiliknya bukan orang biasa.


Mobil berhenti di deretan mobil lain. Sunday turun setelah Faris lebih dulu keluar dari dalam mobilnya. Menghampiri Sunday dan menggandeng tangannya.

__ADS_1


Seketika terasa perutnya mual. Kambuh lagi penyakitnya. Seolah kupu-kupu didalamnya bergerak kesana kemari sesuka hati. Tapi inilah tujuannya ke sini sebagai pacar Faris. Jadi ia tidak akan menolak jika Faris menggenggam tangannya seperti itu.


Memasuki pintu utama rumah, tampak banyak orang yang sedang mengobrol satu sama lain. Ada anak-anak yang berlarian dan bermain. Benar-benar perkumpulan sebuah keluarga besar.


"Hai... akhirnya kau datang juga. Kenapa kau terlambat?" Sapa seorang pria muda yang sepertinya berusia tidak jauh dari Faris.


"Aku bukannya terlambat, tapi kau datang terlalu cepat." Balas Faris.


"Hahaha... kau masih saja seperti itu." Pria itu meninju pundak Faris.


"Siapa ini?"


"Sun, ini Toni sepupuku." Toni mengulurkan tangan. Sunday menyambutnya.


"Sunday."


"Kau pasti lahir di hari minggu."


"Iya." Sunday tersenyum dan sudah terbiasa mendengar itu setiap ia berkenalan dengan seseorang.


"Ris, sini." Panggil mami Faris dari lantai dua rumah itu. Faris meninggalkan sepupunya dan mengajak Sunday menghampiri maminya. Tangan Faris tidak lepas sama sekali dari menggandeng Sunday.


"Ada apa, Mi?" Faris sudah ada di depan maminya sekarang.


"Sunday harus mencoba kebaya ini." Mami Faris menempelkan kebaya brukat berwarna sage ke tubuh Sunday. Sunday agak canggung.


"Buat apa, Mi?" Tanya Faris heran.


"Semua keluarga harus memakai dresscode."


"Apa Sunday juga harus, Mi?"


"Apaan Mami ini. Kita baru pacaran." Bisik Faris.


"Sunday, besok pagi akan ada make up artis yang datang ke kamarmu. Jadi bersiaplah." Mami Faris membelai rambut Sunday dan tidak menghiraukan Faris.


"Baik tante." Sunday merasa tidak enak diperlakukan seperti itu. Padahal hubungan mereka hanya sebuah sandiwara. Tapi bagaimana lagi, ia hanya bisa menurut. Faris juga pasrah.


"Oh iya, Dian ada dikamarnya. Kau tidak ingin menemuinya?" Baru mami Faris mengajaknya bicara lagi.


"Tentu saja aku harus membuat perhitungan dengannya. Bagaimana bisa dia mendahuluiku secepat ini. Aku ini saudara tuanya." Lalu Faris mengajak Sunday ke kamar diujung lorong. Pintunya terbuka.


Dari pintu yang tidak tertutup itu terlihat seseorang yang sedang merapikan meja riasnya. Faris tetap mengetuk di pintu yang terbuka itu agar seseorang di dalam menyadari kedatangannya. Seorang gadis menoleh.


"Kak Faris..." Gadis itu lalu menghambur ke arah Faris dan memeluknya.


"Aku dengar dari tante Dewi kakak akan datang. Aku senang karena kakak benar-benar datang."


"Tentu saja aku datang. Mana mungkin aku melewatkan momen dimana aku ingin sekali memukulmu karena telah menduluiku." Gadis yang bernama Dian, sepupu Faris itu langsung tergelak.


"Aku bukan bermaksud menduluimu, tapi kau sangat lambat. Jadi kuputuskan untuk 'berangkat' lebih dulu." Gadis itu masih mengulas senyum.


"Ehh, siapa ini, kak? Kenapa tidak mengenalkannya padaku?"


"Dia, calon kakak iparmu." Jawab Faris melirik Sunday. Mendengar sebutan Faris kepada dirinya membuat seketika wajahnya bersemu merah. Ada perasaan aneh yang datang lagi. Si kupu-kupu terbang mengelilingi lambungnya.


"Aku Dian." Dian mengulurkan tangan.


"Sunday." Sunday menjabat tangan Dian dan membalas senyumnya.


"Jadi, kapan menyusulku?"

__ADS_1


"Tidak dalam waktu dekat, dia masih kuliah."


"Oh ya? Bagus."


"Bagus?" Faris mengerutkan kening seolah bertanya.


"Iya, kau harus menunggunya sampai lulus. Jangan buru-buru menikahinya."


