Nona Hari Minggu

Nona Hari Minggu
Rumah Faris


__ADS_3

"Di rumahku."


"Kenapa bisa di rumahmu?" Sunday panik.


"Jam kerja sudah habis. Pegawai sudah boleh pulang."


"Itu kan kau yang tidak punya pekerjaan apapun. Aku punya project lain yang harus ku analisa ulang." Sunday melihat keluar mobil. Hujan deras dan mereka masih di dalamnya.


"Memangnya pekerjaan apa yang kau lakukan? Sudah, jangan kembali ke Font sore ini."


"Hei Pak, kau ini bos yang sangat aneh. Bagaimana bisa kau melarang pegawaimu bekerja keras."


"Bukan begitu. Aku juga punya pekerjaan untukmu sekarang."


"Pekerjaan untukku?" Sunday membulatkan matanya. Memandang heran Faris yang akan memberinya pekerjaan.


"Ya, anggap saja ini pekerjaan lembur dariku."


"Kau ini mentang-mentang bos, seenaknya saja memerintah."


"Kau bilang butuh pekerjaan, ku beri pekerjaan kau mengeluh. Kau ini benar benar menguji kesabaranku." Faris mendekatkan tubuhnya ke tubuh Sunday. Sunday seketika memundurkan tubuhnya. Wajah Faris semakin mendekati wajahnya. Sunday berdebar tak beraturan mendapat perlakuan tiba-tiba Faris.


"Ayo turun." Faris melepas seatbelt Sunday.


"Apa kau ingin kita disini terus sampai kehabisan nafas?" Sunday masih diam ditempatnya merasakan debaran didadanya yang belum reda.


"Tapi kalau kau mau, kita bisa saling memberi nafas buatan."


"Dasar gila." Sunday memukul bahu Faris demi kalimat terakhirnya. Faris mengaduh.


"Hei, kau memukul bosmu. Kau benar-benar bawahan yang berani mati ya." Faris berganti menggelitiki pinggang Sunday hingga Sunday merasa sangat geli dan berteriak-teriak ampun.


"Sudah... sudah hentikan. Ampun Ris. Ampun. Sudah hentikan, Ris. Aku tidak tahan." Sunday tertawa karena kegelian. Tapi akhirnya Faris berhenti menggelitik Sunday. Sunday masih menyisakan tertawanya sambil memegangi pinggang.


"Aku suka kau memanggil namaku. Lakukanlah terus. Panggil saja namaku." Faris memandang Sunday lembut.


"Aku ini bukan anak buah yang durhaka sehingga bisa memanggilmu sesuka hati begitu."


"Saat diluar Font kau boleh memanggil hanya namaku. Jangan panggil aku Pak, itu membuatku seolah aku adalah Bapak-Bapak. Atau kau juga boleh memanggilku 'sayang' seperti yang pernah kau lakukan dulu."


"Tidak mungkin. Jangan harap lagi." Wajah Sunday memerah teringat kejadian saat ia melakukan itu dulu."


"Kenapa? Karena aku bukan sayangmu lagi?" Goda Faris disertai senyum malaikatnya.


"Hei, ayo kita keluar sebelum akan benar-benar kehabisan nafas." Sunday mengalihkan pembicaraan.


"Mana payungmu?"


"Aku tidak membawa payung di mobil ini."


"Bagaimana mungkin kau tidak menyediakan payung."


"Hei, saat naik mobil aku tidak butuh payung untuk terhindar dari panas dan hujan."


"Ahh, kau ini banyak bicara." Sunday lalu keluar mobil Faris dan berlari menuju teras rumahnya. Faris mengikuti.


"Mana, ku pinjam payungmu."

__ADS_1


"Aku tidak punya payung di sini." Jawab Faris sambil membuka pintu dengan kunci.


"Mana bisa sebuah rumah tidak memiliki payung.


"Aku baru pindah, jadi belum ada banyak barang di sini." Pintu sudah terbuka, Faris masuk ke dalam rumah. Sunday masih mematung di teras.


"Kau kenapa disitu? Ayo masuk." Faris kembali dan memanggil Sunday. Ragu-ragu Sunday melangkahkan kakinya ke dalam rumah Faris.


Yang tertangkap mata Sunday setelah memasuki rumah Faris adalah kesan luas dan hangat dengan dominasi warna putih serta abu-abu pada dinding dan beberapa perabotan inti yang berwarna monokrom. Sofa ruang tamu berwarna abu muda dengan gorden warna segradasi.


"Masuklah." Ajak Faris yang berjalan semakin ke arah dalam. Sunday mengikuti. Ruang tengah Faris juga masih bernuansa sama dengan ruang tengah. Sebuah sofa dengan karpet bulu dibawahnya. Yang disana ada bantal-bantal besar warna-warna ceria bermotif bohemian.


Faris meletakkan kunci mobil di meja ruang tengah yang memiliki tv LED di sana. Lalu ia masuk ke dapur. Sedangkan Sunday masih berdiri di sisi sofa.


"Kenapa kau hanya berdiri saja. Duduklah." Teriak Faris dari arah dapur yang lurus dengan ruang tengah sehingga ia bisa melihat Sunday dari tempatnya berdiri.


"Kenapa rumahmu sepi sekali? Kemana semua orang?" Tanya Sunday heran karena seperti tidak ada tanda-tanda bentuk kehidupan lain selain mereka berdua.


"Orang siapa?" Faris datang membawa minuman ringan. Meletakkannya dimeja, tapi ia sendiri lalu duduk di karpet bulu depan tv. Lalu ia menyalakan tv sembarang chanel karena suasa terasa sepi. Sunday ikut duduk juga disana.


"Papi, mami dan lainnya?"


"Mereka ada dirumahnya."


"Rumahnya?" Otak Sunday berputar menterjemahkan arti kata dari Faris.


"Ya." Jawab Faris sambil mengganti chanel tv mencari acara yang bagus.


"Ini rumahku sendiri."


"Jadi kau disini tinggal sendiri?"


"Minuman dingin tidak cocok untuk suasana seperti ini." Keluh Faris setelah meneguk minuman ringan yang baru dikeluarkannya dari kulkas itu.


"Seorang diri?" Ulang Sunday tidak percaya bahwa mereka hanya berdua saja saat ini.


"Aku akan membuat minuman hangat. Kau mau apa? Teh, kopi, susu?" Faris seperti mengabaikan pertanyaannya dan malah bangun dari duduknya menuju dapur lagi. Kali ini Sunday mengekorinya.


"Hei, aku bicara padamu."


"Iya aku dengar."


"Lalu kenapa mengabaikanku."


"Iya... iya... Aku tinggal disini sendiri. Kenapa? Kau takut?" Faris menghadap Sunday sekarang. Sunday mundur selangkah.


"Iya, aku takut." Kalimat itu terlontar begitu saja tanpa Sunday sadari. Faris mendekatinya.


"Takut kenapa? Takut aku memakanmu?" Faris semakin dekat.


"Takut aku melakukan sesuatu padamau?"


Faris semakin dekat lagi. Kali ini Sunday bersiap beranjak dari sana tapi Faris menangkap lengannya lebih dulu. Sunday menegang.


"Kau mau kemana?"


"Aku mau pulang." Jawab Sunday agak bergetar

__ADS_1


"Di luar masih hujan."


"Tapi aku harus pulang."


"Tidak bisa, aku sudah membuat dua minuman. Bagaimana mungkin kau meninggalkanku begitu saja." Faris melepas Sunday dan mengambil teh hangat yang dibuatnya.


"Ini untukmu." Menyodorkan cangkir teh kepada Sunday.


"Kau suka gula berapa sendok?"


"Dua." Sunday masih kaku. Faris memasukkan dua sendok teh ke dalam tehnya.


"Diluar masih hujan, kau bisa basah kuyup jika hujan-hujanan. Lalu kau bisa sakit seperti waktu itu." Faris berjalan menuju depan tv yang diikuti Sunday.