"Memang kenapa kalau aku menikahinya saat dia masih kuliah?" Pertanyaan Faris cukup membuat Sunday kaget. Sempat-sempatnya dia menanyakan hal yang tidak penting itu.


"Tentu saja akan merepotkan harus mengurusmu lalu mengurus tugas kuliahnya, belum lagi jika dia kau buat hamil dan punya anak kemudian. Lihat, seberapa berat lagi nanti tugasnya." Jelas Dian. Sunday semakin ngeri pada pembicaraan mereka. Tapi dia hanya diam mendengarkan dengan senyum kecut yang menghias bibirnya.


"Wah, sepertinya itu cukup menantang." Faris mengembangkan senyumnya. "Bagaimana, apa kita harus mencobanya?" Faris kini berbisik kepada Sunday tapi bisikan itu tetap saja terdengar oleh Dian dan tersenyum melihat sepasang kekasih di depannya.


"Tidak... Tidak..." Dengan cepat Sunday menolak ide konyol Faris. Bagaimana dia bisa berfikir begitu sementara mereka bahkan hanya berpura-pura pacaran.


"Kalau begitu aku akan menunggumu." Jawab Faris kemudian sambil membelai rambut Sunday. Sunday seperti mual tapi tidak ingin muntah. Kupu di perutnya terbang-terbang lagi.


"Ayo kita turun, semua orang sepertinya menungguku." Ajak Dian. Faris dan Sunday mengikuti untuk keluar dari kamar itu.


Faris masih mengobrol dengan saudaranya yang lain. Sunday hanya duduk di sudut ruangan ruang keluarga rumah itu sambil menekuri ponselnya. Membaca sebuah novel di noveltoon. Berada ditengah kerumunan yang didalamnya tidak mengenal siapapun itu membosankan.


Sunday tahu papi dan mami Faris sedang ada di ruang tamu rumah itu bersama para tetua yang lain. Kak Novi dan suaminya sudah pamit kembali ke hotel sekitar setengah jam yang lalu karena Rafael memaksa ingin segera ke hotel. Mungkin Rafael juga merasa bosan seperti dirinya.


Tiba-tiba sebuah telepon masuk.


Victor Calling...


Sunday keluar ke teras samping untuk menghindari keriuhan yang bisa mengganggu pendengarannya.


"Hallo... ada apa, kak?" Sapa Sunday.


"Kau dimana?"


"Aku sedang di luar kota."


"Oh baiklah." Setelah itu Victor pamit menutup teleponnya. Sunday berfikir sejenak. Lalu kenapa Victor menelponnya jika hanya menanyakan itu.


"Siapa?" Faris sudah ada dibelakang Sunday. Sunday terjingkat.


"Ahh, mengagetkan saja." Sunday memegangi dadanya.


"Kenapa menelepon diam-diam?"


"Diam-diam?" Sunday heran dengan kalimat Faris.


"Iya, telepon dari siapa sampai kau menerimanya di sini."


"Ya Tuhan... telepon dari Victor."


"Ayo kita kembali ke hotel." Faris meninggalkannya. Sunday mencoba mengingat-ingat apa dia salah bicara? Atau apa dia melakukan sesuatu yang buruk sehingga Faris terlihat marah dan tidak suka seperti itu.


Setelah berpamitan pada semua orang, mereka pun keluar dari rumah itu dan memasuki mobil. Sebelum keluar rumah tadi mami Faris sempat mengingatkan Sunday lagi untuk bangun pagi karena seorang make up artis akan datang ke kamarnya. Mami dan papi Faris sendiri belum akan kembali ke hotel karena masih mengobrol dengan saudara yang lain.


Di dalam mobil selama perjalanan, mulut Faris seperti terkunci. Tidak mengucapkan sepatah kata pun. Sunday semakin bingung dan tidak tahu harus bagaimana. Perjalanan 15 menit dari rumah Dian ke hotelpun terasa sangat lama. Hingga turun dari mobilnya pun Faris masih diam tidak berbicara apapun.


Sunday sampai di depan pintu kamarnya. Faris tampak berhenti juga.


"Tidurlah." Hanya itu yang diucapkan Faris. Lalu dia sendiri masuk ke dalam kamarnya. Sunday benar-benar tidak mengerti dengan sikap aneh Faris.


Baru Sunday menutup pintu kamarnya, bel berbunyi. Sunday membalikkan badan dan membuka pintu. Begitu pintu terbuka, Faris seketika menghambur kearahnya dan dengan cepat memeluk tubuhnya hingga sedikit terdorong ke belakang. Jantung Sunday terasa seketika itu juga berhenti berdetak.

__ADS_1


__ADS_2