"Sakit? Kapan?" Sunday mengerutkan kening saat meletakkan tehnya di atas meja dan duduk di samping Faris.


"Waktu kau memutuskanku." Faris menyengir setelahnya.


"Memutuskanmu? Enak saja, kita tidak pernah bersama untuk bisa saling putus."


"Waktu kau di kampusmu kau bilang kau adalah pacar Victor. Tapi ku rasa kau berbohong kalau kau berpacaran dengannya. Kau tidak akan pulang sendirian dalam hujan kalau kau adalah pacarnya. Aku melihatmu keluar lagi dari mobil Victor dan mengendarai motormu pulang. Saat itu aku mengikuti sampai rumahmu. Dan saat keesokan harinya aku datang untuk meminta maaf kepadamu kau malah sakit. Badanmu demam dan tidak bisa ke kampus. Kau ingat?" Sunday bengong. Ingatannya tentang kejadian itu seperti disegarkan kembali. Jadi saat Sunday merasa menemui Faris itu bukan mimpi dan bukan halusinasi. Itu benar-benar nyata.


"Ehmm... ehmm... aku lupa semua itu." Sunday berpura-pura tidak ingat.


"Oh ya? Kau melupakan kejadian sepenting itu?"


"Tidak, aku memang mudah lupa."


"Aku tidak percaya ada seorang pelupa sepertimu. Aku saja bahkan masih ingat saat itu baju apa yang kau pakai, sepatu, tas..."


"Aku lupa." Sahut Sunday. Ia tidak ingin Faris melanjutkan obrolan mereka tentang itu.


"Aku sudah melupakannya."


"Kau juga lupa sudah pernah menyukaiku?" Tanya Faris dengan tatapan yang entah bagaimana Sunday mendeskripsikannya. Sunday salah tingkah dipandang seperti itu.


"Aku tidak pernah menyukaimu." Jawab Sunday lirih merasa terintimidasi oleh pandangan itu.


"Kau bohong. Kalau kau tidak menyukaiku kau tidak akan menangis saat mengatakan bahwa Victor adalah pacarmu. Kau akan dengan bahagia mengatakan bahwa kau berpacaran dengannya." Faris memandang Sunday lurus.


"Aku tahu Victor menyukaimu tapi aku juga tahu yang kau sukai adalah aku." Sunday membuang muka dan tersenyum sinis atas kepercayaan diri Faris.


"Kau tetap saja tidak berubah. Selalu sepercaya diri ini." Sunday tertawa kecil sekarang.


"Kau pikir semua gadis berputar mengelilingi untuk menyukaimu?"


"Aku sedang tidak membicarakan gadis lain. Aku membicarakanmu. Jadi jangan tambah lagi konteks yang lain."


"Ya pokonya begitulah. Aku tidak seperti yang kau katakan." Sunday meminum tehnya untuk menyamarkan kegugupanya.


"Sekarang jawab aku." Faris kembali menghujani Sunday dengan tatapan mematikannya. Faris terlihat sangat serius. Sunday sedikit bergidik melihatnya.


"Apa kau menyukai Victor?" Sunday terkesiap oleh pertanyaan Faris lalu kemudian terlihat gelisah.


"Apa urusanmu aku menyukai siapa?"


"Itu menjadi urusanku karena aku ingin tahu apa masih ada kesempatan untukku menyukaimu." Faris menatap Sunday lembut. Wajah Sunday memerah merasakan sesuatu. Ada sejenis kilatan-kilatan kecil dihatinya yang membuat ia menjadi gelisah. Sebuah perasaan yang lama tenggelam dan entah kenapa saat ini seperti terbit kembali.

__ADS_1


Hujan diluar masih turun dengan deras. Ruangan itu seketika menjadi hangat. Detak jarum jam seperti menjadi hitungan-hitungan detik yang panjang. Ada debaran berisik yang sangat mengusik.


__ADS_2